icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku

Bab 8 

Jumlah Kata:617    |    Dirilis Pada: 12/12/2025

stroward

u-Kupu Malam", sebuah lagu lama yang dulu sering kudengar dan Daffa selalu membencinya. Aku memaink

api langkah kakinya tampak tidak selaras. Ada kerutan di dahinya, seolah dia

Leni m

akinya. Dia segera membungkuk,

n sudah selesai. Ini akan menjadi pertunjuka

nyeri di hatiku. Aku berjalan cepat men

meja kue ulang tahun. Mata merahnya menatap kue raksasa yang dihias cantik.

kecil kue. Hanya seujung kuku. Dia ingin mencicipi. Mungkin, jika dia mencicipi

curi kue ulan

n marah. Dia menampar piring di tangan Bintan

a pucat. "Aku... aku tidak mencur

mendorong Bintang. "Kau selalu mencuri!

tang membalas, matanya dipenu

nya ayah! Dan mamamu itu jalang!" Tania ber

h. Lututnya membentur lantai

ndiri ikut terjatuh. Dia mulai menangis

kamar kecil. Jantungku berdebar k

t melihat putriku tergeletak

katnya. "Kau baik-

akitan, kini menoleh. Wajahnya pucat pasi saat

iak, menunjuk Tania yang masih terg

melihat Tania. Dia ragu sejenak, lalu...

amaku dan Bintang. Aku merasa tubuhku membeku. Din

nya luka memar dan lecet. Tapi dia harus menginap semalam un

Bintang, mengusap rambutnya. Aku

dak apa-apa kalau Papa tidak datang

g. Anakku yang kecil, sudah b

amu, Sayang," kataku, ai

lihat kosong. "Ayo kita pergi. Kita tinggal

. Dia tidak lagi punya kerin

lamanya terukir di benaknya. Jika dia tidak bisa mendapatkan kasih sa

enangis tanpa suara. K

h sakit. Kami langsung menuju bandara. Sebelum mematik

at tin

ga kali kesempatan. Tiga kali dia

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
“Selama sepuluh tahun, aku menjadi istri bayangan Daffa Prawirodirdjo, merawatnya saat hancur dan membesarkan putri kami, Bintang, dalam kesunyian. Namun, semua pengorbananku hancur saat aku melihatnya di majalah gosip, tersenyum bahagia bersama cinta lamanya, Leni, dan seorang anak laki-laki. Di tangan anak itu, ada boneka beruang yang sama persis dengan yang ia berikan pada Bintang sehari sebelumnya. Captionnya berbunyi: "Keluarga Prawirodirdjo yang bahagia." Rasa sakit itu membeku. Aku menyeret koper, siap meninggalkan segalanya. Tapi Bintang, dengan mata penuh harap, memohon satu kesempatan terakhir untuk ayahnya. "Papa janji akan merayakan ulang tahunku," isaknya. Aku luluh. Namun, di hari ulang tahun Bintang, Daffa tidak pernah datang. Kami menemukannya di taman hiburan, sedang merayakan ulang tahun putri Leni dengan pesta yang sangat mewah. Saat putri kami menangis karena kue ulang tahunnya direbut, Daffa justru memilih untuk menenangkan putri Leni yang pura-pura pingsan, dan meninggalkan Bintang yang lututnya berdarah. Melihat punggungnya yang menjauh, aku tahu ini adalah akhir. Aku membawa Bintang pergi, mengirim pesan singkat padanya: "Selamat tinggal." Tiga tahun kemudian, aku menjadi seniman terkenal. Dia muncul kembali, memohon kesempatan kedua. Tapi kali ini, aku tidak akan pernah menoleh ke belakang.”