icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dandelion, Wish, and Wind

Bab 8 Sunset & Ramen

Jumlah Kata:2451    |    Dirilis Pada: 06/11/2022

olahraga sayup-sayup terdengar di telinga Izumi, membuat pemuda itu mengarahkan pandangannya ke bawah menatap anak-anak klub basket yang tengah berlatih di lapangan. Iris obsidian milik Izumi tak s

tubuh mereka Izumi bisa melihat kalau mereka berdua akrab satu sama lain. Tanpa sadar Izumi me

u saja keluar dari ruang guru sambil membawa tumpukan buku yang lumayan banyak hingg

zumi-S

ngan mereka bertemu Yuki teringat dengan kejadian di perpustakaan siang tadi. Wajahnya kembali terasa menghangat.

Izumi balik bertanya, tanpa men

ah-tunggu, Senpai! Kau bel

melihatmu kesulitan

u aku berterima

" balas Izu

pa?" tanya Yuki selagi mereka

urai Goukou, apalagi bagi anak kelas tiga yang mulai disibukkan dengan banyaknya ujian.

angan. Hanya saja hari ini klub

rajinan

nap

karena kau memainkan biola, aku pikir Fuj

pula kalaupun ada aku tidak terlalu tertarik untuk bergabung." Izumi mengerutkan kening, sedi

sama-sama setelah ini?" tawar Yuki yang sesaat kemudian mendadak malu sendiri dengan ucapannya. "Eh, i-itu ... maksudku karena kita searah. Tapi kalau Senpai keberatan ..." cepat-

itu menyamarkannya dengan berdehem kecil. "Daijoubu, aku tak keber

rjalan di sebelahnya. Irisnya mena

k ada, sih. Mem

maniku ja

am. Lalu .

aksimu sep

ya saja ... kit

keber

enapa Senpai tiba-ti

atang ke sini tempat yang kutahu hanya rumah keluarga R

Senpai tak keberatan menunggu sebe

erbang," lanjut Izumi yang dibalas

pat menepis pemikiran konyol yang tiba-tiba terlintas di benaknya. Tapi tadi ada yang aneh dengan ucapan Izumi-Senpai. Kenapa dia bilang 'rumah keluarga Ryuzaki-kun

ekolah, tempat di mana Izumi sedang menunggunya. "Maaf,

aku memintamu sebagai tour guide-ku. Jadi aku akan pergi ke manapun kau memanduku,

mpat pertama yang kita tu

tak terlalu luas. Pohon sakura yang satu-satunya tumbuh di sana penuh dengan bunga-bunga berwarna merah muda yang tengah bermekaran. Yuki menyandarkan punggungnya pada batang sakura itu. Sedangkan Izumi ikut duduk di sebelahnya. Tempat itu terasa begitu tenang k

diannya sama sekali tak tertuju ke arah lain kecuali matahari yang hampir terbenam di ujung sana. "Fujihara-san ... apa

hift mendadak dari toko atau kegiatan klub aku s

kerja d

al kue, Senpai mau mampir ke sana? Honey Cake buatan Ayahku sangat terkenal di tempat ini. Orang-orang menyukainy

Tapi maaf, aku tak bisa makan makanan

ai ke sana sesekali. Akan kucoba buatkan sesuatu yang se

taku untuk bekerja di tokonya agar bisa belajar mulai dari hal kecil. Lalu setelah lulus nanti aku ingin belajar Culinary Arts di luar negeri seperti beliau dulu." Kedua iris Yuki terlihat berbinar karena semangat. "Tapi masalahnya-" dia te

rusaha dengan keras, kau

yang sama dengan Ayahku. Yosh! Ka

ihatnya. Waktu berlalu tanpa mereka sadari. Matahari kini sudah terbenam dengan sempurna membuat

Yuki. "Maaf Senpai, padahal kau memintaku untuk membawam

s Izumi. "Mau k

lalu berdiri dar

ebut dan kembali menuruni jalanan yang s

g mau mampir ke satu t

jika dia menghabiskan waktu sedikit lebih lama di lu

di sekitar sini. Senpai pasti sudah l

ibiarkannya Yuki menarik tangannya sedangkan dirinya tersenyum samar mengikuti langkah gadis itu. Sekitar sepuluh menit kemudian langkah mereka

mpat itu lumayan ramai. Hampir semua tempat duduk terisi penuh oleh pengunjung. Keduanya lalu melangkah menuju tempat duduk yang masih kosong. Tak lama setelah duduk seorang pelayan datang untuk mencatat ramen pesanan mereka. Yuki dan Izumi masing-

Amer

-kun / F

mereka. Keduanya sama-sama terkejut, terutama Izumi yang tak

pai dan Nak

kami ikut bergabung den

kan Ryu duduk di samping Izumi. Mendadak aura canggung muncul di sana. Sampai akhirn

ab?" tanya Nana. Gadis bersurai hitam itu menata

" jawab Izumi da

as Nana lalu ta

Kali ini Yuki bertanya pada Ryu yan

a turnamennya sudah dekat kami

esanan Nana dan Ryu tak lama sesudahnya membuat obrolan mereka terhenti sement

g direbus lama membuat rasanya semakin gurih. Kali ini Izumi mencoba mie ramennya. Tekstur mie yang digunakan

nak, bukan?" tanya Yuki. Izu

ini kau tinggal di Am

etika berusia delapan

ukup lama

, begitupun dengan Izumi. Sementara Yuki menatap sekilas dua pemuda yang duduk ber

lakang Izumi-Senpai? Itu berarti dia dan Nakagawa-kun ...? Aku tak tahu ini hanya perasaanku saja a

i-ch

ata yang berbeda warna itu kini tengah menatap ke arahnya dengan tatapan pen

daritadi kau melamun sambil

ntuk meyakinkan Nana dan yang lainnya. Setelah itu dia

sini. Sampai jumpa di sekolah, kalian bertiga!" ujar Na

sudah malam," ujar

a Nana mengalah dan membiarkan Ryu menemaninya menuju stasiun. "Kalau begitu kami duluan, ya. Kalian berdua pulangnya searah

-kun juga hati-hati

yum tipis lalu beranjak me

pulang juga," aja

ea

na dan Ryu di kedai tadi, pemuda itu tak banyak bersuara seperti halnya Ryu. Selagi berjalan Yuki diam-diam mencuri pandang ke

raan, tapi apa? Apa kutanyakan saja tentang panggilan tadi? Tapi Izumi-Senpai sepertinya tak akan

t bertanya-tanya dalam hati melihat Yuki yang sed

hara-

npa

zumi saling memanggil secara bersamaa

udah menemaniku. Maaf kalau aku

dan lagi harusnya aku yang minta maaf kare

saja yang tidak tepa

n Izumi dengan jelas karena nada suaranya terdengar lirih ditambah suara angin

lalu tersenyum tipis. "

bertanya sesuatu?

lak

endak dia tanyakan, entah mengapa tak bisa dia utarakan dan hanya be

tiba-tiba terdiam dan hanya menatapnya tanp

di depan wajahnya. Gadis itu kembali melangkah. Namun

hal panggilan Nana

zumi menyadarinya. Mau tak

ya, sampai saat ini aku belum memperkenalkan diri secara lengkap, ya.

begitu Na

Izumi. "Fujihara-san, tentang hal ini jangan katakan pada siapapun, ya. Aku hanya tak ingin orang lain bertanya m

berjanji. Mungkin karena ini Senpai dan Nakagawa-kun terlihat cang

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dandelion, Wish, and Wind
Dandelion, Wish, and Wind
“"Dandelion beterbangan menghiasi langit biru musim panas. Kelopak kecil yang seputih kapas tampak menyatu dengan awan. Jauh tinggi ia terbang mengikuti hembusan angin yang bertiup semilir. Di mana pun kau berada, sejauh apapun jarak di antara kita, kuharap salah satu dandelion itu akan sampai padamu. Kuharap kau tahu aku di sini menunggumu, merindukanmu, dan mencintaimu. Waktu yang terus berlalu mengubah segalanya. Namun perasaanku masih sama. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Di tengah hamparan dandelion putih berhiaskan sinar mentari senja, aku menunggumu." Yoshino Izumi membenci segalanya tentang Jepang. Jika bukan karena permintaan Sang Ayah, pemuda itu tak pernah ingin kembali ke sana. Bagi Izumi tempat itu hanya menyimpan kenangan buruk akan pengkhianatan seorang wanita yang pernah dipanggilnya "Ibu" dengan sepenuh hati. Namun pertemuannya dengan seorang gadis berambut silver, perlahan membuat Izumi melupakan perasaan itu. Di saat yang sama tanpa Izumi sadari, ternyata ada sosok lain yang juga berharap untuk bertemu kembali dengan dirinya.”
1 Bab 1 Back to Japan2 Bab 2 Arrival3 Bab 3 Jangan Pedulikan Masalahku4 Bab 4 Apa Aku Cemburu Dengan Saudara Tiriku 5 Bab 5 Hari Pertama di Sekolah Baru (1)6 Bab 6 Hari Pertama di Sekolah Baru (2)7 Bab 7 Kami-sama, Dia Sangat Keren!8 Bab 8 Sunset & Ramen9 Bab 9 Ryuzaki's Crush10 Bab 10 Ujian11 Bab 11 Boling12 Bab 12 Kenangan yang Tak Ingin Kuingat13 Bab 13 Obentō14 Bab 14 Sport Day (1)15 Bab 15 Sport Day (2)16 Bab 16 Sport Day (3)17 Bab 17 Ikan yang Mengikuti Arus Air18 Bab 18 Hadiah Untuk Pemenang19 Bab 19 Pesta Barbeku20 Bab 20 Aku Tak Bisa Mengingat Wajahnya21 Bab 21 Saingan 22 Bab 22 Strange Feeling23 Bab 23 Obrolan Di Siang Hari24 Bab 24 Perhatian yang Diinginkan