icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

WURAKE

Bab 8 Tolak Bala

Jumlah Kata:1739    |    Dirilis Pada: 09/04/2022

k Romi dan keluarga, pada akhirnya, seiring dengan berputarnya waktu, aku mulai mengikhlas

*

ujan yang biasanya turun di bulan-bulan te

yang menjadikan sulitnya mendapatkan air bersih, tela

ung. Dari anak-anak, bahkan balita, orang dewasa, apalagi para paruh baya hing

al tersebut bertentangan dengan agama yang dian

a, mulailah pula berembuk, duduk bermusyawarah, menentukan hari baik,

dua belas malam bulan di langit, bertepatan de

a pun disebar dar

ukan. Mulai pulalah warga berhimpun di

g. Sejatinya, tanah lapang tersebut adalah ladang tempat bercocok tanam umb

ebut lebih mirip tanah lapang berpagarkan tajakan po

ng Tetua yang didaulat sebagai p

tegak lurus. Di ujung paling atas potongan bambu tersebut, diberi dua potong kayu sepanjang

imbol penambahan tersebut, ianya melambangkan simbol empat

rupa kapur sirih, daun sirih, gambir basah, beberapa buah pinang muda, telur

jagung kering, lalu digantung pada masing

prosesi yang sebagian orang dianggap sam

h makan pinang, marilah merokok. Janganlah gan

ang yang melanda tanah ini. Wahai jin putih, jin

ma, barulah warga desa, khususnya anak-anak, berebut air ri

ebut diusapkan ke bagian

ah acara punca

sa menurunkan hujan, sebagaimana yang pernah diajarkan Guru Agama saat masih

prosesi tolak bala atau semacamnya seperti ini, aku selalu mengincar semua pe

k yang disediakan untuknya, sejak saat itu pula aku s

an, para Tetua dan warga pun berangs

h dari tempat berlangsungnya ritual, perlahan keluar dari tempat persemb

ak

potongan bambu tersebut, terdenga

ara. Sekilas, seperti ada bayangan tida

angan, aku mengabaikannya, lalu bergegas

u, seketika itu juga mengupas lalu mengunyah telur matangny

ng barusan tadi, kembali terdengar. Aku menajamkan pendengar

a?" Aku menggumam jengkel,

minum usai makan dikarenakan tidak adanya air minum

egh

irnya aku te

u perlahan menghampiri sumber ba

a apa-ap

udah melangkah dua puluhan langkah atau lebih, saat suara itu

li untuk memastikannya. Di sin

amaan, aku tiba-tib

makhluk astral berupa Harimau jadi-jadian yang di

eorang perokok aktif, selal

, lalu mengisapnya agar ada nya

adian yang ada di tanah leluhurku

l tersebut, semisal dia tiba-tiba berubah bentuk menj

'Untuk apa api? Unt

dak boleh panik. Jika dia tiba-tiba membesar, jangan te

pertanda buruk. Makhluk jadi-jadian yang konon dapat berubah k

mengecil seperti itu, itu pertanda akan diaj

tu benar-benar terlihat di remang-remang sana. Tidak ingin meng

terselip di bibirku, aku beranikan dir

, barulah terlihat jika itu adalah bayangan

ku. Itu hanya a

ni, jumlahnya tidak terbila

sli di tanah ini beragama Islam. Jadi, mungkin karena hal itulah yang men

erti saat ini, babi hutan terkadang datang hingga ke sampi

bagi hewan yang hidup di hutan. Pada malam hari, babi hutan biasanya akan datan

mun, urung aku lakukan ketika anak babi hutan tersebut t

itu adalah sebua

a hampir setiap kali makan, kami akan menggunakan piring

tiba piring kaleng ini menggelinding

tipu. Geram, aku la

antara aku dengan piring yang aku

gkan antara ladang tempat diadakannya ritual barusan, ke arah y

tas pagar halaman warga yang berbahankan potongan bilah bambu yang ditegakkan, aku s

asannya, bambu, terlebih lagi jika itu adalah bambu kuning, secara umum ian

h bersama beberapa orang pemuda yang kebetulan melihat dan bertanya, aku tengah mengejar apa

but menggelinding di bumbungan atap ruma

hilangannya, oleh salah seorang warg

g, sedangkan sebagiannya lagi disarankan menuju ke tempat yang

di terlihat menggelinding

i keberadaan kami, piring tersebut mempercepa

udian, arah gelindingan piring te

a!" Seketika itu jug

lari pulang menuju rumah. Aku bergegas, sebab di rumah ada Rania yang sedang

etika mendapati Rania dala

g menjatuhkan bokong,

ntulan cahaya teplok, tampak wajah Rania dipe

otong kain, kemudian menuju dapur, mengambil air untuk mengompres

ku kembali menuju ruang tengah, tem

nia

longo ke ruang tamu. Ra

angsung menuju satu-satunya

ing sambil membalut sekujur tubu

dulu, biar sa

pa?" ucap Rania d

usan, dia seperti orang

, saya

ang baik-baik saja, kok, m

rempuan!" bala

berdebat, aku pun be

a itu pe

a tidak dari mana-mana, kenapa dia berperluh-peluh seperti seseorang

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
WURAKE
WURAKE
“Wurake adalah sebutan untuk para penganut ilmu hitam. Dalam sedikit kasus, Wurake mirip dengan Kuyang dan sejenisnya, yang mana sangat idam pada janin, bayi, wanita hamil hingga wanita masa nifas. Namun demikian, secara garis besarnya Wurake bukanlah (sebatas) Kuyang. Jika pada umumnya pengamal Kuyang adalah kaum perempuan, maka penganut Wurake tidak sebatas itu. Wurake terdiri dari laki-laki dan perempuan. Selain itu, Wurake menyasar masyarakat secara luas, tidak terbatas oleh jenis kelamin atau usia. Cerita yang Anda baca ini adalah murni fiksi belaka. Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, hingga kejadian, itu adalah kebetulan semata.”
1 Bab 1 Wanita Pencari Mangga2 Bab 2 Petaka Makan Jambu Air3 Bab 3 Rania Yang Misterius4 Bab 4 Makhluk Jadi-jadian5 Bab 5 Ritual Pemanggilan Wurake6 Bab 6 Rominggolo7 Bab 7 Rania oh Rania8 Bab 8 Tolak Bala9 Bab 9 Garam Kasar dan Penganut Wurake10 Bab 10 Mama Yohana11 Bab 11 Aib Mama Yohana12 Bab 12 Isi Hati Rania13 Bab 13 Teror dan Rencana Balas Dendam14 Bab 14 Diseruduk Babi Hutan15 Bab 15 Cerita Lama16 Bab 16 Firasat17 Bab 17 Pak Rozak Ambruk18 Bab 18 Jejak Darah19 Bab 19 Luka di Bibir Rania 20 Bab 20 Pak Romi Kembali 21 Bab 21 Satu Langkah Lagi22 Bab 22 Ketindisan23 Bab 23 Rania Mulai Terjebak24 Bab 24 Gamang25 Bab 25 Siapa Yang Tertangkap 26 Bab 26 Sok Jawara27 Bab 27 Pembunuh Yaro Lebe28 Bab 28 Rania Menghilang29 Bab 29 Jenazah Rania 30 Bab 30 Sidang Adat31 Bab 31 Darah Pada Barang Bukti32 Bab 32 Haruskah Melarikan Diri 33 Bab 33 Pak Romi Bangkit Lagi 34 Bab 34 Rumah Tak Selalu Surga35 Bab 35 Hanya Satu Menit36 Bab 36 Arini binti Sodiq37 Bab 37 Hujan yang Salah Waktu38 Bab 38 Arini Masih Suci39 Bab 39 Operasi Caesar40 Bab 40 Kampung Bunian