icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku

Bab 4 

Jumlah Kata:644    |    Dirilis Pada: 12/12/2025

stroward

untuk mengurus surat-surat pindah sekolah. Tida

dengan bingung. "Tapi Bintang adalah salah sa

entara waktu," kataku, berusaha terdengar setena

ffa berdiri di sana, menatapku dengan tatapan tajam

anya, suaranya dingin. "Syi

i suasana baru untuk Bintang." Aku berbohong, mengubah ceritaku

napas lega. "Baguslah. Pastikan dia tidak lagi membuat masalah." Dia kemudian menyerahkan beber

uan Daffa benar-benar ayah yang perha

intang. Dia tidak pernah sekalipun mengantar Bintang ke sekolah. Tapi untuk Tania, dia

tersungging di bibirku. "Daffa me

an di dahinya, seolah kata-kataku itu mengg

di tempat itu. Kakiku membawaku ke galeri seni tempat dulu aku sering memamerkan karyaku. Ak

Daffa dan Leni sedang berdiri di tengah ruangan, berpelukan. Leni tertawa m

ikah?" bisik seorang wanita di sampingku kepada temannya

nta lamanya," timpal temannya. "Akhirn

anpa bantahan. Dia tidak menyangkal. Itu artinya,

iapa pun selain Leni. Aku... aku hanyalah pengisi kekosongan, tempat pelarian saat Le

hidupku untuk bermimpi tentang pria yang tidak

i sebelumnya. Aku tidak peduli mereka b

noleh. Tapi Daffa menyadariku. Matanya menyipit

u kaku. "Aku hanya ingi

ingin, tanpa melepaskan

hari yang penting. Aku ingin mengatakan padanya b

?" Leni bertanya, menata

embali menatapku. "Bukan siapa-sia

siapa-siapa. Kenalan lama. Setelah sepuluh tahun,

kabar baik! Kita akan menikah bulan depan! Dan kau tahu, setelah bertahun-tahu

ohon penjelasan. Dia menghind

hanya menungguku pergi? Semua yang kami lalui... semu

sa berputar. Aku merasa se

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
“Selama sepuluh tahun, aku menjadi istri bayangan Daffa Prawirodirdjo, merawatnya saat hancur dan membesarkan putri kami, Bintang, dalam kesunyian. Namun, semua pengorbananku hancur saat aku melihatnya di majalah gosip, tersenyum bahagia bersama cinta lamanya, Leni, dan seorang anak laki-laki. Di tangan anak itu, ada boneka beruang yang sama persis dengan yang ia berikan pada Bintang sehari sebelumnya. Captionnya berbunyi: "Keluarga Prawirodirdjo yang bahagia." Rasa sakit itu membeku. Aku menyeret koper, siap meninggalkan segalanya. Tapi Bintang, dengan mata penuh harap, memohon satu kesempatan terakhir untuk ayahnya. "Papa janji akan merayakan ulang tahunku," isaknya. Aku luluh. Namun, di hari ulang tahun Bintang, Daffa tidak pernah datang. Kami menemukannya di taman hiburan, sedang merayakan ulang tahun putri Leni dengan pesta yang sangat mewah. Saat putri kami menangis karena kue ulang tahunnya direbut, Daffa justru memilih untuk menenangkan putri Leni yang pura-pura pingsan, dan meninggalkan Bintang yang lututnya berdarah. Melihat punggungnya yang menjauh, aku tahu ini adalah akhir. Aku membawa Bintang pergi, mengirim pesan singkat padanya: "Selamat tinggal." Tiga tahun kemudian, aku menjadi seniman terkenal. Dia muncul kembali, memohon kesempatan kedua. Tapi kali ini, aku tidak akan pernah menoleh ke belakang.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 1819 Bab 1920 Bab 2021 Bab 2122 Bab 2223 Bab 2324 Bab 2425 Bab 2526 Bab 26