Keputusan Takdir

Keputusan Takdir

pena_riang

5.0
Komentar
945
Penayangan
84
Bab

Banyak orang sering mengatakan bahwa level mencintai paling tertinggi adalah merelakan, mengikhlaskan, dan membuat sosok yang menempati hati ini supaya mendapatkan kebahagiaan selalu-meskipun sumber kebahagiaan itu bukanlah kita, melainkan orang lain. Sallyana berpikir kisah cintanya akan selalu mulus dan damai, namun takdir berkata lain. Veen-pemuda itu memaksanya untuk mundur membawa perasaan yang perlahan mulai terkikis oleh rasa perih dari sebuah penolakan. Ketika Sallyana mulai berhasil mengikhlaskan dan merelakan sosok itu menghilang dari hidup maupun hatinya, takdir justru memutuskan untuk kembali mempertemukan mereka berdua dengan status dan hubungan yang sudah tidak lagi sama seperti dulu kala. Akankah Sallyana kembali mencintai Veen? Apakah takdir akhirnya mengambil keputusan untuk mempersatukan mereka berdua setelah sempat terpisah? Atau takdir justru menyandingkan Sallyana dengan pemuda yang pernah mampir dalam hatinya saat sedang menjalani proses melupakan sosok Veen?

Bab 1 Prolog

Sesosok tubuh mungil membuat siluet bayangan dalam ruangan temaram rendah cahaya. Malam yang bertabur bintang membuat langit biru terlihat indah. Tapi tidak bagi gadis tersebut. Kakinya tertekuk, tangannya terlipat di atas lutut, menenggelamkan kepala kecilnya di sana.

"Sally, kamu kenapa disini?" Suara anak laki-laki terdengar dari ujung lorong, derap langkah kaki menggema menghiasi sunyinya malam.

Gadis kecil bernama Sally mendongak, menampakkan wajah penuh riasan miliknya yang luntur terkena air mata.

"Veen," panggilnya, memakai suara parau. Sepasang mata lebar indah tampak berkaca-kaca dengan kilauan kecil bagaikan bintang berasal dari pantulan sinar rembulan yang berhasil menerobos masuk melalui celah ruangan.

Veen berjongkok, anak berusia 12 tahun tersebut menepuk pundak sahabatnya lembut, bertanya sambil mengeluarkan ekspresi khawatir yang tulus,, "Kamu kenapa nangis?"

Bukanya memberikan jawaban, Sally malah membalas pertanyaan dengan pertanyaan, "Kenapa semua orang selalu meminta Sally menjadi sempurna? Sally nggak boleh ini dan itu."

"Karena kamu putri orang penting, Sally. Semakin tinggi popularitas orang tua kamu di mata publik, maka semakin ketat lagi keluarga kamu menjaga semua penampilan dan tata krama untuk selalu sempurna di hadapan banyak mata."

"T-tapi, aku nggak suka. Sally mau jadi diri Sally sendiri, Sally mau main sama temen-temen di taman tapi selalu di larang. Madam Kian bilang Sally harus bermain bersama orang yang kaya seperti Sally, tapi semua anak-anak di pesta sombong. Sally nggak suka."

"Kalau begitu, just be yourself with me. Meskipun kehidupan kamu selalu di kekang, jangan pernah membenci kehidupan. Anggap saja ini semua ujian, faham?"

Sally menggeleng keras, "Sally benci menjadi anak orang tua kaya. Memandang harta sebagai standar dalam berteman. Sally benci harus menjadi Sally yang selalu sempurna di mata orang lain. Sally hanya ingin menjadi diri Sally sendiri."

Veen menepuk pelan puncak kepala Sally, pernak pernik berkilauan memenuhi sisi rambutnya. Jadi Veen sedikit hati-hati saat menepuk agar tidak merusak hiasan itu, "Tidak ada salahnya menerima, bukan? Simpan diri kamu di sini," dia menunjuk dada kirinya, "Simpan diri kamu dalam hati, mencintai diri sendiri adalah cara terbaik untuk menjalani hidup. Jadi, jangan pernah berfikir menyesal telah menjadi putri seorang Amaranggana. Karena apa? Karena kamu Sally Abaigeal Amaranggana, sosok kamu sendiri. Bukan sosok yang sama dengan Papamu. Berusaha menggapai popularitas dengan berbagai cara."

"Sally hanya takut, suatu saat Sally berubah seperti anak-anak yang di pesta. Semuanya sombong, Veen selalu bilang harus menjadi manusia baik hati. Dengan begitu, semua orang akan menyayangi kita dengan tulus."

Veen menggenggam tangan kecil yang terasa dingin, "Cintai dirimu setulus hati, maka aku yakin Sally-ku tidak akan berubah seperti mereka."

Mencintai diri sendiri adalah poin penting demi kelangsungan sebuah kebahagiaan dari suatu individu. Selama kita mencintai diri sendiri serta mempercayai kemampuan yang tersimpan dalam diri kita. Segalanya akan terasa mudah. Lingkungan memang kerap kali berhasil merubah seseorang secara drastis, namun kepercayaan seseorang pada dirinya sendiri dan mencintai dirinya apa adanya mampu menjadi tameng agar tidak tercemar oleh lingkungan yang buruk.

Sally ketakutan sebab anak kecil itu kurang percaya diri dan merasa terbebani ketika diminta untuk melakukan sesuatu yang bukan bakatnya atau kesukaannya. Hal lumrah bagi anak-anak untuk mengeluarkan keluhan saat dipaksa menyukai hal-hal yang sangat sulit untuk disukai olehnya.

Menjadi sempurna dan terlihat baik didepan orang memanglah menyenangkan hati. Namun, sampai kapan kita bisa memoles diri sebaik mungkin ketika berada dalam pandangan masyarakat? Mental dan tubuh perlahan akan mulai lelah hingga kita seketika berpikir, menjadi orang lain dan bekerja keras untuk menjadi sempurna adalah hal percuma yang hanya menorehkan kelelahan.

Lebih baik mencintai diri sendiri demi membangun kepercayaan diri. Dari pada berpura-pura menjadi sosok lain untuk mendapatkan pujian dari seseorang atau kelompok orang yang bahkan tidak akan menolongmu ketika kau sedang berada diposisi bawah poros kehidupan. Karena penolong pertama kita ketika sedang mengalami kesusahan adalah tekad dari dasar hati dan kehendak Tuhan.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh pena_riang

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku