back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pernikahan Kontrak Sang Mafia

Pernikahan Kontrak Sang Mafia

Wike Maliya

5.0
Ulasan
11.2K
Penayangan
153
Bab

Allea Maxwell, gadis penurut, patuh dan baik hati itu tiba-tiba melakukan perubahan signifikan setelah hari di mana ibu kandungnya ditemukan tewas bersimbah darah dalam kamarnya. Kemarahan, dendam serta rasa sakit hati yang dirasakan akibat penyebab kematian ibunya yang misterius, Allea lampiaskan dengan sikap kasar, dan sering berkunjung ke sebuah club malam bersama sahabatnya. Tak hanya itu, kehadiran orang ketiga setelah kematian ibunya, secara otomatis membuat seorang Allea bertambah murka. Diam-diam gadis itu terus berusaha mencari tahu penyebab sang mama meninggal. Apa benar dia bunuh diri seperti yang diucapkan oleh ayahnya? Atau mungkin perempuan itu menjadi korban pembunuhan berencana? Semua pikiran itu terus menerus mengusik Allea, gadis yang usianya baru menginjak dua puluh tahun. Ia sengaja mengkonfrontasi sang ayah dengan sikap urakan dan selalu menentang setiap keputusan sang ayah terhadap dirinya. Hingga suatu pagi, sang ayah yang sudah tidak bisa menghadapi sikap frontal anaknya pun memutuskan untuk menjodohkan Allea dengan seorang pria bernama Morgen William. Seorang pria bertempramen tinggi serta orang yang sejak awal Allea masukkan ke dalam daftar hitam pria yang paling tidak ingin Allea kenal. Namun apa yang terjadi, ayahnya memaksa menjodohkan dan menikahkan Allea dengan pria yang dianggap paling brengsek sejagad raya oleh Allea? Oh shit, memikirkannya saja bisa membuat kepala Allea hampir meledak. Apalagi jika dia harus berhadapan dengan makhluk astral itu setiap hari? Tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Apapun konsekuensinya, Allea harus membuat pria itu menolak untuk menikah dengannya. Berhasilkah Allea melakukan misi pembatalan perjodohan yang dilakukan oleh Adam Maxwell ayahnya terhadap dirinya? Nantikan kisah menarik Allea dan Morgen William terus ya, dear!

Bab 1
Pernikahan Kontrak Sang Mafia
Bermetamorfosis menjadi gadis liar

Terdengar keras dentuman musik di dalam diskotik dengan ciri khas suara bass yang menggelegar. Tampak seorang gadis cantik sedang duduk di meja yang berada di depan bartender.

Meneguk satu sloki minuman yang baru saja dia pesan. Sesekali kepalanya terlihat mengangguk-angguk seiring berjalannya irama musik kreasi sang DJ yang terdengar membahana, menghiasi ruangan. Semakin kencang musik berdentum, semakin bersemangat pula para pengunjung. Sama sekali tidak keberatan dengan suara musik yang terdengar memekakkan telinga bagi orang biasa di luaran sana. Namun, bukan untuk mereka penyuka keramaian tentunya.

"Ayo pulang!" ucap seorang gadis lain yang sedang duduk di sebelahnya.

"Sebentar!" balas gadis yang sedang menikmati alunan musik tersebut.

Gadis berwajah manis yang sedari tadi tak berhenti minum itu adalah Allea Maxwel. Usianya hampir menginjak dua puluh tahun dan ia akan merayakan hari ulang tahunnya sekitar dua bulan lagi. Wajahnya sangat cantik, bertubuh mungil, hidung mancung, bibir tipis merah muda, surai panjang lurus berwarna coklat terang, dengan netra bermanik biru, sangat kontras dengan warna kulit putih susunya. Semua yang ada di tubuhnya terlihat begitu pas. Dan semakin menambah daya tarik Allea terhadap kaum pria.

"Ayolah! Terlalu banyak minum bisa membuatmu bodoh!" ujar gadis yang ada di samping Allea.

"Hmpt! Bodoh ya?" dengus Allea seraya mengela napas pendek.

Tiba-tiba saja Allea berteriak sambil melempar gelasnya. Gelas kaca yang beberapa menit lalu masih terisi penuh oleh tequila, dan dia sesap habis dalam sekali tegukan, sebelum membantingnya.

Praaang!! Pyaaar!!!

"Aaargh, sialan!!!" Berbagai umpatan langsung ke luar dari mulutnya.

"Aku membencimu. Sangat membencimu!" Bibir Allea kembali meracau seiring pecahan gelas kaca yang baru saja dia banting hancur berkeping-keping dan berhamburan di lantai.

Wajahnya terlihat memerah. Entah karena sedang menahan amarah atau karena gadis itu sedang mabuk karena sudah menghabiskan puluhan gelas tequila sejak dua jam lalu, saat dia mendatangi club malam tadi.

Allea adalah seorang mahasiswi semester empat di sebuah universitas ternama di dunia. Ya, ia adalah gadis yang cerdas dengan segudang prestasi di balik sikap urakan yang sering dia perlihatkan di hadapan banyak orang.

"Beri aku satu gelas lagi!" Allea kembali berteriak pada seorang bartender yang tengah meracik minuman di belakang meja bar.

"Allea, kau harus berhenti minum sekarang!" Sheira, gadis yang sedari awal bersama dengan Allea berusaha mencegah agar sahabatnya itu berhenti minum. Pasalnya, Allea sudah terlihat sangat mabuk dan mulai hilang keseimbangan.

"Sudah terlalu banyak minuman beralkohol yang kau teguk malam ini. Jarak rumah kita jauh dan aku tidak bisa menyetir. Siapa yang akan mengantarkan kita pulang jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu?" Sheira memberi alasan yang tepat agar sahabatnya itu mau menuruti keinginannya.

Kemudian, ia menarik tangan Allea agar segera beranjak dan pergi meninggalkan club. Sementara jarum jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, waktu yang terlalu larut untuk mereka berkeliaran di luar seperti ini. Seharusnya mereka sudah terlelap di atas kasur nyaman, seperti yang dilakukan anak-anak seusia mereka.

Namun lain halnya bagi kedua remaja ini, tidur awal bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Rumah hanyalah tempat persinggahan sesaat, atau kau akan mati kesepian karena terlalu lama berada di tempat itu. Allea adalah tipe gadis yang menyukai keramaian, tepatnya sejak dua tahun lalu.

"Berhenti mengurusi aku. Jangan menceramahi aku seperti yang dilakukan pria tua itu! Aku bosan mendengarnya!" Bukannya berhenti, Allea justru berteriak marah dan menyentak tangan Sheira yang tengah menarik lengannya hingga terlepas.

Sheira tak bisa berbuat banyak, ia hanya diam sambil kembali duduk di kursinya. Pikirannya mulai berkelana mencari cara untuk segera membawa pulang sahabat terbaiknya. Ia membayangkan banyak hal jika Allea sampai hilang kendali, bahkan pikiran-pikiran buruk pun mulai muncul untuk menghantui dan menakuti angan-angannya.

Namun, tak jauh dari tempat mereka duduk, terlihat seorang pria tampan yang sedang berjalan ke arah mereka. Rupanya tindakan Allea yang membanting gelas itu berhasil menarik perhatiannya.

"Permisi, Nona! Ada yang bisa saya bantu?" sapa pria itu sambil duduk di kursi sebelah Sheira.

Sheira yang terkejut saat mendengar suara itu langsung tersadar dari lamunannya.

"Emm ... tidak." balas Sheira dengan senyum yang dipaksakan.

"Hei ganteng, mau berjoget denganku?" Namun, jawaban berbeda ke luar dari mulut Allea yang sudah mabuk berat dan langsung menyela ucapan sahabatnya. Gadis itu menatap penuh minat ke arah pria muda yang terus mengamati wajahnya.

"Halo manis, dengan senang hati." Dengan segera pria muda itu mengulurkan tangan, menyambut hangat tawaran Allea. Gadis cantik yang sejak tadi memang menarik perhatiannya.

Selanjutnya Allea dan pria yang tidak mereka kenal itu segera turun ke bawah, tepatnya area dance floor yang disediakan oleh pihak diskotik. Meninggalkan Sheira duduk sendirian di depan meja bar. Di tengah kesadaran yang semakin menipis Allea terus berjoget, meloncat, menghentak-hentakkan kakinya berulang kali mengikuti alunan music dari DJ.

Sementara pria muda itu sekarang sudah terlihat puas. Gadis dalam pelukannya ini terus saja bergerak ke sana ke mari, sehingga dengan mudahnya tangan pemuda itu bisa memegang serta meraba bagian tubuh sexy Allea.

"Kau sudah sangat mabuk, sepertinya lebih baik kita duduk saja." Merasa lelah menopang berat badan Allea, akhirnya pria itu menyerah. Memilih mengakhiri sesi dance floor mereka berdua dan kembali ke tempat duduk semula.

"Hmm ...." Allea yang memang sudah di ambang batas kesadarannya hanya berguman pelan dan menuruti pria yang sedari tadi memeluk pinggangnya dengan erat.

"Kau yakin tidak memerlukan bantuanku, Nona?" Begitu sampai kembali di meja dan menempatkan Allea duduk di tempat semula, pria itu kembali bertanya pada Sheira.

"Tidak, sepertinya semua baik-baik saja. Aku tidak mabuk dan tidak minum alkohol sama sekali malam ini. Jadi aku bisa membawanya pulang." sahut Sheira menjawab pertanyaan pemuda tersebut.

Pria itu lantas menoleh ke arah Allea yang kini sudah terlihat mabuk berat dengan posisi duduk dan tertidur dengan kepala dan tangan berada di atas meja.

"Kau yakin itu baik-baik saja, Nona?" Pria itu bertanya sambil tersenyum manis.

"Emm .... emm ...." Sheira tampak gugup untuk menjawab pertanyaan itu, karena ia merasa malu sekaligus bingung dengan keadaan yang sedang ia hadapi.

Seperti memahami perasaan Sheira, pria itu langsung bangkit dan berjalan ke arah Allea. Tanpa basa-basi, ia langsung mengangkat tubuh gadis itu.

"Ayo, aku akan mengantar kalian pulang!" ucap pria itu sambil tetap memperlihatkan senyuman manisnya.

Sejujurnya, Sheira merasa senang dengan apa yang akan dilakukan pria itu. Namun, ia juga khawatir jika pria tersebut bermaksud jahat kepada dirinya dan Allea. Tapi, situasi dan kondisi saat ini memaksa ia untuk melupakan semua itu dan berharap segera keluar dari tempat ini, sekarang juga.

"B-baiklah, ikuti aku!" Sheira berkata pelan sambil berjalan mendahului pria yang sedang menggendong Allea. Tanpa perlu menjawab, pria itu lantas mengikuti langkah Sheira menuju ke arah mobil Allea yang sedang terparkir rapi di tempat khusus parkir.

Sesampainya di sana, Sheira langsung membuka pintu dan pria itu dengan cepat menidurkan Allea di kursi belakang. Setelah melihat sahabatnya dalam posisi aman, Sheira lantas menutup dan mengunci pintunya. Kemudian giliran dia yang duduk di kursi depan bersama sang pria baik hati yang akan menjadi sopir mobil itu dengan sukarela.

"Sudah, terima kasih ya!" ucap Sheira pelan sambil menatap lembut ke arah pria itu.

"Tak masalah, aku sengaja ingin membantumu saat mendengar kau tak bisa menyetir. Aku pernah berada di posisimu, jadi sangat mengerti apa yang kau rasakan," balas pria itu sambil menghidupkan mesin mobilnya.

"Terima kasih. Tapi maaf, aku tak bisa membalas kebaikanmu," sahut Sheira dengan nada sedikit kecewa.

Mendengar ucapan Sheira barusan, Pria itu pun langsung tertawa seiring dengan laju mobil yang mulai memasuki jalan raya. Jalanan sepi membuat mobil bisa melaju dengan lancar tanpa hambatan, tapi pria itu sengaja melajukan mobilnya hanya di kecepatan empat puluh kilometer per jam.

"Jangan khawatir! Aku sudah membantumu dan kau harus membantuku, itu saja sudah cukup," ujar sang pria sambil membuka resleting celananya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya fokus memegang stir. Pria itu tidak bisa lagi menahan syahwatnya setelah bergumul dengan Allea di dance floor beberapa saat lalu.

Sheira yang sudah paham dengan kode itu langsung melakukan tindakan yang seharusnya ia lakukan. Sebagai gadis yang hidup di zaman modern dan terbiasa dengan kehidupan malam, ia paham betul cara membalas budi dengan cara ini. Dalam sekejab, Sheira bermetamorfosis menjadi gadis liar.

"Ohhh shit ...." Bahkan saat ini ia pun terlihat sangat menikmati kegiatannya, hingga tak terasa mobil yang mereka bertiga tumpangi sudah sampai di tempat tujuan, seiring lenguhan keras dari mulut sang pria. Yaitu apartemennya.

**

Sementara di dalam diskotik, tepatnya dua meja dari tempat Allea dan sahabatnya duduk, serta baru saja mereka tinggalkan, terlihat seorang pria lain tengah mengepalkan kedua tangannya erat. Rahangnya pun ikut mengeras, tatkala melihat kepergian mereka bertiga. Pria yang sedari tadi mengawasi dan memperhatikan Allea, Sheira, serta pria yang bersikap sok pahlawan itu, tanpa mereka sadari.

Sorot mata tajam dan penuh kebencian, ditujukan untuk sang pria yang tengah menggendong Allea. Bak pedang yang siap menghunus jantung lawan hingga terkapar.

"Terus awasi ke mana mereka pergi. Bawa pria itu ke hadapanku, setelah dia mengantarkan dua gadis itu!" titahnya kemudian pada seorang pria lain yang sedari tadi duduk di sampingnya.

"Hajar dia sesukamu, tapi jangan biarkan dia mati. Dia harus merasakan siksaan pedih berkepanjangan karena telah berani berurusan denganku!" Begitu arogan, pria itu mengucapkan perintah untuk menyiksa seseorang tanpa ada rasa berdosa sedikitpun di wajahnya.

Bersambung...

Buku serupa
Unduh Buku