icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dandelion, Wish, and Wind

Bab 3 Jangan Pedulikan Masalahku

Jumlah Kata:2248    |    Dirilis Pada: 06/11/2022

dengan seekor anjing berwarna coklat. Dengan sedikit canggung Izumi melangkah menghampiri Ryu dan anjingnya. Begitu melihat Izumi, anjing itu berlari ke arahny

Kuma. Anjing coklat itu menjulurkan lidah sambil mengibaskan ekornya dengan

lan?" tawar Ryu yang dibalas o

gi berjalan Izumi melihat sekelilingnya dengan seksama. Rumah-rumah yang berderet di tepi jalan

bunga sakura?" tanya Ry

terakhir Izumi bersama sang ayah, Yoshino Takumi. "Izumi, kau tahu. Setiap kali melihat sakura di sini, Tou-san berharap agar suatu saat nanti kita bisa melihat sakura langsung di Jepang. Tou-san pikir sakura d

" tanya Ryu yang menyadar

s Izumi yang tersadarkan dari l

berhenti di area taman. Taman itu terlihat begitu asri. Ban

di tempat ini. Bu

ang tali kekangnya sedikit terseret mengikuti langkahnya. "Chotto! Jangan tiba-tiba lari seperti ini!" protes Ryu. Namun anjing itu tak menghiraukannya

indra pendengaran Izumi. Pemuda itu menghentikan langkahnya. Beberapa meter di sebelah kanannya sosok gadis berambut silver yang berdiri membelakangi Izumi tengah memainkan biolanya dengan khidmat. Berlatarkan langit biru tanpa awan, pohon sakura y

gan mereka beradu beberapa detik sebelum akhirnya gadis itu membawa langkahnya mendekat ke arah Izumi. "Ada se

itu keluar dari mulutnya. Bodoh! Bodoh! Izumi bodoh! Sejak kapan kau jadi banyak bicara begini? Terlebih kalimat tadi 'aku suka'? dalam hati Izumi kembali merutuk dirinya sendiri. Dengan sedikit ragu

arkan hanya suara angin memecahkan keheningan di antara mereka. Hal itu berlangsung

a masih

l dirinya. Wajah Ryu terlihat sedikit basah karena peluh, mungkin Kuma membuatnya berlari terlalu jauh. Iris Ryu lalu tertuju pada sosok lain yang berdiri di dekat Izu

i menatap gadis itu dan Ryu secara bergantian.

di sekolah kami. Aku Fujihara Yuki. Salam kenal eto ... -" Fujihara Yuki

ihara-san," ujar Izumi b

tu sebelumnya. Sejak 'kakak' barunya itu tiba di rumah mereka sampai detik ini dia memanggilnya Haruki, sesuai dengan nama yang diberitahu oleh ibunya. Dan lagipula sejak tadi pemud

ga keluar bersama dari area taman. Izumi terdiam sedangkan Ryu melirik sekilas

li ke Jepang hari ini. Jadi tak banyak yang tahu kalau kami bersaudara," terang Ryu.

ih lancar untuk ukuran orang yang tinggal lama di luar negeri," ujar Yuki. Sed

dalam kepalanya. Namun sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, Izumi sudah lebih du

ku

umi-san, aku duluan ya. Aku tak ingin te

hanya berdiri dalam diam menatap helaian rambut silver Yuki yang bergerak mengikuti irama langkahnya. Saat sosok gadis itu masuk ke dalam bus dan tak terlihat

ya, sesekali Ryu melirik ke arah Izumi. Wajah pemuda itu terlihat datar tanpa ekspresi. Namun sorot ya

an panggilan Ryu. Dia menoleh sebentar-memberi isyarat agar Ryu meneruskan ucapannya. Setelah itu Izumi kembali me

uzaki-kun apa yang kau katakan tadi

"Souka yokatta," balas Ryu.

erbang kediaman Keluarga Nakagawa kini hanya berjarak kurang dari satu meter. Ryu menghentikan langkahnya begitupun dengan Izumi. P

kaitannya denganmu

Ryu tersentak. Baik nada suara maupun pandangan Izumi kepadanya kali ini sama-sama dingin. "Aku tahu itu tak ada hubungannya denganku. Tapi aku hanya ingin Kakak tahu, Mama selama ini begitu merindukanmu. Dia sangat ingin bertemu denganmu!" jelas Ryu. Ah, kenapa aku mengatakan hal ini? Padahal sebelumnya aku sudah bilang pada diriku untuk tidak mencampuri urusan mereka berdua.

intamu untuk mengat

pa

rkan bertahun-tahun yang lalu," lanjut Izumi. Kali ini nada sua

butan 'wanita itu'. Terkesan seperti pemuda itu tak menaruh rasa hormat pada sosok yang telah membawanya ke dunia ini

lih topik pembicaraan. Namun Ryu tak pernah menyangka Izumi akan mengatakan hal-hal seperti itu. Karena Ryu tak kunjung mengatakan apapun, Izumi kembali meneruskan langkahnya. Mendahului Ryu yang kini berdiri kaku di tempatnya dengan segenap emosi yang

ertemu dengan penghuni rumah itu saat ini. Sampai di dalam kamarnya Izumi langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Iris obsidiannya menerawang jauh ke luar jendela. Sementara benaknya sedikit mengulang perdebatan kecilnya dengan

uma mendongak menatap Ryu seakan bertanya apakah tuannya baik-baik saja. Ryu yang melihat tingkah anjingnya menghela napas pelan lalu mengelus bagian bawah leher Kuma. "Gomene Kuma, aku

ur pada hal-hal yang buka

ar menatap langit biru yang entah sejak kapan mulai tertutupi oleh gumpalan awan cumulus.

atkan diri ke dapur untuk mencari minuman guna menghilangkan rasa hausnya. Ketika memasuki dapur Ryu melihat ibunya di

tu mengalihkan fokusnya dari mangkuk berisi adonan kue yang dia aduk dan menoleh ke arah Ryu.

," bal

i tadi dia rasakan menghilang dalam sekejap ketika cairan manis itu melewati tenggorokannya. Ryu meletakkan jusnya yang tersisa setengah lalu kembali meng

n Izumi-kun?" tanya Tsubaki yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Ryu. Mengetahui hal itu Tsubaki tersenyu

eluarga Nakagawa membawa kehangatan yang selama ini Ryu rindukan dari ibu kandungnya sendiri. Wanita itu meninggal ketika usianya baru beranjak dua tahun membuat Ryu tak mengingat banyak hal tentang ibu kandungnya. Hal yang paling dia ingat dari ibunya adalah senyumannya. Bagi Ryu senyum itu adalah

kalimat 'aku tak apa-apa' sebagai jawaban. Tsubaki tak menanyakan apa-apa lagi. Sebaliknya iris violetnya menatap Ryu dengan seksama, seakan memastikan kebenaran jawaban pemuda itu. "Kalau kau ada masalah, jangan sungkan untuk diutarakan

"Arigatou Mama," ucap Ryu. Setelah menghabiskan jus persiknya, Ryu pamit pada Tsubaki untuk kembali ke kamarnya. Sampai di lantai dua dia berdiri sebentar di depan pintu kamar Izumi menimbang apakah dia harus mengetuk pintu itu atau tidak. Namun pada akhirnya Ryu mengurungkan niat dan berbalik melangkah menuju kamarnya sendiri.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dandelion, Wish, and Wind
Dandelion, Wish, and Wind
“"Dandelion beterbangan menghiasi langit biru musim panas. Kelopak kecil yang seputih kapas tampak menyatu dengan awan. Jauh tinggi ia terbang mengikuti hembusan angin yang bertiup semilir. Di mana pun kau berada, sejauh apapun jarak di antara kita, kuharap salah satu dandelion itu akan sampai padamu. Kuharap kau tahu aku di sini menunggumu, merindukanmu, dan mencintaimu. Waktu yang terus berlalu mengubah segalanya. Namun perasaanku masih sama. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Di tengah hamparan dandelion putih berhiaskan sinar mentari senja, aku menunggumu." Yoshino Izumi membenci segalanya tentang Jepang. Jika bukan karena permintaan Sang Ayah, pemuda itu tak pernah ingin kembali ke sana. Bagi Izumi tempat itu hanya menyimpan kenangan buruk akan pengkhianatan seorang wanita yang pernah dipanggilnya "Ibu" dengan sepenuh hati. Namun pertemuannya dengan seorang gadis berambut silver, perlahan membuat Izumi melupakan perasaan itu. Di saat yang sama tanpa Izumi sadari, ternyata ada sosok lain yang juga berharap untuk bertemu kembali dengan dirinya.”
1 Bab 1 Back to Japan2 Bab 2 Arrival3 Bab 3 Jangan Pedulikan Masalahku4 Bab 4 Apa Aku Cemburu Dengan Saudara Tiriku 5 Bab 5 Hari Pertama di Sekolah Baru (1)6 Bab 6 Hari Pertama di Sekolah Baru (2)7 Bab 7 Kami-sama, Dia Sangat Keren!8 Bab 8 Sunset & Ramen9 Bab 9 Ryuzaki's Crush10 Bab 10 Ujian11 Bab 11 Boling12 Bab 12 Kenangan yang Tak Ingin Kuingat13 Bab 13 Obentō14 Bab 14 Sport Day (1)15 Bab 15 Sport Day (2)16 Bab 16 Sport Day (3)17 Bab 17 Ikan yang Mengikuti Arus Air18 Bab 18 Hadiah Untuk Pemenang19 Bab 19 Pesta Barbeku20 Bab 20 Aku Tak Bisa Mengingat Wajahnya21 Bab 21 Saingan 22 Bab 22 Strange Feeling23 Bab 23 Obrolan Di Siang Hari24 Bab 24 Perhatian yang Diinginkan