Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Wanita Simpanan Tuan Presdir

Wanita Simpanan Tuan Presdir

Rieska Karisha

5.0
Komentar
9
Penayangan
5
Bab

"Apa yang kau inginkan dariku?" "Apa yang kau berikan malam itu," jawab Kenan mantap. "Apa kau sudah gila? Kau pikir aku wanita murahan. Aku masih punya pacar dan aku tidak mau mengkhianatinya!" Lia membentak CEO tampan itu. "Lalu apa yang kau lakukan padaku malam itu?" **** Untuk membalaskan dendam kepada saudara tiri dan mendapatkan uang untuk membayar biaya rumah sakit ibunya. Camelia Wiguna bersedia menjadi wanita simpanan seorang Kenan Putra Abimana, Sang CEO tampan yang memiliki kerajaan bisnis terbesar di negeri ini sekaligus tunangan adik tirinya yang jahat. Kenan menderita penyakit aneh. Dimana dia tak bisa merasakan bergairah dengan seorang wanita. Hingga akhirnya dia merasakan itu pada saat tak sengaja melakukan one night stand bersama Lia. Kenan mau membayar berapapun yang diinginkan gadis itu. Asalkan Lia bersedia membantu Kenan sembuh dari penyakit anehnya sebelum acara pernikahan dengan gadis yang sudah dijodohkan orang tuanya terlaksana. Mungkinkah tidak ada perasaan yang tumbuh diantara mereka berdua? Lalu bagaimana cara mereka menghadapi pasangan masing-masing?

Bab 1 Chapter Satu

"Halo. Apakah ini benar dengan Bapak Kenan Adiguna?" tanya seorang wanita melalui ponsel pintar dengan brand ternama milik seorang CEO Muda A&G Groups yang memiliki gurita bisnis terbesar di negeri ini. Meskipun usianya baru genap tiga puluh tahun. Kenan Adiguna sudah berhasil mengembangkan bisnis keluarganya hingga memiliki berbagai cabang bisnis yang berbeda. Mulai dari real estate, departemen store, restoran hingga penginapan kelas bintang lima yang tersebar dimana-mana.

"Ya. Benar. Siapa ini? Kenapa anda menggunakan ponsel Jovanya?" tanyanya cepat.

"Saya pelayan di One Night Club hanya ingin mengabarkan jika tunangan anda sedang berada disini dalam kondisi yang sangat mabuk. Dia ditinggal sendirian oleh teman-temannya yang sudah dijemput oleh pacar masing-masing," balas wanita itu.

"Apa? Baiklah. Nanti saya kirim orang untuk menjemputnya," timpal Kenan enteng. Namun, sebelum dia menutup sambungan teleponnya wanita itu kembali berkata.

"Dia hanya ingin dijemput olehmu, Tuan. Makanya sejak tadi dia menolak pulang bersama teman-temannya."

"Ish. Menyusahkan sekali wanita ini. Baiklah. Aku akan datang," timpal Kenan dengan nada sedikit marah.

"Terima kasih, Tuan." Tut. Sambungan terputus.

"Bagaimana? Dia mau kan datang kesini?" tanya Jovanya antusias. Pelayan itu pun tersenyum lalu mengangguk mantap.

"Yeeee," sorak Jovanya dan teman-temannya.

"Kalau begitu sekarang kamu harus siap-siap. Cepat pura-pura mabuk! Biar dia tidak curiga," ujar temannya.

"Iya. Kita pergi dulu ya! Inget kamar hotelnya, kan? Jangan lupa kasih Kenan minuman itu juga!" tambah yang lain.

"Iya-iya. Aku masih ingat semuanya kok. Udah sana kalian pergi. Nanti keburu Kenan datang malah hancur semua rencanaku," usir Jovanya.

"Iya-iya. Kita pergi dulu ya. Bye!"

"Bye!" Setelah cipika-cipiki kedua teman Jovanya pun segera meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan pelayan tadi. Tak lama berselang Kenan datang. Seperti rencananya Jovanya pun langsung pura-pura teler.

"Ayo, kita pulang!" ajak Kenan sambil meraih tangan Jovanya untuk dipapah meninggalkan tempat itu. Namun, Jovanya malah menggeleng sambil meraih gelas wine yang ada di meja itu.

"Kau harus mencoba minuman ini, Ken. Kau pasti akan menyukainya," kata Jovanya sambil pura-pura mabuk.

"Nggak-nggak! Aku lagi nggak ingin minum," tolak Kenan sambil mendorong gelas kecil itu. "Lebih baik kita pulang saja!"

"No. No. No. Aku tidak akan kemana-mana sebelum kau mencicipi minuman ini. Ayo, Kenan sekali saja!" ujar Jovanya. Dia menyodorkan gelas itu ke depan mulut Kenan.

"Aku nggak mau mabuk, Jo? Aku harus nganterin kamu pulang."

"Ini cuma segelas kecil, Ken. Kamu nggak akan mabuk. Ayolah, Ken!" bujuk Jovanya sambil pura-pura tidak sadar. Awalnya Kenan terus menolak, tapi akhirnya dia menenggak minuman itu. "Yeee. Enak, kan?" seru Jovanya. Kenan tak menjawab. Mendadak kepalanya terasa sangat berat.

"Ayo, kita pulang sekarang!" ajak Kenan. Sambil memapah tubuh Jovanya yang pura-pura lemas. Kenan berjalan keluar. Namun, baru saja melewati pintu masuk ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.

"Ken. Kamu tidak apa-apa?" tanya Jovanya berakting polos.

"Kenapa mendadak udara sangat panas sekali?" gumam Kenan. Sambil mengibaskan bagian depan kemejanya.

"Mungkin kau merasa tidak enak badan. Lebih baik kita cari hotel terdekat saja. Ayo!"

Hingga detik ini rencana Jovanya terbilang sukses. Apalagi obat perangsang itu bekerja semakin baik saat mereka sudah sampai di kamar hotel. Jovanya meletakkan tubuh Kenan ke atas ranjang yang empuk. Lelaki itu tanpa sadar langsung membuka kancing kemejanya yang paling atas. Jovanya tersenyum penuh kemenangan.

"Malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya, Ken," gumam Jovanya. Dia melepaskan dress ketatnya hingga menyisakan pakaian dalamnya saja. Kemudian dengan gerakan yang sangat menggoda iman. Pelan-pelan Jovanya naik ke atas ranjang. Mendekati Kenan yang sedang keblingsatan sendiri. "Ken. Malam ini akan menjadi malam terindah untuk kita berdua," gumam Jovanya tepat di depan telinga Kenan. Tangannya dengan nakal sudah merayap turun. Mengekspor dada bidang Kenan yang berotot.

Mendengar ucapan itu Kenan seakan tersadarkan. Ia langsung mencegah tangan Jovanya yang ingin merambat lebih turun.

"Maaf, Jo. Aku tidak bisa melakukan ini!" kata Kenan sambil mendorong tubuh Jovanya hingga jatuh ke ranjang. Dengan cepat Kenan segera pergi dari tempat itu.

"Kenan! Kenan tunggu!" teriak Jovanya kesal. Karena rencananya gagal total.

Keesokan harinya Kenan pergi berkonsultasi dengan dokter spesialis Seksologi andalannya. Sebenarnya, dia mengidap kelainan aneh. Dimana Kenan belum pernah bisa merasakan bergairah meskipun ada gadis cantik dan seksi menggoda di depannya. Seperti halnya semalam. Saat dia mendapatkan pengaruh dari obat perangsang. Dia sudah menyadarinya sejak awal. Namun, dia sengaja pura-pura tidak tahu. Untuk mencari tau reaksi tubuhnya setelah dirangsang oleh obat itu. Akan tetapi, hingga saat-saat terakhir Jovanya menggodanya. Dia tetap saja tak bisa merasakan apapun. Makanya, Kenan segera menolak permintaan sang tunangan malam itu. Sebelum dia menyadari kelainan pada bagian pusaka pada tubuh Kenan.

"Bagaimana?" tanya Dokter sambil menunjukkan gambar wanita seksi dari layar laptopnya.

"Tidak menarik," balas Kenan dengan ekspresi datar.

"Baiklah. Kita coba selanjutnya!" Dokter memindah gambar ke slide selanjutnya. Gambar wanita yang lebih seksi dari yang tadi. "Bagaimana sekarang?"

"Tidak menarik," kata Kenan datar. Dokter mulai gelisah. Begitu juga dengan asisten pribadi Kenan yang mengantarnya. Mereka saling berpandangan dengan wajah bingung.

"Baiklah. Ini gambar kita yang terakhir," ujar sang Dokter sambil mengubah tampilan gambar pada layar. Jantung si asisten pun berdebar kencang. Saat Kenan menatap gambar di depannya dengan seksama. Di layar itu tampak seorang lelaki tampan yang tersenyum manis selayaknya anggota kaum pelangi. "Bagaimana?" tanya Dokter dengan nada bergetar. Kenan masih menatapnya dengan cermat. Hingga akhirnya tak lama kemudian ia menggeleng perlahan.

"Tak menarik juga," ujar Kenan yang membuat asistennya yang merupakan seorang lelaki bernafas lega.

"Ya. Mungkin hanya itu terapi yang bisa kita lakukan sekarang. Kita bisa lanjutkan lagi di pertemuan selanjutnya," ujar Dokter. Kenan menghembuskan nafas beratnya.

"Sejak awal aku juga sudah menduga jika ini tidak akan berhasil. Buang-buang waktu saja!" ujar Kenan kemudian beranjak. "Ayo, pergi! Kita masih ada agenda meninjau kemajuan hotel baru kita, bukan!" tambahnya kemudian pergi dari tempat itu.

"Kami permisi dulu, Dok. Terima kasih," ujar sang asisten pribadi.

"Sama-sama. Jangan lupa untuk ingatkan dia meminum obat yang sudah saya resepkan."

"Baik."

Di tempat lain seorang gadis cantik berpakaian khas seorang pelayan di sebuah restoran kecil sedang terburu-buru membereskan meja pelanggan yang baru saja selesai dipakai. Setelah ini dia akan menjalani tes wawancara di tempat lain untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Maklum ibunya yang sakit-sakitan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk bisa mendapatkan perawatan medis yang tepat. Sementara, gadis itu sudah tidak ingin merepotkan orang lain dalam hal pembiayaan ibunya. Meskipun itu berasal dari kekasihnya sendiri.

"Lia! Kau masih ada waktu? Bisa bersihkan meja itu juga?" ujar temannya sambil membawa tumpukan nampan di tangannya. Gadis itu pun menoleh ke arah meja yang ditunjuk oleh rekan kerjanya itu.

'Tidak terlalu kotor. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat,' pikir Lia.

"Baiklah. Aku akan melakukannya," timpal Lia sambil kembali fokus dengan pekerjaannya.

Setelah semua pekerjaannya selesai. Dengan terburu-buru Lia pergi ke hotel tempat ia akan menjalani interview. Karena tak sempat berganti pakaian di restoran tadi. Lia yang baru saja sampai di area parkir pun mencari tempat sepi. Mata Lia pun terpaku pada sebuah ruang tersendiri yang menjorok lebih ke dalam dan hanya diisi oleh satu mobil mewah. Mobil itu tak bergerak sedikitpun. Sehingga Lia yakin jika mobil itu sudah ditinggal oleh pemiliknya. Dengan bergegas Lia mendekati mobil itu.

Kemudian di samping mobil itu dia segera melepaskan seragam restorannya dan diganti dengan kemeja putih yang sudah dia bawa dari rumah. Tak hanya kemeja, Lia juga mengganti roknya yang berwarna merah dengan rok span hitam yang cukup ketat. Setelah itu, tak lupa Lia merias wajahnya agar terlihat segar dan tampak menarik. Kaca mobil tak bersalah itu pun menjadi pengganti cermin yang lupa ia bawa untuk mengoreksi penampilannya. Setelah memoles bibirnya dengan lipstik murahan yang dia beli di pinggir jalan. Lia merasa penampilannya sudah maksimal. Makanya, dia memonyongkan bibirnya seakan-akan ingin mengecup kaca film itu. Tiba-tiba kaca mobil itu pun terbuka perlahan dari dalam. Tentu saja hal itu membuat Lia terkejut.

"Apa yang sedang kau lakukan disana?" tanya Kenan dari dalam mobilnya.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Rieska Karisha

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku