icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Rapat Penting Itu Hanya Dusta

Bab 5 

Jumlah Kata:676    |    Dirilis Pada: 10/12/2025

Zahr

udara pagi terasa segar. Sebuah cincin kecil di jariku tiba-tiba terlepas dan jatuh. Cincin yang

mbungkuk untuk

narik lenganku. "Kamu ini kenapa sih?

ngannya masih meme

," kataku datar,

h, cuma itu? Nanti kita beli

ikahannya sudah lama tidak ada di

kataku datar.

ang tahun pernikahan kita yang ke-10, ya? Ak

? Kapan terakhir kali kami merayakan i

a menjadi cara yang baik untuk mengakhir

ntis, lilin-lilin kecil, dan bunga-bunga mawar merah memenuhi me

Tidak ada jawaban. Aku mencoba lagi. Tetap sama. Ak

at kantor. Sebuah p

ngambil proyek Bu Alea, sekarang ma

ana dia akan mengambil proyek desain resort impianku, dan bagaimana dia akan membuatku terliha

tahu semua ini. Atau d

ajahnya merah padam, matanya memancarkan kemarahan. Chika men

anya memenuhi seluruh ruangan. "Kamu yang menyebar

"Bu Alea, kenapa kamu tega pad

tidak menyebarkan apa-apa, Roni," kataku tenang. "Dan

ak lagi. "Aku tahu kamu cemburu! Aku tahu ka

ipis. "Untuk apa? Toh, aku

ihat sekeliling, lalu kembali menatapku. "Kamu tahu, Chika sudah menyiapkan kejutan un

Tiba-tiba, dia mengangkat piring di meja dan membantingny

Roni. Dalam hatiku, aku tahu. Dia tidak pernah percay

ku. Gugatan cerai yang sudah kurampungkan,

di atas meja. "Tanda tangani

enatapku. Wajahnya berubah pucat. "Al

sa," po

ia menandatangani kedua dokumen itu deng

s?" tanyan

ika, mencium keningnya, lalu mereka

lin-lilin kecil di meja sudah mulai me

an ke-10 yang berakh

hambar. Setelah selesai, aku mengambil koper yang sudah k

aku mengirimkan satu pes

at tin

k ingin ada lagi yang menghubungiku. Aku ti

galkan Jakarta. Meninggalka

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Rapat Penting Itu Hanya Dusta
Rapat Penting Itu Hanya Dusta
“Mobilku hancur menabrak pembatas jalan, kakiku terjepit, dan darah mengucur deras di tengah hujan lebat. Dalam kepanikan antara hidup dan mati, aku menelepon suamiku, Roni, memohon pertolongan. Tapi dia malah mematikan teleponku dengan kasar. "Aku sedang rapat penting! Jangan ganggu aku!" bentaknya sebelum sambungan terputus. Aku pingsan menahan sakit, mengira dia benar-benar sibuk menyelamatkan perusahaan. Namun, kebenaran yang kutemukan kemudian jauh lebih menyakitkan daripada luka fisikku. Di fitur 'Close Friend' Instagram sekretarisnya, Chika, terpampang foto tangan Roni sedang memegang obat kucing. Caption-nya menusuk hati: "Makasih Pak Bos selalu ada di saat genting." Ternyata, 'rapat penting' itu hanyalah menemani selingkuhannya ke dokter hewan. Nyawaku ternyata lebih murah daripada seekor kucing peliharaan pelakor. Saat aku menuntut penjelasan, Roni malah menuduhku egois dan drama. "Kamu selamat kan? Bersyukurlah, jangan lebay," katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hingga akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-10, dia malah memberikan proyek impianku pada Chika di depan umum. Cukup sudah. Aku meletakkan surat cerai dan pengunduran diri di atas meja. "Tanda tangani ini, Roni. Aku pergi." Dia tertawa meremehkan, yakin aku tak bisa hidup tanpanya dan akan kembali mengemis. Dia tidak tahu, kali ini aku tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10