Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
My Perfect Empress

My Perfect Empress

Baekhyun_G

5.0
Komentar
7.7K
Penayangan
44
Bab

Semua orang beranggapan, ia hanyalah beruntung terlahir dari keluarga kerjaan TangXin. Tak ada yang bisa di banggakan dari sosoknya, sikap arogan dan sombongnya, tubuh gendut dan riasan menor yang selalu ia poles pada wajah bulatnya membuat usianya nampak terlihat tua. Tak ada yang tahu mengenai prestasinya, semua orang hanya mengenalnya sebagai putri kerjaan TangXin dengan kepribadian buruk. Xin Fahrani, gadis yang semua orang katakan beruntung terlahir dalam lingkungan kerajaan dan gadis itu pun mengakui hal tersebut. Ia sama sekali tidak peduli dengan segala ucapan semua orang, sebab ia berpikir dengan memiliki kekuasaan, kekayaan, kedudukan, serta dukungan dari Ayahandanya, ia bisa mendapatkan apapun meski penampilannya sangat jelek dimata semua orang. Namun nyatanya, semua yang ia miliki tak mampu membuat pria yang ia sukai balik menyukainya. Hal yang tak terduga ia alami adalah penolakan dari pria pujaannya dihadapan semua orang dan hal itu memberinya luka dan rasa sakit dari patah hati yang terasa dua kali lipat menghancurkannya. Xin Fahrani benci menjadi bahan olokan, ia benci di permalukan dan di rendahkan. Sikap arogannya menolak di perlakukan demikian, ia tak ingin harga dirinya kembali di injak-injak oleh orang-orang yang mengangapnya menjijikan hanya karna postur tubuhnya beda dari gadis muda pada umumnya. Lantas apa yang akan Xin Fahrani lakukan untuk membalaskan dendam dari rasa malu yang ia rasakan?

Bab 1 Pertemuan Pertama

Pagi yang cerah menghiasi langit kerajaan TangShi yang tampak sangat ramai di datangi para tamu - tamu terhormat dari berbagai kerajaan di bawah kekaisaran yang sama dengan kerajaan yang tampak mewah tersebut. Selain para tamu terhormat, ada banyak tamu - tamu bangsawan dan saudagar kaya raya yang turut di undang dalam pesta perjamuan hari jadi pernikahan kaisar Shi Huang dan permaisuri Dong Jie.

Perwakilan-perwakilan kerajaan tetangga yang bekerja sama dengan kerajaan TangShi juga turut datang seperti ; Putri Xing Fahrani dari kerajaan TangXing, pangeran Li Meng Yu dari kerajaan TangLi , putra mahkota Yu Kuan Yin dari kerajaan TangYu dan putri Wu Jing Mi dari kerajaan TangWu yang saat ini tengah berada di kursi mereka masing - masing.

Diantara tamu terhormat yang hadir. Putri kerajaan TangXing yang paling mencolok diantara tamu yang turut hadir dalam pesta. Xing Fahrani atau kerap kali di panggil putri Fahrani saat ini menjadi pusat perhatian banyak orang.

Semua orang memandangnya bukan karena mereka kagum akan kecantikan putri Fahrani atau iri dengan pakaian atau perhiasan yang ia kenakan. Tatapan semua orang yang menatap putri Fahrani malah sebaliknya. Mereka menatap putri dari kerajaan tersohor dan disegani itu dengan tatapan jijik dan mencela.

Berbanding terbalik dengan putri JingMi dari kerajaan TangWu yang nampak cantik dan bertubuh mungil dan berisi di beberapa bagian yang kerap kali membuat para pria hidung belang mencuri - curi pandang. Putri Fahrani sama sekali tidak cantik. Tubuhnya bahkan sangat gendut dan riasannya sangat tebal sehingga membuat beberapa orang tak mampu menahan tawanya.

Tanpa putri Fahrani sadari, kini ia telah di jadikan bahan tertawaan banyak orang yang turut hadir di pesta. Putri Fahrani terlalu fokus menatap pangeran Shi Gan Hung yang merupakan pangeran ke 3 kerajaan TangShi.

Semua orang di kekaisaran Tang tahu jika putri Fahrani menyukai pangeran Hung. Hal itu kerap kali membuat beberapa orang mencela dan semakin tidak menyukai putri Fahrani yang bahkan tak cocok bersanding dengan pangeran Hung yang di kenal tampan dan cerdas.

"Lihatlah, putri Fahrani bahkan tak berkedip menatap kakak ketiga" kata pangeran Shi De Wu ( pangeran ke 4) menyenggol bahu pangeran Hung yang kini menatap putri Fahrani dengan tatapan menusuk.

Sudah cukup ia menjadi bahan ejekan dan candaan semua orang kerenannya. Sudah cukup hidupnya terusik dan terganggu olehnya. Sudah cukup telinganya merasa panas oleh semua perkataan semua orang yang membuatnya muak. Ia telah habis kesabaran oleh perasaan putri Fahrani yang jelas tidak akan pernah ia balas. Memikirkannya saja ia sudah jijik dan sangat mual.

"Berhentilah menggoda Beng Wang!" Tekan pangeran Hung dengan suara nyaring dan keras sehingga membuat semua orang yang berada di pesta tertegun dan kini mengalihkan tatapan mereka pada pangeran Hung yang nampak sangat marah.

Pangeran Wu ingin menenangkan kakak ketiganya, namun perkataan yang hendak ia lontarkan tersangkut dan menggumpal di tenggorokannya saat saudaranya itu dengan nekat menolak putri kerajaan TangXing di hadapan banyak orang.

"Ben Wang tidak akan pernah menyukai wanita jelek, gendut dan yang berdandan dengan riasan yang sangat tebal" pangeran Hung menatap putri Fahrani dengan tatapan tajam, ia dengan kasar melanjutkan kalimatnya "Seharusnya kau sadar diri jika wanita jelek sepertimu sama sekali tak sebanding dan bisa bersanding dengan Ben Wang" tambahnya yang menghancurkan perasaan dan menjatuhkan harga diri putri Fahrani di depan banyak orang.

******

Ucapan pangeran Hung yang sangat jelas mengklarifikasi segala rumor yang menyangkut pautkannya dengan perasaan putri Fahrani padanya dengan penolakan, sangat cukup membuat beberapa orang terkejut dengan aksi nekatnya. Walaupun demikian, mereka tak mampu menyembunyikan tawa mereka akibat perkataan pangeran Hung yang menyindir langsung putri Fahrani dengan perkataannya yang menurut mereka benar.

Kaisar Huang yang ingin menengahi masalah yang baru saja di ciptakan putra keduanya karena berpikir akan mengakibatkan masalah yang cukup besar untuk kerajaan TangShi dan kerajaan TangXing lantas berdehem untuk mencairkan suasana yang nampak memanas antara pangeran Hung dan putri Fahrani.

Semua orang lantas terdiam karena kaisar Huang mulai mengambil alih. Walaupun demikian, putri Fahrani sudah sangat muak dengan olokan, ejekan, sindiran dan tertawaan banyak orang yang membuat telinga dan hatinya panas.

Putri Fahrani lantas berdiri dari duduknya. Raut wajahnya nampak tidak senang dengan apa yang pangeran Hung katakan. Bagi putri Fahrani penolakan pangeran Hung di depan banyak orang, serta penghinaannya jelas tak bisa di maafkan.

Putri Fahrani menatap pangeran Hung tajam. Ia tak akan melupakan hari dimana perasaannya hancur dan harga dirinya di injak di depan banyak orang hanya karena pria brengsek yang nyatanya pernah ia puja.

Putri Fahrani berdecih dalam hati serta merutuki kebodohannya yang selama ini mengangumi dan menyukai pria yang berhasil membuatnya berharap detik ini juga jiwa dan raganya ditelan bumi dan pada akhirnya ia hilang tanpa kabar apapun. Namun nyatanya, ia masih berada disini. Ditempat yang sangat menyakitkan dengan hunusan tatapan tajam dan mencemoh dari banyak orang hanya karena fisiknya berbeda dari kebanyakan wanita diluar sana.

Putri Fahrani lantas memutuskan tatapan tajam dan membunuh yang ia lemparkan untuk pangeran Hung. Ia lantas mengalihkan tatapannya pada kaisar Huang. Tanpa menunggu waktu yang lama. Putri Fahrani membungkuk sembilan puluh derajat sebagai tanda ia akan pamit undur diri dari acara.

"Yang mulia kaisar Huang dan permaisuri Jie. Putri ini harus pamit pulang, putri ini mendoakan semoga yang mulia tetap dikaruniai kesehatan dan panjang umur" ungkap putri Fahrani yang membuat semua orang paham jika suasana hati putri Fahrani sedang buruk. Walaupun ada beberapa yang berbisik dan mencibir bahwa ia pergi karena tak sanggup lagi menahan malu dan penghinaan.

Semua yang mereka katakan dan pikirkan memang benar. Walaupun tubuhnya besar dan nampak kuat dibanding gadis lain yang gemulai dan lemah lembut. Nyatanya putri Fahrani juga gadis yang lemah dan rapuh seperti mereka.

"Acara bahkan belum selesai, mengapa putri kerajaan TangXing begitu terburu - buru?" tanya kaisar Huang berusaha menahan putri Fahrani.

"Apa yang dikatakan yang mulia benar. Tinggal-lah lebih lama lagi putri Fahrani, ada banyak hiburan lagi yang akan ditampilkan kerajaan TangShi" tambah permaisuri Jie turut andil angkat bicara guna membujuk putri kerajaan TangXing

Putri Fahrani yang mulai tak tahan lantas tertawa mengejek "tinggal disini?" Beo putri Fahrani yang tak mampu lagi menahan emosinya yang telah mencapai ubun - ubun.

"Yang benar saja! Apakah yang mulia kaisar Huang dan permaisuri Jie bermaksud membuat putri ini kembali menjadi bahan lolucon, cemohan dan ejekan setelah dipermalukan putra anda? Jika kalian berpikir demikian. Maka putri ini tekankan bahwa putri ini tak sebodoh itu!" Tekan putri Fahrani.

"Atau ah.. mungkinkah kalian berpikir dengan kejadian hari ini kalian berusaha membujuk putri ini agar masalah tidak menjadi besar?" Tanya putri Fahrani lagi dengan nada mengejek.

Kaisar Huang dan permaisuri Jie jelas merasa tidak senang dengan sikap arogan putri Fahrani. Wajah kaisar Huang dan permaisuri Jie bahkan mulai menunjukan ketidak sukaan dengan perkataan putri Fahrani yang sangat menohok dan mengena sasaran. Saat kaisar Huang dan permaisuri Jie ingin membantah, putri Fahrani lebih dulu memotong kalimat yang hendak mereka lontarkan.

"Jika itu yang Yang mulia kaisar dan yang mulia permaisuri pikirkan, maka putri ini dengan tegas mengatakan tak akan pernah lupa ataupun memaafkan apa yang terjadi hari ini" tegas putri Fahrani mulai beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi.

Saat putri Fahrani tepat berada di ambang pintu, ia lantas berbalik dan berkata "Jika yang Yang mulia kaisar Huang dan permaisuri Jie khawatirkan akan terjadi masalah besar antara kerajaan TangShi dan kerajaan TangXing, putri ini rasa Ayahanda sudah mendapat laporan mengenai apa yang menimpa putrinya hari ini" kata putri Fahrani saat tak menemukan pengawal pribadinya Zhan Chou.

"Putri ini pastikan, kalian akan menyesal telah mempermalukan putri ini!" Tambah putri Fahrani yang membuat semua orang yang berada di dalam aula utama kerajaan TangShi pucat pasi.

*******

Ditengah perjalanan pulang menuju kerajaan TangXing. Putri Fahrani meminta rombongannya berhenti di sebuah padang rumput yang di tumbuhi bunga - bunga liar yang nampak cantik setelah melewati perbatasan antara kerajaan TangXing dan kerajaan TangShi yang hanya di batasi sebuah sungai besar dan dihubungkan dengan sebuah jembatan.

Padang rumput tersebut nampak sangat cantik, ditambah dengan sinar matahari sore hari yang membuat padang rumput dengan beberapa pohon pinus, ceri dan bambu yang mengelilingi sekitarnya nampak sangat memukau.

Putri Fahrani turun dari keretanya. Ia lantas melangkah menuju padang rumput tersebut dan meninggalkan rombongannya yang menunggu di jalan setapak atas permintaannya.

Saat semakin menuju pertengahan, putri Fahrani kembali dibuat kagum dengan adanya sebuah sungai kecil yang ternyata terhubung dengan sungai besar yang menjadi pembatas antara kerajaan TangXing dan kerajaan TangShi.

Putri Fahrani melangkah mendekat menuju sungai kecil, ia memilih berdiri di pinggir sungai dan berteduh dibawah pohon ceri yang tumbuh tidak jauh dari sungai tersebut. Putri Fahrani lantas menatap air mengalir yang kini menampilkan pantulan wajahnya.

Seketika air matanya yang sedari ia tahan pun luruh saat perkataan pangeran Hung kembali berputra dalam ingatannya. Putri Fahrani lantas jongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Suara tangisnya yang cukup keras membuat seseorang yang berbaring di atas dahan pohon ceri yang menjadi tempat teduh putri Fahrani lantas terusik.

Perlahan kedua kelopak mata pemuda tampan itu terbuka lebar dan menampilkan kedua netranya yang berwarna hijau. Pemuda itu lantas menunduk dan mendapati putri Fahrani menangis keras bahkan saking kerasnya tubuhnya bergetar hebat.

Pemuda berparas tampan dengan rambut berwarna putih itu lantas melompat turun dan membuat putri Fahrani terlonjak kaget. Putri Fahrani lantas mendongak dan menoleh kebelakang dan menemukan pria yang mengganggunya meluapkan semua kesedihan dan amarah yang sedari tadi ia tahan.

Pemuda itu menata putri Fahrani dengan mulut di tangkup rapat. Pemuda itu berusaha menahan tawanya saat menatap wajah putri Fahrani yang sangat kacau dan berantakan dengan segala riasan yang ia pakai nampak luntur, dan hal itu sangat lucu di mata pemuda itu.

"Siapa kau? Mengapa kau berani mengganggu ketenangan dan kesendirian putri ini?" Tanya putri Fahrani tidak senang dengan keberadaan pemuda tampan tersebut yang kini mengernyitkan keningnya.

'Apakah ia sungguh seorang putri?' Batin pemuda itu saat menilai penampilan putri Fahrani yang sangat jauh dari para putri dan nona muda diluar sana.

Putri Fahrani lantas berdiri. Ia lalu menatap para prajurit yang mengawalnya nampak masih berjaga di pinggir jalan setapak "bagaimana kau bisa kesini disaat mereka masih menjaga disana dengan ketat?" Tanya putri Fahrani lagi yang berhasil menyentak pemuda itu dari lamunannya.

Dengan berusaha sekuat tenaga, pemuda itu akhirnya angkat bicara setelah berhasil menahan tawanya mati - matian, pemuda itu lantas berkata "aku sudah berada disini sejak lama, namun terganggu dengan suara tangisan seseorang" jawabnya datar.

Putri Fahrani lantas meminta maaf dan setelah itu berbalik ingin pergi namun pemuda tampan itu menahannya "ada baiknya jika anda membasuh wajah anda terlebih dahulu. Rombongan anda akan mengetahui dengan jelas jika anda baru saja menangis. Terlebih lagi penampilan anda semakin jelek, dan juga riasan anda sudah luntur" saran pemuda itu yang nyaris membuat putri Fahrani memukulnya karena berani - beraninya ia mengatakannya jelek disaat suasana hatinya sedang buruk.

"Berhenti mengatai dan mengejek putri ini jelek! Putri ini sama sekali tidak jelek. Kecantikan putri ini hanya tertutupi oleh lemak!" Teriak putri Fahrani tidak terima.

Pemuda itu terkekeh lalu berkata "Jika apa yang anda katakan benar, maka pemuda ini sudah tidak sabar menunggu anda menjadi kurus dan cantik" kata pemuda itu lantas pergi dan menghilang saat putri Fahrani membasuh wajahnya dengan air bersih yang mengalir dari sungai.

"Kau tunggu saja nanti!" Balas putri Fahrani lantas menoleh kebelakang namun tak menemukan pemuda tampan itu ditempatnya semula.

"Kemana pemuda itu pergi?".

"Apakah sedari tadi aku berbicara dengan hantu?" Tanya putri Fahrani lagi pada dirinya sendiri. Seketika bulu kuduknya meremang, putri Fahrani lantas memeluk dirinya sendiri dan berjalan cepat menuju rombongannya karena ketakutan dengan pikirannya sendiri mengenai hantu.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Baekhyun_G

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku