/0/23058/coverorgin.jpg?v=4c0ec1f46fbfddc72bcf6894813f78e9&imageMogr2/format/webp)
Seorang gadis muda nan cantik jelita tengah berdiri sembari sedikit menundukkan badannya di balik dinding sebuah restoran mewah yang berada di tengah kota.
Gadis itu melirikkan mata ke arah kiri dan kanannya dengan sibuk seolah dia tengah mencari keberadaan seseorang.
"Mana dia? Aku tidak akan pernah biarkan dia bertemu dan berkencan dengan wanita lain," gerutu gadis itu di dalam hatinya sendiri.
Tak lama setelah itu, sepasang pria dan wanita pun berjalan masuk ke dalam restoran dengan gelak tawa yang cukup sumringah, yang membuat gadis itu semakin merasa marah dan kesal.
"Oh ... Oh ... Kenapa mereka bisa tertawa bahagia seperti itu?"
"Tidak! Ini tidak bisa aku biar kan!" gadis itu berjalan masuk ke dalam restoran mengikuti pasangan yang dia amati itu.
Agar tidak kehilangan jejak mereka, gadis itu memutuskan untuk duduk tepat di belakang meja pasangan itu, sehingga dia pun dapat mendengar percakapan mereka dengan cukup jelas.
Sembari menutupi wajahnya dengan buku menu dari restoran, gadis itu mencoba sedikit mencondongkan kepalanya ke arah pasangan itu.
"Makasih ya Mas, karena kamu sudah mau meluangkan waktu untuk bertemu dengan aku setelah sekian lama," ucap wanita itu kepada pria yang tengah duduk di hadapannya dengan suara yang terdengar sangat elegan sekali.
"Kamu tidak perlu berterimakasih kepada aku, karena aku datang ke sini memang sudah keputusanku sendiri," jawab pria itu dengan ramah.
Sontak saja ke dua mata gadis itu membelalak, sembari keningnya pun ikut mengerut setelah mendengar obrolan singkat itu.
"Apa?"
"Bisa-bisanya dia berkata seperti itu?"
"Dia datang dengan kemuannya sendiri ke sini?" gerutu gadis itu dengan kesal.
Pasangan itu pun kembali saling mengobrol dengan menikmati hidangan yang telah tersedia di hadapannya, sedangkan gadis itu hanya sibuk mendengar dan memperhatikan pasangan yang terlihat cukup akrab di hadapannya dengan wajah kesal.
"Aku sangat senang sekali bisa makan siang bersama kamu sekarang Mas, apa lagi aku sudah lama sekali ingin bertemu secara langsung dengan mu," ucap wanita itu dengan ramah kepada pria di hadapannya.
"Aku juga senang bisa bertemu langsung dengan kamu, karena memang selama ini aku hanya mendengar tentangmu dari Ibu aku saja," jawab ramah pria itu.
Obrolan mereka semakin membuat gadis itu merasa kesal dan marah, sehingga tanpa ia sadari kedua tangannya pun mengepal dengan sangat keras.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu yang cukup pribadi kepada kamu Mas?" tanya wanita itu sembari menatap ramah.
"Silahkan, apa pun itu kamu boleh menanyakannya kepada ku," jawab pria itu sembari menikmati hidangannya.
"Kenapa kamu sampai sekarang masih belum memutuskan untuk menikah Mas?" tanya wanita itu dengan sangat hati-hati.
Sontak saja pria itu meletakkan sendok dan garpu dari tangannya setelah mendengar pertanyaan itu.
"Tidak mudah bagiku untuk bisa menemukan pasangam dengan status yang sedang aku sandang sekarang, karena aku harus lebih teliti lagi untuk bisa menemukan pasangan hidup," jawab pria itu dengan dewasa.
"Tapi apa kamu tidak merasa kesepian Mas?" Kembali wanita itu mengajukan pertanyaan yang semakin membuat gadis itu merasa marah.
"Dengan semua kesibukan yang tengah aku geluti, itu cukup membuat aku tak pernah merasa kesepian."
"Apa lagi aku punya seorang gadis di rumah yang memang harus aku perhatikan setiap waktu," jelas pria itu dengan cukup tegas.
Setelah obrolan itu mereka berdua kembali menikmati makan mereka dengan sesekali saling melempar senyum satu sama lain.
Dilain sisi, gadis yang tengah memperhatikan mereka semakin memperlihatkan perasaan kesalnya dengan wajah cukup memerah, serta kening yang terlihat sangat mengerut.
"Kenapa bisa dia menjawab seperti itu?"
"Aku benar benar sangat merasa marah sekarang," gerutu gadis itu di dalam hatinya sendiri.
Karena rasa amarah telah menyelimuti perasaannya, sehingga gadis itu pun tak menghiraukan hidangan yang telah tersedia di hadapannya kala itu.
"Kenapa Mas tidak bertanya kepada ku? Apa Mas tidak merasa penasaran dengan aku?" ucap wanita itu sembari menatapnya.
"Heh ...! Mau sekali dia ditanya-tanya! Dasar wanita murahan!" guman gadis itu dengan kesal.
Beberapa saat pria itu terdiam sembari menatap balik ke arah wanita itu.
"Kenapa kamu mau bertemu dengan aku hari ini? Padahal kamu sendiri tahu dengan status yang sedang aku sandang, dan tentunya wanita seperti mu pasti sangat teliti sekali dalam memilih pasangan," tanya pria itu.
"Semenjak orang tua aku memberitahukan kalau aku akan dijodohkan dengan kamu, dan mereka pun juga telah memberitahu semua tentang mu, itu cukup membuat aku merasa tertarik Mas."
/0/12571/coverorgin.jpg?v=704c05e92ebf36c9e75cad1cc741deb5&imageMogr2/format/webp)
/0/7039/coverorgin.jpg?v=11b52d2710f09d733e8cc6a62e4a9af2&imageMogr2/format/webp)
/0/21957/coverorgin.jpg?v=3e56ea6f879112f4c5d47416cdcddd68&imageMogr2/format/webp)
/0/3340/coverorgin.jpg?v=9c17fecc66bfb4815836d42dea7f1c0f&imageMogr2/format/webp)
/0/13634/coverorgin.jpg?v=0dc0548ead96d92736c8b70bde21c855&imageMogr2/format/webp)
/0/7073/coverorgin.jpg?v=bd32cbe09214b01b78a8457aafa9b110&imageMogr2/format/webp)
/0/19437/coverorgin.jpg?v=10f7a26f993d2fbbc8598e531f76a716&imageMogr2/format/webp)
/0/13649/coverorgin.jpg?v=71a1e44d784e9cf435c366926f6e250e&imageMogr2/format/webp)
/0/18008/coverorgin.jpg?v=c117440b6886cefdb6e9950c4468fbbf&imageMogr2/format/webp)
/0/14378/coverorgin.jpg?v=431eae7888845d48fdba0a524f2dc790&imageMogr2/format/webp)
/0/13100/coverorgin.jpg?v=afe254af17e871e6088cf43bee5fc044&imageMogr2/format/webp)
/0/19237/coverorgin.jpg?v=66eef1e7927f71ea4d96c3ef901e2d3d&imageMogr2/format/webp)
/0/21233/coverorgin.jpg?v=699e8b4b0e456f9ed95cdbd8908e68b3&imageMogr2/format/webp)
/0/3939/coverorgin.jpg?v=941fdc8b2225acf82e284984594fa01d&imageMogr2/format/webp)
/0/8594/coverorgin.jpg?v=1c1a66e2df4162107ed635ebe7a8509c&imageMogr2/format/webp)
/0/7632/coverorgin.jpg?v=ce45d869568359bb87d6d808cb9c3e9e&imageMogr2/format/webp)
/0/12477/coverorgin.jpg?v=90393f923757376d5a1fe4bb91048bed&imageMogr2/format/webp)