Luka Kakiku, Tawa Mereka

Luka Kakiku, Tawa Mereka

Lawrencia

5.0
Komentar
340
Penayangan
15
Bab

Aku kehilangan kakiku untuk menyelamatkan suamiku, Yudha, seorang politisi muda yang karismatik. Namun, pengorbanan itu terasa sia-sia saat aku menemukan videonya berselingkuh dengan Selvia, terapis fisikku sendiri. Dalam video itu, mereka tertawa. Menertawakan cara jalanku yang timpang. Di depan publik, Yudha membangun citranya di atas tubuhku yang hancur, memanggilku pahlawan yang inspiratif. Sementara di belakangku, ibu mertuaku terus menghinaku, menyebutku 'beban' yang memalukan bagi keluarga. Aku mengorbankan karier baletku, masa depanku, dan tubuhku. Inikah balasannya? Aku menutup laptop. Tidak ada lagi air mata, hanya tekad dingin yang membeku. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Aku akan membuat mereka membayar, dengan harga yang sangat mahal.

Bab 1

Aku kehilangan kakiku untuk menyelamatkan suamiku, Yudha, seorang politisi muda yang karismatik.

Namun, pengorbanan itu terasa sia-sia saat aku menemukan videonya berselingkuh dengan Selvia, terapis fisikku sendiri.

Dalam video itu, mereka tertawa. Menertawakan cara jalanku yang timpang.

Di depan publik, Yudha membangun citranya di atas tubuhku yang hancur, memanggilku pahlawan yang inspiratif.

Sementara di belakangku, ibu mertuaku terus menghinaku, menyebutku 'beban' yang memalukan bagi keluarga.

Aku mengorbankan karier baletku, masa depanku, dan tubuhku. Inikah balasannya?

Aku menutup laptop. Tidak ada lagi air mata, hanya tekad dingin yang membeku. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Aku akan membuat mereka membayar, dengan harga yang sangat mahal.

Bab 1

Aluna Surjadi POV:

Darah Yudha yang merembes di kakiku tidak seberapa dibandingkan dengan darah di hatiku. Aku kehilangan kakiku untuk Yudha, tapi itu tidak seberapa saat aku melihat videonya bersama Selvia. Video itu berputar di layar laptop, berulang-ulang, setiap putaran menusukku lebih dalam. Setiap tawa yang dibagikannya dengan Selvia, terapis fisikku sendiri, terasa seperti belati yang berputar di luka amputasiku yang belum sembuh.

Tanganku gemetar saat menekan tombol jeda. Wajah Yudha, suamiku, politisi muda yang karismatik, tampak begitu hidup di sana. Begitu lepas, begitu bahagia. Kebahagiaan yang tidak pernah kulihat lagi di wajahnya sejak kecelakaan bom itu. Sejak aku mengorbankan segalanya untuknya.

Aku ingat jelas bau mesiu dan asap yang menyesakkan. Tubuhku bergerak refleks, mendorong Yudha. Ledakan itu menghantamku. Rasa sakit yang merobek. Lalu kegelapan. Ketika aku terbangun, kakiku sudah tidak ada. Dokter Jefry menatapku dengan mata sendu. "Kita berhasil menyelamatkan nyawa Bapak Yudha, Nona Aluna."

Yudha datang setelah itu, dengan karangan bunga dan air mata buaya. Dia memelukku erat, mencium keningku. "Kamu pahlawanku, Aluna. Aku tidak akan pernah melupakan pengorbananmu." Kata-katanya terasa seperti madu. Manis, tapi kini kurasakan pahitnya racun di setiap kalimat itu.

Di depan publik, Yudha adalah suami setia yang berduka. Dia menggandeng tanganku di setiap acara, berbicara tentang "istri tercinta yang kuat dan inspiratif". Dia membangun citra dirinya di atas puing-puing tubuhku. Sementara di belakang pintu tertutup, dia jijik. Aku melihatnya dalam video itu. Bukan hanya perselingkuhan, tapi tatapan matanya saat Selvia meniru gaya jalanku yang timpang. Mereka tertawa. Tertawa lepas.

Sakitnya melampaui batas fisik. Ini adalah pengkhianatan yang meruntuhkan jiwaku. Aku mencintai Yudha, aku mengorbankan karier baletku yang gemilang, masa depanku di atas panggung, demi melindunginya. Dan inilah balasannya.

Aku menutup laptop dengan suara keras. Suara itu menggema di kamarku yang sunyi, seperti tembakan peringatan. Tidak ada lagi air mata. Hanya kehampaan yang dingin. Dan di tengah kehampaan itu, sebuah keputusan terbentuk. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Aku akan membuat mereka membayar. Mahalnya.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Lawrencia

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku