Asa di Ujung Senja

Asa di Ujung Senja

Merpati_Manis

5.0
Komentar
4.8K
Penayangan
43
Bab

Demi membayar utang orang tua pada Ndoro Brata, Nada harus rela menjadi pengantin pengganti untuk cucu kesayangan orang terkaya di kampungnya itu, yang ditinggal kabur oleh sang calon istri setelah Abian mengalami kebutaan akibat kecelakaan. Abian, pemuda urakan yang senang mengikuti balapan liar di jalanan, harus menelan pil pahit ketika dokter menyatakan jika dia mengalami kebutaan akibat kecelakaan tersebut. Cucu Ndoro Brata yang dulu terkenal tengil dan playboy itu, kini menjadi pribadi yang pemarah, dan sangat dingin pada wanita, termasuk pada Nada yang sudah dia nikahi, sejak ditinggal pergi oleh sang calon istri. Sanggupkah Nada menjalani perannya sebagai seorang istri bagi suami buta dan pemarah seperti Abian, terlebih ketika tekanan yang dia dapatkan bukan hanya dari sang suami, tetapi juga dari keluarga besar Ndoro Brata?

Asa di Ujung Senja Bab 1 Ba-bu untuk Abian

"Maaf, Nduk, jika kamu harus menanggung semua ini," kata seorang wanita paruh baya dengan air mata bercucuran, sambil mengusap dengan lembut punggung sang putri yang menangis di atas pangkuan.

"Tapi kenapa harus Nada, Bu? Nada baru saja lulus sekolah dan Nada juga masih ingin melanjutkan ngaji di pesantren, Bu." Gadis belia itu masih saja tergugu.

"Kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa dijual untuk membayar hutang bapakmu pada Ndoro Brata, Nduk. Hanya ini satu-satunya cara agar keluarga kita bisa terbebas dari hutang yang kian lama, kian terasa mencekik." Bu Mul terdengar menghela napas berat.

"Lagi pula, keputusan bapakmu sudah bulat, dan tidak dapat diganggu gugat, Nduk. Beberapa waktu lalu, bapak sudah menyetujui pernikahanmu dengan Den Bian," lanjutnya seraya menyeka air mata yang terus saja menyeruak.

"Kenapa ndak Mbak Gina saja, Bu? Mbak Gina 'kan sudah dewasa dan sudah saatnya berumah tangga? Lagipula, bukankah Mbak Gina tergila-gila pada cucu bungsu Ndoro Brata itu, Bu?" Nada yang sudah mulai reda tangisnya, mendongak menatap sang ibu.

"Mana mungkin mbakmu itu mau, Da? Lagian, mbakmu itu cantik! Sayang, kalau gadis cantik seperti Gina harus menjadi pengantin pengganti untuk pemuda buta seperti cucu Ndoro Brata itu!" Sang bapak yang baru saja tiba di ambang pintu kamar Nada, menyahut. Suaranya terdengar begitu ketus.

"Apa? Bu-buta?" bibir Nada bergetar. Ingin rasanya, Nada tidak mempercayai apa yang barusan dia dengar.

"A-apa yang dikatakan bapak tadi benar, Bu?" tanya Nada hendak memastikan pada sang ibu karena sang bapak sudah keburu pergi dari sana, setelah mengatakan tentang kondisi pemuda yang akan menikahinya sore ini.

Bu Mul hanya bisa mengangguk, seraya menatap sang putri bungsu dengan tatapan sendu.

Air mata Nada kembali mengucur deras. Pilu hatinya mengetahui kenyataan getir yang harus dia terima. Sang bapak yang berhutang pada Ndoro Brata untuk berjudi dan mabuk-mabukan, tetapi dia yang dipaksa mengorbankan diri untuk menjadi pengantin pengganti bagi pemuda buta yang ditinggal kabur oleh calon istrinya, tanpa diberi kesempatan untuk mengenal terlebih dahulu pemuda tersebut.

"Sudah, Nduk, hapus air matamu! Sebentar lagi acara akan dimulai. Persiapkan dirimu untuk menjadi istri cucu Ndoro Brata," kata Bu Mul, setelah beberapa saat mereka berdua sama-sama terdiam.

Nada segera beranjak dari tempatnya bersimpuh di pangkuan sang ibu. Gadis belia itu lalu duduk di kursi rias dan merapikan riasannya dari sisa air mata. Sekuat hati Nada berusaha untuk tidak lagi menangis karena dia tak ingin membuat sang ibu semakin bersedih.

"Kenapa harus selalu aku jika itu mengenai hal-hal yang tak mengenakkan? Sedangkan untuk sesuatu yang membahagiakan, pasti Mbak Gina yang bapak dahulukan? Kenapa bapak selalu saja pilih kasih pada kami berdua? Bukankah, aku ini juga anak kandungnya?"

Nada bermonolog dalam diam. Tatapannya tertuju pada gambar dirinya yang ada pada pantulan cermin rias di hadapan. Tanpa terasa bulir bening kembali mengalir dari sudut netranya, setelah sang ibu keluar dari kamar, dan meninggalkan Nada sendirian.

Sementara di ruang keluarga, di rumah besar milik keluarga Ndoro Brata, semua orang sudah berkumpul termasuk sang mempelai pria. Acara akad nikah untuk Abian yang seyogyanya akan digelar secara mewah, tetapi akhirnya dilaksanakan secara sederhana karena pengantin wanitanya berganti, itu pun segera dimulai. Satu per satu acara berjalan dengan lancar hingga bacaan qabul terucap dari bibir pemuda yang saat ini tak dapat melihat karena kecelakaan akibat kebut-kebutan di jalanan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Nada Assyifa binti Mulyono dengan mas kawin tersebut di atas, tunai."

Kata sah berkumandang ke seluruh penjuru ruangan, hingga dapat didengar oleh Nada yang masih duduk terdiam di depan meja rias, di kamar yang disediakan untuknya. Gadis itu pun kembali meneteskan air mata. Dia sama sekali tak menyangka jika saat ini statusnya telah berubah menjadi nyonya. Nyonya dari seorang pemuda yang sudah pasti tak pernah mengharapkan kehadiran wanita biasa seperti Nada dalam hidupnya.

Suara pintu yang dibuka dari luar, memaksa Nada menghapus air mata lalu berusaha untuk tersenyum pada Ndoro Putri Brata yang menjemputnya ke kamar.

"Tidak usah menangis dan sok bersedih! Kamu akan lebih enak hidup di sini, daripada di rumah orang tuamu yang sempit, dan hampir rubuh itu!"

Kata-kata wanita berusia senja yang wajahnya masih terlihat kencang karena rajin melakukan perawatan itu, mampu menggoreskan luka di hati Nada. Gadis belia itu pun hanya bisa menunduk dalam dengan bibir terkunci rapat, tak berani untuk bersuara. Melihat jika wanita belia di hadapan takut padanya, wanita berusia senja itu pun tersenyum jumawa.

"Ingat! Kamu dinikahi cucuku hanya untuk menggantikan mantan tunangannya yang kabur! Jadi, jangan pernah berharap jika keberadaanmu di sini akan diratukan layaknya seorang istri, dan menantu! Kamu itu hanya babu yang harus merawat Abian! Kamu sudah kami beli dari bapakmu yang pemabuk itu! Dan sebagai babu, kamu tentu harus bisa menempatkan diri!"

Sayatan tajam dari lidah Ndoro Putri Brata, kembali melukai perasaan Nada. Gadis berparas ayu itu pun hanya bisa kembali meneteskan air mata. Kepala Nada semakin menunduk dalam dan dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menatap wanita tua yang merupakan eyang dari suaminya.

"Ya, Rabb ... inikah takdir hidupku? Jika memang pemuda itu adalah jodoh yang Engkau kirim untukku, ikhlaskan hatiku agar dapat menerima semua ini."

Nada bahkan tidak berani meminta lebih pada Tuhannya dan hanya satu yang dia minta, yaitu keikhlasan hati.

"Ayo, keluar!" Suara Ndoro Putri Brata yang kembali meninggi, berhasil menyeret Nada dari lamunan. Pengantin wanita itu kemudian mengikuti langkah eyangnya Abian, menuju ke tempat acara dengan langkah lunglai.

Nada lalu dibimbing oleh sang ibu yang tadi menyusul Ndoro Putri Brata hendak menjemput sang putri ke kamar untuk menyalami Abian, pemuda yang baru saja mengucapkan qabul sebagai bentuk penerimaannya atas diri Nada.

"Maafkan ibu," bisik Bu Mul dengan suara tercekat di tenggorokan, sebelum Nada sampai di dekat pemuda buta yang saat ini telah sah menjadi suaminya. Wanita paruh baya tersebut menggenggam erat tangan sang putri, seolah takut melepaskan Nada untuk menjadi bagian dari keluarga besar Ndoro Brata.

Nada mengeratkan genggaman tangan sang ibu. Gadis bermata bulat itu tahu jika ibunya tak menginginkan pernikahan ini terjadi. Akan tetapi, wanita paruh baya yang telah melahirkan Nada itu tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

"Semua akan baik-baik saja, Bu," balas Nada, mencoba menenangkan hati sang ibu.

Selanjutnya, prosesi acara berlangsung secepat kilat. Tak ada pemasangan cincin kawin. Hanya Nada yang menjabat tangan sang suami dan menciumnya dengan takdzim, tanpa ada balasan kecupan di kening. Lalu mereka berdua melakukan sungkeman pada orang tua, yang terkesan hanya sebatas formalitas belaka.

"Aku lelah, bawa aku ke kamar! Aku mau istirahat!" Perintah Abian, setelah semua proses mereka lalui bersama. Suara pemuda itu terdengar begitu arogan.

Nada hanya dapat mengangguk, patuh. Wanita yang saat ini mengenakan kebaya putih lengkap dengan hijab berwarna senada yang menutup rapat kepalanya itu, lalu membimbing sang suami untuk ke dalam. Namun, setibanya di depan kamar yang Nada tempati, wanita belia itu menjadi bingung sendiri.

"Maaf, Den Bian. Aden mau istirahat di kamar mana?" Nada menyebut pemuda yang sudah sah menjadi suaminya itu dengan sebutan aden karena dia teringat dengan ucapan Ndoro Putri Brata bahwa dirinya hanyalah seorang babu untuk Abian.

"Tentu saja di kamarku sendiri! Memangnya, kamu mau membawaku ke mana? Apa ke kamarmu?" Abian yang berbicara dengan wajah yang mengarah pada Nada, terlihat sangat kesal.

"Kamu pikir, aku ini siapa, hem? Apa pantas, kamu membawaku ke kamar babu sepertimu?" lanjutnya yang terdengar begitu menyakitkan di telinga Nada. Wanita berwajah ayu itu pun hanya dapat menghela napas panjang untuk mengurai rasa sesak di dalam dada.

bersambung ...

🌹🌹🌹

Halo... Assalamu'alaikum semua 🥰

Ketemu lagi kita di lapak ini, setelah sekian purnama😄

Jika kalian syuka dengan cerita terbaruku ini, jangan lupa tinggalkan jejak, yah... Love dan komen 😊

Dan sambil nunggu cerita ini up kembali, mampir, yuk, di novelku yang udah tamat "Luka Lara". Terima kasih 🙏

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Merpati_Manis

Selebihnya

Buku serupa

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Asa di Ujung Senja Asa di Ujung Senja Merpati_Manis Romantis
“Demi membayar utang orang tua pada Ndoro Brata, Nada harus rela menjadi pengantin pengganti untuk cucu kesayangan orang terkaya di kampungnya itu, yang ditinggal kabur oleh sang calon istri setelah Abian mengalami kebutaan akibat kecelakaan. Abian, pemuda urakan yang senang mengikuti balapan liar di jalanan, harus menelan pil pahit ketika dokter menyatakan jika dia mengalami kebutaan akibat kecelakaan tersebut. Cucu Ndoro Brata yang dulu terkenal tengil dan playboy itu, kini menjadi pribadi yang pemarah, dan sangat dingin pada wanita, termasuk pada Nada yang sudah dia nikahi, sejak ditinggal pergi oleh sang calon istri. Sanggupkah Nada menjalani perannya sebagai seorang istri bagi suami buta dan pemarah seperti Abian, terlebih ketika tekanan yang dia dapatkan bukan hanya dari sang suami, tetapi juga dari keluarga besar Ndoro Brata?”
1

Bab 1 Ba-bu untuk Abian

18/11/2024

2

Bab 2 Tidak Tertarik Padamu

18/11/2024

3

Bab 3 Pasangan Suami-istri

18/11/2024

4

Bab 4 Kamu Milikku, Nada!

18/11/2024

5

Bab 5 Jangan Sakiti Istriku!

18/11/2024

6

Bab 6 Wanita yang Tidak Berpendidikan

18/11/2024

7

Bab 7 Wanita Cantik

18/11/2024

8

Bab 8 Mengambil Hak sebagai Suami

18/11/2024

9

Bab 9 Kepala Bawah

18/11/2024

10

Bab 10 Tanda Cinta

18/11/2024

11

Bab 11 Buta Selamanya

18/11/2024

12

Bab 12 Bercinta dengan Adik Ipar

18/11/2024

13

Bab 13 Memadu Kasih di Kebun Teh

18/11/2024

14

Bab 14 Melepas Hijab

18/11/2024

15

Bab 15 Mencurigai Eyang

18/11/2024

16

Bab 16 Membawa Nada Pulang

18/11/2024

17

Bab 17 Kena Gerebek

18/11/2024

18

Bab 18 Mungkinkah Dia

18/11/2024

19

Bab 19 Rela Jadi yang Kedua

18/11/2024

20

Bab 20 Mual

18/11/2024

21

Bab 21 Mimpi Buruk

09/12/2024

22

Bab 22 Bukan Anak Haram

10/12/2024

23

Bab 23 Foto Nada

11/12/2024

24

Bab 24 Mencurigakan

12/12/2024

25

Bab 25 Siapa Sebenarnya Nada

13/12/2024

26

Bab 26 Syarat

14/12/2024

27

Bab 27 Rencana Eyang

15/12/2024

28

Bab 28 Menghilang

16/12/2024

29

Bab 29 Penasaran

17/12/2024

30

Bab 30 Ambyar

18/12/2024

31

Bab 31 Pembunuh Berdarah Dingin

19/12/2024

32

Bab 32 Ketuban Pecah

20/12/2024

33

Bab 33 Rumah Sakit Bersalin

21/12/2024

34

Bab 34 Ancaman Tyas

22/12/2024

35

Bab 35 Meni durimu

23/12/2024

36

Bab 36 Ranjang Bergoyang

24/12/2024

37

Bab 37 Menikah Lagi

25/12/2024

38

Bab 38 Ikhlaskan

26/12/2024

39

Bab 39 Menolak Permintaan Abian

27/12/2024

40

Bab 40 Dipenjara

28/12/2024