Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Kita Tak Seiman
5.0
Komentar
33
Penayangan
1
Bab

perbedaan keyakinan. perbedaan Agama. perbedaan etnis. juga perbedaan status sosial. Itulah yang membedakan kita berdua . ~kita tak di takdirkan untuk bersama~ Arumni. Bagaimana jadinya? Jika kedua insan yang berbeda saling melabuhkan hatinya. Mencintai seseorang memang tak di larang, tapi bagaimana jika mencintai seseorang yang berbeda baik agama juga kehidupan sosialnya. Arumni Asyhifa harus menelan kenyataan pahit, di mana ia harus melabuhkan sedikit hatinya, mencintai, dan menyayangi seorang pria yang membuat ia justru masuk ke dalam rentetan kejadian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hanya melalui sedikit pertemuan dan kejadian, takdir ternyata mempersatukan mereka dalam jurang luka yang paling dalam. Most wanted yang dikenal sebagai pria sangar dan berandalan, luluh ketika berhadapan dengan gadis, yang ternyata menjadi idaman. Gadis yang ia anggap aneh, namun sedikit demi sedikit terukir dalam hati yang paling dalam. Akankah perbedaan di antara mereka bisa di satukan? Atau justru takdir berkata lain dan memisahkan mereka berdua?

Bab 1 Awal

Pagar besi dengan post satpam yang ada pun menyambut indera penglihatan miliknya. Gedung sekolah yang berwarna putih di padukan dengan birunya laut membuat kesan cerah pada sekolah SMA PELITA itu. Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya ia bisa melihat tempat yang akan ia jadikan untuk menimba ilmu berada di hadapannya.

"Bismillah," ucap Arumni sembari melangkahkan kakinya memasuki halaman sekolah.

Berusaha bersikap tak mau mendengarkan omongan orang, itu lah yang selalu Arumni tanamkan pada dirinya. Jika kita terlalu perduli dengan omongan orang, maka diri kita tak akan terus melangkah. Anggap saja omongan orang lain itu seperti hujan di kala siang hari, hanya sesaat kemudian menghilang berganti terang.

"Eh, kamu yang pakai jaket!" panggil Arumni pada siswa yang sedang berjalan mendahuluinya.

Siswa tersebut pun menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik menatap Arumni dengan raut bingung sembari menunjuk dirinya sendiri, berusaha memastikan bahwa yang dipanggil wanita tersebut adalah dirinya.

"Iya, kamu."

"Kenapa?" tanya siswa itu dengan tatapan menusuk seperti seekor elang yang tengah membidik mangsanya.

Arumni pun dibuat bergidik ngerih dengan tatapan yang dilontarkan Malvin. Yap! siswa tersebut adalah Jonathan Malvin Andreas salah satu most wanted disekolah tersebut. Jajaran most wanted ini memang mempunyai tatapan yang begitu menusuk juga sulit untuk di dekati.

"Lo, mau pengajian atau ke sekolah?" tanya Malvin merasa aneh dengan penampilan gadis yang berada dihadapannya.

"Sorry. Mau tanya, ruang kepala sekolah, dimana, ya?" tanya Arumni bingung.

Pria itu hanya menatapnya sekilas kemudian menjawab.

"Lo lurus aja dari sini, pintu warna biru itu ruangannya" jawab Malvin.

"Oke, makasih, ya," ucap Arumni tersenyum ramah.

Tanpa membalas sepatah kata, Malvin pun berlalu begitu saja. Arumni terbeong-beong melihat tingkah tidak sopan seperti itu. Seharusnya dalam merespon seseorang itu harus lah baik bukan bertindak seperti tak punya etika seperti ini.

"Ngeselin banget sih, tuh, orang," gerutu Arumni sembari menyusuri lorong menuju ruang kepala sekolah.

******

Kondisi kelas 12 IPA 1 saat ini sedang dalam keadaan jam kosong karena kebetulan guru yang akan mengajar mereka tidak dapat hadir. Kelas itu pun sangat riuh bahkan banyak dari mereka sibuk mengobrol, ada yang memainkan ponselnya karena merasa bosan , dan memilih untuk tertidur dikelas tersebut seperti yang dilakukan Malvin saat ini, tidur dikelas merupakan kebiasaannya.

Bosan itu lah yang ia lakukan dan memilih tidur untuk mengantisipasi nya. Baginya menjaga tubuh agar tetap terjaga itu sangat baik.

"Pagi, anak-anak!" sapa Bu Dina sembari memasuki kelas.

"Pagi, Bu!" balas para murid serentak.

"Tanpa basa-basi, saya disini akan mengenalkan teman baru kalian. Arumni, silahkan masuk," perintah Bu Dina pada Arumni yang berdiri dibalik pintu.

"Silahkan Arumni, perkenalkan diri kamu," ucap Bu Dina pada Arumni.

"Asalamualaikum, perkenalankan nama saya Arumni Ashsyifa kalian bisa panggil saya Arumni. Saya pindahan dari Sekolah internasional Inggris." Arumni pun memperkenalkan dirinya pada teman sekelasnya dengan tersenyum ramah.

Teman sekelasnya pun dibuat terkejut dengan perkataan Arumni. Mereka masih belum mempercayai kalo gadis berhijab itu pernah bersekolah diluar negeri. Bahkan dari mereka pun berbisik-bisik membicarakan Arumni.

"Gila! orang kaya, tuh, anak."

"Iya, cantik lagi."

"Bidadari surga."

Begitulah kira-kira bisik dari teman-temannya tentang dirinya.

"Apa ada yang ingin ditanyakan dari Arumni?" tanya Bu Dina pada anak muridnya.

"Arumni, lo udah punya pacar?" tanya salah satu pria bertubuh gempal.

Arumni pun hanya tersenyum. Baginya ini sebuah pertanyaan yang sangat konyol. Dirinya saja tidak pernah dekat dengan laki-laki, bagaimana bisa mempunyai hubungan. Ada-ada saja.

"Gue mau tanya sama lo, kenapa lo pindah kesekolah ini?" tanya Alena sang ratu bully.

Ratu bully itu sepertinya sangat tertarik dengan gadis berhijab itu. Baginya wanita itu hanya bersembunyi dibalik jilbabnya. Walaupun dirinya sendiri adalah seorang muslim, tapi belum pernah ia mengenakan pakaian yang digunakan wanita itu. Menurutnya penampilan gadis itu sangat memuakkan baginya. Dari atas hingga bawah tak ada yang istimewa.

"Karena ayah aku dinas disini," jawab Arumni tersenyum manis.

"Sok kecakepan tuh, anak, Len," bisik teman sebangku Alena.

Alena pun tersenyum miring." Berarti lo orang kaya, dong, ya." Alena pun berkata dengan kata-kata yang mencibir.

"Aku cuman orang biasa kok," ucap Arumni.

Menurutnya ini sebuah pertanyaan tidak biasa. Jika biasanya seorang murid baru akan di berikan pertanyaan, tinggal dimana? nama sosial media apa? dan masih banyak lagi yang bukan menyangkut kepentingan pribadi. Tapi gadis berambut blonde itu menanyakan sebuah status yang menurutnya tidak perlu ia jawab.

"Berarti lo gak selevel sama gue. Secara bokap gue kan perusahaannya dimana-mana," ucap Alena tertawa remeh.

Para murid terutama geng Alena pun menertawakan Arumni. Ternyata kedatangan murid baru, tak selamanya di sambut dengan sikap yang baik. Perlu waktu untuk mengenal juga memahami karakter dari setiap orang atau calon temannya itu.

"Kita semua sama dihadapan Allah," ucap Arumni membalas perkataan orang yang mengejeknya.

Jujur saja ia merasa sakit melihat teman baru juga kelas yang tak sesuai dengan perkiraan dirinya. Ternyata teman barunya tak menerima kehadiran dirinya. Justru sebuah pertanyaan juga cacian lah yang ia dapatkan.

"Songong banget sih lo!" sentak Alena tidak terima.

"Sudah Alena! ucapan kamu sangat tidak sopan!" bentak Bu Dina.

"Arumni, kamu duduk di samping Sandra. Saya permisi dulu." ucap Bu Dina menghilang dari kelas itu.

Merasa namanya dipanggil Sandra pun mengangkat tangannya untuk memberi tahu Arumni. Sandra pun tersenyum ketika mengetahui calon teman sebangkunya itu adalah orang baik.

Arumni melangkahkan kakinya menuju tempat yang akan menjadi tempat duduknya. Namun, karena tidak hati-hati dia pun harus tersandung karena ada sebuah kaki yang dengan sengaja membuat dirinya terjatuh. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Alena sih biang rusuh.

"Aww!" pekik Arumni ketika kepalanya membentur lantai. Arumni terjatuh tepat di samping Malvin karena tempat duduk mereka yang bersebelahan.

"Arumni, lo gak papa?" tanya Sandra panik.

Jangan heran jika Sandra mengetahui nama teman sebangkunya itu. Sebelumnya Arumni sudah memperkenalkan dirinya.

"Enggak, cuman tiba-tiba pusing aja," ucap Arumni sembari memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.

"Aduh, sini duduk dulu," ucap Sandra membantu Arumni duduk di kursinya.

"Maksud lo apa, sih, Len! gak jelas banget jadi orang!" ucap Sandra yang mengetahui pasti ini ulah sang ratu bully.

"Gue, gak sengaja, San," ucap Alena dengan mimik wajah seolah menyesal.

"Keterlaluan, lo, Len. Kalo dia kenapa-kenapa, lo mau tanggung jawab," ucap Sandra jengah melihat perilaku biang kerok dikelasnya.

"Ogah!" seru Alena merasa tak bersalah.

Alena pun tertawa bersama temannya. Baginya membuat orang kesal adalah suatu kewajiban yang memang harus di lakukan agar memuaskan hati dan pikiran mereka. Bagi mereka ada yang janggal jika tidak mencari mangsa.

"Udah, aku gak papa, kok," ucap Arumni tersenyum menahan sakit di kepalanya.

"Kening lo keluar darah," ucap Sandra panik sembari melihat kening temannya itu." Kita ke UKS aja, ya," pinta Sandra yang dibalas gelengan kepala.

"Lo harus ke UKS," ucap Malvin dingin.

"Loh, kamu," tunjuk Arumni saat melihat orang yang tadi pagi ia temui.

Malvin hanya menganggukan kepalanya.

"Lo kenal sama Malvin?" bisik Sandra takut melihat tatapan Malvin yang begitu tajam.

"Iya," jawab Arumni.

Melihat itu Malvin pun dibuat geram dan segera menarik paksa tangan Arumni hingga keluar kelas. Arumni pun tak tinggal diam. Ia berusaha untuk melepaskan cekalan tangan lelaki tersebut dari tangannya.

"Lepasin!" teriak Arumni menggema di lorong sekolah.

"Gue cuman mau bawa Lo, ke, UKS," ucap Malvin.

Malvin hanya berniat membantu wanita berhijab yang menurutnya aneh itu.

"Tapi gak usah pegang tangan juga," ucap Arumni tak terima dengan perlakuan Malvin yang semena-mena.

"Kenapa? gak boleh?" tanya Malvin heran.

Jika gadis lain yang berada diposisi Arumni sekarang, mungkin gadis itu akan jingkrak-jingkrak kesenangan. Siapa yang tidak senang ketika seorang most wanted menggegam tangannya.

"Gak!" celetuk Arumni.

Rasa tak suka itulah yang membuat dirinya harus berjarak dengan pria yang berada dihadapannya. Malvin adalah pria pertama yang dengan lancang memegang tangannya setelah ayahnya. Ia sangat tak suka dengan hal itu. Baru kali ini ada seorang pria yang begitu berani memegang tangan nya dan menarik paksa.

"Sok jual mahal," ucap Malvin tersenyum miring.

"Bukan nya sebagai seorang wanita memang harus seperti itu?" tanya Arumni membalas.

"Alah! lo itu sama aja kayak mereka yang bisa disogok menggunakan uang!" ucap Malvin mengejek.

Malvin selalu menganggap bahwa seorang wanita akan dekat bila seorang pria mempunyai banyak uang. Selama ini semua mantan yang pernah dia singgahi hatinya, selalu menilai dirinya dengan uang. Anggap saja Malvin sebagai berangkas mereka.

"Jangan samakan aku dengan mereka!karena kamu belum kenal dengan saya!" ucap Arumni tak terima.

Arumni pun meninggalkan Malvin. Langkahnya berjalan menuju UKS. Baru kali ini Malvin menemui sosok wanita berhijab dan mempunyai sifat yang berbeda dengan wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya, ada sedikit rasa ketertarikan ketika dirinya pertama kali melihat sosok Arumni.

Sesampainya di UKS Malvin pun melihat Arumni yang sedang membersihkan luka dikeningnya. Entah dorongan dari mana Malvin pun berniat membantu gadis itu untuk membersihkan lukanya.

"Butuh bantuan?" tanya Malvin.

Arumni pun mengalihkan pandangannya sejenak,"gak usah, makasih."

"Tuh masih ada darahnya," tunjuk Malvin tepat di bagian kening Arumni.

"Dimana? perasaan udah aku bersihin semua, kok," ucap Arumni bingung dan mencari-cari.

"Ck," desis Malvin.

Malvin pun segera mengambil tisu tersebut dan mengelap darah dikening wanita itu dengan sangat hati-hati tanpa berniat untuk melukainya sedikit pun.

Sementara Arumni yang melihat posisi mereka begitu dekat seperti ini dilanda rasa gugup. Untuk pertama kalinya Arumni berjarak sedekat ini dengan seorang pria yang belum muhrimnya. Jantungnya berdetak sangat cepat ketika menatap wajah pria yang menurutnya sangat tampan tersebut.

Astaghfirullah, Arumni. Apa yang kamu pikirkan. batin Arumni dalam hati sembari mengeleng-gelengkan kepalanya.

"Kenapa?" tanya Malvin merasa aneh dengan wanita hijab itu.

"Eh, apa?" tanya Arumni bingung dengan pertanyaan Malvin.

"Lo kenapa? geleng-geleng gitu?" tanya Malvin lebih jelas.

"Enggak, makasih, ya," ucap Arumni sangat tulus.

"Buat apa?" tanya Malvin bingung.

Dirinya sangat bingung. Ia bahkan tak pernah membantu wanita itu. Yang ia lakukan hanyalah sebuah rasa kasihan melihat gadis itu terluka.

"Karena kamu, udah bantu aku," ucap Arumni tersenyum manis.

Malvin pun hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Menurutnya wanita itu serba berbeda dari murid wanita pada umunya. Kebanyakan dari murid di sekolahnya tidak memakai hijab dan memperlihatkan rambut indah mereka, tapi gadis yang baru saja ia temui menimbulkan kesan berbeda yang ia tangkap dari cara berpakaian maupun sikapnya yang begitu lembut juga menanamkan jiwa seorang muslimah.

#TBC

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Kita Tak Seiman
1

Bab 1 Awal

25/11/2022