Gadis Yang Terjamah

Gadis Yang Terjamah

sittanyafahmi

5.0
Komentar
474
Penayangan
32
Bab

Menjadi orang yang berpendidikan dan terpandang di masyarakat merupakan impian semua orang termasuk Marlina. Untuk meraih cita-cita itu, Marlina harus membayarnya dengan kehilangan keperawanannya dan menghapus impiannya. Terbuang dan dikucilkan dari masyarakat merupakan konsekuensi yang harus Marlina terima. Merantau ke kota menjadi pilihan Marlina meski harus masuk dalam dunia hitam penuh lika-liku. Narkoba semakin menjerumuskan Marlina. Marlina yang cantik dan keahliannya dalam mengedarkan barang haram membuat Marlina jadi rebutan para bandar narkoba. Hingga suatu saat Marlina ingin bertaubat dan hijrah. Tapi keinginan baiknya tidak mudah untuk dijalankan karena banyak bandar narkoba yang sengaja menjebaknya sampai harus mendekam di penjara. Ketika di dalam penjara, Marlina banyak belajar agama, namun ketika keluar dari penjara, Marlina mendapat penolakan yang keras di mata masyarakat. Lalu apakah Marlina akan masuk dunia narkoba lagi atau meneruskan hijrahnya?

Bab 1 Hari Yang Kelam

Marlina mempercepat langkahnya ketika mendengar deru sepeda motor semakin mendekat. Sepeda motor kini sejajar berjalan di sampingnya.

"Hai Adik manis, kok cepet banget jalannya?" tanya salah satu dari mereka.

"Ikutan naik motor bareng yuk!" ajak yang lainnya.

Dua kakak kelasnya itu tertawa terbahak-bahak. Marlina acuh sambil mengeratkan tali tas punggungnya di dada. Dengan berlari kecil Marlina berusaha menjauh dari sepeda motor itu.

Marlina kini sekolah di SMA yang letaknya sangat jauh dari kampungnya. Banyak orang di kampungnya yang tidak menyelesaikan sekolah SMA karena letaknya yang sangat jauh. Selain itu, akses jalan umum harus memutar ke arah kecamatan. Rute terdekat hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki dan harus menyebrangi sungai.

Marlina hanya seorang diri ketika berangkat dan pulang sekolah, melewati berkilo-kilo kebun karet dan sungai, ia tak gentar. Namun nyali Marlina sangat ciut kali ini. Dua pemuda itu menatapnya dengan penuh nafsu. Beberapa langkah lagi Marlina menyeberangi sungai.

Celakanya Marlina justru terpeleset sehingga seluruh tubuhnya tercebur ke air. Ketika Marlina berdiri, tampak baju basahnya melekat ke seluruh tubuh.

"Ha ... ha ... ha ... pemandangan yang bagus sekali!" ucap salah satu pemuda yang naik motor.

Dua pemuda itu segera turun dari motornya dan mendekati Marlina. Marlina berusaha berlari untuk menghindari kedua pemuda itu, tapi dia malah terpeleset lagi. Marlina menangis sambil merintih, ternyata kakinya berdarah akibat tergores batu di sungai.

Kedua pemuda itu berebut menjamah tubuh Marlina. Marlina hanya bisa menangis sambil memukul-mukul tangan kedua orang itu, tapi tenaga keduanya lebih besar daripada pukulan Marlina.

Tiba-tiba terdengar bunyi petir menyambar diiringi dengan hujan yang sangat deras. Gunawan salah satu dari pemuda itu melihat ke arah langit dan merasa ketakutan. "Jat, ayo pergi! Petir ini peringatan dari yang di Atas."

"Kamu takut? Pergi aja duluan, tanggung nih!"

Gunawan berlari menjauh lalu menaiki sepeda motornya dan menjauh. Tinggallah Marlina yang sudah koyak bajunya dengan Jatmiko. Dengan ganas Jatmiko menikmati tubuh Marlina yang sudah melemah. Hujan deras menjadi saksi kebejatan kakak kelas Marlina. Darah mengalir dari kedua pahanya terbawa air hujan. Tak seorang pun mendengarkan rintihan Marlina di tengah kebun karet.

Jatmiko mengatur nafasnya lalu terlentang menghadap ke langit, merasakan tetesan air ke tubuhnya. Sebelum Marlina bangun dari posisinya, Jatmiko terlebih dulu mengenakan pakaiannya dan berlalu meninggalkan Marlina seorang diri di tengah kebun karet. Marlina tak kuasa bergerak, tubuhnya terasa sakit semua, terlebih hatinya yang hancur berkeping-keping.

Marlina teringat nasehat kedua orang tuanya yang melarang sekolah di kecamatan karena jalannya jauh dan sepi. Hal inilah yang paling ditakuti kedua orang tuanya.

Ayah dan ibunya hanya memiliki seorang anak yaitu Marlina. Harapan keduanya berujung pada Marlina. Namun kejadian ini membuat Marlina malu, takut dan kecewa untuk pulang ke rumahnya. Marlina takut kalau Ayah dan Ibunya marah atau bahkan sedih mengetahui keadaannya saat ini.

Marlina merasa benar-benar hancur. Sekujur badannya terasa sakit. Dia berharap mati untuk menutup segala peristiwa kelam hari ini. Matanya tertutup bersama gelegar petir yang tak kunjung henti seakan langit marah dan menghukumnya.

Hari semakin gelap ketika Marlina tersadar bahwa hujan telah berhenti mencurahkan kemarahan langit. Marlina tidak dapat menemukan di mana bajunya, dia menangis dan berusaha membenturkan kepalanya ke batu besar. Dari kejauhan tampak sorotan lampu senter.

"Hei, siapa kamu?" ucap orang itu mendekati Marlina.

"Aku gak suci lagi, biarkan aku mati," isak Marlina.

"Ya Allah, Nduk. Mana bajumu?" tanya orang kedua sambil menyorot ke sekelilingnya. Tak ada baju di sekitar gadis itu, mungkin sudah hanyut terbawa air sungai.

"Ini, pake sarung saya dulu," tawar bapak tadi sambil melepas sarungnya dan memakaikannya ke Marlina.

Marlina hanya bisa pasrah dililitkan sarung ke badannya, lalu dituntun menjauhi sungai.

"Cari ikannya nanti aja, Pak. Bawa anak ini pulang dulu, kasian. Kayaknya dari tadi dia kehujanan." Kedua orang itu berjalan pelan sambil menuntun Marlina. Lalu mereka berjalan pelan ke arah kampung.

"Assalamualaikum, Bu. Kami gak jadi nyari ikan," ucap bapak tadi seraya memasuki rumahnya. Tampak keluar seorang ibu tua dan melihat ke arah kami. Marlina kembali meneteskan air mata dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

"Hah, siapa ini, Pak?" tanya Ibu itu.

"Tadi kami menemukan dia di sungai sebelum nyari ikan, mau bunuh diri, gak pake baju, jadi aku pinjami sarungku," jawab si bapak.

"Ya Allah kasian, sini Nduk sama Ibu." Ibu itu menggiring Marlina ke kamar, "Kamu pakai ini ya, Ibu buatkan teh hangat dulu," ucap Ibu itu lalu berlalu ke dapur.

Setelah mengganti pakaiannya, Marlina duduk di pinggir dipan sambil menangis lagi.

"Minum ini dulu ya, Nduk," ibu itu menyodorkan segelas teh hangat dan sepiring nasi dan telor goreng. Marlina makan sambil menangis terharu, masih ada orang baik di sini yang melindunginya.

Marlina kembali teringat kedua orang tuanya, bila dia pulang ke rumahnya, apa kedua orang tuanya menyambut hangat seperti ini, atau bahkan membuang dan mengucilkannya.

Tangis Marlina semakin kencang mendapati ibu itu mendekap tubuhnya dengan kasih sayang, seorang ibu yang baru dikenalnya memberikan kasih sayang setelah tubuh dan hatinya hancur.

Setelah agak mereda tangis Marlina, Ibu itu perlahan menyuapi Marlina sedikit demi sedikit. Perut Marlina kini telah kenyang, kantuk pun menyerang. Dia merebahkan tubuhnya di atas dipan dan menutup matanya kelelahan.

Ketika sinar mentari menembus di celah-celah jendela, Marlina merasakan asap dari kayu bakar di dapur. Lalu dia keluar kamar dan mendekati ibu itu, "Bu, terima kasih semuanya."

"Owalah, dah bangun, Nduk? Kamu mau ke kamar mandi dulu? Itu di luar pintunya."

Marlina mengangguk pelan, rasa nyeri di kemaluannya membuat Marlina kembali meneteskan air matanya. Aku telah rusak, aku sudah tidak suci lagi, ucap Marlina sambil menangis. Seringai wajah kakak kelasnya membuatnya bergidik.

"Nduk, sudah mandinya?" suara Ibu itu menyadarkan Marlina. Marlina segera menyelesaikan mandinya lalu keluar dari kamar mandi.

Ibu pemilik rumah menepuk dipan kayu di sebelahnya mengajak Marlina duduk dan menikmati sarapan. Marlina menyantap dengan lahap nasi goreng yang masih mengepul itu.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Ibu itu membelai kepalanya dengan lembut.

"Namamu siapa?"

"Marlina," jawabnya pelan.

"Ibu antar kamu pulang ya?"

Marlina menggeleng pelan, lalu menitikkan air mata kembali.

"Bu... Ibu dimana?" teriak dari arah depan.

"Aku di dapur, Pak!" jawab si ibu dengan berteriak juga.

Muncul bapak yang semalam diikuti ayahnya Marlina di belakangnya. Ayahnya segera berlari dan mendekap dan mencium Marlina dengan penuh kasih sayang, tak lama kemudian ibu dan neneknya Marlina mendekat dan ikut memeluk Marlina.

"Maafkan Ayah, Mar. Ayah tidak bisa menjaga kamu!"

Pelukan ibu melemah dan kemudian ambruk di tengah-tengah kami.

"Bu ... Ibu kenapa, ayo bangun, jangan pingsan lagi!" Ayah menggoyang-goyangkan tubuh Ibu.

Ibu pemilik rumah memberikan minyak kayu putih dan memborehkannya di kening ibunya Marlina. Ibunya Marlina tak bergeming.

"Ibu kenapa?" isak Marlina bertanya pada semua orang yang ada di situ.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh sittanyafahmi

Selebihnya

Buku serupa

Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

kodav
5.0

WARNING 21+‼️ (Mengandung adegan dewasa) Di balik seragam sekolah menengah dan hobinya bermain basket, Julian menyimpan gejolak hasrat yang tak terduga. Ketertarikannya pada Tante Namira, pemilik rental PlayStation yang menjadi tempat pelariannya, bukan lagi sekadar kekaguman. Aura menggoda Tante Namira, dengan lekuk tubuh yang menantang dan tatapan yang menyimpan misteri, selalu berhasil membuat jantung Julian berdebar kencang. Sebuah siang yang sepi di rental PS menjadi titik balik. Permintaan sederhana dari Tante Namira untuk memijat punggung yang pegal membuka gerbang menuju dunia yang selama ini hanya berani dibayangkannya. Sentuhan pertama yang canggung, desahan pelan yang menggelitik, dan aroma tubuh Tante Namira yang memabukkan, semuanya berpadu menjadi ledakan hasrat yang tak tertahankan. Malam itu, batas usia dan norma sosial runtuh dalam sebuah pertemuan intim yang membakar. Namun, petualangan Julian tidak berhenti di sana. Pengalaman pertamanya dengan Tante Namira bagaikan api yang menyulut dahaga akan sensasi terlarang. Seolah alam semesta berkonspirasi, Julian menemukan dirinya terjerat dalam jaring-jaring kenikmatan terlarang dengan sosok-sosok wanita yang jauh lebih dewasa dan memiliki daya pikatnya masing-masing. Mulai dari sentuhan penuh dominasi di ruang kelas, bisikan menggoda di tengah malam, hingga kehangatan ranjang seorang perawat yang merawatnya, Julian menjelajahi setiap tikungan hasrat dengan keberanian yang mencengangkan. Setiap pertemuan adalah babak baru, menguji batas moral dan membuka tabir rahasia tersembunyi di balik sosok-sosok yang selama ini dianggapnya biasa. Ia terombang-ambing antara rasa bersalah dan kenikmatan yang memabukkan, terperangkap dalam pusaran gairah terlarang yang semakin menghanyutkannya. Lalu, bagaimana Julian akan menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan beraninya? Akankah ia terus menari di tepi jurang, mempermainkan api hasrat yang bisa membakarnya kapan saja? Dan rahasia apa saja yang akan terungkap seiring berjalannya petualangan cintanya yang penuh dosa ini?

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku