icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Rapat Penting Itu Hanya Dusta

Bab 2 

Jumlah Kata:473    |    Dirilis Pada: 10/12/2025

Zahr

ng membakar di dalam dadaku. Aku tiba di depan bar, aroma alkohol dan asap rokok menyengat hid

pertama aku mengajukan cerai. Roni mabuk berat malam itu, dan dia tidak tahu

gan Alea?" tanya salah satu temannya

"Cerai? Alea? Dia hanya sedang mencari perh

ajukan gugatan cerai

n ini. Ke mana lagi dia akan pergi? Dia hanya ingin aku lebih memperhatikannya." Roni meneguk minumannya. "

k pernah mengenalku. Dia tidak pernah tahu betapa kerasnya aku berjuang, bahkan saat aku sendirian.

ng itu sebentar lagi akan berakhir.

g menyergapku. Mata Roni terpaku padaku, ek

i?" tanyanya, suara

menunjukkan pesannya. "Ka

"Pak Roni, siapa dia? Kenapa dia mengganggumu?" Chika menatapku

terkejut, kini sedikit

asakan amarah yang membakar seperti dulu. Yang ada hanya rasa koson

erhatianku lagi. "Alea

an jas dan kunci mobilnya. "Kamu sudah m

enuju pintu keluar. Aku a

ni menarik

depanku. Jantungku berdegup kencang. Roni

brak!" Roni memarahiku. "Sudah kubilang, jan

ku masih miliknya yang rapuh. Cengkeramannya mengingatkanku pada masa lalu

ganku dari genggamannya, perlahan. Mataku menatap lurus ke depan, tidak

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Rapat Penting Itu Hanya Dusta
Rapat Penting Itu Hanya Dusta
“Mobilku hancur menabrak pembatas jalan, kakiku terjepit, dan darah mengucur deras di tengah hujan lebat. Dalam kepanikan antara hidup dan mati, aku menelepon suamiku, Roni, memohon pertolongan. Tapi dia malah mematikan teleponku dengan kasar. "Aku sedang rapat penting! Jangan ganggu aku!" bentaknya sebelum sambungan terputus. Aku pingsan menahan sakit, mengira dia benar-benar sibuk menyelamatkan perusahaan. Namun, kebenaran yang kutemukan kemudian jauh lebih menyakitkan daripada luka fisikku. Di fitur 'Close Friend' Instagram sekretarisnya, Chika, terpampang foto tangan Roni sedang memegang obat kucing. Caption-nya menusuk hati: "Makasih Pak Bos selalu ada di saat genting." Ternyata, 'rapat penting' itu hanyalah menemani selingkuhannya ke dokter hewan. Nyawaku ternyata lebih murah daripada seekor kucing peliharaan pelakor. Saat aku menuntut penjelasan, Roni malah menuduhku egois dan drama. "Kamu selamat kan? Bersyukurlah, jangan lebay," katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hingga akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-10, dia malah memberikan proyek impianku pada Chika di depan umum. Cukup sudah. Aku meletakkan surat cerai dan pengunduran diri di atas meja. "Tanda tangani ini, Roni. Aku pergi." Dia tertawa meremehkan, yakin aku tak bisa hidup tanpanya dan akan kembali mengemis. Dia tidak tahu, kali ini aku tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10