Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
5.0
Komentar
600
Penayangan
40
Bab

Wurake adalah sebutan untuk para penganut ilmu hitam. Dalam sedikit kasus, Wurake mirip dengan Kuyang dan sejenisnya, yang mana sangat idam pada janin, bayi, wanita hamil hingga wanita masa nifas. Namun demikian, secara garis besarnya Wurake bukanlah (sebatas) Kuyang. Jika pada umumnya pengamal Kuyang adalah kaum perempuan, maka penganut Wurake tidak sebatas itu. Wurake terdiri dari laki-laki dan perempuan. Selain itu, Wurake menyasar masyarakat secara luas, tidak terbatas oleh jenis kelamin atau usia. Cerita yang Anda baca ini adalah murni fiksi belaka. Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, hingga kejadian, itu adalah kebetulan semata.

Bab 1 Wanita Pencari Mangga

"Kok, tidak ada darahnya, ya?" gumamku

Kecuali dua hari pertama pasca melahirkan, enam hari berturut-turut, aku tidak lagi mendapatkan bercak nifas di kain sarung atau baju yang dipakai oleh Rania, istriku.

Ini sedikit aneh. Rania tidak seperti wanita pada umumnya, yang mana ada yang hingga empat puluh hari pasca melahirkan, kurun itu adalah masa nifas bagi mereka.

Selain itu, jika pada umumnya wanita pasca melahirkan akan terlihat lesu dikarenakan banyaknya sel-sel syaraf yang rusak atau putus pada saat melahirkan, Rania tidak seperti itu. Rania tampak biasa-biasa saja.

Bahkan, kemarin pagi aku melihatnya memanjat pohon kates. Dia tidak khawatir sama sekali akan mengalami pendarahan, padahal kemarin baru genap satu minggu dia melahirkan bayi pertama kami. Tidakkah itu aneh?

Bersamaan dengan itu, jarum jam terus berputar. Aku yang sejak tadi hanya duduk diam menjiwai pakaian-pakaian kotor Rania, tanpa sadar telah kehilangan banyak waktu. Hari sebentar lagi gelap, aku belum mencuci satu potong pakaian pun.

Sadar tengah berpacu dengan waktu, gegas pulalah aku memulai rutinitas yang sudah menjadi tanggung jawabku pada sepekan terakhir, pasca Rania melahirkan.

Tidak berapa lama kemudian, aku sudah sempat mengucek beberapa potong pakaian, saat Rania tiba-tiba datang menyentakku.

"Astaga! Bara? Simpan, simpan! Kau mau bunuh kami, ya, nyuci malam-malam begini?"

Dikejutkan Rania, gegas aku bangkit dari dudukku. Lalu, meskipun harus berseteru dengan diri sendiri, pada akhirnya aku beredar, meninggalkan Rania, juga baskom berisi rendaman cucian.

Beberapa langkah beringsut membelakangi kamar mandi, tiba-tiba saja pula bayi kami, bayi yang belum sempat kami beri nama, memperdengarkan suara tangisnya.

"Sudah, Rania," ucapku. "Tolong lihat anak kita itu!" seruku kemudian.

Tanpa kata, Rania beredar dengan tergesa-gesa menuju ke kamar tidur, tempat di mana bayi kami berada.

Rania sudah berada di kamar sejak lima menitan yang lalu, tetapi tangis bayi kami belum juga kunjung reda. Risau, aku pun beringsut menghampiri mereka.

"Kenapa, dia?" tanyaku.

"Ah, biasalah," jawab Rania. "Namanya juga bayi, kalau tidak tidur, ya, nangis kayak gini." Rania menjawab dengan nada acuh tak acuh, seolah-olah ini adalah hal biasa dan tidak perlu dirisaukan.

"Tapi, suaranya itu ...."

"Tidak, ah! Tidak apa-apa!" potong Rania.

Mendapati ucapan Rania yang seperti itu, aku mundur, meninggalkan Rania dan bayinya di ruangan remang-remang, ruang yang hanya menggunakan lampu minyak sebagai alat penerangnya.

Aku beredar menuju ruang belakang, menyeduh segelas kopi, sebelum akhirnya menuju beranda depan.

Di beranda, ditemani segelas kopi hitam dan linting-linting tembakau bambu, di sini aku coba menenangkan diri, merenungkan banyak hal.

Selinting tembakau baru saja usai aku sulut. Ini adalah linting yang kesekian. Kuisap dalam-dalam, sambil sesekali menyelinginya dengan tegukan kopi. Ada rasa yang entah terselip di setiap tegukannya.

Keheningan, isapan rokok, dan cekatnya kopi adalah perpaduan kegamangan pikir. Semua ini seolah hendak mengokohkan kebenaran sugesti yang telah kami yakini semenjak turun-temurun.

Sugesti leluhur mengatakan, pamali besar jika mencuci pakaian bayi, dan bercak nifas di malam hari. Tangis bayi kami yang belum juga ada tanda-tanda jika akan reda, mungkin itu adalah sedikit pembenaran, jika sugesti itu memang benar adanya.

Namun, di sisi lain, jika hanya membiarkan semua pakaian kotor tersebut tanpa membereskannya, itu sama dengan secara tidak langsung sengaja mengundang para penganut ilmu hitam, untuk datang melakukan ritual pesta pora di rumah ini.

Apa yang harus dilakukan? Aku benar-benar kebingungan. Sudahlah begitu, Rania seolah tidak mengijinkan aku ikut andil dalam meredakan tangis bayi kami.

Lalu, malam terus beringsut.

Di tengah upayaku menjinakkan resah, tiba-tiba pula aku dikejutkan dengan melintasnya seekor Kucing.

Kucing.

Di mana pun di muka bumi ini, Kucing pasti memiliki ukuran kaki yang semuanya sama panjang. Namun, tidak dengan kucing yang terlihat olehku di ketika ini.

Sangat jelas sepasang kaki bagian belakang, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan dua kaki di bagian depan. Sehingga caranya berjalan, kucing ini lebih menyerupai cara manusia berjalan, merangkak dengan menggunakan kedua kaki dan kedua tangan secara bersamaan. Cara berjalan kucing yang satu ini, sungguh jauh dari kelaziman.

"Dia sudah!" gumamku setelah barusan hanya diam hingga beberapa saat lamanya. Kucing ini sudah membuatku terkesima.

Seembusan napas kemudian, serta-merta kuraih keris seukuran golok kecil yang terselip di pinggangku. Keris berkelok yang tajam di kedua sisinya ini, memang sengaja senantiasa aku siagakan pada sepekanan terakhir. Usai yang demikian, sigap aku melompat ke arah Kucing tersebut.

Mungkin menyadari gelagatku, kucing ini menoleh, menatapku.

Oh, dia menantangku?

Sempat sejenak saling tatap, pada akhirnya ia memalingkan wajah, melanjutkan langkah, menjauh dariku.

Tidak ingin kehilangannya, aku pun mengayun langkah. Namun, sayang! Baru beberapa langkah, kedua kakiku tiba-tiba saja terasa kaku laksana terpasung bumi.

Sadar ada yang tidak beres, segera pula aku berkomat-kamit, melafazkan mantra-mantra.

Beberapa saat kemudian, berhasil, aku pulih semula.

Aku baru saja melanjutkan langkah, sedangkan kucing hitam barusan sudah lebih dulu menjauh, menghilang ke dalam kegelapan malam sana. Masih berharap dapat menyelesaikan urusan dengannya, coba pulalah aku mengikuti jejaknya hingga ke mana ia menghilang.

Yakin belum terlalu jauh, aku pun menerobos ke kegelapan searah dengan perginya makhluk tersebut.

Hutan kecil di ujung desa.

Suasananya cukup membuat jantung berdetak cepat. Selain suara jangkrik dan desir angin yang berembus di celah-celah pepohonan, tidak apa pun lagi yang terdengar di dalam hutan yang ada di salah satu sudut kampung ini. Bersamaan dengan itu, perlahan bulu kudukku berdiri satu-satu.

Jujur, aku sedikit gentar dengan aura mistis yang tiba-tiba muncul ini. Akan tetapi, disamping sudah terlanjur berada di area hutan kecil, tempat yang aku yakini sebagai tempat terakhir menghilangnya kucing barusan, aku juga terdorong oleh rasa penasaran, serta hasrat untuk mendapatkan buruan.

Karenanya, semua itu membuatku nekat untuk melawan rasa gentar dalam diri sendiri.

"Jangan takut, Bara, jangan takut!"

bisikku coba untuk menyakinkan diri sambil terus merangsek ke dalam kegelapan.

Tidak berapa lama kemudian.

Samar-samar aku lihat seperti adanya bayangan yang bergerak-gerak dari balik sebatang pohon, tidak seberapa jauh di sana.

Siapa orang yang berani datang di hutan malam hari seperti ini? Aku mulai siaga penuh.

Keris kugenggam dengan erat. Sangat erat. Lalu, hati-hati aku beringsut maju, berjalan setengah membungkuk, menghampiri muasal bayangan tersebut.

Selang kemudian ....

"Jangan Bara! Ini saya!"

Suara seorang wanita pemilik bayangan menggema, membelah kesunyian malam, mengadang ayunan keris yang hendak aku hunjamkan ke tubuhnya.

Nyaris! Nyaris saja.

Andai saja aku tidak mengenali dengan jelas pemilik suara ini, maka niscaya malam ini akan ada mayat yang jatuh menggelepar di hadapanku.

"Kamu? Kamu bikin apa di sini?"

"Saya ... cari Mangga," jawabnya.

Cari Mangga? Sejak kapan ada pohon mangga di sekitar sini? Meskipun aku bukan penduduk asli di desa ini, tetapi aku tahu persis kondisi hutan kecil ini. Saban waktu aku ke sini, bagaimana mungkin aku bisa percaya ucapan wanita ini?

Namun demikian, aku tidak tahu bagaimana cara untuk mendebatnya.

"Jangan-jangan ini .... O, tidak!" Tiba-tiba saja pula aku teringat pada bayi kami di rumah sana. Ini mungkin jebakan. Resah, seketika itu juga aku berlari menuju pulang.

Sesampainya di rumah, gegas aku menuju kamar tempat di mana bayi kami berada.

"Oh, syukurlah!" gumamku lega.

Walaupun dalam kondisi remang-remang, aku masih bisa melihat bayi kami dalam keadaan baik-baik saja.

Akan tetapi, tunggu dulu. Kenapa bayi kami terdiam seperti boneka tak bernyawa?

Sesaat kemudian, aku beringsut meraih lampu minyak yang ada di ruangan ini, lalu mendekatkannya pada bayi kami.

Satu tanganku memegang lampu minyak, sedang tanganku yang lainnya aku gunakan untuk menyentuh tubuhnya.

Saat menyentuh seputaran wajah, aku mulai merasa ada yang aneh dengan bayi ini. Tubuhnya tak lagi merespon sebagaimana biasanya. Penasaran, aku menyatukan jari telunjuk dan jari tengah, kemudian mendekatkannya ke hidungnya.

O, Tuhan, aku tidak lagi merasakan adanya pernapasan di sana. Sedetik kemudian, merasa kurang yakin, juga ingin memastikan, aku membuka kain sarung yang membalut tubuh mungilnya.

"Ya, Tuhan ... bayiku?"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Ksatria Harabu

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku