Rowan Blake
1 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Rowan Blake
Rapat Penting Itu Hanya Dusta
Romantis Mobilku hancur menabrak pembatas jalan, kakiku terjepit, dan darah mengucur deras di tengah hujan lebat.
Dalam kepanikan antara hidup dan mati, aku menelepon suamiku, Roni, memohon pertolongan.
Tapi dia malah mematikan teleponku dengan kasar.
"Aku sedang rapat penting! Jangan ganggu aku!" bentaknya sebelum sambungan terputus.
Aku pingsan menahan sakit, mengira dia benar-benar sibuk menyelamatkan perusahaan.
Namun, kebenaran yang kutemukan kemudian jauh lebih menyakitkan daripada luka fisikku.
Di fitur 'Close Friend' Instagram sekretarisnya, Chika, terpampang foto tangan Roni sedang memegang obat kucing.
Caption-nya menusuk hati: "Makasih Pak Bos selalu ada di saat genting."
Ternyata, 'rapat penting' itu hanyalah menemani selingkuhannya ke dokter hewan.
Nyawaku ternyata lebih murah daripada seekor kucing peliharaan pelakor.
Saat aku menuntut penjelasan, Roni malah menuduhku egois dan drama.
"Kamu selamat kan? Bersyukurlah, jangan lebay," katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Hingga akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-10, dia malah memberikan proyek impianku pada Chika di depan umum.
Cukup sudah.
Aku meletakkan surat cerai dan pengunduran diri di atas meja.
"Tanda tangani ini, Roni. Aku pergi."
Dia tertawa meremehkan, yakin aku tak bisa hidup tanpanya dan akan kembali mengemis.
Dia tidak tahu, kali ini aku tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi. Anda mungkin suka
Pemuas Nafsu Keponakan
kodav Warning!!!!! 21++ Dark Adult Novel
Aku, Rina, seorang wanita 30 Tahun yang berjuang menghadapi kesepian dalam pernikahan jarak jauh. Suamiku bekerja di kapal pesiar, meninggalkanku untuk sementara tinggal bersama kakakku dan keponakanku, Aldi, yang telah tumbuh menjadi remaja 17 tahun. Kehadiranku di rumah kakakku awalnya membawa harapan untuk menemukan ketenangan, namun perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap langkahku.
Aldi, keponakanku yang dulu polos, kini memiliki perasaan yang lebih dari sekadar hubungan keluarga. Perasaan itu berkembang menjadi pelampiasan hasrat yang memaksaku dalam situasi yang tak pernah kubayangkan. Di antara rasa bersalah dan penyesalan, aku terjebak dalam perang batin yang terus mencengkeramku. Bayang-bayang kenikmatan dan dosa menghantui setiap malam, membuatku bertanya-tanya bagaimana aku bisa melanjutkan hidup dengan beban ini.
Kakakku, yang tidak menyadari apa yang terjadi di balik pintu tertutup, tetap percaya bahwa segala sesuatu berjalan baik di rumahnya. Kepercayaannya yang besar terhadap Aldi dan cintanya padaku membuatnya buta terhadap konflik dan ketegangan yang sebenarnya terjadi. Setiap kali dia pergi, meninggalkan aku dan Aldi sendirian, ketakutan dan kebingungan semakin menguasai diriku.
Di tengah ketegangan ini, aku mencoba berbicara dengan Aldi, berharap bisa menghentikan siklus yang mengerikan ini. Namun, perasaan bingung dan nafsu yang tak terkendali membuat Aldi semakin sulit dikendalikan. Setiap malam adalah perjuangan untuk tetap kuat dan mempertahankan batasan yang semakin tipis.
Kisah ini adalah tentang perjuanganku mencari ketenangan di tengah badai emosi dan cinta terlarang. Dalam setiap langkahku, aku berusaha menemukan jalan keluar dari jerat yang mencengkeram hatiku. Akankah aku berhasil menghentikan pelampiasan keponakanku dan kembali menemukan kedamaian dalam hidupku? Atau akankah aku terus terjebak dalam bayang-bayang kesepian dan penyesalan yang tak kunjung usai? Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
Keely Alexis Aku menarik tunanganku dari sebuah kecelakaan mobil beberapa detik sebelum mobil itu meledak. Api meninggalkan punggungku penuh dengan luka bakar yang mengerikan, tapi aku berhasil menyelamatkan nyawanya. Selama empat tahun dia koma, aku menyerahkan segalanya untuk merawatnya.
Enam bulan setelah dia sadar, dia berdiri di atas panggung konferensi pers untuk kembalinya. Seharusnya dia berterima kasih padaku. Sebaliknya, dia membuat pernyataan cinta yang megah dan romantis untuk Stella, kekasih masa kecilnya, yang tersenyum dari bangku penonton.
Keluarganya dan Stella kemudian membuat hidupku seperti di neraka. Mereka menghinaku di sebuah pesta, merobek gaunku untuk memperlihatkan bekas lukaku. Ketika aku dipukuli di sebuah gang oleh preman yang disewa Stella, Adrian menuduhku mengarang cerita untuk mencari perhatian.
Aku terbaring di ranjang rumah sakit, memar dan hancur, sementara dia bergegas ke sisi Stella karena wanita itu "ketakutan". Aku tak sengaja mendengar dia mengatakan bahwa dia mencintai Stella dan bahwa aku, tunangannya, tidak berarti apa-apa.
Semua pengorbananku, rasa sakitku, cintaku yang tak tergoyahkan—semuanya tidak ada artinya. Baginya, aku hanyalah utang yang harus dia bayar karena rasa kasihan.
Di hari pernikahan kami, dia menendangku keluar dari limosin dan meninggalkanku di pinggir jalan tol, masih dalam gaun pengantinku, karena Stella pura-pura sakit perut.
Aku melihat mobilnya menghilang. Lalu aku memanggil taksi.
"Ke bandara," kataku. "Dan tolong lebih cepat." Madu Untuk Istriku
bundaRey "Ijinkan aku menikah lagi, Ren?" Dengan berkaca-kaca, Dani memamdang Reni.
"Apa kamu yakin sanggup, Mas? Membimbing satu istri saja kamu nggak bisa, apalagi dua?" Tidak! Reni tidak mau dimadu.
Tanpa sadar Reni mengelus perutnya. Berharap anak dalam kandungannya tidak mendengar keinginan gila ayahnya.
"InsyaAllah sanggup, Yank." Reni tersenyum kecut. Sholat aja tidak pernah sanggup dari mana?
"Kamu gila, Mas!" Jengah dengan kegilaan Dani, Reni segera beranjak dari duduknya dan berlalu dari hadapan Dani.
"Ren! Ren!" Dani segera menyusul Reni yang berjalan ke arah kamar.
"Ren!" Dani menarik tangan Reni, namun segera ditepis oleh wanita itu.
"Lepaskan, Mas!" Hatinya hancur, benar-benar hancur. Dia pikir suaminya telah kembali seperti dulu, namun ternyata dia salah. Malah sebuah permintaan gila yang dimintanya pada Reni.
Tak menyerah, Dani terus mengekor Reni hingga ke kamar. Seketika Reni muak hanya dengan melihat wajah Dani.
"Ren, dengarkan Mas dulu ...." Kali ini Dani telah berlutut di hadapan Reni. Wanita itu duduk di tepi ranjang dengan mata yang mulai sembab.