PESONA IBLIS MAFIA KEJAM

PESONA IBLIS MAFIA KEJAM

Zaida Snow

5.0
Komentar
1.9K
Penayangan
31
Bab

Berusaha berlari dari kehidupan mafia dengan kabur dari ayahnya, dia tidak sadar semua itu telah mengalir di dalam darahnya. Ia seorang yang dingin, kejam, dengan wajah setampan iblis Lucifer, dan setiap gerakannya sangat mematikan. Namun, semua sikap itu justru menjadi pesona tak terbendung di mata para wanita dan orang-orang di sekitarnya.

Bab 1 Remaja Pemberontak yang kabur

Jeffrey Tanaka hanya memiliki sedikit stok rasa takut, dan kini ia telah kehilangan semuanya, tak bersisa!

"Jeff, letakkan senjatamu!" teriak Diego dengan rahang mengeras pada keponakannya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama itu.

Diego dan sisa personil timnya bersembunyi dibalik pepohonan di sepanjang tebing curam, sedangkan Jeff tepat berada di pinggiran tebing yang langsung berbatasan dengan laut. Debur ombak memecah batu karang, membuat suasana malam kian mencekam.

"Cih, jangan harap!! Kalian harus membayar semua perbuatan kalian!" pekik remaja tanggung itu dengan suara dingin penuh ancaman, sedikit bergetar oleh amarah.

Jeff telah cukup lama berlatih beragam ilmu bela diri dan penggunaan berbagai jenis senjata, tapi baru kali ini ia membunuh. Entah sudah berapa orang yang telah terkena tembakan pistol revolver di tangannya, Jeff tak peduli. Baginya, mereka semua adalah pembunuh ibunya, Ayumi Tanaka.

Jeff memandang bengis puluhan pria berpakaian hitam yang berupaya membekuknya. Meskipun malam ini adalah untuk yang pertama kalinya ia membunuh belasan nyawa sekaligus, remaja tanggung itu tak terguncang sama sekali, wajah tampannya tampak memancarkan aura yang begitu dingin dan mengancam. Pantas saja Alex dan Diego berupaya merebutnya paksa dari tangan Ayumi Tanaka untuk menjadikannya salah satu penerus klan Rodriguez.

"Ibumu terlalu membangkang, tim terpaksa menembaknya. Seharusnya kau tak mendukung ibumu untuk kabur, karena dia bukan ibumu yang sebenarnya," tukas Diego lagi.

Sesungguhnya amarah Diego sudah mencapai ubun-ubun. Bagaimana tidak? Sebanyak lima belas orang anak buahnya harus mati konyol di tangan keponakannya sendiri, yang sedang mengamuk tak terkendali.

Diego tahu, Jeff sangat berbakat dan terlatih. Tentu saja berkat dorongan Alex dan dirinya. Namun tak pernah terlintas dibenak Diego, keponakannya ini akan menjadi begitu tangguh dan sadis. Haruskah ia heran? Tangguh dan sadis? Bukankah itu terdengar persis seperti Alex dan dirinya!

Sementara itu Jeff yang diliputi api amarah dan dendam, benar-benar tak mau mendengar apapun yang diucapkan Diego. "Omong kosong! Kembalikan hidup ibuku, Die-go Rod-ri-guez! Atau nyawa kalian sebagai gantinya!!" Pekik Jeff kalap. Netranya mulai memerah, lelah menahan gelombang dahsyat yang hendak menyembur dari dalamnya. Kehilangan Ayumi Tanaka menciptakan luka yang paling dalam di lubuk hatinya.

"Sekali lagi, letakkan senjatamu, Jeffrey! Atau tim terpaksa menembakmu. Jika kau terus keras kepala, maka akan kubiarkan kau menyusul Shurrogate mother-mu itu," ancam Diego. Sungguh, jauh dari kesan seorang paman yang penyayang.

"Fiuuh...! Demi tujuan kalian tercapai, kalian sanggup mengarang cerita bohong." Jeff tetap tak percaya dengan ucapan Diego yang mengatakan kalau Ayumi Tanaka bukan Ibu kandungnya, melainkan hanya seorang Shurrogate mother atau seorang Ibu Pengganti yang hanya bertugas untuk hamil dan melahirkannya.

Selama ini, Ayumi merawat dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang, layaknya seorang Ibu sejati. Tak pernah terlintas dibenak Jeff kalau Ayumi Tanaka bukan Ibu kandungnya.

Dan hari ini, ia harus menyaksikan hal yang paling memilukan di hadapannya, dimana pamannya sendiri telah membawa orang-orangnya untuk menembak wanita yang dipanggilnya Ibu.

Dor...! Dor dor dor!!

Jeff melepaskan tiga tembakan untuk melindungi pergerakannya. Sambil terus berlari menjauh, ia menembak, lagi dan lagi.

Rimbunnya pepohonan menghalangi pandangan Diego dan timnya, membuat mereka kehilangan jejak dari remaja bandel dan labil itu. Diego menghempas puntung rokoknya dengan kesal, lalu menendang gundukan tanah yang tak berdosa di depannya, "Damned!'' Diego Rodriguez berteriak putus asa.

Sementara itu Jeff terus berlari dan berlari, tak peduli rasa sakit di bagian betis dan pahanya yang tertusuk oleh ranting-ranting pohon mati, juga semak-semak kering di sepanjang tebing Pantai Windansea, California.

Hampir tiga jam Jeff terseok-seok turun naik tebing dan lembah, dengan air mata mulai bercucuran begitu saja, ia terus menyalahkan dirinya yang tak bisa melindungi sang Ibu.

Kini, Jeff hanya ingin pergi jauh dari lingkungan klan Rodriguez yang penuh kekerasan dan pertumpahan darah. Ia akan mengikuti keinginan dan pesan Ayumi Tanaka untuk meninggalkan dan melupakan semua hal yang berkaitan dengan Klan Rodriguez.

Bugh!

''Aaargh...!"

Kaki Jeff tersandung. Karena kelelehan, Jeff mulai kehilangan fokus dan tak sadar akan adanya sebuah batu cukup besar di depannya, ia pun jatuh terjungkal kemudian berguling-guling di antara semak dan bebatuan.

Beberapa kali kepalanya menghantam batu cadas dengan cukup keras, membuatnya pening tak sadarkan diri. Akhirnya tubuh malang berlumuran darah itu terkapar di halaman belakang salah satu vila mewah yang berada di pinggiran pantai Windansea.

***

Cahaya mentari pagi menyingsing memandikan tubuh Jeff yang terbujur lemah. Terlihat bercak merah mulai mengering di rerumputan hijau di sekitar tubuh Jeff. Sepertinya ia telah kehilangan cukup banyak darah.

"Kakak, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau hanya tidur sendirian di sini? Apa kau tak punya rumah?'' Suara cadel dan lembut dari seorang gadis kecil perlahan menyusup ke dalam telinga Jeff yang mulai tersadar dari pingsannya.

Jeff berusaha mengangkat kepalanya yang terasa agak berat, agar ia dapat melihat siapa saja yang berada di hadapannya. Netra Jeff memindai seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun, tengah memeluk boneka panda lucu, juga sepasang pria dan wanita yang tampak sibuk memeriksa kondisi sekujur tubuh Jeff dengan ekspresi cemas di wajah mereka.

"Kita bawa dia masuk, Moana. Dia harus segera ditangani,'' ujar Reiji Fujiwara kepada sang istri. Moana hanya menganggukkan kepala dengan cepat, ia terlalu fokus memeriksa kondisi tubuh remaja di hadapannya.

"Ayah, Ibu, kasihan sekali kakak yang tampan ini. Mungkin, dia bisa jadi kakak laki-lakiku, hmm...?'' gumam Kiara setengah bertanya. Membuat kedua orang tuanya saling berpandangan dan tertawa.

"Oke, sayang. Kau boleh menjadikannya kakakmu. Dia pasti akan sangat senang memiliki adik secantik dan sepintar dirimu." Moana membelai sayang rambut indah sang putri cantik miliknya, membuat Kiara tersenyum dan berjingkat senang.

Reiji memiliki tubuh yang tinggi dan atletis, sehingga dengan mudahnya dapat mengangkat tubuh Jeffrey ke dalam vila, diikuti oleh Moana dan Kiara di belakangnya. Jeff yang masih linglung hanya diam pasrah, nalurinya meyakini kalau ketiga orang yang bersamanya saat ini adalah orang-orang baik yang berusaha menolongnya.

Reiji meletakkan tubuh kokoh Jeff pada sebuah matras tipis di dalam ruangan medis khusus yang melengkapi vila mewah itu. "Moana, kita berikan pertolongan pertama segera. Setelah itu panggil Dokter Glen atau kita bawa saja anak ini ke Rumah Sakit terdekat."

"Iya, sayang. Aku akan mengambilkan semua perlengkapan P3K untukmu."

Reiji membuka baju dan celana panjang Jeff perlahan, dibantu oleh Moana. Lalu keduanya mulai membersihkan seluruh darah dan luka di tubuh Jeff.

"Siapapun kalian, terimakasih telah berbuat baik dengan menolongku," desis Jeff parau.

"Jangan sungkan, kami hanya melakukan sebuah kesenangan. Iya, kami sangat menikmati saat bisa bermanfaat bagi sesama. Berbaringlah yang tenang," jawab Reiji dengan kalimat yang bijaksana. Ia dan Moana dengan cekatan membalut luka demi luka yang bersarang di tubuh Jeff.

"Hai Kakak, perkenalkan namaku Kiara Fujiwara. Cita-citaku adalah menjadi seorang Dokter, agar aku bisa membantu menyembuhkan orang-orang yang sakit sepertimu," cicit Kiara dengan wajah imut dan suara cadelnya yang menggemaskan.

Jeff menoleh lemah. "Hai..., aku Je--," ucap Jeff terputus, setelahnya ia kembali terkulai pingsan.

#bersambung

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Zaida Snow

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku