Suara detak jam dinding di kamar itu terasa seperti hantaman palu yang memukul kepala Kinanti. Bau parfum pria yang mahal bercampur dengan aroma alkohol yang menyengat menusuk hidungnya. Kinanti mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang terasa tercecer di lantai. Kepalanya berat sekali, seolah ada bongkahan batu yang menekan saraf-saraf di pelipisnya.
Perlahan, ia merasakan sesuatu yang asing. Tekstur seprai sutra yang halus di bawah telapak tangannya, dan kehangatan kulit seseorang yang bersentuhan dengan lengannya. Kinanti menoleh dengan kaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok di sampingnya.
Arjuna Adiwangsa.
Pria itu masih terlelap, napasnya teratur namun berat. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan menutupi dahi. Namun yang membuat dunia Kinanti runtuh bukan sekadar melihat Arjuna di sana, melainkan fakta bahwa mereka berdua berada di balik selimut yang sama, tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh masing-masing.
"Nggak... nggak mungkin," bisik Kinanti. Suaranya serak, nyaris hilang.
Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ia ingat Arjuna pulang dalam keadaan mabuk berat setelah merayakan proyek barunya. Sebagai orang yang menumpang di rumah itu dan merasa berutang budi, Kinanti hanya berniat membantunya sampai ke kamar. Ia membawakan segelas air lemon hangat, lalu... sisanya gelap. Semuanya tertutup kabut hitam yang pekat.
Kinanti menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai dengan tangan gemetar. Ia ingin segera lari. Ia ingin menghilang sebelum matahari benar-benar naik. Namun, sebelum ia sempat turun dari ranjang, pintu kamar itu terbuka dengan dentuman keras.
"Surprise! Happy birth-"
Kalimat itu terputus di udara. Di ambang pintu, Valerie berdiri mematung. Kotak kue di tangannya merosot, jatuh ke lantai hingga isinya hancur berantakan. Di belakangnya, beberapa teman Arjuna dan asisten rumah tangga ikut terpaku.
Suasana seketika membeku. Oksigen seolah tersedot keluar dari ruangan itu.
Arjuna tersentak bangun karena suara gaduh itu. Ia duduk dengan kasar, matanya yang merah karena sisa alkohol menatap nanar ke arah pintu, lalu beralih ke sampingnya-ke arah Kinanti yang sedang berusaha menutupi tubuhnya dengan seprai sambil menangis sesenggukan.
"Valerie?" suara Arjuna parau, penuh kebingungan.
Valerie tidak menjawab. Wajah cantiknya pucat pasi, air mata mulai mengalir deras menghapus riasan wajahnya yang sempurna. Ia menatap Kinanti dengan tatapan yang sangat menghina, seolah melihat kotoran yang paling menjijikkan di muka bumi.
"Jadi ini kelakuan kamu, Jun? Sama dia? Sama pembantu ini?" suara Valerie melengking, pecah oleh rasa sakit yang luar biasa.
"Val, ini nggak seperti yang kamu lihat. Aku... aku nggak tahu," Arjuna mencoba turun dari ranjang, tidak peduli dengan kondisinya sendiri, tapi Valerie sudah lebih dulu berbalik dan lari meninggalkan ruangan itu.
Arjuna menggeram frustrasi. Ia menjambak rambutnya sendiri, lalu tatapannya beralih pada Kinanti. Tidak ada lagi kehangatan atau rasa kasihan di matanya. Yang ada hanyalah kilatan kemarahan yang bisa membakar siapa saja.
"Apa yang kamu lakuin, Kinanti?!" bentak Arjuna. Suaranya menggelegar di kamar yang luas itu.
"Aku... aku nggak tahu, Mas. Aku bener-bener nggak tahu," Kinanti tergugu. Tubuhnya gemetar hebat sampai giginya bergemeletuk.
Arjuna merangsek maju, mencengkeram rahang Kinanti dengan kuat hingga gadis itu memekik kesakitan. "Nggak tahu? Kamu pikir aku bodoh? Kamu sengaja, kan? Kamu kasih apa di minuman aku semalam?"
"Nggak, Mas! Sumpah, aku cuma bawain air lemon..."
"Bohong!" Arjuna mendorong Kinanti hingga kepalanya terbentur sandaran ranjang yang keras. "Kamu itu cuma parasit di rumah ini. Orang tua aku kasih kamu tempat tinggal, kasih kamu makan, kasih kamu sekolah, tapi ini cara kamu balas budi? Kamu mau jebak aku supaya bisa jadi nyonya di rumah ini, iya?!"
Kinanti menggeleng kuat-kuat. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang memerah. "Aku nggak pernah punya niat kayak gitu, Mas. Demi Tuhan..."
"Jangan bawa-bawa Tuhan dengan mulut kotor kamu itu!" Arjuna berdiri, menyambar jubah mandinya dan memakainya dengan kasar. "Lihat apa yang kamu buat. Kamu hancurin rencana aku sama Valerie. Hari ini seharusnya aku melamar dia secara resmi di depan keluarga besar!"
Kinanti hanya bisa meringkuk, memeluk lututnya di atas ranjang yang kini terasa seperti tempat eksekusi. Ia merasa sangat kecil, sangat rendah. Statusnya sebagai "gadis kampung" yang ditolong keluarga Adiwangsa kini benar-benar menjadi senjata untuk menghakiminya. Di mata semua orang di rumah ini, ia hanyalah orang asing yang tahu diri, dan sekarang ia dianggap sebagai pengkhianat yang menusuk dari belakang.
Arjuna berjalan ke arah jendela, menatap ke luar dengan napas memburu. "Keluar," ucapnya dingin.
Kinanti mendongak kaget. "Mas..."
"Keluar dari kamar aku! Dan jangan pernah muncul di depan muka aku sampai aku tahu gimana cara bersihin kekacauan yang kamu buat ini!"
Kinanti segera memunguti pakaiannya dan lari menuju kamar mandi di dalam kamar itu untuk berganti pakaian secepat kilat. Setiap detik yang ia habiskan di sana terasa seperti siksaan. Saat ia keluar, Arjuna masih berdiri membelakanginya, bahunya naik turun menahan amarah yang meledak-ledak.
Begitu Kinanti keluar dari kamar Arjuna, ia disambut oleh tatapan-tatapan tajam dari para pelayan yang berkumpul di lorong. Mereka berbisik-bisik, suara mereka cukup keras untuk didengar oleh telinga Kinanti.
"Nggak nyangka ya, kelihatannya aja polos, ternyata licik banget."
"Iya, dasar nggak tahu diri. Sudah ditampung malah mau nyolong anak majikan."
Kinanti terus berlari menuju kamarnya yang kecil di bagian belakang rumah. Ia mengunci pintu, lalu luruh ke lantai. Dadanya sesak, rasanya seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya sampai hancur. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha agar isak tangisnya tidak terdengar keluar.
Ia teringat almarhum ibunya. Pesan terakhir ibunya adalah agar ia selalu menjaga kehormatannya, karena itu satu-satunya harta yang ia miliki sebagai orang miskin. Dan sekarang, dalam satu malam, harta itu hilang. Hilang oleh pria yang selama ini diam-diam ia kagumi, pria yang kini justru menjadi orang yang paling membencinya di dunia.
/0/31173/coverorgin.jpg?v=6638fc12a4d08d1eb630f7202f105bd6&imageMogr2/format/webp)
/0/2673/coverorgin.jpg?v=01bcae8d5f147832ddb6f44dfb02cfa8&imageMogr2/format/webp)
/0/9741/coverorgin.jpg?v=4e3a585933dc86c7a8933d2550549994&imageMogr2/format/webp)
/0/23510/coverorgin.jpg?v=5edef706926659f99d3ed836d274efb0&imageMogr2/format/webp)
/0/28100/coverorgin.jpg?v=6edda16c2599f96c1c5e03c55d7ad39a&imageMogr2/format/webp)
/0/5379/coverorgin.jpg?v=4c202b2c3430a6aad7f3fb4ade33b625&imageMogr2/format/webp)
/0/3782/coverorgin.jpg?v=257f762159c1268ce587f41a803191f4&imageMogr2/format/webp)
/0/14057/coverorgin.jpg?v=94c831b7f982301983c825857edf2680&imageMogr2/format/webp)
/0/31211/coverorgin.jpg?v=c8939994647cac030a92407421f68b8c&imageMogr2/format/webp)
/0/21322/coverorgin.jpg?v=36aee7773b0788d14186a7b02eb2d14b&imageMogr2/format/webp)
/0/16286/coverorgin.jpg?v=50b3e3f6bff299b91fb512578e017c81&imageMogr2/format/webp)
/0/16908/coverorgin.jpg?v=eb76d5e78c94ca3449e4ff205c00d6f9&imageMogr2/format/webp)
/0/17557/coverorgin.jpg?v=9a79e578350ce20c8a46be33f49dc8b8&imageMogr2/format/webp)
/0/15887/coverorgin.jpg?v=444c24431b82a18eaa8aeb3353a1cf76&imageMogr2/format/webp)
/0/17910/coverorgin.jpg?v=3990dd583fb4dc94a1b14b2ec024bccb&imageMogr2/format/webp)
/0/18902/coverorgin.jpg?v=65d19d6cc8fd19ff0990ac7a6a74b941&imageMogr2/format/webp)
/0/19622/coverorgin.jpg?v=73733647e6f2a2812273138ab4bae08f&imageMogr2/format/webp)