Dandelion, Wish, and Wind

Dandelion, Wish, and Wind

Sasakiya

5.0
Komentar
70
Penayangan
24
Bab

"Dandelion beterbangan menghiasi langit biru musim panas. Kelopak kecil yang seputih kapas tampak menyatu dengan awan. Jauh tinggi ia terbang mengikuti hembusan angin yang bertiup semilir. Di mana pun kau berada, sejauh apapun jarak di antara kita, kuharap salah satu dandelion itu akan sampai padamu. Kuharap kau tahu aku di sini menunggumu, merindukanmu, dan mencintaimu. Waktu yang terus berlalu mengubah segalanya. Namun perasaanku masih sama. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Di tengah hamparan dandelion putih berhiaskan sinar mentari senja, aku menunggumu." Yoshino Izumi membenci segalanya tentang Jepang. Jika bukan karena permintaan Sang Ayah, pemuda itu tak pernah ingin kembali ke sana. Bagi Izumi tempat itu hanya menyimpan kenangan buruk akan pengkhianatan seorang wanita yang pernah dipanggilnya "Ibu" dengan sepenuh hati. Namun pertemuannya dengan seorang gadis berambut silver, perlahan membuat Izumi melupakan perasaan itu. Di saat yang sama tanpa Izumi sadari, ternyata ada sosok lain yang juga berharap untuk bertemu kembali dengan dirinya.

Dandelion, Wish, and Wind Bab 1 Back to Japan

New York City, Amerika Serikat

"Izumi, come on! You'll be late for the flight!"

"Okay, I'm coming!"

Pemuda yang dipanggil Izumi itu memasukkan barang terakhir ke dalam kopernya dan bergegas membawanya keluar. Begitu keluar senyuman ramah dari sepasang suami istri menyambut langkahnya.

"Are you ready, My Boy?" sambut pria itu seraya mengambil alih koper dari tangan Izumi dan membawanya ke dalam mobil. Sambil menggandeng tangan Izumi, sang istri mengikuti langkah suaminya. Dengan penuh perhatian wanita itu membukakan pintu mobil untuk Izumi yang dibalas dengan senyuman penuh terima kasih dari pemuda itu.

Dari dalam mobil yang mulai bergerak, Izumi memandang rumahnya yang kini tak lagi berpenghuni. Satu persatu kenangannya di rumah itu tiba-tiba mengalir deras layaknya air hujan, membuat perasaan pemuda delapan belas tahun itu menjadi sesak. Jangan menangis! perintah Izumi pada dirinya sendiri. Dia mengalihkan pandangan, tak lagi menatap ke arah rumahnya. Dari balik kaca kemudi Mr. Sharon menatapnya dengan seksama.

"Are you okay?"

Izumi mengangguk pelan. "I haven't even gone yet, but I'd missed him already. It looked like my heart didn't want to go anywhere," ujar Izumi. Mr. Sharon tak menjawab. Sebaliknya kini iris amber milik istrinya, Mrs. Sharon, menatap Izumi dengan lekat.

"It's okay. If you don't want to go, then you don't have to. You can stay here with us." Ucapan Mrs. Sharon tentu saja membuat iris obsidian milik Izumi membulat, tak percaya dengan ucapan wanita itu.

"Darling! What did you say? You can't forbid him to go!" tegur Mr. Sharon pada istrinya.

"I didn't, but why does he have to go while his heart wants to stay. He'll end up hurting himself. Izumi, it isn't too late. If you want to stay then I'll talk to them." Mengabaikan tatapan tajam dari suaminya, Mrs. Sharon menatap Izumi dengan penuh kesungguhan. Izumi terdiam sesaat. Kepalanya berusaha merenungkan setiap kata yang diucapkan oleh Mrs. Sharon.

"I do love too, but I've already promised to him. And I must fulfill what I've promised," ujar Izumi pelan. Meskipun begitu hatinya memberontak meneriakkan keinginan yang berlawanan. Izumi sangat mengetahui apa yang ia inginkan. Andai saja kembali ke Jepang bukan permintaan terakhir dari ayahnya, pemuda itu lebih suka menghabiskan waktunya di Amerika. Meskipun Jepang adalah tanah kelahirannya, dia tak pernah berharap untuk kembali ke sana suatu saat nanti. Kenangan masa kecil yang menyakitkan karena perpisahan kedua orang tuanya dan pengkhianatan wanita yang dia sebut "ibu" membuat Izumi membenci segala hal yang berkaitan dengan Negeri Sakura itu. Termasuk kenangannya akan cinta pertamanya telah terkubur bersama dengan rasa bencinya.

"Izumi, kemarilah!"

Suara lirih ayahnya yang semakin lemah membuat perhatian Izumi teralihkan. Pemuda itu menutup bukunya dan berjalan mendekati ayahnya. Laki-laki itu menatap putranya dengan lekat. Seulas senyum terukir di wajah pucatnya.

"Tolong, kembalilah ke Jepang. Ibumu merindukanmu."

Izumi tersentak, tak percaya dengan ucapan yang baru saja ia dengar. Hampir selama sepuluh tahun ini, ayahnya tak pernah menyinggung sedikitpun tentang Jepang ataupun tentang ibunya. Tapi mengapa sekarang-

"Bagaimana kalau aku bilang aku tidak ingin kembali?" ujar Izumi lirih.

"Izumi!"

"Apa Ayah lupa bagaimana dia meninggalkan kita dulu. Hanya untuk mengejar kekayaan dia membuang keluarganya. Bagaimana bisa kau memintaku untuk kembali. Aku-" Tangan Izumi mengepal menahan emosi. Yoshino Takumi menatap wajah putranya. Mata obsidian milik putranya terlihat begitu terluka.

"Ayah tidak melupakannya, tapi Ayah memilih untuk memaafkan ibumu, terlepas dari rasa sakit yang dia berikan aku sudah memaafkannya. Karena itu, kau juga harus melakukan hal yang sama. Tolong maafkan ibumu dan kembalilah ke Jepang," ujar Takumi.

"Tou-san...."

"Ayah tahu ini sulit untukmu. Namun Ayah percaya kau bisa melakukannya, Haruki." Takumi tersenyum memanggil nama kecil putranya.

"We're arrived." Suara Mr. Sharon memutus ingatan Izumi tentang percakapan terakhirnya dengan ayahnya. Dengan satu tarikan napas panjang Izumi melangkah keluar dari dalam mobil.

"Hubungi kami jika kamu sudah sampai. Kapanpun kau ingin kembali, kami menyambutmu dengan tangan terbuka," pesan Mrs. Sharon sesaat sebelum Izumi memasuki ruang tunggu. Pemuda itu mengangguk pelan.

"Terima kasih untuk semuanya, Mr. dan Mrs. Sharon. Aku pasti akan merindukan kalian," ujar Izumi. Mr. Sharon tersenyum dan menjabat tangan Izumi dengan erat. Sementara itu Mrs. Sharon memeluknya dengan erat sembari mengusap kepala Izumi dengan sayang.

"Hati-hati di jalan. Kami pasti akan merindukanmu," bisik Mrs. Sharon dengan suara bergetar. Wanita itu melepas pelukannya dan memandang Izumi dengan lekat. Aura hangat seorang ibu memancar dari wajahnya yang tersenyum. Meskipun begitu Izumi bisa melihat kedua iris amber itu berkilau karena air mata. Izumi mengangguk dan melemparkan senyuman terakhir kepada Mr. dan Mrs. Sharon. Pemuda itu kemudian menarik kopernya menuju ruang tunggu bandara. Satu jam kemudian terdengar pemberitahuan kalau pesawat yang akan membawanya ke Jepang telah tiba di bandara. Satu tarikan napas panjang, Izumi berdiri menarik kopernya dan ikut mengantre dengan penumpang lain yang akan menaiki pesawat yang sama.

Izumi menatap gumpalan awan dari balik jendela pesawat. Di bawahnya Kota New York terlihat seperti ribuan kotak kecil yang tersusun rapi. Izumi menyandarkan kepalanya, berusaha mencari posisi nyaman untuk memejamkan mata. Dalam hati dia berharap ketika membuka mata nanti semuanya adalah mimpi. Seiring dengan pesawat yang terbang semakin tinggi, Izumi tenggelam dalam mimpinya. Kilasan memori masa kecilnya silih berganti bermunculan dalam mimpi Izumi, seperti sebuah film lama yang diputar berulang-ulang.

"Haruki, selamat datang."

Izumi tersentak kaget, pemuda itu membuka mata dan menatap sekeliling. Lampu kabin pesawat menyala redup sementara di luar jendela tak satupun pemandangan yang terlihat karena gelap, menandakan malam telah tiba. Izumi menyeka wajahnya dengan tangan, sementara pikirannya kembali mengingat-ingat mimpi yang muncul dalam tidurnya. Sosok anak kecil yang mengucapkan selamat datang padanya, meski wajahnya tak terlihat. Namun iris coklat terang seperti yang selalu muncul dalam mimpinya beberapa hari terakhir ini membuat Izumi yakin bahwa itu adalah "dia".

Apa kau tahu kalau aku akan kembali? Bahkan kau sampai mengucapkan selamat datang dalam mimpiku, pikir Izumi.

Pemuda itu memandang keluar jendela yang gelap dan kembali tenggelam dalam lamunannya. Tak lama kemudian lamunan Izumi terputus karena kehadiran seorang pramugari yang menawarkan makanan kepadanya. Namun ditolaknya dengan halus. Entah mengapa penerbangan panjang ini tak membuat Izumi merasa lapar sama sekali. "Apa penerbangannya masih lama?" tanya Izumi sebelum pramugari itu pergi.

"Kita akan sampai di Jepang sekitar tiga sampai empat jam lagi. Anda yakin tak ingin makan sekarang?" tawar pramugari itu lagi. Izumi menggeleng pelan. "Kalau begitu jika membutuhkan sesuatu jangan ragu untuk memberi tahu kami," ujar pramugari itu seraya tersenyum ramah.

"Baik. Terima kasih," balas Izumi.

Semburat sinar jingga perlahan muncul dari balik awan yang terlihat sedikit kelabu. Bersamaan dengan itu muncul pengumuman bahwa pesawat yang Izumi tumpangi telah tiba di tempat tujuan-Jepang. Jadi ini benar-benar bukan mimpi ya, batin pemuda itu. Tubuhnya sedikit terguncang ketika pesawat mendarat di landasan pacu. Izumi mengintip keluar dari balik jendela kabin. Tiba-tiba dia merasa asing dengan tanah kelahirannya sendiri. Begitu turun dari pesawat, angin yang sedikit dingin mengacak rambut hitamnya dengan lembut, seolah mengucapkan selamat datang padanya.

Izumi menghela napas panjang sementara batinnya kembali berbicara. Tak kusangka aku akan kembali ke sini, ke tempat yang sangat tak kuingin kuingat lagi.

"Haruki-kun!"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Dandelion, Wish, and Wind Dandelion, Wish, and Wind Sasakiya Anak muda
“"Dandelion beterbangan menghiasi langit biru musim panas. Kelopak kecil yang seputih kapas tampak menyatu dengan awan. Jauh tinggi ia terbang mengikuti hembusan angin yang bertiup semilir. Di mana pun kau berada, sejauh apapun jarak di antara kita, kuharap salah satu dandelion itu akan sampai padamu. Kuharap kau tahu aku di sini menunggumu, merindukanmu, dan mencintaimu. Waktu yang terus berlalu mengubah segalanya. Namun perasaanku masih sama. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Di tengah hamparan dandelion putih berhiaskan sinar mentari senja, aku menunggumu." Yoshino Izumi membenci segalanya tentang Jepang. Jika bukan karena permintaan Sang Ayah, pemuda itu tak pernah ingin kembali ke sana. Bagi Izumi tempat itu hanya menyimpan kenangan buruk akan pengkhianatan seorang wanita yang pernah dipanggilnya "Ibu" dengan sepenuh hati. Namun pertemuannya dengan seorang gadis berambut silver, perlahan membuat Izumi melupakan perasaan itu. Di saat yang sama tanpa Izumi sadari, ternyata ada sosok lain yang juga berharap untuk bertemu kembali dengan dirinya.”
1

Bab 1 Back to Japan

06/11/2022

2

Bab 2 Arrival

06/11/2022

3

Bab 3 Jangan Pedulikan Masalahku

06/11/2022

4

Bab 4 Apa Aku Cemburu Dengan Saudara Tiriku

06/11/2022

5

Bab 5 Hari Pertama di Sekolah Baru (1)

06/11/2022

6

Bab 6 Hari Pertama di Sekolah Baru (2)

06/11/2022

7

Bab 7 Kami-sama, Dia Sangat Keren!

06/11/2022

8

Bab 8 Sunset & Ramen

06/11/2022

9

Bab 9 Ryuzaki's Crush

06/11/2022

10

Bab 10 Ujian

06/11/2022

11

Bab 11 Boling

09/11/2022

12

Bab 12 Kenangan yang Tak Ingin Kuingat

10/11/2022

13

Bab 13 Obentō

11/11/2022

14

Bab 14 Sport Day (1)

11/11/2022

15

Bab 15 Sport Day (2)

11/11/2022

16

Bab 16 Sport Day (3)

12/11/2022

17

Bab 17 Ikan yang Mengikuti Arus Air

12/11/2022

18

Bab 18 Hadiah Untuk Pemenang

12/11/2022

19

Bab 19 Pesta Barbeku

13/11/2022

20

Bab 20 Aku Tak Bisa Mengingat Wajahnya

13/11/2022

21

Bab 21 Saingan

16/11/2022

22

Bab 22 Strange Feeling

18/11/2022

23

Bab 23 Obrolan Di Siang Hari

24/11/2022

24

Bab 24 Perhatian yang Diinginkan

14/06/2023