icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku

Bab 5 

Jumlah Kata:548    |    Dirilis Pada: 12/12/2025

stroward

ini, Daffa hanya menungguku pergi. Menunggu Leni kembali. Sepuluh tahun pengabdianku, sepuluh tahun cint

pahit di bibirku. "Selamat," katak

gi tanpa menoleh. Aku tidak

Daffa. Ada rasa tidak nyaman yang samar di

ganmu?" Leni menata

g. "Aku... aku harus pergi. Ada panggilan mendadak dari

diam di meja, menggambar dengan pensil warnanya. Rumah ini terasa b

sulit dibaca. Bintang mendongak, matanya berbinar.

lakukan di sini? Dia tida

takut dia akan menghilang. Daffa melihat Bintang, da

a, menyerahkan sebuah ko

agu-ragu.

anya lembut, tidak sepe

ada sebuah mobil-mobilan remote contro

mbira. "Apakah ini berarti... kita bi

is. "Tentu saja. Ta

menatap Daffa, matanya pen

," kata Daffa, suaranya kembali dingin. "Aku

n, dia menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Dia men

Sayang. Mainan ini lebih bagus dari yang kemarin

a mengalir deras. Dia menatap mobil

a?" tanyanya, suaranya lirih dan bergetar. D

"Jangan egois, Bintang. Ap

ng berteriak, air matanya membanjiri p

memeluknya erat. Mobil-mobilan itu jatuh dari tangannya, terg

marah. "Dia tidak akan ikut lomba itu. Dan kam

enangkannya, aku kembali ke ruang tamu. Daffa masi

. Aku mengambil mobil-mobilan itu, lalu menyerahka

atanya sedikit ter

rsungging di bibirku. "Kami ti

eletakkan mobil-mobilan itu di tangannya. "Jika kau tidak bisa memenuhi

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
“Selama sepuluh tahun, aku menjadi istri bayangan Daffa Prawirodirdjo, merawatnya saat hancur dan membesarkan putri kami, Bintang, dalam kesunyian. Namun, semua pengorbananku hancur saat aku melihatnya di majalah gosip, tersenyum bahagia bersama cinta lamanya, Leni, dan seorang anak laki-laki. Di tangan anak itu, ada boneka beruang yang sama persis dengan yang ia berikan pada Bintang sehari sebelumnya. Captionnya berbunyi: "Keluarga Prawirodirdjo yang bahagia." Rasa sakit itu membeku. Aku menyeret koper, siap meninggalkan segalanya. Tapi Bintang, dengan mata penuh harap, memohon satu kesempatan terakhir untuk ayahnya. "Papa janji akan merayakan ulang tahunku," isaknya. Aku luluh. Namun, di hari ulang tahun Bintang, Daffa tidak pernah datang. Kami menemukannya di taman hiburan, sedang merayakan ulang tahun putri Leni dengan pesta yang sangat mewah. Saat putri kami menangis karena kue ulang tahunnya direbut, Daffa justru memilih untuk menenangkan putri Leni yang pura-pura pingsan, dan meninggalkan Bintang yang lututnya berdarah. Melihat punggungnya yang menjauh, aku tahu ini adalah akhir. Aku membawa Bintang pergi, mengirim pesan singkat padanya: "Selamat tinggal." Tiga tahun kemudian, aku menjadi seniman terkenal. Dia muncul kembali, memohon kesempatan kedua. Tapi kali ini, aku tidak akan pernah menoleh ke belakang.”