I'm Not a Gangster

I'm Not a Gangster

Ksatria Harabu

5.0
Komentar
449
Penayangan
15
Bab

"Cita-citaku, saya ingin menjadi seorang Bodyguard!" Dia hanya seorang anak desa yang lari ke kota karena suatu keterpaksaan. Di kota, dia tidak pernah bermimpi akan terlibat dalam dunia bawah tanah, apalagi sampai disebut Gangster. Akan tetapi, seperti kata orang, ucapan itu adalah doa, suka tidak suka, sengaja tidak sengaja, ucapan yang ia sebut Cita-Cita, telah menuntunnya pada kenyataan yang berhubungan dengan kalimat yang pernah ia ucapkan.

Bab 1 Aku Ingin Sekolah

"Ma, kita tidak lebaran?" tanya Kamal.

Lebaran Idul Fitri tinggal dua hari lagi, tetapi Bu Senia belum mempersiapkan apa-apa.

Senia, wanita paruh baya, wanita yang dipanggil Mama oleh Kamal, tampak menyunggingkan senyumnya yang telaga. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, ada awan kelabu yang bergelantungan di wajah letihnya.

"Maafkan, Mama, Nak," ucap Bu Senia. "Kita mungkin terlambat lebaran. Mudah-mudahan Tuhan kasi kemudahan supaya kita bisa lebaran di hari lebaran Ketupat."

Terjawab sudah kenapa tidak ada kegiatan sama sekali di rumah ini. Sadar akan hal itu, Kamal merogoh sejumlah uang dari sakunya. Sebelum menyerahkannya, Kamal lebih dulu mencium hasil jerih payah yang sejatinya ia kumpulkan untuk biaya sekolah.

"Mudah-mudahan ini cukup," ucap Kamal sambil menyodorkan uang tersebut.

"Ya, Allah, Nak, ini dapat dari mana? Ini bukan dapat dari mencuri, 'kan?" Bu Senia kurang yakin.

"Ya, Allah, Ma ... !" Kamal mendesis sedih. "Itu saya punya hasil jualan daun pisang beberapa hari ini, kasian."

Bu Senia menatap Kamal, mencari kebenaran di sana. Sesaat setelah itu, barulah Bu Senia memeluk Kamal.

"Maafkan, Mama, Nak!" sesal Bu Senia.

"Iya, tidak apa-apa, Ma," balas Kamal dengan nada yang nyaris tidak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri.

Setelah itu, selain tangan yang bergetar-getar, mata berkaca-kaca, Bu Senia tak lagi berucap. Begitupula dengan Kamal.

***

Di suatu awal malam, beberapa hari sebelum hari penerimaan siswa baru SMP.

Usai mengusap wajah, mengembang kempiskan dada, dengan jantung berdebar-debar, perlahan Kamal melangkah, menghampiri lapak seorang penjual sepatu.

Di sini, sekira dua puluhan menit menunggu, barulah Kamal mendapatkan kesempatan. Kamal memulainya dengan memepet, berlindung di belakang pengunjung lainnya. Begitu melihat adanya peluang, sigap Kamal menyambar sepasang sepatu, lalu menyembunyikannya dalam baju di bagian perut, kemudian beredar dengan tergesa-gesa.

"Maling ... ! Anak itu maling!"

"Mana malingnya, mana?"

"Itu, itu ...."

Suara gaduh antara penjual sepatu dan beberapa orang pengunjung, riuh rendah meneriaki Kamal. Akan tetapi, Kamal sudah terlanjur menjauh, dan menyelinap di antara para pengunjung lainnya. Kamal tak tersentuh.

Ketika suara itu tak lagi terdengar dan yakin tak ada yang membuntuti, Kamal melambankan langkah, dan terus berlaku baik-baik saja. Kemudian, diam-diam ia menjauhi keramaian, dan langsung menuju pulang.

***

Hari pertama masuk sekolah.

Pagi-pagi sekali Kamal sudah bersiap-siap untuk memulai hari pertamanya di SMP Negeri terdekat dari rumahnya.

Kecuali sepasang sepatu yang ia curi di pasar malam berapa malam lalu, semua yang melekat di badannya adalah barang bekas.

Selain barang bekas, kecuali baju putih yang di atas sakunya ia ganti dengan OSIS SMP, semuanya Kamal dapatkan dari pemberian seorang teman.

Dari celana, topi, dasi, atribut, hingga lokasi sekolah, semuanya Kamal dapatkan dari seseorang yang baru saja lulus SMP.

Celananya sedikit kedodoran, tapi tidak masalah bagi Kamal. Ia bisa melipat ujungnya hingga sejajar dengan mata kaki.

Satu yang belum ia punyai, yakni tas sekolah. Kamal tidak mengkhiraukan itu, sebab pagi ini Kamal merasa sangat beruntung, bisa melanjutkan sekolah meskipun dengan segala keterbatasan.

"Mal? Mau ke mana, Nak?" Bu Senia sambil menatap Kamal dari ujung kaki sampai ujung rambut. Raut heran terpampang jelas di wajah Bu Senia.

"Sekolah, Ma!" jawab Kamal dengan tenang. "Saya diterima di SMP X," tambahnya sambil meraih, lalu mengecup punggung tangan Bu Senia. Bu Senia diam saja.

Setelah itu, Kamal beredar mencari Pak Rajimin. Kamal mendapati Pak Rajimin tengah duduk di pintu belakang, membuang tatapan ke luar rumah.

Pagi-pagi Bapak sudah melamun? Ragu, tetapi pada akhirnya Kamal memberanikan diri menghampiri Pak Rajimin.

Pada Pak Rajimin, Kamal melakukan hal yang sama sebagaimana yang ia lakukan pada Bu Senia. Sayangnya, Pak Rajimin tidak menggubris salaman Kamal.

Setelah itu, barulah Kamal beredar menuju pohon pisang yang berada di samping rumah, mengambil sepatu yang ia sembunyikan di situ. Demi keamanan, Kamal tidak langsung memakainya, tetapi hanya menentengnya. Beberapa puluh meter sebelum gerbang sekolah, barulah Kamal mengenakan sepatu tersebut.

Saat sepatunya sudah ia kenakan, Kamal merasa ada yang janggal dengan sepatu ini. Salah satu dari sepatu ini terasa sempit, sangat sempit.

"Astaga!" desis Kamal. Lalu, diam-diam Kamal melirik ke sekeliling.

Beruntung hari masih sangat pagi. Belum ada seorang siswa pun yang berada di sekitar sini kecuali Kamal sendiri, sehingga tidak ada yang tahu kecuali Kamal sendiri bahwa sepatu yang ia kenakan ini size-nya selisih dua angka. Yang sebelah kiri size 35, sedangkan yang kanan size 37.

Pun, selagi tak ada siapa-siapa yang melihat, segera saja ia pakai semula, lalu berjalan pelan-pelan menuju gerbang sekolah.

Sekian puluh langkah melangkah, kaki Kamal mulai terasa perih. Akan tetapi, demi tekadnya agar tetap bersekolah, ia tahan-tahan. Kamal bisa sejauh ini, itu semua berkat tekadnya yang baja.

Karena ketidakadaan biaya, Pak Rajimin yang hanya seorang lelaki pincang tanpa pekerjaan yang jelas, sudah sejak lama mewanti-wanti agar Kamal tidak bermimpi yang aneh-aneh.

Menurut Pak Rajimin, keinginan Kamal untuk tetap bersekolah adalah keinginan yang tidak sesuai dengan kondisi perekonomian keluarga.

Sedangkan Bu Senia yang hanya seorang ibu rumah tangga, yang terkadang jadi kuli rumput di ladang orang, sebenarnya meminta Kamal untuk istirahat satu tahun. Setelah itu, barulah Kamal kembali melanjutkan sekolah.

Semuanya sudah berlangsung, Kamal tidak ingin lagi menoleh ke belakang.

****

Penyambutan siswa baru.

Bersama ratusan siswa baru lainnya, Kamal berhimpun di aula sekolah.

Adalah Pak Hanafi, Kepala Sekolah di SMP ini. Usai membuka pidato penyambutan, beliau memberi motivasi kepada siswa baru, juga menjabarkan visi misi sekolah.

Di akhir sambutannya, beliau memberi kesempatan kepada siswa-siswi untuk menyampaikan apa cita-cita mereka.

Kamal yang duduk paling depan tidak menyia-siakan kesempatan, gegas menegakkan telunjuk.

"Siapa namanya, Nak?" tanya Pak Hanafi, pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad.

"Kamal Hayat, Pak!" jawab Kamal.

"Baik!" sambut Pak Hanafi. "Kamal Hayat, apa cita-cita kamu?"

"Saya bercita-cita menjadi seorang Bodyguard, Pak!" jawab Kamal dengan begitu percaya diri.

Sontak seisi ruangan pada hening. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sesaat setelahnya, riuh, dan tidak sedikit yang mengejek Kamal.

"Hu ... cita-cita apaan itu? Jadi maling saja, biar sesuai."

Kamal melirik si pembicara. O, sial! Dia Hartati Loa, anak seorang Juragan. Wajar jika dia mengejek Kamal. Buru-buru Kamal menarik pandang.

Bersamaan dengan itu, teman-teman Kamal masih riuh rendah, tetapi Pak Hanafi sigap menenangkan.

"Tenang, tenang!" seru Pak Hanafi. "Tidak penting apa cita-cita kalian, asalkan kalian sanggup melakukannya dengan profesional. Jadi, jika kalian bercita-cita untuk menjadi seorang penjahat, jadilah seorang penjahat yang profesional."

"Siap, Pak!" sahut Kamal.

"Hu ... !" Kembali mereka menghura Kamal.

****

Belum genap dua minggu bersekolah, apa yang dilakukan oleh Kamal di pasar malam tempo hari, mulai tersebar luas. Namun, karena tidak ada saksi mata, mula-mula Kamal mengacuhkan berita tersebut.

Hinggalah di suatu siang sepulang sekolah, terlihat Pak Rajimin menunggui Kamal di halaman rumah.

Di sini, di siang bolong ini, Pak Rajimin sambil memegang daun kelapa kering. Saat Kamal tinggal beberapa langkah dari hadapan Pak Rajimin, Pak Rajimin mulai menyulut daun kelapanya.

"Mana sepatumu, Kamal?" sambut Pak Rajimin dengan nada tinggi.

Dibentak, Kamal tergugu.

"Mana!" ulang Pak Rajimin masih dengan nada yang sama.

Pada akhirnya, perlahan Kamal mengeluarkan sepatu yang senantiasa ia sembunyikan dalam bajunya tersebut.

"Sini!" Pak Rajimin merebut sepatu Kamal dan langsung membakarnya.

"Pak! Itu?"

"Diam!"

Pada saat yang bersamaan, sepatu itu sudah menyala.

"Ini kamu dapat di mana?"

"Saya beli, Pak! Ya, Allah, Pak, kenapa dibakar?"

Plak!

Pak Rajimin menampar Kamal dengan menggunakan sepatu yang mulai menyala tersebut.

"Ini kamu beli atau kamu curi?"

"Mati saya, Bapak sudah tahu," batin Kamal.

"Jawab, Kamal!"

"Iya, saya curi, Pak, tapi saya sudah izin sama Tuhan."

"Kamal ... ! Bapak sudah bilang! Kamu jangan aneh-aneh!" Pak Rajimin sambil menempelkan sepatu menyala itu ke perut Kamal.

Seketika itu juga lelehan karet panas melengket di baju Kamal. Perut Kamal mulai kepanasan.

"Ulang kali dibilangin ... !"

"Ampun, Pak ... !"

Kamal menjerit, Pak Rajimin tidak peduli, Pak Rajimin terus saja menghantamkan sepatu terbakar itu ke tubuh Kamal.

Plak plak plak!

Terakhir, Pak Rajimin menekan leher di bawah telinga Kamal dengan menggunakan sepatu terbakar tersebut.

Setelah bagian perut, kini leher Kamal juga yang sudah melepuh. Kamal sudah tidak tahan lagi. Sambil mencopot baju seragam sekolah yang ia kenakan, sesegera itu juga aku berlari menjauh.

"Tolong ... ! Ampun ... !"

"Jangan pernah lagi pulang ke rumah ini!"

Pak Rajimin terus saja mengumpat, sedangkan Kamal terus saja juga berlari menjauh.

"Awas kalau sampai kamu kembali ke rumah ini lagi!" ancam Pak Rajimin.

Sayup-sayup Kamal masih mendengar itu m Akan tetapi, jika tak kembali, Kamal hendak ke mana?

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Ksatria Harabu

Selebihnya

Buku serupa

MENIKAH DENGAN SULTAN

MENIKAH DENGAN SULTAN

Evie Yuzuma
5.0

“Nay! rempeyek kacang apaan kayak gini? Aku ‘kan bilang mau pakai kacang tanah, bukan kacang hijau!” pekik Natasya. Dia membanting bungkusan rempeyek yang sudah Rinai siapkan untuknya. Natasya berniat membawanya ke rumah calon mertuanya dan mengatakan jika itu adalah rempeyek buatannya. “Maaf, Sya! Bahan-bahannya habis kemarin. Aku uangnya kurang, Sya! Uang yang kamu kasih, sudah aku pakai buat berobat ibu. Ibu lagi sakit,” getar suara Rinai sambil membungkuk hendak memungut plastik yang dilempar kakak tirinya itu. Namun kaki Natasya membuat pergerakannya terhenti. Dia menginjak-injak plastik rempeyek itu hingga hancur. *** “Aku mau beli semuanya!” ucap lelaki itu lagi. “T—tapi, Bang … yang ini pada rusak!” ucap Rinai canggung. “Meskipun bentuknya hancur, rasanya masih sama ‘kan? Jadi aku beli semuanya! Kebetulan lagi ada kelebihan rizki,” ucap lelaki itu kembali meyakinkan. “Makasih, Bang! Maaf aku terima! Soalnya aku lagi butuh banget uang buat biaya Ibu berobat!” ucap Rinai sambil memasukkan rempeyek hancur itu ke dalam plastik juga. “Aku suka perempuan yang menyayangi ibunya! Anggap saja ini rejeki ibumu!” ucap lelaki itu yang bahkan Rinai sendiri belum mengetahui siapa namanya. Wira dan Rinai dipertemukan secara tidak sengaja, ketika lelaki keturunan konglomerat itu tengah memeriksa sendiri ke lapangan tentang kecurigaan kecurangan terhadap project pembangunan property komersil di salah satu daerah kumuh. Tak sengaja dia melihat seoarng gadis manis yang setiap hari berjualan rempeyek, mengais rupiah demi memenuhi kebutuhannya dan sang ibu. Mereka mulai dekat ketika Rinai menghadapi masalah dengan Tasya---saudara tirinya yang seringkali menghina dan membullynya. Masa lalu orang tua mereka, membuat Rinai harus merasakan akibatnya. Harum---ibunda Rinai pernah hadir menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tua Tasya. Tasya ingin menghancurkan Rinai, dia bahkan meminta Rendi yang menanangani project pembangunan property komersil tersebut, untuk segera menggusur bangunan sederhana tempat tinggal Rinai. Dia tak tahu jika lelaki yang menyamar sebagai pemulung itu adalah bos dari perusahaan tempat kekasihnya bekerja. Wira dan Rinai perlahan dekat. Rinai menerima Wira karena tak tahu latar belakang lelaki itu sebenarnya. Hingga pada saatnya Wira membuka jati diri, Rinai benar-benar gamang dan memilih pergi. Dia merasa tak percaya diri harus bersanding dengan orang sesempurna Wira. Wira sudah frustasi kehilangan jejak kekasih hatinya. Namun tanpa disangka, takdir justru membawanya mendekat. Rinai yang pergi ke kota, rupanya bekerja menjadi ART di rumah Wira. Bagaimanakah kisah keduanya? Akankah Rinai kembali melarikan diri ketika tahu jika majikannya adalah orang tua Wira?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku