Suamiku Guy, Lelaki Sombong!

Suamiku Guy, Lelaki Sombong!

Dewi Maya

5.0
Komentar
162
Penayangan
25
Bab

21++ khusus dewasa! Sela, gadis pemberontak dengan jiwa liar dan kecanduan adrenalin, hidup dalam konflik yang tak pernah usai. Motor kesayangannya disita ayah karena balapan liar, pacarnya memutuskan hubungan karena tidak tahan dengan sikapnya, dan amarahnya semakin tak terkendali. Dalam pelarian emosinya di tengah malam Jakarta, ia justru menabrak mobil mewah milik seorang pria asing. Pertemuan itu menjadi awal dari perseteruan panas antara Sela dan pria tersebut-seseorang dengan tatapan dingin dan sikap tenang yang membuatnya semakin terbakar emosi. Tanpa ia sadari, pertemuan itu adalah pintu masuk menuju rangkaian kejadian tak terduga yang akan mengguncang hidupnya. Bukan hanya tentang balapan, amarah, atau harga diri, melainkan tentang cinta, rahasia besar, dan pertaruhan hidup yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar lintasan jalanan.

Suamiku Guy, Lelaki Sombong! Bab 1 meredakannya adalah dengan merasakan

Deru mesin empat silinder memecah keheningan jalanan malam Jakarta. Sela, dengan rahang mengeras dan cengkeraman kuat pada kemudi, menekan pedal gas dalam-dalam. Jarum speedometer terus naik, melewati angka 80, 100, hingga 120 kilometer per jam. Bukan karena ia sedang terburu-buru, melainkan karena ia butuh pelampiasan. Amarahnya memuncak, menguap dari setiap pori-pori kulitnya, membakar habis akal sehatnya. Ia merasa seperti gunung berapi yang siap meletus, dan satu-satunya cara untuk meredakannya adalah dengan merasakan hembusan angin yang seolah merobek wajahnya.

Mobil sedan berwarna hitam metalik itu melaju bagai kilat, memotong arus lalu lintas dengan seenaknya. Sorot lampu dari mobil lain yang membunyikan klakson tidak ia hiraukan. Hatinya begitu mendidih, membayangkan motor kesayangannya, sebuah Harley-Davidson Sportster 883, yang kini teronggok tak berdaya di garasi rumah, terkunci dengan rantai besi tebal.

"Sialan!" umpatnya, memukul setir keras-keras. "Gue cuma balapan sebentar, kenapa motor gue harus disita segala, sih?!"

Ingatan tentang perdebatan panasnya dengan sang ayah masih segar. Suara baritonnya yang tegas, mata tajamnya yang menuntut, dan kata-kata yang menusuk relung hati. "Selagi kamu masih tinggal di bawah atap rumah ini, kamu harus patuh pada aturan! Balapan liar itu berbahaya, Sela! Ayah nggak mau kamu kenapa-kenapa!"

Kata-kata itu bagai racun yang menyebar di nadinya. Menurut Sela, balapan liar adalah seni. Sebuah tarian berbahaya yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berani menantang maut. Itu adalah jiwanya, identitasnya. Baginya, menyita motor itu sama saja dengan memotong sayapnya, mencabut satu-satunya kebebasan yang ia punya. Ia merasa terkekang, tak berdaya, dan ia benci perasaan itu.

Kemarahan Sela tak hanya berhenti di situ. Malam tadi, ia juga baru saja diputusin pacarnya, Danu. Danu bilang ia tidak tahan dengan sifat "liar" Sela. Sela tertawa hambar mengingatnya. Tentu saja, Danu tidak akan pernah mengerti. Bagaimana mungkin seorang pemuda kutu buku yang hanya tahu tentang buku dan rumus fisika bisa mengerti tentang gairah dan adrenalin yang mengalir deras dalam darahnya? Balapan liar dan pacaran adalah dua dunia yang tak bisa bersatu.

"Bodoh!" maki Sela lagi. Tangan kirinya menjangkau botol air mineral di sampingnya, lalu meneguknya hingga tandas. "Semua orang bikin gue kesel! Ayah, nyokap, Danu... bahkan anjing di rumah gue juga kayaknya lagi ngeselin. Ah, dunia ini emang nggak adil!"

Ia melirik spion, melihat lampu-lampu jalanan yang berkelebat begitu cepat di belakangnya. Ia merasa seolah sedang balapan melawan waktu, melawan nasib. Dengan satu tarikan napas, ia kembali fokus ke jalan. Jemari lentiknya menggenggam erat kemudi, siap untuk apa pun yang akan datang.

Mendadak, lampu lalu lintas di depannya berubah menjadi merah. Sela mengerem mendadak, membuat mobilnya berdecit nyaring. Otaknya yang dipenuhi amarah tidak sempat bereaksi dengan cepat. Ia baru menyadari bahwa ada sebuah mobil mewah, sedan sedan Audi R8 berwarna putih, yang berhenti tepat di depannya. Tanpa sempat menghindar, Sela membanting setir, namun itu tidak cukup. Bunyi "brak!" yang memekakkan telinga terdengar nyaring. Bagian depan mobilnya menabrak bumper belakang mobil Audi itu.

Jantung Sela berdebar kencang. Bukan karena kaget atau takut, melainkan karena adrenalin yang meluap. Mobil yang ia kendarai adalah mobil pinjaman dari ayahnya, dan kini mobil itu lecet, dan lebih parah lagi, mobil di depannya jauh lebih mewah. Namun, bukannya merasa bersalah, Sela justru merasa amarahnya semakin menjadi-jadi. Ia merasa dunia sedang berkonspirasi untuk mengganggunya.

Dengan gerakan cepat dan kasar, Sela membuka pintu mobilnya. Ia keluar dengan langkah lebar, seperti singa yang baru saja bangun dari tidurnya. Ia menunjuk-nunjuk mobil Audi yang lecet di bagian belakangnya dengan mata melotot. "Woy! Keluar lo! Kenapa sih lo musti berhenti dadakan gitu?!"

Pintu mobil Audi terbuka, dan seorang laki-laki keluar dari sana. Ia memiliki postur tinggi semampai, mengenakan kemeja berwarna biru muda yang digulung sampai siku, celana kain berwarna senada, dan sepatu pantofel hitam yang mengilat. Rambutnya disisir rapi ke samping, dan wajahnya bersih. Namun, yang paling menarik perhatian Sela adalah ekspresinya yang datar. Sangat datar. Seolah-olah dunia baru saja kiamat, dan ia tidak peduli.

Laki-laki itu berjalan mendekati mobilnya yang lecet, lalu ia menoleh ke arah Sela. Tatapannya dingin dan menusuk. "Maaf, apa Anda tidak melihat lampu lalu lintas? Lampu sudah merah, tentu saja saya berhenti." Suaranya tenang, namun mengandung nada sinis. "Anda yang menabrak mobil saya, kenapa justru Anda yang marah?"

Sela melipat kedua tangannya di dada. Matanya mendelik. "Apa-apaan sih lo?! Lampunya baru aja merah. Lo yang terlalu cepet ngerem!"

Laki-laki itu menghela napas panjang. Ia mengambil ponselnya dari saku celana. "Saya tidak ingin berdebat. Saya tidak punya banyak waktu. Mobil Anda menabrak mobil saya, jadi sudah sewajarnya Anda yang bertanggung jawab."

"Halah, lecet doang juga!" balas Sela ketus, menunjuk bekas lecet di mobilnya dan mobil laki-laki itu. "Lagian, mobil lo kan mobil mahal, nggak bakal miskin kan cuma gara-gara lecet kayak gini? Jangan lebay deh lo!"

Ekspresi datar laki-laki itu mulai menunjukkan sedikit tanda-tanda perubahan. Matanya menyipit, dan ia menatap Sela dari atas ke bawah. Sela yang merasa diremehkan, menjadi semakin marah. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia melangkah maju, kakinya yang berbalut sepatu kets menapak dengan keras di aspal. Ia berjinjit, lalu dengan cepat, ia menarik kerah kemeja laki-laki itu.

"Denger ya! Gue nggak bakal bayar ganti rugi apa pun! Lo pikir gue punya uang banyak buat ganti rugi mobil mahal lo ini?! Mending lo pergi aja, jangan cari masalah sama gue!" ancam Sela, suaranya naik satu oktaf.

Laki-laki itu tidak bergeming. Ia membiarkan Sela menarik kerah kemejanya. Ia menatap mata Sela yang berapi-api tanpa rasa takut sedikit pun. Ia bahkan tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya, senyum yang terkesan mengejek. "Lepaskan tangan Anda. Saya rasa cara Anda berbicara tidak sopan. Seharusnya Anda minta maaf, bukan malah mengancam saya."

"Minta maaf?! Nggak bakal! Lo yang harusnya minta maaf sama gue!" Sela berteriak di depan wajah laki-laki itu. Ia tidak peduli jika orang-orang di sekitarnya mulai melihat mereka. Amarahnya sudah membutakan segalanya.

Tiba-tiba, dari arah belakang, beberapa orang warga dan pengendara lain datang menghampiri. Mereka berusaha memisahkan Sela dan laki-laki itu. "Sudah, Mas, Mbak, jangan ribut. Ini di jalanan. Kasihan yang lain," ujar seorang bapak-bapak paruh baya.

Sela melepaskan cengkeramannya dari kerah laki-laki itu. Napasnya terengah-engah. Ia menatap bapak itu dengan mata memelas. "Pak, bapak lihat sendiri kan? Cowok ini nyebelin banget! Gue udah minta dia pergi, tapi dia maksa minta ganti rugi."

Laki-laki itu, dengan tenang, merapikan kerah kemejanya yang kusut. Ia menatap Sela dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak berteriak, tidak memaki. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Maafkan saya, Bapak. Saya hanya meminta pertanggungjawaban dari beliau karena menabrak mobil saya."

Warga yang melihat situasi itu mulai merasa iba dengan laki-laki itu. Mereka menasihati Sela untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Sela yang merasa tidak ada yang berpihak padanya, menjadi semakin kesal. Ia merasa dijebak.

"Oke, fine! Gue pergi!" Sela membanting pintu mobilnya dengan keras. Sebelum masuk ke dalam, ia membuka kaca jendela mobilnya, lalu menjulurkan kepalanya. Ia menatap laki-laki itu tajam. "Denger ya, cowok sombong! Awas aja lu kalo gue ketemu lagi! Gue pasti bakal bikin lo nyesel!"

Laki-laki itu tidak membalas. Ia hanya berdiri di sana, menatap mobil Sela yang melaju kencang, menghilang di tikungan jalan. Ia menghela napas panjang. "Gadis aneh," gumamnya, lalu ia masuk kembali ke mobilnya.

Sela mengendarai mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi. Otaknya masih dipenuhi oleh wajah datar laki-laki itu dan perkataannya yang dingin. Ia bersumpah akan membalas perlakuan laki-laki itu jika takdir mempertemukan mereka lagi. Ia tidak tahu, bahwa takdir memiliki rencana lain untuknya, rencana yang tidak akan pernah ia duga. Sebuah rencana yang akan mengubah hidupnya, selamanya.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Dewi Maya

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

JADE HOWE
5.0

Riani sangat menyayangi pacarnya. Meskipun pacarnya telah tidak bekerja selama beberapa tahun, dia tidak ragu-ragu untuk mendukungnya secara finansial. Dia bahkan memanjakannya, agar dia tidak merasa tertekan. Namun, apa yang pacarnya lakukan untuk membalas cintanya? Dia berselingkuh dengan sahabatnya! Karena patah hati, Riani memutuskan untuk putus dan menikah dengan seorang pria yang belum pernah dia temui. Rizky, suaminya, adalah seorang pria tradisional. Dia berjanji bahwa dia akan bertanggung jawab atas semua tagihan rumah tangga dan Riani tidak perlu khawatir tentang apa pun. Pada awalnya, Riani mengira suaminya hanya membual dan hidupnya akan seperti di neraka. Namun, dia menemukan bahwa Rizky adalah suami yang baik, pengertian, dan bahkan sedikit lengket. Dia membantunya tidak hanya dalam pekerjaan rumah tangga, tetapi juga dalam kariernya. Tidak lama kemudian, mereka mulai saling mendukung satu sama lain sebagai pasangan yang sedang jatuh cinta. Rizky mengatakan dia hanyalah seorang pria biasa, tetapi setiap kali Riani berada dalam masalah, dia selalu tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan sempurna. Oleh karena itu, Riani telah beberapa kali bertanya pada Rizky bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak pengetahuan tentang berbagai bidang, tetapi Rizky selalu menghindar untuk menjawabnya. Dalam waktu singkat, Riani mencapai puncak kariernya dengan bantuannya. Hidup mereka berjalan dengan lancar hingga suatu hari Riani membaca sebuah majalah bisnis global. Pria di sampulnya sangat mirip dengan suaminya! Apa-apaan ini! Apakah mereka kembar? Atau apakah suaminya menyembunyikan sebuah rahasia besar darinya selama ini?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Suamiku Guy, Lelaki Sombong! Suamiku Guy, Lelaki Sombong! Dewi Maya Romantis
“21++ khusus dewasa! Sela, gadis pemberontak dengan jiwa liar dan kecanduan adrenalin, hidup dalam konflik yang tak pernah usai. Motor kesayangannya disita ayah karena balapan liar, pacarnya memutuskan hubungan karena tidak tahan dengan sikapnya, dan amarahnya semakin tak terkendali. Dalam pelarian emosinya di tengah malam Jakarta, ia justru menabrak mobil mewah milik seorang pria asing. Pertemuan itu menjadi awal dari perseteruan panas antara Sela dan pria tersebut-seseorang dengan tatapan dingin dan sikap tenang yang membuatnya semakin terbakar emosi. Tanpa ia sadari, pertemuan itu adalah pintu masuk menuju rangkaian kejadian tak terduga yang akan mengguncang hidupnya. Bukan hanya tentang balapan, amarah, atau harga diri, melainkan tentang cinta, rahasia besar, dan pertaruhan hidup yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar lintasan jalanan.”
1

Bab 1 meredakannya adalah dengan merasakan

19/09/2025

2

Bab 2 Dosen baru

19/09/2025

3

Bab 3 Kesepakatan di Ruangan Dosen

19/09/2025

4

Bab 4 Ternyata Arga Guy! cepat atau lambat!

19/09/2025

5

Bab 5 21+++ rahasia yang membuatnya tidak bisa berkata-kata

19/09/2025

6

Bab 6 Kehangatan

19/09/2025

7

Bab 7 meringkuk seperti anak kucing

19/09/2025

8

Bab 8 Dijodohkan

19/09/2025

9

Bab 9 Keputusan ada di tanganmu

19/09/2025

10

Bab 10 Malam yang ditakutkan

19/09/2025

11

Bab 11 Pengkhianatan di Butik Pengantin

19/09/2025

12

Bab 12 Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan

19/09/2025

13

Bab 13 melihat betapa tulusnya cinta Arga pada laki-laki itu

19/09/2025

14

Bab 14 Pernikahan sela

19/09/2025

15

Bab 15 Malam pertama+++

19/09/2025

16

Bab 16 Kehangatan di Bawah Guyuran Air 21+++

19/09/2025

17

Bab 17 Cemburu

19/09/2025

18

Bab 18 Ia tidak bisa melupakan perkataan Sela

19/09/2025

19

Bab 19 melanjutkan sandiwara

19/09/2025

20

Bab 20 seharusnya membenci Arga

19/09/2025

21

Bab 21 Penyesalan

19/09/2025

22

Bab 22 Kabar kehamilan

19/09/2025

23

Bab 23 menghancurkan hatinya

19/09/2025

24

Bab 24 perlindungan

19/09/2025

25

Bab 25 Bara memeluk Sela

19/09/2025