Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Dikejar Cinta Sang Billionaire Muda

Dikejar Cinta Sang Billionaire Muda

Rieska Karisha

5.0
Komentar
3.7K
Penayangan
29
Bab

"Lalu apalagi, Claire? Sejak pertama kali melihatmu. Saya sudah jatuh cinta padamu." Nathan semakin mendekati Claire. Bahkan, ia menahan tubuh Claire agar tidak bisa bergeser dengan tangannya yang menempel di dinding lift itu juga. Sehingga membuat gadis itu terlihat ketakutan. "Saya... Saya sudah memiliki suami, Tuan!" kata Claire sambil menunjukkan cincin di jari manisnya. **** Jonathan Nicole, sang Billionaire muda harus memutar otaknya untuk bisa memutuskan hubungan pernikahan dengan Claire demi mantan kekasihnya. Mereka yang tidak bertemu saat pernikahan berlangsung. Membuat Claire tak bisa mengenali suaminya. Jonathan yang mengetahui jika Claire bekerja magang di perusahaannya. Mencoba untuk mendekati Claire dan berusaha mempengaruhinya untuk segera bercerai. Namun, Claire bukanlah gadis yang mudah untuk didekati. Hingga saat rencana Jonathan hampir tercapai. Mendadak sebuah bencana besar datang. Saat Claire memilih untuk pergi. Akankah hati Jonathan benar-benar melepaskannya?

Bab 1 Terpaksa Menikahimu

"Lagi! Lagi! Lagi!" teriak sekumpulan remaja di sebuah ballroom hotel yang sedang digunakan untuk acara pesta ulang tahun salah satu remaja itu. Claire Charlotte salah satu gadis yang selalu kalah dalam menghadapi tantangan. Harus mendapatkan hukuman untuk menenggak wine dalam jumlah sebanyak mungkin. Hingga saat Claire sudah terlihat sangat mabuk. Mereka membawa Claire ke depan sebuah lorong hotel.

"Ingat! Cari kami di salah satu kamar hotel ini. Jika kau tidak menemukan siapapun. Maka kartu Mahasiswamu ini akan kami tahan. Hahaha," ujar salah satu gadis sambil menunjukkan kartu mahasiswa milik Claire.

"Kembalikan itu! Besok aku tidak bisa mengikuti ujian tanpa menggunakan benda bodoh itu." Sambil berbicara ngelantur Claire berusaha mengambil kartu itu, tapi berhasil digagalkan oleh teman-temannya.

"Kalau begitu temukan kami dulu. Cepat putar dia tiga kali!" Seorang lelaki yang berdiri paling dekat langsung memutar tubuh Claire sebanyak tiga kali. Setelah itu mereka semua tunggang langgang masuk ke beberapa kamar hotel di lorong itu. Claire yang sedang mabuk ditambah pusing karena diputar-putar barusan. Hanya bisa berjalan sempoyongan sambil menyandar pada dinding.

"Kemana kalian semua! Katakan padaku!" ujar Claire semakin tak jelas.

Di saat yang sama seorang lelaki berjas hitam berkelas layaknya seorang CEO muda berjalan di lorong yang sama dengan diiringi seorang asisten. Ia melewati Claire begitu saja lalu sang asisten membuka salah satu pintu kamar hotel.

"Silahkan istirahat dulu, Tuan Joe! Jika Mr. Wilson sudah datang. Aku akan segera melapor padamu!"

"Baiklah. Tolong jangan ganggu jika tidak ada hal penting."

"Baik, Tuan." Sang Asisten pun pergi.

Tepat saat Sang CEO menutup pintu kamar itu. Claire langsung menahannya.

"Siapa kau?" tanya lelaki itu. Bukannya menjawab Claire malah nyengir kuda.

"Hehehe. Aku bisa menemukanmu jauh lebih cepat dari yang kau bayangkan, bukan? Sekarang kau tidak bisa menyebutku pecundang lagi," kata Claire ngelantur. Ia mendorong lelaki itu ke dalam. Kemudian meraba tubuhnya yang kekar meskipun masih dalam balutan kemeja mahal.

"A... Apa yang sedang kau cari?"

"Apalagi kalau bukan ini!" Claire mengeluarkan sebuah Mastercard kelas Platinum member dari saku dalam jas lelaki itu. Dia berpikir jika benda itu adalah kartu mahasiswanya. Claire tersenyum puas karena berpikir ia sudah berhasil memenangkan tantangan. "Lain kali kau harus lebih pintar lagi!" kata Claire sambil menepuk pipi lelaki itu dengan pelan. Belum sempat lelaki itu menghilangkan wajah bingungnya. Tiba-tiba Claire menarik kerah bajunya dan seketika muntah di kemeja lelaki itu begitu saja.

"Aaaa! Shit!" umpat lelaki itu.

Beberapa hari kemudian.....

"Tapi, Mom. Tak bisakah kau memikirkan perasaanku sedikit saja? Menikah itu akan mempengaruhi masa depanku. Aku ingin mengaturnya sendiri," kata Jonathan Nicole pada sang ibu melalui sambungan teleponnya. Sang Billionaire tampan itu masih berada di kantor. Padahal, hari sudah semakin larut dan para karyawan pun sudah pulang. Hanya tinggal dia dan asisten pribadi yang selalu setia menemaninya, Jacob Hans.

"Claire itu gadis yang cantik, baik dan pintar. Ibu yakin kau pasti akan menyukainya."

"Tetap saja. Dia orang asing yang tidak aku kenal, Mom. Jika kita berhutang budi pada ayahnya. Kenapa tidak kita berikan saja uang dalam jumlah banyak untuknya? Kenapa aku harus menikahi anaknya? Merepotkan saja. Aku masih ingin sendiri dan menikmati karirku."

"Kau sudah cukup dewasa, Nathan. Kau juga sudah memiliki perusahaan paling besar di negara ini. Kau sudah terkenal dengan kesuksesanmu menjadi Billionaire muda. Apalagi yang akan kamu cari? Dan mau sampai kapan lagi kau akan menjadi workaholic seperti ini? Pikirkan juga masa tuamu nanti. Kau harus memiliki anak untuk meneruskan karirmu. Sebelum kau sadar jika kau sudah terlalu tua untuk mendapatkannya. Dan lupakanlah Angelica. Gadis itu tidak baik untukmu, Sayang," omel Grace pada sang anak laki-lakinya.

"Tapi, Mom. Ini terlalu cepat. Bahkan, aku dan dia belum pernah bertemu. Dan kudengar dia masih kuliah, kan? Jadi, kenapa harus terburu-buru."

"Mommy yakin sekali kalian pasti pernah bertemu di Universitas dulu. Claire kuliah satu tingkat di bawahmu di Universitas yang sama denganmu dulu dan Mommy tau jika tidak lama lagi dia akan lulus."

"Apa? Jangan-jangan gadis ini yang sering Mommy ceritakan padaku. Gadis yatim piatu yang selama ini hidupnya kita biayai?" Joe bertanya dengan cepat.

"Iya. Betul sekali, Nathan. Mommy sudah lama mengenalnya. Dan tampaknya banyak lelaki juga menginginkan dia. Jadi, ibu mohon padamu. Menikahlah dengannya secepatnya. Sebelum ada lelaki lain yang mendahuluimu. Ibu sudah merasa sangat cocok dengan Claire. Hanya dia yang ibu inginkan untuk menjadi seorang menantu di keluarga kita."

"Tapi, Mom–"

"Aduh," pekik Grace yang membuat ekspresi wajah Jonathan langsung terlihat khawatir.

"Ada apa, Mom?"

"Dada Mommy langsung merasa sakit mendengar kenyataan. Jika putra semata wayang Mommy tidak mau memenuhi keinginan terbesar Mommy. Padahal, Mommy sudah tua dan sangat kesepian setelah kematian Daddy-mu dulu. Mungkin Mommy sakit pun kau sudah tidak peduli." Jonathan memijat pelipisnya sendiri. Ia tau Grace sedang berpura-pura agar dia bisa menurutinya.

"Mommy. Tapi aku–"

"Mommy mohon, Sayang. Kali ini saja kabulkan permintaan Mommy." Grace pura-pura batuk dan menggunakan nada bicara yang lemah. Dia sangat mengetahui jika Jonathan begitu mencintainya dan tidak ingin terjadi hal-hal buruk padanya.

"Baiklah, Mom. Aku setuju," balas Jonathan pasrah.

"Jadi, kau setuju?" Suara Grace terdengar bersemangat kembali.

"Iya," balas lelaki itu lemah.

"Baguslah. Karena aku sudah merencanakan acara pernikahan kalian besok lusa."

"Apa? Pernikahan? Tapi, Mom. Kenapa semuanya mendadak?"

"Sudah kubilang, kan? Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memiliki putri menantu seperti dia. Lebih cepat akan lebih baik. Sudah dulu ya. Mommy harus memesan cincin dan gaun terbaik untuknya. Bye, Nathan!" Sambungan telepon terputus.

"Mom. Mom. Tunggu sebentar! Aku ingin bicara!" ujar Jonathan yang sudah tidak digubris lagi oleh Grace. Sebab, Grace langsung jingkrak-jingkrak di salah satu meja Cafe dengan sangat bahagia. Claire yang bekerja di Cafe itu sampai mengerutkan keningnya saat melihat tingkah Grace.

"Mom. Apakah Mommy baik-baik saja?" tanya Claire sambil mendekati Grace. Bukannya menjawab, Grace malah memeluknya dengan erat.

"Sayang. Nathan sudah setuju, Sayang. Nathan sudah setuju."

"Setuju untuk apa?" balas Claire bingung. Grace melepaskan pelukannya tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

"Setuju untuk menikah denganmu besok lusa."

"Apa?" pekik Claire tak percaya.

"Kau tak percaya, kan? Mommy juga tidak percaya. Sebentar lagi kau akan resmi menjadi anak Mommy Claire." Grace kembali memeluk tubuh Claire dengan erat. Sedangkan Claire hanya terdiam dengan tatapan kosong. Sambil pura-pura tersenyum.

Hari pernikahan pun tiba. Grace menyiapkan semuanya dengan sangat baik. Mulai dari dekorasi gedung yang sangat mewah, hidangan yang enak-enak dan gaun pengantin Claire yang sangat cantik. Semuanya seakan tak memiliki cela. Kecuali kehadiran sang mempelai pria yang belum muncul juga hingga melewati waktu pelaksanaan yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

"Tunggu sebentar lagi ya! Aku yakin Nathan pasti akan datang," ujar Grace pada pendeta yang terus menanyakan keberadaan Jonathan sekarang.

Claire yang berdiri di samping Grace hanya bisa menahan bibirnya untuk terus tersenyum. Ini sudah kesekian kalinya Grace mengucapkan itu. Akan tetapi, sosok Nathan yang selalu menjadi kebanggaan wanita lima puluh tahun itu tidak kunjung terlihat. Claire yakin jika Nathan juga tidak menginginkan pernikahan ini. Begitu juga dengan dirinya. Namun, andai dia mau datang. Mereka pasti bisa mencari jalan keluar bersama. Karena Claire tak mungkin menolak permintaan wanita yang paling baik yang pernah dia kenal di dunia ini seperti Grace.

"Tapi kita harus segera memulai sekarang! Masih ada beberapa pasangan lain yang harus ku nikahkan hari ini."

"Saya mohon Pak Pendeta. Kasih sedikit waktu lagi untuk anakku. Dia pasti datang. Mungkin jalanan sedang macet. Sehingga menahannya di suatu tempat."

"Baiklah. Saya kasih waktu lima belas menit lagi. Jika sang pengantin pria belum datang juga. Saya harus pergi."

"Iya. Terima kasih." Grace terlihat semakin panik. Kemudian ia berjalan keluar sambil berusaha menghubungi Jonathan.

Tut. Tut. Tut.

Untuk beberapa saat belum juga diterima oleh Jonathan. Tetapi, Grace tak mudah menyerah. Ia terus menghubungi anaknya hingga akhirnya Nathan menerima panggilannya.

"Halo, Mom."

"Kau dimana? Cepatlah kesini. Acara pernikahanmu akan segera dilaksanakan!"

"Aku tidak bisa datang, Mom."

"Apa?" Grace terkejut mendengar pernyataan anak semata wayangnya.

"Aku sudah berada di Paris sekarang. Ada urusan bisnis yang harus diselesaikan."

"Jangan berbohong, Nathan. Aku sudah meminta Jacob untuk membatalkan semua acaramu hari ini. Mommy mohon janganlah bercanda. Semuanya sudah siap hanya menunggu kedatanganmu saja."

"Aku benar-benar tidak bisa datang, Mom. Tolong maafkan aku."

"Lalu bagaimana dengan pernikahan ini? Pokoknya Mommy tidak mau tau. Kau harus datang kesini secepatnya."

"Tidak mungkin, Mom. Aku baru saja sampai. Aku tidak mungkin kembali kesana sekarang."

"Kau ini selalu saja mementingkan pekerjaanmu. Baiklah. Kalau begitu kau bacakan janji pernikahan melalui telepon saja."

"Tapi... Tapi, Mom–"

"Jangan mengelak! Atau kau lebih ingin melihatku mati mendadak. Karena dipermalukan oleh seluruh tamu undangan?"

"Baiklah. Aku setuju!" Lagi-lagi Nathan hanya bisa pasrah.

"Bagus! Jangan matikan teleponnya atau kau ingin hidupku hancur setelah ini!" Cepat-cepat Grace berlari masuk. Lalu ia menarik Claire ke atas altar pernikahan. Ia berbisik sebentar pada sang pendeta.

"Baiklah. Karena sang mempelai pria tak bisa hadir. Maka dia akan mengucapkan janji pernikahan menggunakan sambungan telepon."

Mendengar ucapan sang pendeta semua tamu yang hadir pun langsung berbisik-bisik. Tentu saja ini hal yang tidak umum terjadi. Namun, demi kelangsungan pernikahan Claire dan Nathan. Sang Pendeta melanjutkan prosesi pernikahan hingga selesai. Meskipun Claire tidak bisa bertemu dengan pengantin prianya.

Di tempat lain Nathan sedang memandangi sosok wanita cantik di depannya dengan air mata yang mengalir deras. Sang gadis pun langsung berlari keluar dari area backstage sebuah acara fashion show terbesar di Paris dengan beruraian air mata juga. "Angelica tunggu!" teriak Nathan sambil mengejar gadis itu.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Rieska Karisha

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku