icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Silent Wounds

Bab 9 Penebusan Dosa

Jumlah Kata:1944    |    Dirilis Pada: 08/07/2022

a! Balik ke

n pakaian yang dibawakan Raffi. Dia bahkan dengan entengnya m

ari rumah sakit gini, gak g

tu jadi banyak maunya dan lebih mirip bocah saat sedang sakit. Ada saja yang dia minta dan keluhkan. En

ak mau

itu

ktunya pergi dari sini. Banyak

ska kesal. "Ka, dokter bilang lo harus i

erapikan kemeja yang dikenakannya. Keningnya hanya sedikit berkerut s

anya terus menatap Aska ke

masih di

ak mena

Gue bisa n

ah suruh orang bawa mobil lo balik. Ay

mam Aska seraya berj

usul Aska, mencengkeram siku sang saha

lo sama sekali gak d

nghela napas. "Lo bener. Yang salah orang tu

tu biarkan dia hidup tenang mulai

semua kesalahan

usan dosa. Kalau lo pengen balikin apa yang udah lo renggut dari dia,

ua sendiri mulai sekarang." Aska hendak melangkah kembali. Namun kal

busan dosa, kan? Lo gak mau kehilangan

. "Gue gak tau." Akhirnya hanya itu yang Aska ucapkan seraya me

k dia berhenti. Pertanyaan Raffi tadi terngiang dalam benaknya. Lalu berga

E

a yang terasa berdenyut perih. Lalu jemarinya m

aja? Udah gue

yang langsung menghentikan ucapannya. S

tersenyum kecut. "Kayaknya gue gak bakat jadi jahat sampe akhir

berarti dia akan melibatkan diri dalam kehidupan Nala. Jika memiliki kesempatan untuk menolong, Raffi

ng Aska rasakan

*

angat dan penuh senyuman. Membuat si pemilik warung m

asukan, pasti Ibu senang seka

i penuh harap lagi. Dirinya tidak butuh gaji. Yang penting a

engah menunduk mengawasi gorengan di atas wajan sementara Nala yang s

as menghampiri si pemilik warung. Tapi begitu dekat, pe

ia tersenyum seraya menoleh pada Nala. "Maklum, Nduk. Daer

oleh ke luar. Ternyata bukan hanya dirinya, para pengunjung j

ni tuh," celetuk sa

tanya arah," s

ungnya memacu sangat cepat sementara matanya meleb

s

warung, terus bersembunyi di kamar yang ditempatinya semalam sambil dalam

*

apa kali untuk bertanya pada warga sekitar mengenai wanita yang menempati gubuk roboh semalam. Dua warga yang mereka temui sama sekali

lai keras

uma capek aja." Lalu dia keluar dari

at-cepat pulang lalu berbaring telungkup. Tapi dia meredam keingi

decak. Kenapa Nala selalu memilih tempat menyedihkan maca

g yang tampaknya menikmati sarapan agak siang, Aska memusatk

atu?" tanya wan

ada arogannya. "Aku ke sini

senyum lebar. "Oh, keluarganya Nala? Nduk, ini ada-" ucapan

kan?" tanya

di depan sebuah pintu, dia mengetuk pelan lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. "Nduk. Ada yang cari kamu," ujarnya dengan seny

si Ibu meninggalkannya, dia masuk ke kamar sempit it

rdiri dengan waspada begitu Aska memasuki kamar. Kedua

remehkan ke sekeliling ruangan. Lalu tatapannya sejenak terhe

barangmu." Tiba-tiba Aska berkata ser

Dia menatap Aska tak mengert

gan tangan mengisyaratkan jam. "Waktu terus berjalan. Kalau k

aka apa lagi yang sudah disiapkan lelaki itu untuknya. Setelah

n karena peduli. Tampaknya Aska berpikir kematian terlalu bagus un

u lagi di kamar ini selain tas itu

tangan kiri sementara tangan kanannya mencengkeram lengan Nala. Seketika Nal

agi dia tak mau membuat keributan di rumah penolongnya. Akhirnya Nala menyerah

amar, dia mencengkeram lengan Nala lebih kuat lalu

gan senang hati mematahkan tangan dan kakimu agar

. Tapi buru-buru tangannya yang

erimu waktu." Kembali dia menggeram marah tapi de

l. Tapi begitu benda itu berada di tangannya, jantung

ali?" tanya Aska

berbalik, dia menyembunyikan foto di

i tang

an, Nala hanya

sebelum kau menunjukkannya. Bisa sa

pada vas bunga plastik di sudut ruangan. Rasanya memang sudah lama sekali sejak

ubun-ubun. Mendadak Aska bergerak menghapus jarak ant

E

gnya berhenti berdetak. Hingga Nala tak sadar Aska telah

isa dicegah, matanya berkaca-kaca membuatnya buru-buru memali

annya. Digantikan nyeri yang kembali menghantam dada. Lalu dia m

impan foto ini," gumamnya. "

u menariknya menuju bagian depan rumah. Menyadari Aska akan benar-benar membawanya pergi dit

nya bingung sambil melihat jemari Aska

dak mau

si pemilik warung. Tatapannya beralih pada As

an keluar

pis sebelum berka

embali menggel

engan spatula. "Jangan bohong! Mentang-mentang Nala nda

tangannya pada si Ibu. "Itu foto pernikahan kami. Terte

elaminan. Keduanya duduk dengan kedua tangan saling terjalin dan tatapan penuh cinta dalam m

Nala yang kini tertunduk dengan sikap kalah.

umah tangga, kan? Lalu Nala kabur tanpa membawa u

uan. Dia menatap Nala dengan lembut seraya berkata

faktanya masalah antara dirinya dan Aska memang sebaiknya tak diselesaikan. Diam-diam Nala menyusut ai

--------

ya Emi

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Silent Wounds
Silent Wounds
“Trauma mendalam membuat Nala Olivia harus kehilangan kemampuan berbicaranya. Dia yang semula hidup normal berubah menjadi wanita bisu akibat luka hati yang terus dipendamnya sendiri. Suatu hari, Aska Faresta-lelaki dari masa lalunya-muncul di restoran tempat Nala bekerja. Dan anehnya lelaki itu marah saat Nala tidak bisa membalas ucapannya seolah lelaki itu masih peduli padahal dia termasuk salah satu penyebab Nala membisu. Lalu apa jadinya hubungan mereka ketika Aska menyeret Nala ke rumah ibunya dan mengakui Nala sebagai istri? Mampukah Nala menjelaskan yang sebenarnya pada wanita paruh baya itu bahwa dirinya bukanlah istri Aska?”
1 Bab 1 Bertemu Masa Lalu2 Bab 2 Dia Bisu 3 Bab 3 Dendam4 Bab 4 Kebencian Yang Kian Membara5 Bab 5 Dipecat6 Bab 6 Sampah7 Bab 7 Gubuk Reyot8 Bab 8 Foto9 Bab 9 Penebusan Dosa10 Bab 10 Mama Aska11 Bab 11 Suami-Istri12 Bab 12 Mimpi Buruk13 Bab 13 Trauma14 Bab 14 Bunuh Diri15 Bab 15 Panik16 Bab 16 Makan Siang17 Bab 17 Sakit18 Bab 18 Cinta Pada Pandangan Pertama19 Bab 19 Perasaan Terpendam20 Bab 20 Pertemuan Tak Terduga21 Bab 21 Menutup Diri22 Bab 22 Rencana23 Bab 23 Terbongkar24 Bab 24 Saling Melukai25 Bab 25 Insiden Di Restoran26 Bab 26 Pengakuan Noval27 Bab 27 Gugat Cerai28 Bab 28 Tiga Tahun Kemudian29 Bab 29 Kehidupan Baru30 Bab 30 Bos Baru31 Bab 31 Pertemuan Kembali32 Bab 32 Permohonan Aska33 Bab 33 Pendekatan34 Bab 34 Sandiwara35 Bab 35 Kesempatan36 Bab 36 Syarat37 Bab 37 Pelukan38 Bab 38 Gosip Panas39 Bab 39 Pamit40 Bab 40 Epilog41 Bab 41 Extra Part 1 - Keluarga42 Bab 42 Extra Part 2 - Delifood43 Bab 43 Extra Part 3 - Dendam Kaila44 Bab 44 Extra Part 4 - Dua Suami 45 Bab 45 Extra Part 5 - Pesta46 Bab 46 Extra Part 6 - Liburan47 Bab 47 Last Extra Part - Akhir Yang Manis