Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Tawanan Sang Billionaire

Tawanan Sang Billionaire

Hikma Abdillah

5.0
Komentar
329
Penayangan
5
Bab

Awalnya, kedatangan Lunar ke London hanyalah ingin merayakan anniversary pernikahannya dengan Doris, suaminya. Dengan berbekal mental dan tekad, Lunar terbang dan mencari informasi keberadaan suaminya. Setibanya di kamar hotel yang dimaksud, Lunar tidak menemukan Doris. Melainkan ia mendapati kamar tersebut yang terlihat mewah penuh hiasan dan juga kelopak mawar. Ia menduga bahwa itu sebuah surprise untuknya yang diberikan oleh Doris. "Ternyata kau juga terlihat romantis, Sayang. Terima kasih." gumam Lunar berbangga diri. "Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih, sebaiknya kau bersiaplah untuk menjadi pemuas hasratku," seorang pria asing datang dan mendekati Lunar. Wanita itu terkejut dan terheran dengan kehadiran pria itu. "K-kau siapa? Kenapa kau lancang sekali memasuki kamarku?" gertak Lunar sembari memundurkan langkahnya. "Hahaha. Rupanya kau belum tau? Ini kamarku, dan suamimu telah menjualmu kepada saya. Sebaiknya kau turuti saja keinginanku, mengerti?!" kemudian pria itu mendorong wanita di hadapannya di atas ranjang. Apa yang akan dilakukan pria itu kepada Lunar? Lalu, siapa sebenarnya pria itu?

Bab 1 Kedatangan Lunar

"Tolong! Jangan sentuh aku, Tuan. Aku mohon ...." rintih Lunar saat pria bernama Lucas itu mulai menindih tubuhnya.

Pria di hadapannya tak peduli lagi dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Lunar. Meski sesekali Lunar menampakkan tangisnya, pria itu tak sedikit pun merasa belas kasihan.

"Tuan, aku mohon ... jangan sentuh aku ...." rengek Lunar tak henti-henti.

"Diam! Jangan banyak merengek ataupun menangis. Suamimu telah menjualmu dengan harga satu milyar padaku. Jika aku menyia-nyiakanmu, aku akan merasa rugi." bentak Lucas dengan intonasi tak dapat terkontrol lagi.

Lunar hanya bisa menangis dan tak menduga jika suaminya tega menjualnya kepada Lucas. Mungkin ini memang salahnya, saat lima tahun menikah Lunar tak pernah mengizinkan Doris untuk menyentuhnya. Bukan apa-apa, semua itu Lunar lakukan karena suatu sebab dan alasan.

Kini ia tak dapat lari dari pria arrogan itu, untuk merangkak saja dirinya sudah tak kuasa. Matanya hanya bisa mengeluarkan bulir-bulir bening yang membuat dadanya semakin sesak. Ia juga tidak tau, alasan apa sebenarnya yang membuat Doris tega menjualnya?

"Hapus air matamu! Aku muak melihat wanita menangis. Kau harus bisa memuaskan hasratku malam ini!" perintah Lucas dengan lantangnya.

Mungkin ini sudah menjadi nasib buruknya yang harus menjadi wanita pemuas hasrat pria asing di hadapannya. Lidahnya kelu, dadanya teramat sesak sambil sesekali tangannya menyeka air matanya. Ia sudah tak peduli lagi dengan keadaannya yang sudah tampak kacau.

"Apa yang harus kulakukan, Tuan?" tanya Lunar dengan bibir gemetar.

"Panggil aku Tuan Lucas!" sergah Lucas dengan angkuhnya. "kau cukup melayaniku saja setiap malam dan menjadi pemuas hasratku. Jika kau berani menolak atau mencoba kabur dariku, aku tidak segan-segan membuat ibumu mati." ancam Lucas dengan puas.

Lunar semakin tertekan dan khawatir dengan keadaan ibunya. Sudah setengah tahun lamanya ibunya divonis penyakit jantung dan perlu uang untuk membiayai pengobatannya. Lunar tidak dapat membayangkan betapa buruknya nasib yang akan diterimanya. Entah sampai kapan dirinya harus terjebak dalam mimpi buruknya?

"Pergilah, mandi. Bersihkan dirimu yang kotor dan bau itu. Aku akan menunggumu di sini," pinta Lucas dengan angkuhnya.

"B-baik." balas Lunar dengan bibir masih bergetar.

Bagaimana mungkin ia harus lari dari pria mengerikan dan tidak dikenalnya itu? Melihat wajahnya saja cukup membuat nyalinya ciut. Apakah benar adanya orang-orang luar itu sangat kejam dan keras? Lunar terus menangis sambil mengguyur tubuhnya dengan air shower. Entah berapa lama ia harus bertahan di kota London ini? Membayangkannya sangat membuatnya kehilangan arah.

Kini Lunar telah kembali dengan handuk kimono yang menutupi tubuhnya. Tampaknya keadaannya sudah sedikit membaik. Tubuhnya terasa segar dan lebih fresh setelah mandi. Matanya tercengang saat melihat makanan tersaji di atas meja. Ia tersenyum sambil mengelus perutnya. Kebetulan saat itu perutnya mulai lapar dan ia sudah tak tahan untuk menyantap makanan tersebut.

Tapi, seketika ia merasa bingung. Ia tidak melihat ke mana pria itu? Lunar mencoba mencari pria itu di seluruh sudut kamar, akan tetapi hasilnya nihil.

"Nyonya Lunar. Anda diminta untuk segera makan. Karena Tuan Lucas sedang ada urusan di luar, dan beliau akan kembali sesegera mungkin." perintah salah seorang pramusaji di hotel itu.

Lunar bergeming sejenak, lalu menatap pramusaji di hadapannya yang hendak melangkah keluar.

"Tunggu dulu!" sergah Lunar dengan bersedekap dada.

"Ada apa Nyonya?" tanya pramusaji itu sambil membungkuk hormat.

"Siapa sebenarnya Tuan Lucas? Kenapa beliau memberikan makan seenak ini?" tanya Lunar penasaran.

"Ah, Nyonya tidak tau. Bukankah Tuan Lucas calon suami anda." jawab Pramusaji itu.

Lunar masih tak mengerti dengan semuanya? Apakah benar yang diucapkan oleh pramusaji itu padanya? Bukankah pria itu cukup arrogan dan keras. Bagaimana bisa beliau ingin menjadikan Lunar sebagai istrinya? Sedangkan tadi dia mengatakan, bahwa dia telah membeli Lunar dan menjadikan Lunar sebagai pemuas hasratnya.

"Nyonya, sebaiknya anda makan dulu. Jika tidak, Tuan Lucas akan marah dan memecat kami," ucap pramusaji itu.

"Memecat?" tanya Lunar tak mengerti.

"Iya, Nyonya. Tuan Lucas adalah Direktur hotel ini. Jadi, kami harus menghormati dan bekerja dengan baik," jawabnya.

"Oh, baiklah. Aku akan makan segera, sekali lagi terima kasih, ya?"

"Baik, Nyonya. Selamat bersenang-senang."

***

"Aku sudah katakan padamu, Grace. Aku tidak menginginkanmu lagi. Untuk apa kau masih menemuiku?" ucap Lucas saat berada di restoran bersama seorang wanita.

"Lucas. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku berjanji akan menjadi wanita seperti yang kau inginkan," jawab Grace yang merupakan istri Lucas.

"Omong kosong! Aku sudah tidak percaya padamu lagi, Grace. Setiap saat aku meminta kau melayaniku, kau selalu menolak. Hanya menangis dan menangis yang kau lakukan, aku muak!"

"Tapi, aku janji ... aku akan ...."

"Cukup! Sudah cukup sampai di sini. Meskipun aku belum pernah menyentuhmu, aku merasa menyesal karena telah menikahimu. Mulai besok, kita bercerai!"

"Lucas!"

Lucas tak peduli lagi dengan teriakan istrinya. Ia berjalan melangkah menuju sebuah lift. Di sana wajahnya tampak kusut dan kusam. Entah sampai kapan ia harus bertahan seperti itu. Menikahi Grace merupakan penyesalan terbesar dalam hidupnya. Jika bukan karena Grace yang telah menyelamatkan nyawa adiknya, Lucas tak mungkin mau membalas kebaikan itu dengan menikahi Grace.

"Tuan Lucas, selamat datang kembali." sapa pramusaji lainnya saat melihat Lucas keluar dari lift.

Lucas hanya mengangguk tanpa ekspresi. Lalu, ia berjalan menuju kamar di mana Lunar berada. Pandangannya menerawang saat melihat Lunar sedang tertidur. Lucas masuk dan menghampiri gadis itu. Ditatapnya perlahan wajah Lunar dan sesekali dibelainya rambutnya.

"Gadis 1 milyarku, kuharap kau tidak akan pernah kabur dariku." gumam Lucas sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Tubuhnya benar-benar berat memikul masalah yang saat ini dijalaninya. Ia tak boleh bertahan terus menerus dengan Grace, Lucas memijat pelipisnya dan meraih ponselnya. Matanya terbelalak lebar saat membaca sebuah pesan dari Grace.

[Jika kau berani menceraikanku. Aku tidak akan tinggal diam membuat hidupmu berantakan. Satu lagi, aku juga akan membongkar semua rahasiamu karena telah membunuh bibiku.]

Lucas tampak meremas seprei dengan kasar. Ia memukul ranjang itu dan merasa kesal dengan ancaman Grace padanya. Sialnya, jika bukan karena dia ditipu oleh pamannya sendiri, ia tak mungkin terlibat dalam masalah besar itu.

"Tuan sudah kembali." ucap Lunar lirih dan terbangun dari tidurnya.

Lucas memandang Lunar dengan mata berkaca-kaca. Ia tak mungkin menampakkan kesedihannya kepada wanita di hadapannya itu. Lucas mendekatkan tubuhnya ke arah Lunar dan menatap kedua bola mata gadis itu.

"Kau begitu cantik dan menarik. Apa kau mau menjadi istriku?" ungkap Lucas membuat mata Lunar terbuka lebar.

"Maaf, Tuan. Status saya masih istri orang," balas Lunar sambil bangkit dari tidurnya.

"Aku tidak masalah, kau masih istri orang atau tidak? Yang jelas kau gadis satu milyar yang saat ini telah menjadi milikku, lakukanlah tugasmu!" Lucas tampak mendorong Lunar hingga terjatuh di atas ranjang. Keduanya saling berhadapan dan Lucas mulai menarik pakaian Lunar.

***

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku