Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
My Mysterious Husband

My Mysterious Husband

Nawila

5.0
Komentar
4.6K
Penayangan
116
Bab

Elsa Anindita adalah wanita yang hatinya telah mati. Kemungkinan untuknya bisa kembali mencintai itu adalah hal yang sangat mustahil. Dua kali mengalami gagal menikah dengan orang yang mencintainya, membuat Elsa setuju untuk menikah kontrak dengan Alvaro, pria cacat yang sebenarnya adalah CEO yang sedang menyamar. “Jadi kamu mau menikah dengan tuan saya yang fisiknya tidak sempurna itu?” Tunjuk Gio pada Alvaro. “Iya saya mau, dengan catatan mahar yang akan saya terima adalah 500 juta," jawab Elsa. Hanya dengan meminta bayaran 500 juta saja. Elsa bersedia menikah dengan Alvaro, CEO sukses yang tersandung gosip sebagai pria penyuka sesama jenis. Akankah cinta hadir di antara Elsa dan Alvaro? Lalu bagaimana kalau ternyata, Alvaro itu adalah pria di masa lalu Elsa yang pernah meninggalkan Elsa di pelaminan? Ya... Alvaro adalah Dika.

Bab 1 Mahar

“Jadi kamu mau mahar sebesar itu untuk pernikahan kamu

dengan anak saya?” tanya seorang wanita paruh baya pada gadis bernama Elsa yang

sedang duduk di hadapannya.

Elsa Anindita adalah gadis cantik yang ingin di nikahi oleh

Glen. Ia meminta uang dalam jumlah yang tak sedikit pada Glen sebagai maharnya.

Elsa membutuhkan uang itu untuk biaya pengobatan bundanya

yang saat ini sedang sakit parah. Uang dari gaji Elsa bekerja tidak bisa

menutupi biaya tagihan itu sehingga Elsa terpaksa memilih jalan menikah dengan

Glen untuk bisa mendapatkan uangnya.

“Iya Bu,” jawab Elsa.

Elsa yang benar-benar tak tahu lagi akan bisa mendapatkan

uang sebesar itu dari mana terpaksa harus melakukan hal gila ini.

Dia yang sebenarnya tak ingin menikah dengan Glen

terpaksa setuju saat Glen mengajaknya

menikah, tapi dengan syarat Glen harus mau memberi mahar seperti yang diminta

olehnya.

Elsa tidak mengira kalau ibunya Glen akan mempermasalahkan

hal ini. Sampai-sampai beliau mengajak Elsa bertemu tepat seminggu sebelum hari

pernikahan.

“Tinggalkan anak saya, dan saya akan memberi kamu uang yang

lumayan banyak sebagai gantinya.”

“Maksud ibu?” tanya Elsa.

“Memangnya ucapan saya kurang jelas ya? saya mau pernikahan

ini di batalkan. Saya sudah tahu siapa kamu dan rasanya mahar sebesar itu

terlalu banyak untuk kamu. Kamu yang pernah sekali gagal menikah tentunya itu

bisa menjadi pelajaran bagi kamu agar kamu jadi cewek itu tidak materialistis.

“Saya yakin, calon suami kamu dulu itu meninggalkan kamu

karena dia merasa kamu itu tidak pantas untuknya. Dan kalau saya pikir-pikir,

pasti dia itu sudah kenyang dan bosan sama tubuh kamu makanya dia meninggalkan

kamu sendirian di pelaminan.

“So... uang sebesar

itu terlalu banyak untuk gadis yang sudah tidak memiliki keperawanannya. Tapi

tenang saja kamu enggak usah takut. Asal kamu mau meninggalkan anak saya, maka

saya bersedia kok untuk memberi uang gratisan buat kamu. Daripada dia harus

terjebak seumur hidupnya sama kamu, akan lebih baik saya kehilangan uang

recehan itu.”

Sakit hati Elsa, mendengar apa yang di katakan oleh ibu dari

pria yang akan menikahinya. Ternyata masa lalu Elsa yang pahit itu masih terus

saja membuat hidup Elsa jadi bahan hinaan dan gunjingan orang-orang termasuk

ibu dari Glen.

“Jadi maksud ibu, pernikahan ini akan ibu batalkan?”

“Tentu saja, saya tidak akan di rugikan dengan batalnya

pernikahan kamu sama Glen, anak saya. Tapi saya justru malah akan terselamatkan

karenanya. Saya akan terselamatkan dari rasa malu. Dan Glen akan terselamatkan

dari penyesalan seumur hidupnya karena menikahi wanita yang bekas dari orang

lain.”

Wanita bernama Tri itu lalu mengeluarkan cek senilai puluhan

juta yang sudah di bubuhi tanda tangan. Jika Elsa menerimanya, maka Elsa hanya

tinggal mencairkannya saja ke Bank dan Elsa akan mendapatkan uang puluhan juta

itu secara cuma-cuma.

Tapi tidak, meski keadaannya sedang susah, Elsa merasa tidak

bisa menerima uang itu. Elsa masih memiliki harga diri, sehingga Elsa lebih

memilih untuk menolaknya. Apalagi uang segitu tidak akan cukup untuk Elsa pakai

menutupi biaya tagihan rumah sakit bundanya.

“Tidak usah Bu, ibu pegang saja uang ini,” Elsa

mengembalikan cek yang sudah di sodorkan ke arahnya. “Saya memang tidak

mencintai anak Ibu. Dan dia yang memaksa saya untuk menikah. Saya meminta uang

sebesar itu sebagai mahar saya, tapi kalau pernikahan ini tidak jadi saya tidak

punya alasan untuk menerima sepeser pun uang dari ibu,” balas Elsa tak kalah

tegas.

“Satu hal lagi, jangan meminta saya untuk menjauhi putra

ibu. Tapi Ibu awasi saja putra ibu itu untuk tidak mendekati saya. Karena di

sini yang mencintai dan menginginkan saya itu adalah putra ibu, bukan saya.

“Karena sudah tak ada lagi yang ingin di bicarakan, maka

dari itu saya pamit.”

Elsa tak bisa membiarkan Ibu Tri lebih menghina lagi harga

dirinya. Dia lebih dulu memutuskan untuk pergi dari sana dan tidak melanjutkan

rencana makan siangnya di sana. Elsa memilih restoran lain untuknya makan

siang.

Elsa merasa sangat kesal. Dan saat Elsa merasa kesal, dia

akan merasa lapar hingga ia lupa kalau saat ini ia tidak memiliki uang yang

cukup untuk makan di sebuah restoran mewah.

Elsa duduk di sebuah restoran ternama tempat biasanya Elsa

diajak makan oleh Glen. Ia memesan menu yang harganya lumayan. Dan Elsa

langsung melahapnya dengan sangat rakus ketika makanan pesanannya itu di

hidangkan.

Elsa tak sadar jika ada seorang pria yang saat ini tengah menatapnya. Pria itu terlihat

sangat misterius, dia memakai pakaian rapi seperti seorang boss, tapi dia

memakai topi yang hampir menutupi seluruh wajahnya.

Namanya Alvaro dia itu CEO terkenal. Meski baru dua tahun

dia merambah bisnis di Indonesia. Namun, namanya sudah langsung melambung

tinggi dan sukses menarik perhatian karena kehebatan cara berbisnisnya.

Kecantikan Elsa dan cara Elsa makan sungguh menarik

perhatian si pria misterius itu, tapi ada hal yang jauh lebih menarik lagi saat

kejadian tak terduga terjadi di hadapan Al, sang CEO.

Elsa sudah selesai makan. Dia memanggil pelayan untuk meminta bill dan saat ia merogoh tasnya

untuk mencari dompet, drama seru itu pun di mulai.

“Ya ampun di mana dompetku?” gerutu Elsa. “Apa mungkin

tertinggal di rumah?” ucapnya.

Elsa merasa hari ini adalah hari paling sial baginya, selain

hari di mana ia di tinggalkan dulu saat di pelaminan. Hari ini juga adalah hari

paling buruk dalam hidup Elsa.

Elsa memasang wajah tenang, saat ia tak kunjung menemukan

dompetnya. Di tambah tagihan pembayarannya pun rasanya tidak akan bisa ia bayar

meski dompet itu tidak tertinggal.

Elsa mencoba bernegosiasi dengan si pelayan untuk membiarkan

Elsa mengambil dompetnya yang tertinggal di rumah. Tapi si pelayan tidak

memberikan Elsa sedikit pun keringanan.

“Tolong saya Mbak, dompet saya ketinggalan di rumah, jadi

saya mohon sama Mbak untuk membiarkan saya pulang dulu mengambilnya.”

“Maaf Mbak, prosedur restoran kami tidak mengizinkan siapa

pun meninggalkan tempat ini jika dia tidak bisa membayar makanannya.”

“Tapi saya bukan mau kabur Mbak, saya hanya mau mengambil

dompet saya yang tertinggal,” ungkap Elsa memohon.

“Kalau begitu Mbak bisa meninggalkan kartu identitas Mbak

sebagai jaminan.”

“Kartu identitas saya itu ada di dalam dompet Mbak, jadi

saya..._”

“Cukup Mbak!” potong si pelayan mulai kehilangan

kesabarannya. “Saya tidak mau mendengar apa-apa lagi. Sudah banyak orang

semacam Mbak yang beralasan sama seperti Mbak. Pokoknya Mbak harus bayar dulu

baru Mbak bisa pergi dari sini,” si pelayan mengira Elsa sedang ingin menipu

dirinya. Ia merasa harus pergi meninggalkan Elsa, tapi Elsa mengajarnya dan tak

sengaja menyenggol Al si pria misterius itu.

Tubuh Elsa yang menyenggol Al, kehilangan keseimbangan ia

hampir terjatuh dan semua isi dalam tas Elsa berhamburan ke atas lantai.

“Maaf, maafkan saya. Saya tidak sengaja,” ucap Elsa.

“Mbak enggak punya mata ya?” seru Gio pada Elsa yang sudah

menyenggol bosnya.

Gio adalah asisten pribadi Alvaro. Dia mengomeli Elsa karena

sudah tidak sengaja mengganggu kenyamanan bosnya yang sedang makan siang.

Al mengangkat tangannya, menghentikan Gio yang masih ingin

mengomel pada Elsa.

Elsa terpaksa berhenti mengejar si pelayan, dia lebih fokus

meminta maaf dan memungut semua isi tasnya termasuk surat dari rumah sakit

tadi.

Si pria mistreius itu membantu Elsa memunguti

barang-barangnya dan tak sengaja melihat surat dari rumah sakit yang tertera

angka lumayan besar di atasnya.

Setelah Elsa merapikan semua isi tasnya tak lupa juga Elsa

juga mengucapkan terima kasih dan maafnya pada Alvaro. Ketika Elsa sedang

berterima kasih, Elsa bisa melihat dengan jelas wajah Al yang di tutupi topi

itu. Wajah Al yang cacat, seperti bekas luka bakar.

Tapi Elsa tidak terlalu memedulikannya. Karena menurut Elsa

itu bukan urusannya. Lalu Elsa pun kembali mengejar si pelayan.

Ketertarikan Al semakin bertambah dan langsung meminta Gio

mencari tahu siapa Elsa dan bagaimana kehidupannya.

“Cari tahu siapa gadis itu!” suruh Al.

“Baik Tuan,” jawab Gio tanpa bertanya.

Tak harus menunggu lama. Semua informasi Elsa pun bisa Gio

dapatkan. Hanya dengan gambar wajah Elsa saja Gio bisa memuaskan keingintahuan

bosnya. Gio memberikan iPhone yang ada di tangannya yang sudah tertera

informasi tentang Elsa.

Dari tempat duduknya, Alvaro terus menatap Elsa. Al

benar-benar merasa sangat tertarik dan memiliki rencana yang bagus untuk

dirinya dan Elsa. Setelah tahu tentang Elsa, Al merasa kalau Elsa adalah orang

yang tepat yang selama ini sedang di cari olehnya.

“Gio, sepertinya dia bisa kita manfaatkan,” ucap Alvaro

menyeringai.

“Baik Tuan, akan saya urus,” jawab Gio.

Tanpa Alvaro harus menjelaskan, Gio sudah langsung paham apa

yang harus dilakukannya pada Elsa.

Gio mendekati Elsa yang masih memohon pada si pelayan untuk

bisa membiarkannya pergi mengambil dompet. Tapi sayangnya, si pelayan itu masih

tidak mengizinkan.

“Permisi Mbak, berapa tagihannya. Biar saya bantu bayar,”

ucap Gio.

“Enggak usah Pak, enggak usah. Saya bisa kok membayarnya,

dompet saya itu ketinggalan di rumah jadi saya hanya harus mengambilnya saja.”

“Tidak apa-apa. Sekarang biar saya yang bayar saja dulu.

Besok-besok kamu bisa mengganti uang saya. Dan untuk membuat kamu nyaman, ini

kartu nama tuan saya,” Gio menunjuk ke

arah Al yang wajahnya tidak terlihat, tapi Elsa tadi sudah sempat melihatnya.

Elsa menerima bantuan dari Gio. Karena merasa sangat

tertolong Elsa pun sampai berkali-kali mengucapkan rasa terima kasihnya.

“Terima kasih ya Pak, terima kasih banyak. Saya pasti akan

menggantinya besok,” ucap Elsa sungkan.

“Jangan berterima kasih pada saya. Karena saya hanya

mengikuti perintah dari tuan saya saja,” balas Gio. “Kalau kamu mau berterima

kasih, kamu langsung saja temui tuan

saya dan bilang langsung padanya. Itu pasti akan lebih membuatnya senang,”

ungkap Gio.

Elsa tampaknya memang

harus mengucapkan terima kasihnya secara langsung pada Al, dia menghampiri

tempat duduk Al dan berterima kasih. Bahkan Elsa sampai berkali-kali

membungkukkan tubuhnya.

“Terima kasih ya Tuan, terima kasih banyak atas bantuan yang

sudah Tuan berikan untuk saya hari ini,” ucap Elsa.

“Silakan duduk dulu,” ucap Al hanya suaranya saja yang

terdengar sedangkan wajahnya ia sembunyikan dari balik topi.

Elsa tak mungkin menolak, dia sudah di tolong dan rasanya

akan sangat tidak sopan menolaknya.

“Kenalkan nama saya Alvaro.”

“Alvaro?” seru Elsa kaget. “Apa anda Alvaro CEO yang sedang

ramai di perbincangkan?” tanya Elsa.

Elsa sering sekali mendengar nama Alvaro di bicarakan. Baik

kesuksesannya mau pun kemisteriusannya.

“Iya kamu betul, saya Alvaro CEO yang sedang menjadi

tarnding topik itu,” jawab Al.

Saat ini bukan hanya kehebatan dan kemisteriusan Al saja

yang menjadi trending topik tapi juga gosip panas tentang kelainan Al yang

sedang ramai dibicarakan. Al di duga sebagai pria penyuka sesama jenis, karena

tak pernah sekalipun Al terlihat menggandeng seorang wanita.

Buru-buru Elsa melihat kartu nama yang sudah di berikan Gio

padanya untuk meyakinkan dirinya bahwa ia sedang tidak di tipu.

“Maaf, kalau saya tidak salah lihat. Sepertinya kamu juga

sedang berada dalam kesulitan ekonomi ya?” tanya Al langsung pada intinya.

“Ah... itu, tadi anda pasti melihat isi dari tas saya kan?”

“Iya, saya melihat surat dari rumah sakit. Apa itu surat

tagihan?” tanya Al.

Elsa bingung, haruskah rasa tak enak karena sudah di tolong

oleh Al membuat Elsa menceritakan apa masalah yang sedang di hadapinya. Tapi

kalau pun tidak cerita, Al yang sudah melihat isi tasnya dan Al yang sudah

melihat dirinya bermasalah saat mau membayar makan, pasti sudah tahu.

“Iya, itu surat tagihan dari rumah sakit yang harus segera

saya bayar untuk biaya pengobatan bunda saya.”

“Apa boleh saya menolong kamu?”

Elsa yang menunduk malu karena ketahuan sebagai wanita yang

hidupnya di penuhi masalah, langsung menegakkan kepalanya. Meski ia tak bisa

melihat ekspresi Al dan tak bisa menatap jauh ke dalam mata Al, tapi Elsa

merasakan keseriusan dalam ucapan Al barusan.

“Saya akan memberikan mahar yang bisa membayar semua tagihan

dari rumah sakit atau mungkin lebih, asal kamu mau menikah dengan saya....!!”

Bersambung....

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Nawila

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku