/0/21152/coverorgin.jpg?v=86ee881b396773f7dc78621d24c81df4&imageMogr2/format/webp)
"Permaisuri, kau begitu cantik!"tutur Arjuna (Raja Xie) seraya mengelus lembut wajah wanita di bawahnya dengan jari jemari. Padahal wanita itu tidak lain hanya seorang penghibur. Dl
"Wah, apakah kau mau menjadikan aku permaisuri setelah ini?!"ucap wanita itu ngomong kosong, membuat mata pria diatasnya melebar hebat.
Arjuna bangkit dan menarik wanita itu kemudian mendorongnya kasar,"Keluar sekarang!"gertak nya tanpa ampun.
Sambil bersungut-sungut wanita itu keluar dengan kondisi rambut hampir tergerai, aksesoris pun berantakan menggantung di rambut kusut itu.
Untung Raja! Kalau tidak, aku tidak ingin ke sini lagi jika dipanggil!
Sam Fuu selaku kasim melemparkan sekantung koin dan menyuruhnya pergi. Sebelum melangkahkan kaki, dia menunjuk seorang perempuan yang tengah berdiri tak jauh dari keberadaan kasim.
Dengan tidak sopan dia berkata sambil merentangkan jari telunjuknya,"Apa gadis ini selanjutnya?!"
Sontak perkataan yang sangat tidak sopan untuk ditunjukkan pada seorang Permaisuri membuat kedua orang di sana meradang.
Sebagai sosok yang ditunjuk. Irene benar-benar marah, namun sekuat tenaga dia tahan kemarahan itu agar tidak keluar. Meski rasa sakit dihatinya bertambah karena dihina oleh seorang wanita yang sudah menghabiskan malam dengan suaminya sendiri.
Tak ayal mata Sam pun ikut memerah seraya mengeratkan gigi dan berkata,"Berani-beraninya kau jal*ng rend_"
Segera Irene ber-isyarat agar pria itu menghentikan ucapannya. Menatap wanita itu sedingin es, dan berkata,"Aku adalah seorang bangsawan. Kau berani menghina ku seperti ini, akan ku pastikan hidupmu lebih hancur."
Aku sudah berbohong!
"O-oh baiklah, ampuni aku. Tapi kau jangan menyalahkan penglihatan ku. Rambut mu sama sekali tidak mencerminkan seorang bangsawan. Permisi Lady."respon wanita itu memperbaiki kemudian posisi selimutnya.
Bisa-bisanya! Jika dia tahu aku adalah permaisuri, kira-kira apa responnya?!
Dari awal Irene tidak pernah bermimpi untuk menjadi permaisuri. Namun takdir ternyata membawanya pada kedudukan ini. Jadi, tidak salah jika dia berusaha untuk mempertahankan, semuanya, dari aspek a-z. Termasuk keangkuhan? Bukan keangkuhan, hanya saja hal-hal yang pantas untuk didapatkan, tentu harus diterima.
"Wajahnya begitu cantik. Sesuai dengan pekerjaan ini."lanjut wanita itu dengan suara samar. Namun kalimat-kalimat itu masih terdengar oleh Permaisuri.
Cantik? Secantik apapun diriku, itu sia-sia saja. Menyentuh tubuhku pun Raja sangat enggan.
Tidak dipungkiri bahwa Irene adalah Permaisuri yang berasal dari Putri Pilihan (Menurut rumor, hanya dirinya yang tersisa). Konon, Putri Pilihan menyembunyikan paras yang begitu cantik. Kerajaan yang ingin menikahinya harus langsung memberikan posisi yang cukup tinggi, tanpa adanya sebuah ajang pemilihan.
"Apa ada lagi Kasim?"ucap Irene. Dia tidak pernah memperlihatkan wajah kekecewaan atau marah. Mungkin sudah terbiasa, mungkin.
"Tidak ada lagi Yang Mulia. Dia yang terakhir."ukiran senyum tipis terpancar dari wajah cantiknya.
"Aku akan segera membawa air hangat Yang Mulia."
"Bagus lah. Aku yang akan menjaga Raja."
Irene pun masuk ke aula Raja. Mendudukkan diri di samping Arjuna lalu mengusap wajah tampan itu dengan ibu jarinya. Tak lupa merapikan pakaian polos berwarna putih yang begitu berantakan.
"Raja ku."ucapnya sembari mengusap-usap surai rambut hitam Arjuna, kemudian dia mencium kening sang suami.
Kasim Fuu menyaksikan pemandangan itu membuat langkahnya terhenti sejenak. Setelah bibir Permaisuri terlepas dari kening Raja. Dia baru masuk bersama wadah tembaga berisi air hangat. Karena ini sudah larut malam, dirinya harus bersegera.
Sam pun menaruh bejana tembaga berisi air beserta handuk kecil di samping Irene.
"Terimakasih Kasim."pria itu menunduk hormat kemudian lekas pergi.
Irene menaikkan sedikit lengan bajunya, membasuh kain dengan air hangat lalu memerasnya. Membersihkan badan Arjuna yang setengah telanjang, tak lupa menyeka beberapa kotoran kecil di telinga dan sudut mata. Dirinya sudah seperti orang yang tengah memandikan seorang bayi.
Irene tersenyum melihat kondisi sang raja yang kini sudah bersih. Namun senyuman itu bercampur dengan pancaran kekecewaan.
Kecewa terhadap siapa? Raja? Atau diri sendiri.
Tiga tahun yang lalu ketika dirinya melakukan hal sama seperti ini setiap malam. Dia selalu menangis di samping sang raja tanpa membuatnya terbangun.
Namun, kini seolah hatinya telah kebal terhadap rasa sakit ini. Bukan, bukan hatinya yang kebal. Tapi, mata ini sudah cukup lelah untuk menangis dan terus menangis.
Cup!
Irene mencium kening Arjuna,"Aku mencintaimu."ucapnya kemudian tersenyum, lalu beranjak pergi meski ragu.
Ketika Irene berada di ujung pintu, terdengar suara orang mengigau, langkahnya pun terhenti tanpa diminta.
"Permaisuri ku!"lirih Arjuna di sela tidurnya.
Perempuan itu hanya bisa tertegun. Jika yang dimaksud permaisuri itu adalah dirinya, tentu saja dia bahagia. Namun dia tidak ingin berharap lebih. Bisa saja permaisuri yang dimaksud adalah mendiang Permaisuri Jie Jenna.
Flashback on
/0/3166/coverorgin.jpg?v=fd440bf0fa8ecf965d52c43e253446ef&imageMogr2/format/webp)
/0/6101/coverorgin.jpg?v=621a9b70ca391100a646eb3fbe33e056&imageMogr2/format/webp)
/0/20687/coverorgin.jpg?v=cd1175ed73971d72d14a9d65cc1c01ff&imageMogr2/format/webp)
/0/29581/coverorgin.jpg?v=cef77ef63ec72ae6bb83987cf0e7c459&imageMogr2/format/webp)
/0/10592/coverorgin.jpg?v=0893ac17885e413ccdd7cacd9d5cddaf&imageMogr2/format/webp)
/0/4255/coverorgin.jpg?v=d6865889fd38bc0b03be21f4feff243b&imageMogr2/format/webp)
/0/14716/coverorgin.jpg?v=cba4b48322f0a2eef4d918fbf55885ae&imageMogr2/format/webp)
/0/12790/coverorgin.jpg?v=88b5588692e190dcd05549a1b03750fe&imageMogr2/format/webp)
/0/17221/coverorgin.jpg?v=b9ad6680c7d9af69bd74c67906ede212&imageMogr2/format/webp)
/0/7966/coverorgin.jpg?v=3b03f6cba1a16a2dffd7c69b5b9bf4a6&imageMogr2/format/webp)
/0/4508/coverorgin.jpg?v=3f1d61d85694c58aa544c0c81f79d567&imageMogr2/format/webp)
/0/3017/coverorgin.jpg?v=8138d9ac22c664cafb2df6a655de06b5&imageMogr2/format/webp)
/0/4260/coverorgin.jpg?v=576fc7faa6fb29ab90702c7a1f661be3&imageMogr2/format/webp)
/0/21232/coverorgin.jpg?v=6140b1f88a61e38796028c11b852018c&imageMogr2/format/webp)
/0/2978/coverorgin.jpg?v=c19a7ba9c7837074dbd7c16855abe86e&imageMogr2/format/webp)
/0/2170/coverorgin.jpg?v=2158f4c7583e99d746e1ea0ca0f0009e&imageMogr2/format/webp)
/0/2302/coverorgin.jpg?v=e75001be09979412d5353255254bfc0e&imageMogr2/format/webp)
/0/5866/coverorgin.jpg?v=0cb454270a42aecb78670b41f75f581d&imageMogr2/format/webp)
/0/3255/coverorgin.jpg?v=7a6fdfb4df5d001957977ac00ca3f167&imageMogr2/format/webp)
/0/3471/coverorgin.jpg?v=7b785d19b6e8d642748149bf3f75d4bd&imageMogr2/format/webp)