Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Gairah Nakal Sang Billionaire

Gairah Nakal Sang Billionaire

Nawila

5.0
Komentar
5.8K
Penayangan
34
Bab

Raisa Aquila Nazara gadis berusia 25 tahun yang sedang mengalami masa sulit. Cantik, pintar, hangat dan menyenangkan Raka Mirza Bramantyo CEO muda berusia 27 tahun. Tampan, cerdas, baik hati, suka menolong, tapi player. Keduanya tak sengaja bertemu dalam sebuah insiden yang sangat menarik. Raisa yang dijebak oleh Helena, ibu dari kekasihnya malah justru berakhir dalam satu kamar dengan Raka. “Apa yang sudah kamu lakukan padaku?” tanya Raisa. “Kamu bertanya apa yang sudah aku lakukan? Memangnya kamu lupa dengan apa yang semalam sudah kita lakukan? “Kamu merayuku, menggoda diriku dan kamu...._” “Cukup!!” Raisa tahu apa yang selanjutnya terjadi antara dirinya dan Raka. Sudah pasti itu adalah hal yang memang seharusnya tidak terjadi. Bagaimanakah selanjutnya perjalanan hidup mereka? Akankah satu malam bersama menjadi awal dari kebersamaan mereka?

Bab 1 Aku Menginginkanmu

Raisa Aquila Nazara, perempuan berparas cantik dengan tubuh yang terlihat sangat menggoda. Bagaimana tidak, gadis itu memiliki body bak gitar Spanyol. Dengan ukuran buah dada yang terlihat sangat menantang dan juga pinggul yang begitu aduhai.

Berkali-kali ia menarik nafas kemudian membuangnya. Berada di dalam kamar dengan seorang pria tua, botak dan sepertinya adalah pria hidung belang membuat Raisa sedikit merasa ketakutan dan risih karena tatapan pria itu.

Kedua tangannya sudah meremas kertas yang tadi diberikan oleh ibu kekasihnya. Sebuah kertas bertuliskan alamat dan nomor kamar hotel tempat tempat pria yang disebut oleh ibu kekasihnya akan mampu menolong diri Raisa dari kesulitannya.

Ayahnya yang sedang sakit membutuhkan uang yang tak sedikit untuk biaya operasi. Meminta tolong pada teman-temannya sudah Raisa lakukan, tapi percuma saja. Mereka tak bisa membantu Raisa, karena uang yang Raisa butuhkan bukanlah uang dalam jumlah kecil.

Dengan sangat terpaksa Raisa pun akhirnya meminta pertolongan pada Helena ibu dari Harry –kekasihnya.

Harry yang sedang berada di luar negeri untuk kuliahnya tak mungkin Raisa ganggu dengan hal seperti ini. Apalagi saat ini Harry sedang menjalani ujian. Oleh sebab itu Raisa menurunkan gengsi dan membuang jauh harga dirinya untuk meminta tolong pada Helena sang calon ibu mertua.

Tanpa sedikit pun merasa curiga pada Helena, Raisa yang kalut tak tahu harus ke mana lagi mencari pertolongan, langsung menuruti perintah dari wanita itu.

Raisa tak tahu kalau saat ini Helena sedang sengaja menjebaknya. Helena sengaja menyuruh Raisa datang ke hotel menemui pria hidung belang yang hendak membeli tubuh Raisa.

Helena akan membuat Raisa kehilangan harga dirinya sehingga Raisa akan merasa bahwa ia tak pantas lagi bersanding dengan putra kesayangannya.

Sejak perusahaan keluarga Raisa bangkrut, Helena merasa bahwa Raisa itu bukanlah pasangan yang sepadan dengan putranya. Ia ingin hubungan mereka putus dan jebakan inilah yang akan Helena pakai sebagai senjata untuk menghancurkan hubungan tersebut.

“Duduklah! Kenapa kamu masih berdiri saja?” ucap pria botak yang sudah kembali dengan segelas air di tangannya.

“I-iya!” balas Raisa dengan perasaan hati yang sudah tak tenang diselimuti rasa takut.

“Silakan diminum dulu. Kamu pasti haus kan?”

Karena pikirannya sedang kalut juga penuh dengan rasa takut, di tambah rasa haus juga tiba-tiba menghampiri tenggorokkannya. Tanpa berpikir kalau minuman itu adalah minuman yang sudah dicampuri obat perangsang, Raisa pun langsung meneguknya sampai habis.

“Saya sudah tahu tentang kesulitan yang sedang kamu alami. Saya bersedia memberikan uang berapa pun buat kamu, tapi apakah balasan yang akan saya dapatkan?!”

Pria botak itu beralih tempat duduk ke samping Raisa. Membuat Raisa yang sedikit merasa curiga semakin yakin bahwa pria botak ini adalah pria kurang ajar.

“Sa-saya ti-tidak mengerti apa maksud Anda. Sa-saya datang ke sini karena di suruh oleh Tante Helena.”

“Ya... saya tahu! Bu Helena juga yang sudah memberi tahu saya kalau kamu butuh uang dan kamu bermaksud menjual diri kamu, iya kan?”

Raisa sangat terkejut. Ia tak percaya kalau Helena berkata demikian. Tapi kalau melihat dari kejanggalan hari ini, saat Helena menyuruhnya datang ke hotel malam-malam begini dan menemui pria botak ini, tentunya tak ada yang tidak mungkin.

Tanpa menghiraukan ia akan kehilangan uang untuk biaya operasi ayahnya, Raisa yang masih ada dalam kesadaran penuh karena obat perangsang yang telah diberikan oleh pria botak itu belum bereakasi –mencoba untuk kabur.

Tanpa mencoba untuk lebih lanjut bicara, Raisa langsung bangkit dari duduknya. Namun pria botak itu menahannya. Ia meraih tangan Raisa dengan sangat kuat, tapi untunglah Raisa memang selalu sedia Stun Gun di dalam tasnya.

Dengan sangat cepat ia merogoh tasnya untuk mengambil senjata kejut listrik tersebut dan ia pun langsung menempelkannya pada si pria botak. Kemudian Raisa langsung kabur dari sana.

Dua orang penjaga di depan pintu kamar tersebut sempat curiga pada Raisa. Namun, Raisa mencoba untuk bersikap tenang sehingga mereka mengira tak ada hal apa pun yang terjadi.

Ting....

Seiring dengan bunyi pintu lift itu terbuka, Raisa merasakan dunianya telah kembali. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan jika kedua anak buah pria kurang ajar tadi tidak mengejarnya.

Namun, Kaki Raisa sempat mundur ketika pintu lift itu telah benar-benar terbuka. Ia merasa sangat tak nyaman harus masuk karena di dalam lift itu ada dua orang pria dan wanita yang dengan tidak tahu malu sedang saling bercumbu, seolah lift itu adalah milik mereka berdua mereka terus saja bermesraan.

“Hallo Nona.... apa kamu tidak mau masuk?!” tegur si wanita yang kesal karena Raisa hanya berdiri sambil memegangi pintu liftnya. “Kalau kamu tak mau masuk, lepaskan tangan kamu dan biarkan pintunya tertutup!”

Terlihat oleh Raisa tubuh pria membelakanginya yang sedang menenggelamkan kepalanya di ceruk wanita itu. Raisa tak bisa dengan jelas melihat wajah si pria tapi entah kenapa hati Raisa berdebar hanya dengan melihat punggungnya saja.

“A-aku masuk!” ucap Raisa.

“Cepetan kalau emang mau masuk!”

Raisa ikut masuk ke dalam lift karena memang tak bisa lagi ia menunggu. Jika ia lebih lama menunggu tentunya itu akan membuat keadaannya kembali memasuki zona merahnya si pria botak.

Raisa sedikit menjauh dari pasangan yang menurutnya tak tahu malu itu. Tapi sesekali ia mencuri pandang ke arah mereka dan tak sengaja tatapannya pun bertemu dengan tatapan si pria tampan yang sedang bermesraan itu.

Tatapan mata yang sangat tajam. Tatapan yang indah. Tatapan yang mendebarkan dan tatapan yang sangat mengagumkan hingga Raisa tak bisa lagi mengalihkan kedua bola matanya ke arah lain.

Pandangan Raisa terpaku pada kedua bola mata itu. Ia tenggelam ke dalamnya dan ia terhipnotis dalam pesonanya. Pria tampan itu tampak sempurna. Punggung yang lebar dan tubuh yang atletis membuat Raisa merasa sangat pantas kalau wanita yang sedang bersama dengannya sampai kehilangan rasa malunya begitu.

Belum lagi wajahnya, meski sebagian wajahnya bersembunyi dalam ceruk leher si wanita. Namun, Raisa bisa memastikan bahwa pria itu adalah pria yang tampan dengan hidung yang sangat mancung. Rahangnya terlihat kokoh dan bulu matanya juga sangat lentik.

“Sayang, kenapa kamu membiarkan orang lain masuk? Apa kamu ingin membuat dia iri melihat kita?”

Raisa menelan salivanya. Ucapan si pria sepertinya menyadarkan Raisa dari lamunannya tentang kekaguman yang Raisa miliki akan pria tak tahu malu yang ada di hadapannya sekarang.

“Aku sangat suka kalau ada orang yang iri melihatku bersama denganmu. Bahkan aku merasa sangat ingin sekali seluruh dunia merasa iri padaku karena aku memiliki pria sepertimu.”

“Ya... ya... aku tahu hal itu. Memang seluruh wanita yang ada di dunia ini pasti sangat tahu kalau aku ini adalah pria idaman. Aku kaya, aku tampan,dan aku..._”

“Kamu hot sayangku! Kamu itu terlalu sempurna bahkan saat di atas ranjang pun kamu itu tetap menjadi yang paling sempurna. Pantas saja kamu itu dijuluki Raka Mirza Bramantyo sang Hot Billionaire,” ucap kekasih dari pria itu dengan sangat menggoda.

Raka menyeringai dengan kedua bola mata elang masih tertuju pada Raisa yang sudah berdiri di samping mereka. Tatapannya mengunci kedua manik cantik milik Raisa, sehingga Raisa sangat sulit untuk mengalihkan pandangannya.

Tiba-tiba Raisa merasa gerah, ia merasa panas menjalari seluruh tubuhnya hingga ingin rasanya ia melepaskan semua pakaian yang tengah dikenakannya. Belum lagi melihat kemesraan yang dipamerkan oleh Raka dan wanitanya.

Raisa bahkan sampai berkali-kali harus menelan salivanya dan hal itu berhasil ditangkap oleh kedua bola mata Raka.

Ting...

Pintu lift pun kembali terbuka, Raisa tahu kalau lantai ini bukanlah lantai tujuannya. Ia tak melangkahkan kakinya, tapi justru kedua bola matanya sudah tak sanggup lagi untuk ia buka.

Pandangannya menjadi gelap, kesadaran tubuhnya juga menghilang. Dan setelahnya, Raisa pun tak tahu apa yang terjadi pada dirinya.

Selain alarm yang berhasil membangunkannya, Raisa juga merasa seluruh tubuhnya sangat sakit terutama dibagian pangkal pahanya.

Tak hanya sampai disitu saja, Raisa juga dikejutkan dengan tubuh seksinya yang telah polos tanpa sehelai benang pun ketika ia bangun pagi ini. Dadanya yang sintal bertabur tanda merah membuat Raisa semakin kalap dibuatnya.

Raisa mencoba mengingat apa yang sudah terjadi semalam tapi ingatannya tak mampu merangkum semuanya. Yang ia ingat hanyalah bisikan lembut di telinganya yang mampu membuatnya melayang tinggi.

“Aku menginginkan kamu.” kalimat itulah yang diucapkan oleh Raisa. Dan kemudian ada seseorang yang menjawab. “Kamu yang memintaku untuk menyentuhmu, sayang! Maka bersiaplah untuk menerima kenikmatan hujamanku.”

Raisa menggelengkan kepalanya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah mimpinya saja. “Ini pasti hanya mimpi kan?” ucap Raisa di dalam hatinya.

Apa yang coba Raisa yakinkan pada dirinya langsung terbantahkan saat seorang pria saat ini ada di atas tempat tidur bersama dengannya. Kedua tangan pria itu sedang melingkari perutnya yang langsing dan lembutnya kulit si pria juga menempel erat dengan punggungnya.

Kini harapan Raisa menganggap ini hanya sebuah mimpi sangatlah sia-sia saja. Karena hal itu justru jauh lebih membuat Raisa merasa terkejut hingga ingin rasanya ia berteriak dengan keras.

Bersambung.....

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Nawila

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku