My Possessive Sugar Daddy

My Possessive Sugar Daddy

firsandrian

5.0
Komentar
223K
Penayangan
73
Bab

Bijaklah memilih bacaan! Novel ini mengandung adegan 21+ "Jadilah wanitaku." Kemiskinan dan tekanan dari mereka orang berada, membuat Fahira terpaksa menerima tawaran Fatih untuk menjadi 'sugar baby-nya', meskipun hal itu sangat bertentangan dengan hati nuraninya yang memiliki prinsip untuk tetap berada di jalan yang lurus apapun keadaannya. Kehidupan Fahira pun, perlahan berubah. Gadis itu bisa bangkit dari kemiskinan dengan uang hasil jerih payahnya menjadi sugar baby dari sang CEO tampan pujaan para wanita. Namun, perubahan yang drastis itu tidak berjalan mulus begitu saja, karena Fahira harus menghadapi berbagai masalah yang dibuat oleh saudara sepupunya. Masalah apa saja kah, yang akan dihadapi oleh Fahira? dan mampukah ia menghadapinya?

My Possessive Sugar Daddy Bab 1 Hutang

Suara batuk yang tak biasa dari sang ibu, membuat Fahira yang sedang memasak air di dapur, langsung berlari menghampiri ibunya di kamar. Sesampainya di sana, Fahira langsung duduk di tepi ranjang. Dan, betapa terkejutnya ia, saat melihat bercak darah di tangan ibunya yang tadi menutupi mulut itu saat terbatuk. "Ibu, batuk Ibu berdarah. Ibu harus periksa ke dokter," ujar gadis manis bermata bulat itu, dengan raut paniknya.

"Tidak, Nak. Ibu baik-baik saja. Nanti juga sembuh sendiri. Uhuk! Lagipula, kita tidak ada uang untuk ke dokter. Berikan Ibu teh hangat saja. Nanti akan membaik dengan sendirinya," ucapnya, menenangkan Fahira.

Tapi, Fahira bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi. Ia tahu, kalau ibunya itu hanya sedang berusaha menenangkannya saja. Namun, meskipun demikian, Fahira tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia tak ingin membuat ibunya yang napasnya kini tersengal-sengal itu, terlalu banyak bicara. Gadis itu hanya bisa menuruti permintaan sang ibunda. "Ya sudah, aku buatkan ibu teh hangat dulu." Fahira lalu bangkit dari duduknya, dan membawa langkahnya keluar dari kamar, menuju ke dapur.

Sesampainya di dapur, dengan segera, ia membuatkan teh hangat untuk sang ibunda. Saat hendak membawa secangkir teh hangat itu ke kamar ibunya, Fahira tiba-tiba terdiam, memikirkan sesuatu. "Aku tidak boleh diam saja, aku harus melakukan sesuatu. Sakit Ibu pasti sudah parah, dan aku harus segera membawa Ibu ke rumah sakit."

Fahira kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar ibunya, dengan secangkit teh hangat yang ia bawa. "Bu, ini teh hangatnya. Aku mau keluar sebentar," ucapnya, sambil menaruh secangkir teh hangat itu di atas meja, di sebelah ranjang ibunya.

"Kau mau pergi ke mana, hujan-hujan begini, Nak?" tanya Marni, dengan suaranya yang sedikit serak.

"Ada perlu sebentar, Bu," jawabnya. "Diminum tehnya, ya. Nanti aku kembali. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

Gadis itu pun, bergegas pergi dari hadapan sang ibunda. Fahira meraih payung bercorak bunga-bunga ungu yang menggantung di dekat pintu, sebelum ia keluar. Karena di luar sedang hujan deras. Gadis itu pun, pergi. Ia berjalan di bawah guyuran air hujan, sambil melindungi tubuhnya dengan payung yang sambungan sebelah kanannya sudah patah-patah, hingga tak mampu melindungi tubuhnya dari guyuran air hujan, dengan sempurna. Namun, keadaan itu tak lantas menghentikan langkah Fahira untuk pergi ke suatu tempat.

Fahira, gadis manis berusia 20 tahun. Tak hanya manis, Fahira juga penyayang dan memiliki hati yang lembut. Dia juga gadis yang mandiri dan pekerja keras. Fahira harus kehilangan ayahnya, di saat usianya masih 10 tahun. Dan kini, dia hanya tinggal berdua dengan sang ibunda di sebuah gubuk kecil. Kehidupan Fahira dan ibunya, bisa dibilang serba kekurangan. Fahira hanya mampu bersekolah sampai tamat SD, dan tak mampu untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Sehingga ia kesulitan mencari pekerjaan.

Dan sehari-harinya, Fahira dan ibunya, mengais rezeki dari menjual barang-barang bekas yang mereka kumpulkan. Setiap pagi, Fahira dan ibunya pergi ke tempat pembuangan sampah akhir, untuk mencari barang bekas yang bisa mereka jual.

Kemiskinan Fahira dan ibunya, membuat mereka sering sekali mendapat cemoohan dari beberapa tetangga. Bahkan, dari kerabatnya sendiri. Dan terkadang, Fahira merasa tak tahan dengan cemoohan-cemoohan itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Memang kenyataannya seperti itu, dia hanya gadis miskin yang mencari rezeki dari sampah.

Jika bisa menawar, Fahira pun tidak ingin hidup miskin. Ya, semua orang juga ingin hidup bergelimang harta. Atau setidaknya, berkecukupan. Tapi, setiap manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Dan mungkin, di mata manusia, takdir Fahira sangat buruk. Sehingga membuat gadis itu dan ibunya selalu dikucilkan.

Setelah berjalan cukup jauh di bawah guyuran air hujan, ia pun, sampai di depan gerbang sebuah rumah yang cukup mewah. Fahira lalu masuk ke dalam, dan membawa langkahnya ke pintu masuk rumah itu. Gadis itu menaruh payungnya di atas teras, lalu berjalan beberapa langkah mendekati pintu kayu bercat putih itu.

Dengan tergesa-gesa, Fahira mengetuk pintu dengan buku tangannya. Gadis itu lalu memeluk tubuhnya yang kedinginan. Karena sebagian tubuhnya basah terkena air hujan, dikarenakan payungnya yang sudah patah.

Tak lama, pintu pun terbuka. Seorang wanita berambut pendek, menyambut kedatangan Fahira dengan senyuman sinis, sambil menyilangkan tangan di dadanya. Seraya ia bertanya, "Mau apa kau ke mari?"

"Aku ... aku ingin bicara dengan Paman," jawab Fahira, dengan bibir yang sedikit bergetar karena kedinginan.

"Mau apa? Pasti mau pinjam uang," cibirnya.

"Riana, ku mohon. Izinkan aku bertemu dan bicara pada Paman," pinta Fahira.

"Hmm ... baiklah. Tunggu di situ. Aku akan panggil Papa," ujarnya, ketus. Lalu melenggang pergi dari hadapan Fahira.

Fahira pun, menunggu sang Paman datang. Sambil menahan rasa dingin yang semakin menjalar di tubuhnya.

"Pah, ada si anak miskin tuh, di luar. Katanya mau bicara sama Papa. Palingan juga mau pinjam uang," selorohnya, lalu duduk di sofa sisi lain.

Ridwan menghela napasnya, lalu beranjak dari tempat duduknya. Dan membawa langkahnya pergi dari sana, untuk menemui Fahira yang sudah menunggunya.

"Ada apa?" tanya Ridwan, dengan raut angkuhnya, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

"Paman, Ibu sakit. Aku ... aku mau pinjam uang buat bawa Ibu ke rumah sakit," tuturnya.

"Memangnya, kau bisa bayar?" tanya Ridwan, dengan nada merendahkan.

"Insyaallah bisa, Paman. Aku akan mengumpulkan uang sedikit-sedikit untuk membayar hutangku, nanti," balasnya.

"Baiklah, aku akan memberikanmu pinjaman. Tapi, dengan syarat bunga 10%."

"Bunga 10%? Paman, apa bunganya bisa dikurangi? Aku takut tak bisa membayarnya kalau bunganya sebesar itu." Fahira mencoba bernegosiasi dengan pamannya.

"Ya itu terserahmu. Kalau kau setuju dengan bunga 10%, aku akan memberikan pinjaman padamu. Tapi, kalau kau keberatan, maaf, aku tidak bisa meminjamkan uangku padamu."

Fahira terdiam, sambil berpikir. "Duh, bagaimana ini? Bunganya besar sekali. Tapi, Ibu harus segera dibawa ke dokter sebelum batuknya semakin parah," batinnya. Ia mulai bimbang, haruskah ia ambil, atau tidak? Jika diambil, Fahira takut tak akan mampu untuk membayar. Tapi, jika tidak diambil, dirinya tidak akan bisa membawa ibunya ke dokter. Hingga pada akhirnya, dia pun memutuskan, "Baiklah, aku mau, Paman." Fahira tidak punya pilihan lain, selain menyetujui. Demi bisa membawa ibunya ke dokter.

"Kau mau pinjam berapa?" tanyanya, datar.

"Dua juta, Paman."

Ridwan tersenyum mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Ya sudah, tunggulah sebentar. Aku akan mengambil uangnya."

Fahira mengangguk. Dan Ridwan pun, kembali masuk ke dalam rumah, untuk mengambil uang itu.

"Ya, Allah. Tolong berilah aku rezeki, supaya nanti aku bisa membayar hutang pada Paman." Fahira berdo'a dalam hatinya.

Tak lama, Ridwan kembali, dengan lembaran uang di tangannya. Ia lalu menyodorkan uang itu pada Fahira. Sambil berkata, "Ingat, bunga 10%!" Begitu tegas, kalimat itu diucapkan.

"Baiklah, Paman." Fahira menerima uang itu, meskipun terasa sangat berat untuknya.

Setelah mendapatkan uang itu, Fahira pun bergegas pergi dari sana. Karena terburu-buru, Fahira tak melihat kanan-kiri saat menyeberang jalan. Sehingga ia tak melihat ada kendaraan yang sedang mengarah ke arahnya.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
My Possessive Sugar Daddy My Possessive Sugar Daddy firsandrian Romantis
“Bijaklah memilih bacaan! Novel ini mengandung adegan 21+ "Jadilah wanitaku." Kemiskinan dan tekanan dari mereka orang berada, membuat Fahira terpaksa menerima tawaran Fatih untuk menjadi 'sugar baby-nya', meskipun hal itu sangat bertentangan dengan hati nuraninya yang memiliki prinsip untuk tetap berada di jalan yang lurus apapun keadaannya. Kehidupan Fahira pun, perlahan berubah. Gadis itu bisa bangkit dari kemiskinan dengan uang hasil jerih payahnya menjadi sugar baby dari sang CEO tampan pujaan para wanita. Namun, perubahan yang drastis itu tidak berjalan mulus begitu saja, karena Fahira harus menghadapi berbagai masalah yang dibuat oleh saudara sepupunya. Masalah apa saja kah, yang akan dihadapi oleh Fahira? dan mampukah ia menghadapinya?”
1

Bab 1 Hutang

05/12/2022

2

Bab 2 Merepotkan

05/12/2022

3

Bab 3 Penawaran

05/12/2022

4

Bab 4 Penolakan

05/12/2022

5

Bab 5 Bingung

05/12/2022

6

Bab 6 Curiga

05/12/2022

7

Bab 7 Kemiskinan

05/12/2022

8

Bab 8 Terpaksa

05/12/2022

9

Bab 9 Menyatu

05/12/2022

10

Bab 10 Perjanjian

05/12/2022

11

Bab 11 Maaf

06/12/2022

12

Bab 12 Penasaran

08/12/2022

13

Bab 13 Bekerja

22/02/2023

14

Bab 14 Mengagumi

22/02/2023

15

Bab 15 Kekasih

22/02/2023

16

Bab 16 Licik

22/02/2023

17

Bab 17 Membingungkan

22/02/2023

18

Bab 18 Ketakutan

22/02/2023

19

Bab 19 Merasa Bersalah

22/02/2023

20

Bab 20 Membaik

22/02/2023

21

Bab 21 Iri Hati

23/02/2023

22

Bab 22 Tidak Terima

23/02/2023

23

Bab 23 Tumbuh Perasaan

24/02/2023

24

Bab 24 Kebahagiaan

24/02/2023

25

Bab 25 Jatuh Cinta

25/02/2023

26

Bab 26 Jalan Buntu

25/02/2023

27

Bab 27 Kerinduan

26/02/2023

28

Bab 28 Bertamu

26/02/2023

29

Bab 29 Ancaman

01/03/2023

30

Bab 30 Cemburu

02/03/2023

31

Bab 31 Senyum Manis

03/03/2023

32

Bab 32 Kelembutan

04/03/2023

33

Bab 33 Memantaskan

05/03/2023

34

Bab 34 Egois

06/03/2023

35

Bab 35 Hubungan

07/03/2023

36

Bab 36 Menyangkal

08/03/2023

37

Bab 37 Tidak Nyaman

09/03/2023

38

Bab 38 Sayang

10/03/2023

39

Bab 39 Spesial

11/03/2023

40

Bab 40 Desahan di Apartemen

12/03/2023