Cinta Rahasia Berakhir Api Dendam

Cinta Rahasia Berakhir Api Dendam

Hazel Stone

5.0
Komentar
3.3K
Penayangan
22
Bab

Aku adalah "Gadisku" milik Raja, seorang CEO dingin yang hanya menunjukkan kehangatannya di penthouse mewah kami. Aku percaya cinta rahasia kami adalah segalanya. Hingga aku menemukan pesan di ponselnya dari wanita lain: "Sayang, rencana balas dendam kita akan berhasil." Ternyata, aku hanyalah pion. Dia merekam video intim kami, membiarkan kekasihnya menghancurkan satu-satunya peninggalan ayahku, dan menjebakku hingga masuk penjara. Di dalam sel yang dingin, aku disiksa tanpa ampun atas perintahnya. Pria yang dulu kuanggap belahan jiwa, ternyata adalah iblis yang menghancurkanku hingga tak bersisa. Keluar dari neraka itu, aku tidak lagi menangis. Aku kembali ke penthouse-nya, bukan untuk memohon, tapi untuk membakarnya hingga menjadi abu.

Protagonis

: Sarita dan Irvan Adiningrat

Bab 1

Aku adalah "Gadisku" milik Raja, seorang CEO dingin yang hanya menunjukkan kehangatannya di penthouse mewah kami. Aku percaya cinta rahasia kami adalah segalanya.

Hingga aku menemukan pesan di ponselnya dari wanita lain: "Sayang, rencana balas dendam kita akan berhasil."

Ternyata, aku hanyalah pion. Dia merekam video intim kami, membiarkan kekasihnya menghancurkan satu-satunya peninggalan ayahku, dan menjebakku hingga masuk penjara.

Di dalam sel yang dingin, aku disiksa tanpa ampun atas perintahnya.

Pria yang dulu kuanggap belahan jiwa, ternyata adalah iblis yang menghancurkanku hingga tak bersisa.

Keluar dari neraka itu, aku tidak lagi menangis. Aku kembali ke penthouse-nya, bukan untuk memohon, tapi untuk membakarnya hingga menjadi abu.

Bab 1

Sarita POV:

Aku tahu ini gila, tapi saat paman memaksaku menikah dengan Irvan, aku masih berpikir Raja akan datang menyelamatkanku. Bodohnya aku, karena saat itu, dia sedang sibuk menyusun skema balas dendamnya, dan aku hanyalah pion dalam permainannya. Setiap sentuhan, setiap bisikan mesra, semua itu hanya bagian dari rencana jahat yang dibangun di atas kehancuranku.

Hubungan kami adalah rahasia, sebuah pulau kecil di tengah badai kehidupan korporat. Raja memanggilku "Gadisku." Itu adalah sebutan yang membuatku merasa istimewa, seolah aku adalah satu-satunya miliknya. Kami bertemu di penthouse miliknya yang mewah, jauh dari mata publik. Sebuah tempat di mana arsitek junior sepertiku bisa melupakan sejenak tentang cetak biru dan deadline.

Raja, CEO konglomerat itu, selalu terlihat dingin di depan orang lain, tapi bersamaku, dia adalah lautan gairah. Mata hitamnya yang tajam bisa melunakkan setiap inci kulitku hanya dengan satu tatapan. Tangannya yang biasanya menggenggam kendali bisnis, di antara helaan napas kami, tahu persis bagaimana membuatku meleleh. Aku mencintainya dengan gila, percaya bahwa di balik topeng CEO yang dingin itu, ada hati yang tulus untukku.

Aku masih ingat malam itu dengan jelas. Aroma tubuhnya yang maskulin bercampur dengan parfum mahal yang selalu dipakainya. Jari-jarinya menyusuri tulang punggungku, menciptakan sensasi panas yang membuatku merinding. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam momen itu, dalam pelukan pria yang kupercaya sebagai belahan jiwaku.

"Kau milikku, Sarita," bisiknya di telingaku, suaranya serak dan dalam, seperti melodi yang hanya bisa kudengar. Kata-kata itu, dulu adalah janjinya untuk kami. Sekarang, aku tahu itu adalah belenggu.

Pagi itu, udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk kulitku. Aku membuka mata perlahan, menemukan Raja sudah duduk di tepi ranjang, mengenakan setelan jasnya yang rapi. Rambut hitamnya yang selalu tertata rapi kini sedikit berantakan, menambahkan pesona liar padanya. Dia tampak seperti baru saja kembali dari medan perang, siap menaklukkan dunia. Tapi aku tahu, dia baru saja menaklukkanku.

Aku mengulurkan tangan, ingin menyentuh pipinya, tapi dia sudah berdiri, bergerak menjauh. Selalu ada jarak antara kami, bahkan setelah malam yang penuh keintiman. "Aku ada rapat penting," katanya, suaranya datar, tanpa emosi yang baru saja kami bagi. "Aku akan pergi setelah kau bangun."

Aku merasa sedikit kecewa. Aku ingin dia tinggal lebih lama, aku ingin sarapan bersamanya, atau setidaknya, aku ingin dia menciumku selamat tinggal. Tapi dia tidak pernah begitu. Dia selalu menjaga jarak, menjaga profesionalitasnya, bahkan dalam momen paling pribadi kami. Aku menghela napas, mencoba memahami. Dia adalah Raja Raden, pria yang hidupnya diatur oleh jadwal dan prioritas. Aku hanyalah... "Gadisku."

"Aku mengerti," kataku, berusaha agar suaraku terdengar normal. Aku tahu dia tidak suka jika aku menunjukkan kelemahan atau ketergantungan. "Hati-hati di jalan."

Dia hanya mengangguk, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum dia menghilang, dia berhenti. "Jangan lupa, kau ada janji makan malam dengan pamanmu malam ini."

"Paman Wibisono?" Aku mengerutkan kening. Paman Wibisono jarang sekali mengundangku makan malam, kecuali ada hal penting. Biasanya, itu berita buruk seputar bisnis keluarga yang sedang sekarat. "Tumben sekali."

Raja tidak menjawab. Dia hanya menoleh sedikit, menatapku dengan tatapan kosong, seolah aku hanyalah sebuah objek yang terdaftar dalam daftar tugasnya. "Jangan terlambat."

Lalu dia pergi.

Aku bangkit dari ranjang, merasakan sisa-sisa kehangatan tubuhnya yang tertinggal di sprei sutra. Aku berjalan ke jendela besar, menatap kota yang baru bangun dari tidurnya. Langit masih kelabu, tapi gedung-gedung pencakar langit mulai memantulkan cahaya matahari yang samar.

Malam itu, di restoran mewah yang terasa pengap, Paman Wibisono dan Bibi Handayani duduk di depanku, menyeruput kopi dengan canggung. Putri mereka, sepupuku, juga ada di sana. Wajah mereka terlihat tegang, tapi ada kilatan antisipasi di mata mereka. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Sarita," Paman Wibisono memulai, suaranya berat, "bisnis kita sedang dalam masalah besar."

Aku sudah menduga ini. Perusahaan arsitektur mendiang ayahku, yang kini dipegang Paman Wibisono, memang sedang kesulitan. Aku telah mencoba menawarkan ide-ide baru, tapi Paman selalu menolak, terlalu sibuk dengan proyek-proyeknya sendiri yang seringkali tidak berhasil.

"Jadi?" tanyaku, mencoba terdengar tenang.

"Ada jalan keluar," Bibi Handayani menyela, matanya berbinar. "Perusahaan Adiningrat, mereka ingin berinvestasi."

Perusahaan Adiningrat? Mereka adalah raksasa teknologi, jauh di luar liga kami. "Apa syaratnya?" tanyaku, tahu bahwa tidak ada makan siang gratis di dunia ini.

Paman Wibisono menghela napas panjang, menatapku seolah aku adalah korban yang harus dia korbankan. "Mereka ingin kau menikahi putra mereka, Irvan Adiningrat."

Mendengar kata-kata itu, duniaku runtuh. Pernikahan bisnis? Aku? Aku yang mencintai Raja, yang memimpikan masa depan bersamanya? Mereka bahkan tidak tahu tentang Raja. Mereka hanya melihatku sebagai aset, sebuah pion yang bisa mereka tukar untuk menyelamatkan bisnis keluarga.

"Tidak," kataku, suaraku nyaris berbisik. "Aku tidak bisa."

Paman Wibisono membanting sendoknya. "Kau tidak punya pilihan, Sarita! Ini demi keluarga! Demi nama baik ayahmu!"

Bibi Handayani menatapku dengan tatapan memohon, tapi aku tahu itu hanya sandiwara. Dia selalu membela putrinya, selalu menganggapku sebagai beban. Mereka tidak pernah benar-benar menyayangiku setelah orang tuaku meninggal. Aku hanya alat bagi mereka.

Aku menatap mereka satu per satu, wajah-wajah yang seharusnya menjadi keluargaku. Mereka rela menjualku demi uang. Kemarahan membuncah dalam diriku. Tapi kemudian, gambaran Raja muncul di benakku. Janjinya, bisikannya, sentuhannya. Dia akan mengerti. Dia akan menyelamatkanku.

Aku menghela napas, menatap Paman Wibisono. "Baiklah," kataku, membuat mereka semua terkejut. "Aku akan melakukannya. Tapi ada syaratnya."

Wajah Paman Wibisono berubah girang. "Apa pun, Sarita! Apa pun!"

"Aku ingin kendali penuh atas proyek-proyek arsitektur yang kumulai," kataku tegas. "Dan aku ingin bagian dari perusahaan, bukan hanya gaji. Aku ingin menjadi pembuat keputusan."

Paman Wibisono ragu sejenak, tapi melihat kilatan di mataku dan urgensi di wajahnya, dia akhirnya mengangguk. "Baiklah. Ini akan jadi milikmu."

Aku tahu ini adalah kesepakatan dengan iblis, tapi aku harus menyelamatkan apa pun yang bisa kuselamatkan. Mungkin ini satu-satunya cara untuk memberdayakan diriku, untuk memiliki sesuatu yang benar-benar menjadi milikku.

Pulang dari pertemuan itu, pikiranku kacau balau. Aku langsung menghubungi Raja. Aku ingin memberitahunya, ingin dia meyakinkanku bahwa dia akan datang, bahwa dia akan menghentikan semua ini. Tapi teleponnya tidak diangkat. Berkali-kali.

Keesokan harinya, saat Raja kembali ke penthouse, aku menatapnya dengan tatapan penuh harapan. Aku ingin mengatakan semuanya, tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokanku. Dia tampak lelah, matanya redup. Dia melemparkan ponselnya ke meja samping tempat tidur. Sebuah notifikasi muncul di layar yang menyala.

Sebuah pesan. Dari Natalie Anggawijaya.

Aku mendekat, jantungku berdebar kencang. Aku tahu Natalie. Dia adalah mantan rekan bisnis Raja, wanita yang selalu disebut-sebut sebagai 'cinta sejati' Raja oleh media, meskipun aku tidak pernah melihat bukti apa pun.

Pesan itu berbunyi: "Jangan khawatir, sayang. Rencana balas dendam kita akan berhasil."

Duniaku berhenti berputar.

Balas dendam?

Air mataku jatuh tanpa kusadari. Semua keintiman, semua bisikan, semua kata-kata manis yang dia katakan padaku... apakah itu semua hanya bagian dari rencana balas dendam? Aku adalah pion, bukan kekasih. Aku adalah alat, bukan cinta. Jari-jariku gemetar saat aku menyentuh layar ponselnya, mencari kebenaran yang mengerikan. Ada foto-foto Natalie, yang dia simpan di folder tersembunyi. Foto-foto mereka berdua, berpelukan, tertawa. Beberapa dari foto-foto itu diambil saat aku bersamanya. Saat dia memanggilku "Gadisku."

Semua kenangan kami, momen-momen yang kuanggap sakral, satu per satu terlintas dalam benakku, berubah menjadi racun yang membakar. Pernikahan ini, perjodohan ini, semua keputusasaan ini, apakah ini yang dia inginkan? Apakah ini bagian dari skemanya?

Aku menatap Raja, yang masih tertidur pulas di ranjang. Wajahnya terlihat damai, tapi di mataku, dia adalah monster. Monster yang telah menghancurkan hatiku, jiwaku, dan segalanya yang kupercayai. Aku merasakan hawa dingin yang menusuk jauh ke dalam tulangku. Bukan hanya karena pendingin ruangan, tapi karena kebenaran yang baru saja kuungkap.

Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku harus tahu lebih banyak. Aku harus tahu sejauh mana kebohongan ini.

Aku mengambil kunci mobilku dan keluar dari penthouse, tanpa suara. Aku harus mencari Natalie. Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri.

Aku mengemudi tanpa tujuan, mengikuti instingku. Aku tahu Natalie sering mengunjungi sebuah galeri seni di pusat kota. Aku memarkir mobilku di kejauhan, jantungku berdegup kencang di dadaku. Apakah aku siap untuk apa yang akan kutemukan?

Aku melihatnya. Natalie, berdiri di luar galeri, tertawa riang. Dan di sampingnya, Raja. Dia memegang tangan Natalie, tersenyum padanya dengan senyum yang tidak pernah kutemukan. Senyum yang penuh kelembutan, penuh kasih sayang. Senyum yang kuinginkan untuk diriku sendiri.

Tanganku mengepal erat di kemudi. Semua kenangan manis yang kuanggap nyata, kini berubah menjadi abu. Perasaanku hancur berkeping-keping. Aku merasa ditikam, dihantam, dan diludahi. Rasa sakit itu begitu nyata, begitu membakar, sehingga aku tidak bisa bernapas. Aku hanya bisa duduk di sana, di dalam mobil, menyaksikan pria yang sangat kucintai, pria yang telah menghancurkanku, berbagi tawa dan kelembutan dengan wanita lain. Wanita yang menjadi alasan di balik semua kesakitanku.

Aku ingin berteriak, aku ingin menangis, aku ingin menghancurkan segalanya. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa duduk di sana, di dalam mobil, menyaksikan pria yang sangat kucintai, pria yang telah menghancurkanku, berbagi tawa dan kelembutan dengan wanita lain. Wanita yang menjadi alasan di balik semua kesakitanku.

Aku mengingat kembali pertemuan pertama kami. Aku adalah arsitek muda yang bersemangat, penuh impian. Raja adalah klien besar, konglomerat yang datang dengan aura kekuasaan dan karisma. Dia melihatku, bukan hanya sebagai arsitek, tapi sebagai sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa dia kendalikan.

Awalnya, aku memberontak. Aku menolak pesonanya, aku menolak kekuatannya. Tapi dia gigih. Dia memburuku dengan segala cara, membuatku merasa istimewa, membuatku merasa dicintai. Aku jatuh cinta padanya, dengan semua janji dan rayuannya. Aku menyerahkan hatiku, jiwaku, dan segalanya padanya.

Dan sekarang, semua itu hanyalah kebohongan. Sebuah skema balas dendam. Sebuah permainan yang dia mainkan dengan hatiku sebagai taruhannya. Aku tidak pernah menjadi apa pun selain pion.

Aku menatap Natalie dan Raja sekali lagi. Mereka tampak sempurna bersama. Rasanya seperti seluruh duniaku hancur, dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya. Aku merasa hampa, kosong, dan mati rasa.

Pernikahan bisnis dengan Irvan Adiningrat? Mungkin itu adalah takdirku. Mungkin ini adalah cara semesta menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak pernah benar-benar memiliki apa pun. Aku harus menerima takdir itu, dan aku harus bertahan. Aku akan menerima pernikahan itu, tapi tidak lagi dengan harapan akan cinta, melainkan dengan tujuan untuk melindungi diriku sendiri.

Aku meninggalkan tempat itu, membiarkan air mataku membasahi pipi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku tahu satu hal: Sarita yang dulu, yang bodoh dan naif, yang mencintai Raja dengan sepenuh hati, telah mati. Dan yang tersisa hanyalah Sarita yang baru. Sarita yang dingin, Sarita yang hampa, Sarita yang akan melakukan apa pun untuk bertahan hidup.

Aku membiarkan mobilku melaju, meninggalkan Raja dan Natalie di belakangku, bersama dengan semua kenangan pahit yang takkan pernah bisa kuhapus. Ini adalah awal dari babak baru dalam hidupku, babak yang penuh dengan rasa sakit, pengkhianatan, dan mungkin, sebuah kesempatan untuk menemukan diriku yang sebenarnya.

"Sudah cukup," bisikku pada diriku sendiri. "Ini sudah cukup."

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

MENIKAH DENGAN SULTAN

MENIKAH DENGAN SULTAN

Evie Yuzuma
5.0

“Nay! rempeyek kacang apaan kayak gini? Aku ‘kan bilang mau pakai kacang tanah, bukan kacang hijau!” pekik Natasya. Dia membanting bungkusan rempeyek yang sudah Rinai siapkan untuknya. Natasya berniat membawanya ke rumah calon mertuanya dan mengatakan jika itu adalah rempeyek buatannya. “Maaf, Sya! Bahan-bahannya habis kemarin. Aku uangnya kurang, Sya! Uang yang kamu kasih, sudah aku pakai buat berobat ibu. Ibu lagi sakit,” getar suara Rinai sambil membungkuk hendak memungut plastik yang dilempar kakak tirinya itu. Namun kaki Natasya membuat pergerakannya terhenti. Dia menginjak-injak plastik rempeyek itu hingga hancur. *** “Aku mau beli semuanya!” ucap lelaki itu lagi. “T—tapi, Bang … yang ini pada rusak!” ucap Rinai canggung. “Meskipun bentuknya hancur, rasanya masih sama ‘kan? Jadi aku beli semuanya! Kebetulan lagi ada kelebihan rizki,” ucap lelaki itu kembali meyakinkan. “Makasih, Bang! Maaf aku terima! Soalnya aku lagi butuh banget uang buat biaya Ibu berobat!” ucap Rinai sambil memasukkan rempeyek hancur itu ke dalam plastik juga. “Aku suka perempuan yang menyayangi ibunya! Anggap saja ini rejeki ibumu!” ucap lelaki itu yang bahkan Rinai sendiri belum mengetahui siapa namanya. Wira dan Rinai dipertemukan secara tidak sengaja, ketika lelaki keturunan konglomerat itu tengah memeriksa sendiri ke lapangan tentang kecurigaan kecurangan terhadap project pembangunan property komersil di salah satu daerah kumuh. Tak sengaja dia melihat seoarng gadis manis yang setiap hari berjualan rempeyek, mengais rupiah demi memenuhi kebutuhannya dan sang ibu. Mereka mulai dekat ketika Rinai menghadapi masalah dengan Tasya---saudara tirinya yang seringkali menghina dan membullynya. Masa lalu orang tua mereka, membuat Rinai harus merasakan akibatnya. Harum---ibunda Rinai pernah hadir menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tua Tasya. Tasya ingin menghancurkan Rinai, dia bahkan meminta Rendi yang menanangani project pembangunan property komersil tersebut, untuk segera menggusur bangunan sederhana tempat tinggal Rinai. Dia tak tahu jika lelaki yang menyamar sebagai pemulung itu adalah bos dari perusahaan tempat kekasihnya bekerja. Wira dan Rinai perlahan dekat. Rinai menerima Wira karena tak tahu latar belakang lelaki itu sebenarnya. Hingga pada saatnya Wira membuka jati diri, Rinai benar-benar gamang dan memilih pergi. Dia merasa tak percaya diri harus bersanding dengan orang sesempurna Wira. Wira sudah frustasi kehilangan jejak kekasih hatinya. Namun tanpa disangka, takdir justru membawanya mendekat. Rinai yang pergi ke kota, rupanya bekerja menjadi ART di rumah Wira. Bagaimanakah kisah keduanya? Akankah Rinai kembali melarikan diri ketika tahu jika majikannya adalah orang tua Wira?

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku