back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bukan Pelayan Biasa

Bukan Pelayan Biasa

Adora Moon

5.0
Ulasan
15.9K
Penayangan
96
Bab

Amanda Felicia, gadis cantik yang baru saja lulus sekolah, harus mengalami kesedihan yang begitu mendalam. Dimana saat hari dirinya wisuda, Amanda harus menerima kabar buruk karena kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Amanda langsung pergi ke rumah sakit ditemani sahabatnya bernama Fanny. Sesampainya di rumah sakit, Amanda terkulai lemas melihat kedua orang tuanya sudah terbujur kaku di kamar jenazah. Setelah kepergian kedua orang tuanya, Fanny sahabatnya justru harus meninggalkan dirinya untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Kehidupan Amanda begitu menyedihkan. Namun, dia berusaha kuat dan tak ingin terlihat lemah. Saat dirinya berusaha untuk bangkit, dirinya juga mendapatkan masalah baru. Dimana dia bertemu pria bernama Alexander Mattew. Amanda yang bekerja menjadi pelayan di rumah Alex. Alex selalu berusaha membuat Amanda kesulitan dan tidak betah bekerja di rumahnya. Bagaimana kelanjutan kisahnya?!

Bab 1
Bukan Pelayan Biasa
Kesedihan

“Amanda.. Amanda Felicia anak IPA 1 mana?” teriak seseorang dari pintu masuk ruangan wisuda.

“Ada apa?” tanya panitia.

“Barusan ada telepon dari pihak rumah sakit, kalau keluarganya ada di rumah sakit karena kecelakaan saat menuju kesini. Saya disuruh menyampaikan pesan ini.”

“Apa?? Ayah.., ibu ..,” ucap Amanda langsung menangis sambil terus berjalan keluar sekolah.

Fanny sahabatnya ikut menyusul dari belakang ruangan. Fanny memanggil-manggil Amanda, tapi Amanda hanya berjalan saja sambil menangis tersedu-sedu. Sampai akhirnya Fanny menarik tangan Amanda.

“Kamu mau kemana? Hah?!” tanya Fanny.

“Ke rumah sakit, Fan. Ayah, ibuku..,” ucap Amanda sambil menangis.

“Iya, tapi kamu mau naik apa kesana? Apa kamu mau jalan kaki kesana?”

Amanda menggelengkan kepalanya.

“Ya sudah, ayo aku antar kesana.”

Fanny pun langsung mengambil mobilnya dan mereka pun melaju menuju rumah sakit. Di dalam mobil, Fanny berusaha menguatkan Amanda untuk sabar. Namun, Amanda justru menangis semakin dalam.

Berbagai pikiran akan kehilangan keluarganya membuatnya tak dapat lagi menahan tangisannya.

***

Flashback on.

“Ibu, Amanda pergi duluan ya. Nanti ayah sama ibu menyusul ya.”

Hari ini, hari kelulusan Amanda. Semua orang tua diwajibkan untuk hadir.

“Iya, sayang. Ibu akan menyusul ke sana. Ibu lagi nunggu ayahmu pulang dari rumah Pak RW. Lagian acara kelulusannya agak siang, jadi masih ada waktu.”

Amanda sengaja datang pagi, karena dia sudah janjian dengan Fanny untuk datang lebih dulu. Agar mereka bisa mengobrol dan berfoto-foto sebelum acara wisuda di mulai.

Makanya Amanda pergi ke sekolah lebih awal, karena acara wisuda dilakukan di ballroom sekolah mereka sendiri. Sesampainya di sekolah dia langsung mencari Fanny sahabatnya.

“Amanda, kita ke kantin dulu yuk. Sambil menunggu acara di mulai.”

Fanny menarik tangan Amanda yang baru sampai di sekolah , dan mengajak Amanda ke kantin sekolah.

Amanda dan Fanny memilih duduk di meja pojok di dalam kantin. Semua mata tertuju pada mereka, seperti terkesima akan penampilan mereka. Bisa dibilang mereka berdua memang primadona sekolah, makanya semua mata menatap mereka berdua.

Setelah memesan makanan dan minuman, mereka pun berbincang-bincang seperti biasanya sampai akhirnya pesanan makanan mereka datang.

Fanny yang sudah kelaparan langsung mengambil makanan dan begitupun Amanda. Selesai makan, mereka berjalan kembali menuju ruang wisuda.

Para orang tua sudah mulai berdatangan, hanya tinggal beberapa saja. Amanda mulai terlihat gelisah. “Kenapa ayah dan ibu belum sampai juga ya?” batin Amanda sambil meremas-remas rok yang dipakainya.

Hingga acara pun dimulai, semua orang tua murid yang sudah hadir, dan hanya tersisa orang tua Amanda yang belum datang.

Acara terus berjalan, hingga suara mikrofon pun memanggil nama-nama para murid dari berbagai jurusan yang mendapat nilai terbaik.

Tak lama nama Amanda dipanggil karena dia juga mendapatkan gelar murid terbaik di sekolahnya.

“Kepada murid kita ananda Amanda Velisia dari jurusan IPA 1. Silahkan naik ke atas panggung,” ucap pembawa acara saat itu.

Tapi yang dipanggil tak kunjung naik ke atas panggung, Amanda bingung karena orang tuanya belum juga hadir. Sampai tidak lama pun suara dari bagian panitia acara yang berada diluar ruang memanggil namanya.

Flashback off.

(Rekomendasi bacanya sambil dengerin lagu John Mayer : You’re Gonna Live Forever In Me).

***

Di rumah sakit.

Amanda langsung berlari di lorong rumah sakit, Amanda langsung menuju bagian informasi untuk mengetahui keadaan kedua orang tuanya, dan benar saja, kedua orang tuanya sudah berada di kamar jenazah.

Amanda begitu histeris, menangis sejadi-jadinya. Lututnya sudah lemas seperti tidak bisa menahan berat tubuhnya.

“Ya Tuhan.., apa yang harus aku lakukan?!! Kenapa semua terjadi secepat ini? Kenapa kau berikan hamba cobaan yang begitu besar seperti ini?” ucap Amanda yang menangis.

“Man.. Amanda, sadarlah. Kau harus kuat, ayo kita lihat kedua orang tuanmu,” ucap Fanny berusaha membantu Amanda bangun dari duduknya, dan mencoba mengangkat tangan Amanda seolah memberikan semangat.

“Apa yang harus aku lakukan, Fan? A-ku harus bagaimana sekarang?!”

“Ayo Amanda. Kamu harus kuat, ada aku disini,” ucap Fanny berusaha menguatkan sahabatnya itu.

Mereka pun langsung menuju kamar jenazah. Dia melihat jenazah kedua orang tua sudah terbujur kaku. Kini dia seorang diri di dunia ini, walaupun dia masih memiliki keluarga lain, yaitu keluarga pamannya tapi mereka tidak pernah mau tahu urusan keluarganya.

Apalagi sekarang dirinya sudah seorang diri. Entah apa yang akan dia lakukan sekarang. Amanda hanya berpikir jika dia sekarang hidup sebatang kara.

“Tenanglah Amanda. Aku akan selalu ada untukmu. Ingat itu,” ucap Fanny menenangkan Amanda.

Setelah mengurus segala proses, akhirnya jenazah kedua orang tua di antar ke rumah duka. Sebelum jenazah sampai, Amanda dan Fanny sudah sampai di rumah duka.

Amanda mempersiapkan segalanya untuk menyambut jenazah kedua orang tuanya dibantu para tetangganya.

“Sabar ya, nak. Kita akan bantu proses pemakamannya,” ucap salah satu tetangga Amanda.

“Terima kasih, pak.”

Setelah proses pemakaman selesai. Amanda langsung masuk ke kamarnya. Para tetangga juga sudah pada pulang.

Amanda hanya ditemani Fanny di rumahnya. Fanny izin kepada kedua orang tuanya untuk menemani Amanda, dan kedua orang tua Fanny pun mengizinkan.

Setelah beberapa hari berada di rumah Amanda, akhirnya Fanny izin untuk pulang pada Amanda.

“Aku balik dulu ya. Nanti aku ke sini lagi,” ucap Fanny memeluk sahabatnya itu.

“Iya, Fan. Makasih sudah menemaniku.”

“Iya, kalau ada apa-apa kabari aku.”

“Iya, Fan.”

Fanny pun pulang ke rumahnya. Setelah kepulangan Fanny, Amanda membersihkan rumahnya seorang diri.

Dia menatap semua bagian rumahnya yang sepi. Di setiap sudut selalu saja ada terbayang sosok kedua orang tuanya.

Amanda berusaha untuk kuat. Namun, tetap saja air matanya keluar begitu saja. Dia mengusap air matanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Rasanya begitu sulit menerima semua ini, tapi Amanda tak memiliki pilihan lain. Amanda berusaha kuat dan kembali melanjutkan niatnya untuk membersihkan rumahnya.

****

Beberapa hari berlalu, Fanny yang awalnya selalu menghubungi dirinya. Tiba-tiba tak ada kabar, Amanda kesulitan menghubungi sahabatnya itu.

Amanda yang selalu menghubungi Fanny setiap hari, menjadi khawatir karena sahabatnya itu tak dapat dihubungi selama dua hari ini.

Hingga hari ketiga, Fanny datang ke rumah Amanda.

“Fanny..!” panggil Amanda nampak senang dengan kedatangan sahabatnya itu.

“Amanda..,” ucap Fanny yang berdiri di depan pintu rumah Amanda.

“Ayo masuk,” ajak Amanda.

Setelah itu Fanny dan Amanda duduk bersama di ruang tamu. “Bagaimana kabarmu?” tanya Fanny.

“Baik, kamu sendiri bagaimana? Kenapa kamu sulit dihubungi beberapa hari ini?”

“Aku juga baik. Aku sedang sibuk, Amanda.”

“Kamu sibuk apa sekarang?”

“Amanda, ada yang mau aku bicarakan denganmu."

"Kau ingin bicara apa?"

"Aku ingin memberitahu, kalau aku bakal tinggal sementara di luar negeri untuk meneruskan kuliah di sana."

“Apa??” tanpa terasa air mata Amanda keluar begitu saja mendengar perkataan Fanny secara tiba-tiba.

Fanny yang melihat sahabatnya menangis, langsung buru-buru memeluknya. “Kamu jangan nangis dong, Amanda. Aku gak akan lama disana, dan kalau libur aku pasti akan pulang ke sini. Kamu janji harus kuat.”

Amanda hanya bisa menganggukkan kepalanya dan berjanji bahwa dia harus kuat dalam menjalani kehidupannya.

“Kamu jangan khawatirkan aku. Jaga dirimu baik-baik disana, jangan lupakan aku ya, Fan. Aku tunggu kamu pulang, sahabatku,” ucap Amanda. Mereka pun kembali berpelukan.

Buku serupa
Unduh Buku