Silent Wounds

Silent Wounds

Aya Emily

5.0
Komentar
460
Penayangan
47
Bab

Trauma mendalam membuat Nala Olivia harus kehilangan kemampuan berbicaranya. Dia yang semula hidup normal berubah menjadi wanita bisu akibat luka hati yang terus dipendamnya sendiri. Suatu hari, Aska Faresta-lelaki dari masa lalunya-muncul di restoran tempat Nala bekerja. Dan anehnya lelaki itu marah saat Nala tidak bisa membalas ucapannya seolah lelaki itu masih peduli padahal dia termasuk salah satu penyebab Nala membisu. Lalu apa jadinya hubungan mereka ketika Aska menyeret Nala ke rumah ibunya dan mengakui Nala sebagai istri? Mampukah Nala menjelaskan yang sebenarnya pada wanita paruh baya itu bahwa dirinya bukanlah istri Aska?

Silent Wounds Bab 1 Bertemu Masa Lalu

Para pegawai restoran satu lantai itu tampak sibuk melayani pengunjung yang datang. Meski lokasinya tidak tepat berada di pusat kota, restoran bernama Delifood ini memang tidak pernah sepi pengunjung. Selain sejuk dan nyaman untuk dijadikan tempat bersantai, Delifood juga menyediakan menu-menu makan siang yang selalu unik dan berubah-ubah tiap harinya, membuat para pengunjung tidak pernah bosan dan selalu penasaran mengenai menu utama esok harinya.

Nala Olivia, wanita dua puluh tujuh tahun itu juga sama sibuknya. Namun dia sama sekali tak tampak lesu. Seperti hari-hari sebelumnya, dia selalu bersemangat menjalani pekerjaannya sebagai pelayan di Delifood.

Dengan senyum menawan yang mampu membuat kaum Adam menatapnya tak berkedip, Nala terus berjalan ke sana-kemari mencatat pesanan lalu membawa makanan yang dipesan ke meja pengunjung. Begitu seterusnya, memastikan semua pengunjung di areanya tidak ada yang sampai harus menunggu lama.

Usai mengantar pesanan dan membersihkan meja yang baru ditinggalkan, Nala duduk sejenak di kursi dekat meja konter tempat biasa para pelayan meletakkan pesanan yang kemudian diproses bagian dapur. Dia tampak mengipasi wajahnya dengan tangan seraya menyeka titik keringat di pelipis.

"Sudah kubilang tidak perlu terlalu bersemangat. Bos tidak akan menaikkan gajimu. Kau selalu berkeringat padahal ruangan ini ber-AC."

Nala tersenyum geli mendengar gerutuan Anton, salah satu rekan kerjanya yang sangat memperhatikannya. Lalu matanya berbinar melihat Anton menyodorkan jus segar ke arahnya. Tanpa menunggu lama, Nala segera menerima gelas tinggi itu lalu meminum isinya tanpa menggunakan sedotan.

Anton berdecak. "Tidak ada yang melarangmu meminta minum. Tinggal pergi saja ke dapur lalu minta Aan atau siapapun untuk membuatkanmu sesuatu. Atau kau juga bisa membuatnya sendiri."

Nala nyengir lebar mendengar nada suara Anton yang terkesan frustasi sekaligus jengkel. Sebagai tanggapannya, dia hanya mengangguk-angguk hingga membuat Anton kembali berdecak dengan kedua tangan berada di pinggang.

"Apa aku harus selalu mengulang hal itu? Ini bukan pertama kalinya aku berceramah seperti ini."

Nala menahan senyum geli. Bersamaan dengan itu, sekelompok lelaki dengan pakaian rapi tampak memasuki Delifood lalu duduk di area Nala.

"Memang apa susah-"

Ucapan Anton terhenti saat Nala mengangkat tangan dengan telapak menghadap Anton sebagai isyarat agar Anton diam. Lalu dia turun dari kursi tinggi tempatnya duduk seraya menunjuk tamu yang baru datang.

Sejenak Anton menoleh lalu kembali menatap Nala. "Bagianku sedang sepi hari ini. Jadi kau lanjutkan istirahat dan biar aku yang mengurus mereka."

Nala menggeleng dengan tegas.

Dia tidak mau diperlakukan berbeda karena memiliki kekurangan. Dia bahkan sangat bersyukur restoran ini dibagi menjadi banyak area dengan seorang pelayan di tiap area. Jika tidak, mungkin Nala akan lebih banyak duduk karena teman-temannya selalu berusaha meringankan pekerjaannya. Seolah Nala akan hancur berkeping-keping hanya karena mengangkat nampan berat.

Sadar tidak mungkin bisa mendesak Nala, akhirnya Anton mengangguk dengan berat hati. "Baiklah. Tapi bilang kalau kau merasa lelah. Jangan hanya terus memendamnya dalam hati."

Sejenak Nala tertegun akibat ucapan Anton. Tapi dia buru-buru tersenyum seraya mengangguk. Lalu tanpa menunggu tanggapan lagi, bergegas menghampiri enam lelaki yang tampaknya merupakan eksekutif muda yang sedang istirahat makan siang.

***

Aska Faresta merasa menyesal telah menerima ajakan makan siang teman-teman dekat semasa SMA-nya. Bagaimana tidak? Mereka yang sudah sama-sama kepala tiga bisa tertawa, bercanda, bahkan saling mengejek layaknya masih SMA. Apa mereka lupa umur atau ini hanya efek bertemu teman lama?

"Serius! Gue bener-bener gak nyangka itu si Ratu. Padahal, gila! Dulu gue selalu netesin liur liat bodynya yang aduhai. Eh, sekarang malah gak berbentuk."

"Kayak gimana dia sekarang? Lo punya fotonya?"

"Ada, nih!"

"Tapi wajar sih. Habis lahiran dia, kan?"

"Alah.... Istri gue habis lahiran sama sebelum hamil gak beda jauh. Nih, coba lo lihat si Ratu. Beda parah!"

"Coba tanya Aska."

"Ka, lihat deh! Beda kan dia sama primadona sekolah dulu?"

Dengan malas Aska sedikit melirik layar ponsel yang disodorkan ke depan wajahnya. "Masih tetep cantik."

"Masa?"

"Mananya woi?"

"Mata Aska mulai rabun."

"Tapi kalau diperhatiin Aska bener sih. Memang masih cantik." Lelaki yang duduk tepat di sebelah Aska berkomentar dengan tatapan masih lekat ke arah layar ponsel.

"Eh, lo kayaknya mulai-"

"Hush, udah! Lo mau pesen gak?"

Nala menahan senyum geli melihat interaksi mereka. Tadi dia bahkan harus menunggu beberapa detik sampai salah seorang menyadari kehadirannya yang sudah berdiri menunggu untuk menyerahkan buku menu.

Perbincangan heboh mereka sebelumnya terhenti seketika digantikan diskusi menu yang hendak mereka pesan.

"Ini menu utama hari ini, ya?" salah seorang lelaki bertanya. Dia yang memberi usul pada teman-temannya untuk makan siang di Delifood.

Sejenak Nala menunggu hingga lelaki itu mendongak menatapnya lalu mengangguk membenarkan pertanyaannya. Lalu si lelaki menoleh menatap teman-temannya.

"Gimana? Gue mau pesen ini."

"Gue juga."

Yang lain turut mengangguk kecuali Aska yang tengah sibuk dengan ponselnya.

"Ka, lo juga mau pesen ini?"

Tanpa mendongak Aska menyahut, "Terserah."

Setelah mendapat persetujuan dari teman-temannya, lelaki itu kembali menoleh ke arah Nala. "Kami semua pesan menu ini dan minumannya..."

Kali ini secara bergantian mereka menyebutkan minuman yang hendak mereka pesan. Hingga tiba di giliran Aska yang masih tampak sibuk dengan ponselnya.

"Ka!"

"Hmm."

Semula, Nala hanya fokus pada lelaki yang memegang buku menu. Lalu rasa penasaran membuatnya menoleh ke arah lelaki yang tampak asyik dengan dunianya sendiri.

DEG.

Seketika jantung Nala melonjak tak terkendali. Bibirnya terbuka dan matanya melebar dengan sorot kaget. Tak menyangka akan bertemu lelaki itu lagi setelah dua tahun berlalu.

"Ya Tuhan, Aska! Lo mau pesen minuman apa?"

Aska mengibaskan tangan tak peduli. "Terserah deh."

Mendadak mata Nala terasa panas dan ternggorokannya kering hingga dia harus menelan ludah berkali-kali. Bahkan meski belum melihat wajahnya karena lelaki itu menunduk menatap ponsel, Nala bisa langsung mengenalinya dengan jelas. Apalagi tadi salah satu teman lelaki itu menyebut nama Aska. Nama yang masih tertanam kuat dalam memori Nala. Nama yang pernah menorehkan bahagia sekaligus luka yang menganga.

Aska Faresta.

"Mbak, maaf ya. Temen kita satu itu memang suka melayang jiwanya entah ke mana padahal jasadnya tetep di sini." Seorang lelaki di samping kanan Nala tersenyum meminta maaf.

Plak!

"Jasad pala lo?"

Lelaki yang baru dipukul Aska langsung meringis sakit seraya menggosok lengannya. "Aska sinting! Sakit! Malu noh sama Mbak cantik."

Aska menatap kesal temannya lalu menoleh tanpa sengaja ke arah si pelayan yang masih diam menunggu. Hanya dua detik sebelum dia menunduk kembali ke arah ponselnya. Namun detik berikutnya dia tersentak dan kembali mendongak menatap wanita itu. Beruntung gerakan refleks yang dilakukan Aska tak diperhatikan teman-temannya.

Selama beberapa detik yang terasa mendebarkan bagi Nala, pandangannya bertemu langsung dengan pandangan Aska. Tatapan mereka saling mengunci, hingga akhirnya Nala menunduk untuk memutus kontak mata mereka.

Setelah semua perlakuan buruk Aska, kenapa mata cokelat itu masih menggetarkan hatinya? Kenapa hanya karena sadar Aska satu ruangan dengannya, kaki Nala masih saja serasa lemas seolah berubah menjadi jelly? Tidak bisakah hati, otak, dan tubuhnya saling bekerja sama untuk membenci Aska?

"Mbak cantik."

Panggilan teman Aska menarik Nala dari jerat kenangan masa lalunya. Dia menoleh menatap lelaki itu dengan senyum ramah.

"Boleh kenalan gak? Namanya siapa?"

"Namanya Nala," jelas teman Aska yang lain.

"Kok tahu?"

"Ada name tag-nya, Dodol!"

Seketika lelaki yang tadi bertanya tersenyum malu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nala masih tersenyum seraya dalam hati menimbang-nimbang apa sebaiknya dia langsung pergi atau tetap menunggu minuman apa yang akan dipesankan para lelaki itu untuk Aska?

Sungguh, dia tidak tahan berada sedekat ini dengan Aska. Perasaannya jadi kacau. Pedih akibat luka bercampur bahagia layaknya gadis yang bertemu cinta pertamanya.

"Jadi-Nala, ya?" teman Aska itu tampak belum menyerah untuk menarik perhatian Nala. "Boleh minta nomor telepon? Abang gak macam-macam kok."

"Cih, dasar buaya!"

Lelaki itu mengabaikan ejekan teman-temannya dan tetap fokus memandang Nala. Sebagai balasannya, Nala hanya tersenyum lalu mengangguk kecil dan segera berbalik pergi.

"Yah... yah... yah... malah ditinggal pergi."

"Kapok! Dicuekin!"

"Lo sih, murahan banget. Tiap ada cewek bening dikit pasti digoda."

"Dianya aja yang sok jual mahal, tahu!" kesalnya tak terima ditolak tanpa kata dan kini menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Tak terpengaruh kehebohan di sekelilingnya, pandangan Aska masih mengarah pada wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya. Dari tempatnya duduk, Aska bisa melihat bagaimana Nala meletakkan kertas berisi pesanan di meja konter lalu duduk menunggu bersama pelayan lain.

Aska masih terus memandang ke arah sana saat Nala mencuri-curi pandangan ke arahnya. Tapi hanya sedetik sebelum dia buru-buru memalingkan wajah begitu menyadari Aska menatapnya intens. Bahkan setelahnya Nala tampak tak nyaman. Dia pasti sangat gugup ditatap dengan begitu tajam oleh lelaki yang pernah berbagi tawa lalu menghancurkannya hingga berkeping.

Tidak, Aska sama sekali tidak menyesali perlakuan buruknya pada Nala. Wanita itu memang pantas menerimanya. Namun yang membuat Aska tak bisa memalingkan wajah dari Nala akibat pekerjaan yang dilakukan Nala sekarang. Kenapa wanita itu menjadi pelayan sementara orang tuanya cukup kaya? Bahkan beberapa hari lalu Aska mendengar kabar mereka tengah merayakan ulang tahun mewah untuk putri bungsu mereka yang usianya berbeda delapan tahun dari Nala?

Beberapa menit menunggu, Nala kembali dengan pesanan mereka. Tanpa kata dia menata pesanan di atas meja.

Aska masih melakukan hal yang sama. Memperhatikan Nala tajam. Lalu salah satu alisnya terangkat begitu minuman untuknya diletakkan di depannya.

Minuman kesukaannya. Apa Nala sengaja?

Aska tersenyum mengejek melihat minuman itu lalu mendongak menatap Nala yang sama sekali tak menoleh ke arahnya. Kalau Nala bermaksud menunjukkan bahwa dia masih memikirkan Aska dengan minuman ini, maka wanita itu hanya melakukan hal yang sia-sia. Aska tidak akan tersentuh. Tidak akan pernah.

Selesai menata pesanan, Nala bermaksud langsung pergi setelah melemparkan seulas senyum lalu mengangguk kecil. Tapi gerakannya terhenti saat lelaki yang sebelumnya meminta nomor teleponnya mendadak mencekal pergelangan tangan Nala.

"Abang gak gigit kok. Cuma minta nomor telepon. Apa itu salah?"

Kali ini Nala tersenyum ragu seraya sedikit menggeliatkan tangannya untuk melepaskan diri. Namun cekalan lelaki itu terlalu kuat.

"Kalau dipikir-pikir kamu bener-bener gak sopan, ya? Dari awal cuma diam aja. Seenggaknya ngomong apa kek. Silakan nikmati pesanannya atau apa. Kamu kan pelayan yang harusnya sopan sama pengunjung."

Seketika senyum Nala memudar. Mendadak amarah sekaligus keinginan untuk menangis berbaur menjadi satu dalam dadanya.

Sudah cukup luka dalam hatinya yang mulai sembuh kembali berdarah karena melihat Aska. Sekarang malah ditambah kelakuan brengsek salah satu teman lelaki itu.

"Masih tetep diam? Kamu bisu, ya?"

Refleks Nala menyentak lengannya dari cekalan lelaki itu. Mungkin karena dia tidak siap dengan gerakan Nala yang tiba-tiba, dengan mudah tangan Nala lepas dari cekalannya. Lalu dengan cepat Nala berbalik setengah berlari ke konter pesanan.

"Ckckck, bener-bener sok jual mahal. Mentang-mentang cantik," ejek lelaki itu seraya menunduk ke arah makanannya.

"Eh, lihat! Ternyata dia beneran bisu."

Mendengar itu, empat lelaki langsung menoleh ke arah yang ditunjuk temannya. Sementara Aska terbatuk-batuk akibat rasa kaget.

Lalu seraya menyeka bibirnya, Aska mendongak hanya untuk mendapati yang dikatakan temannya benar. Tampak di sana Nala tengah memberitahu sesuatu pada rekan kerjanya dengan gerakan-gerakan tangan. Lalu dia melepas apron khusus pelayan Delifood yang dikenakannya dan bergegas masuk ke area khusus pegawai.

Klontang!

Semua mata langsung menoleh ke arah lelaki yang tadi meminta nomor ponsel Nala. Dia baru saja menjatuhkan sendok ke piringnya lalu menatap teman-temannya dengan raut bersalah.

"Ta-tadi... gue gak beneran ngomong dia bisu, kan?"

Namun tidak ada yang menanggapi. Teman-temannya mulai menyibukkan diri dengan makanan mereka tanpa ada lagi canda tawa. Tak bisa dipungkiri, mereka pun merasa bersalah pada pelayan bernama Nala tadi.

Sementara Aska masih syok dengan kenyataan ini. Pandangannya belum beralih dari pintu yang baru saja dilewati Nala. Pikirannya buntu. Hanya dipenuhi satu kalimat penuh tanya.

Bagaimana bisa?

----------------------------

~~>> Aya Emily <<~~

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Aya Emily

Selebihnya

Buku serupa

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Silent Wounds Silent Wounds Aya Emily Romantis
“Trauma mendalam membuat Nala Olivia harus kehilangan kemampuan berbicaranya. Dia yang semula hidup normal berubah menjadi wanita bisu akibat luka hati yang terus dipendamnya sendiri. Suatu hari, Aska Faresta-lelaki dari masa lalunya-muncul di restoran tempat Nala bekerja. Dan anehnya lelaki itu marah saat Nala tidak bisa membalas ucapannya seolah lelaki itu masih peduli padahal dia termasuk salah satu penyebab Nala membisu. Lalu apa jadinya hubungan mereka ketika Aska menyeret Nala ke rumah ibunya dan mengakui Nala sebagai istri? Mampukah Nala menjelaskan yang sebenarnya pada wanita paruh baya itu bahwa dirinya bukanlah istri Aska?”
1

Bab 1 Bertemu Masa Lalu

08/07/2022

2

Bab 2 Dia Bisu

08/07/2022

3

Bab 3 Dendam

08/07/2022

4

Bab 4 Kebencian Yang Kian Membara

08/07/2022

5

Bab 5 Dipecat

08/07/2022

6

Bab 6 Sampah

08/07/2022

7

Bab 7 Gubuk Reyot

08/07/2022

8

Bab 8 Foto

08/07/2022

9

Bab 9 Penebusan Dosa

08/07/2022

10

Bab 10 Mama Aska

08/07/2022

11

Bab 11 Suami-Istri

15/07/2022

12

Bab 12 Mimpi Buruk

15/07/2022

13

Bab 13 Trauma

15/07/2022

14

Bab 14 Bunuh Diri

15/07/2022

15

Bab 15 Panik

15/07/2022

16

Bab 16 Makan Siang

15/07/2022

17

Bab 17 Sakit

15/07/2022

18

Bab 18 Cinta Pada Pandangan Pertama

15/07/2022

19

Bab 19 Perasaan Terpendam

15/07/2022

20

Bab 20 Pertemuan Tak Terduga

15/07/2022

21

Bab 21 Menutup Diri

15/07/2022

22

Bab 22 Rencana

15/07/2022

23

Bab 23 Terbongkar

15/07/2022

24

Bab 24 Saling Melukai

15/07/2022

25

Bab 25 Insiden Di Restoran

15/07/2022

26

Bab 26 Pengakuan Noval

15/07/2022

27

Bab 27 Gugat Cerai

15/07/2022

28

Bab 28 Tiga Tahun Kemudian

15/07/2022

29

Bab 29 Kehidupan Baru

15/07/2022

30

Bab 30 Bos Baru

15/07/2022

31

Bab 31 Pertemuan Kembali

15/07/2022

32

Bab 32 Permohonan Aska

15/07/2022

33

Bab 33 Pendekatan

15/07/2022

34

Bab 34 Sandiwara

15/07/2022

35

Bab 35 Kesempatan

15/07/2022

36

Bab 36 Syarat

15/07/2022

37

Bab 37 Pelukan

15/07/2022

38

Bab 38 Gosip Panas

15/07/2022

39

Bab 39 Pamit

15/07/2022

40

Bab 40 Epilog

15/07/2022