Lawrencia
2 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Lawrencia
Luka Kakiku, Tawa Mereka
Romantis Aku kehilangan kakiku untuk menyelamatkan suamiku, Yudha, seorang politisi muda yang karismatik.
Namun, pengorbanan itu terasa sia-sia saat aku menemukan videonya berselingkuh dengan Selvia, terapis fisikku sendiri.
Dalam video itu, mereka tertawa. Menertawakan cara jalanku yang timpang.
Di depan publik, Yudha membangun citranya di atas tubuhku yang hancur, memanggilku pahlawan yang inspiratif.
Sementara di belakangku, ibu mertuaku terus menghinaku, menyebutku 'beban' yang memalukan bagi keluarga.
Aku mengorbankan karier baletku, masa depanku, dan tubuhku. Inikah balasannya?
Aku menutup laptop. Tidak ada lagi air mata, hanya tekad dingin yang membeku. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Aku akan membuat mereka membayar, dengan harga yang sangat mahal. Dikhianati Tunangan dan Sepupu Tercinta
Romantis Perjalanan romantisku ke Bali berubah menjadi neraka saat tunanganku, Fredi, mengajak serta sepupuku, Lydia. Aku dipaksa duduk di kursi belakang, menjadi penonton kemesraan mereka yang tak tahu malu.
Puncaknya, saat Fredi melihat gaun seksiku, dia murka dan memutuskan hubungan kami di depan semua orang. "Kalau begitu kita putus!" teriaknya, seolah aku yang bersalah.
Aku pergi, tapi penghinaan tak berhenti. Ibunya menamparku di lobi rumah sakit, memakiku sebagai perempuan murahan. Fredi bahkan menghancurkan karierku, membuatku kehilangan segalanya.
Aku hancur, sakit, dan sendirian. Mengapa mereka begitu kejam? Mengapa aku harus menanggung semua ini?
Namun, di tengah keputusasaan, Hendra, kakak sepupu Fredi, muncul. Ciuman panasnya di mobil dan perlindungannya yang tanpa syarat menjadi satu-satunya cahayaku.
Di sebuah pesta, saat Fredi kembali menghinaku, aku tak lagi diam. Sambil menggandeng Hendra, aku menatapnya dingin dan berkata, "Cintaku sudah mati. Kau sendiri yang membunuhnya." Anda mungkin suka
Gairah Liar Dibalik Jilbab
Gemoy Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku.
''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur.
''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur.
lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman.
''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku.
jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi .
Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri.
''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga.
Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku.
''Jangan nak... ibu mohon....
Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat.
Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............
Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat!
Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar.
Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar.
Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!" Pernikahan Kilat dengan Ayah Sahabatku
Rowan Blake Sejak kekaisaran keluargaku runtuh, aku hidup sebagai anak asuh yang menyedihkan di bawah kendali Anson Wijaya. Dia menguasai seluruh warisan keluargaku yang baru bisa kusentuh jika aku berusia dua puluh lima tahun, atau menikah.
Namun malam ini, di bawah lampu gantung mewah, Anson dengan bangga mengumumkan pertunangannya dengan Claudia—gadis yang selalu merundungku dan menjadikan hidupku seperti di neraka.
Anson menatapku dengan senyum penuh kemenangan, memeluk pinggang Claudia dengan posesif. Tawa ejekan Claudia menembus telingaku, sementara pelayan dengan sengaja menumpahkan sampanye ke gaun murahku tanpa meminta maaf. Di mata mereka, aku hanyalah kasus amal yang hina. Aku akhirnya sadar, janji Anson untuk "melindungiku" adalah kebohongan. Dia hanya ingin mengurungku dalam sangkar emasnya selamanya dan merampas semua milikku.
Dadaku sesak dan napasku tercekat. Tetap berada di bawah kendalinya adalah hukuman mati seumur hidup. Aku butuh perisai. Aku butuh tembok baja yang tidak akan pernah bisa dipanjat oleh pria bajingan itu.
Dalam keputusasaan yang mencekik, aku melarikan diri ke perpustakaan gelap dan menabrak dada bidang seorang pria.
Damian Soerjadinata. CEO paling berkuasa, pria paling ditakuti di kota ini, dan... ayah dari sahabatku sendiri.
Menatap mata gelapnya yang menakutkan, naluri bertahan hidupku mengambil alih.
"Bawa aku pergi. Nikahi aku."
Aku pikir dia akan menganggapku gila dan mengusirku, tapi raksasa industri yang dingin itu justru mengunci pintu, meletakkan selembar dokumen pernikahan di atas meja marmer, dan menatapku dengan intensitas yang mematikan.
"Tanda tangan."