icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku

Bab 7 

Jumlah Kata:486    |    Dirilis Pada: 12/12/2025

stroward

ng berbinar-binar memancarkan sesuatu

u datar. "Kami akan m

k-anak bisa merayakan bersama? Ah, kalau begitu, aku akan menganggapnya sebagai kesalahanku." Dia men

gan dingin. "Syifa, jangan berlebihan. Turuti saja kemauan L

tang. Bintang hanya menunduk, mengikuti Daffa dan Leni tanpa sepatah kata pun. Aku tahu dia ingin tahu, sep

eng. Balon-balon, pita-pita, dan kue ulang tahun raksasa. Semua orang tersenyum, me

pingku, matanya berkaca-kaca

m kemenangan. "Kau tahu, Syifa," bisiknya, "Aku

h menduganya. "Jadi, apa mau

eringai. "Daffa tidak pernah mencintaimu. Kau hanyalah pengisi kekos

u sudah tidak peduli. Aku akan pergi dari sini, dan

atku seperti melihat seekor serangga yang aka

a, sayang! Bukankah akan menyenangkan jika Syifa mem

enatap Leni. Dia

ap Daffa. Daffa hanya diam, tidak meng

reka menari, berpelukan, t

tang yang bermain," kata Leni, matanya men

ku tidak akan membiarkan Bin

ain," kataku,

s. "Bagus. Hanya lagu sederhana, buk

luk lengannya, kepalanya bersandar di bahunya. Mereka berdua terlihat sangat

. Aku melihat mereka, tertawa, berpelukan. Sebuah

ang cinta yang tak terbalas, tentang pengorbanan yang tak dihargai. Sebu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
“Selama sepuluh tahun, aku menjadi istri bayangan Daffa Prawirodirdjo, merawatnya saat hancur dan membesarkan putri kami, Bintang, dalam kesunyian. Namun, semua pengorbananku hancur saat aku melihatnya di majalah gosip, tersenyum bahagia bersama cinta lamanya, Leni, dan seorang anak laki-laki. Di tangan anak itu, ada boneka beruang yang sama persis dengan yang ia berikan pada Bintang sehari sebelumnya. Captionnya berbunyi: "Keluarga Prawirodirdjo yang bahagia." Rasa sakit itu membeku. Aku menyeret koper, siap meninggalkan segalanya. Tapi Bintang, dengan mata penuh harap, memohon satu kesempatan terakhir untuk ayahnya. "Papa janji akan merayakan ulang tahunku," isaknya. Aku luluh. Namun, di hari ulang tahun Bintang, Daffa tidak pernah datang. Kami menemukannya di taman hiburan, sedang merayakan ulang tahun putri Leni dengan pesta yang sangat mewah. Saat putri kami menangis karena kue ulang tahunnya direbut, Daffa justru memilih untuk menenangkan putri Leni yang pura-pura pingsan, dan meninggalkan Bintang yang lututnya berdarah. Melihat punggungnya yang menjauh, aku tahu ini adalah akhir. Aku membawa Bintang pergi, mengirim pesan singkat padanya: "Selamat tinggal." Tiga tahun kemudian, aku menjadi seniman terkenal. Dia muncul kembali, memohon kesempatan kedua. Tapi kali ini, aku tidak akan pernah menoleh ke belakang.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 1819 Bab 1920 Bab 2021 Bab 2122 Bab 2223 Bab 2324 Bab 2425 Bab 2526 Bab 26