icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Titik Noda

Bab 5 Sudah Berbeda

Jumlah Kata:1516    |    Dirilis Pada: 24/04/2022

or

h minta dikosongkan bes

a. Kemudian telepon dari Mas D

Mas?" Aku bersuara te

Mana bisa April pindah secepat it

aru? Okelah kasihan juga

anniversary 15 tahun pernikahan buat istrinya. So sweet, kan? Oh

u ngomong sekarang?"

tahu Mas punya saham di Batu Bara Adyaksa, tapi aku gak p

an lain, yang dulu mereka sembunyikan satu persatu mereka buka. Dulu takut aku sakit hati atau memint

belakangku. Menyadarkan diri tak cukup dalam mengenal sosoknya walaupun puluhan tahu

k. Sebenarnya mau

ana bisa terlupa, bukann

, Mas Danang. Aku sudah lebih

sekarang, seminggu pasca menikah lagi harinya banyak di sana. Kalaupun ke sini hany

gat manis akan sayang kalau

tu. Aku yang tengah melihat surat kerjasama dengan perusahaan pengolahan kayu l

nya lembut. "Boleh aja, Sayang. Kenap

g, tapi terasa menggor

banget!" Tubuhku dipeluk da

u segera menelepon seseora

Jemput aku, ya! Oh Ayah

ela. Denok ... masih b

nyeri teras

-anak dan itu yang membuat mereka membuka diri menerima orang itu sebagai istri bapaknya. Meski diminta suamiku memanggil Bunda, mereka masih menolak,

eh sayang Kak April seperti

ih?" Naya pun bertanya. Me

ngan bola mata ter

u baik-baik saja. Itu saat pertama mereka izin, ikut nginap di rumah baru pap

pecah sekuatnya, mengeluarkan semua sesak yang terasa menekan ulu hati. Ya Rab

tu tahu aku membekukan keuangan khusus untuk bisnis, tak dipakai untuk keperluan pribadi ap

kami berdua sebagai pemilik juga bergaji, seperti karyawan, itu kulakukan sejak awal dulu agar

i April, dan itu kuhentikan bulan lalu, membuatnya kecewa kemud

lain tetap aku juga harus melihat, survey lokasi hingga membuat pertemuan dengan beberapa perusahaan untuk memulai kerjasama.

mani mereka. Tiga kepala putriku dengan tiga keinginan berbeda sulit kupenuhi. Belum lagi curhatan

aku atau ke mama tirinya, sampai kondisi u

get, mulai lupa

katanya, "Lebih senang di rumah Kak April. Kita

oleh anak sendiri

tabil. Mama ini usaha sendiri, badan remuk juga gak kuat sana

yang menumpuk, tapi kekuatan tersembunyi itu muncul sa

ap kugantung, meski im

-an juta. Teman-teman yang ceritakan itu, karena selama delapan bulanan ini kami tak pernah bertemu muka. Luka itu terasa mungki

akaiannya modis kurang bahan. Kulitnya juga ma

eman-teman pasti ada menyer

h, Aya. Nanti dia

k biar Mas Danang gak nyari yang baru lagi," timpalku membawa lar

jakan istrinya itu dengan sangat berlebihan. Biarlah aku

eng hati permintaan Kak Naya, ini kare ayam pesa

ki ngilerr gak nih?" Almira yang tengah

nan menu para gadis yang tadi gotong royong bersih-bersih rumah. Lihat

nya membayar waktu yang sebel

pasti enaak bangeet." Jem

, masih pakai celemek di

Ayo makan. Mama ma

rbagi cerita seru. Harusnya makan itu diam, tapi entah kenap

yang belum selesai dibahas, termasuk cowok yang menyukai

g yang kami kenal masuk dari pintu

reka berdiri, bagai anak keci

ang, meraih dan mencium

akan bel

u segera mengambi

utarik kursi untuknya, m

ja," pintanya saa

t duduk, menemaninya. Anak-anak cukup banyak bertanya kabar bap

ban kami. Ia terlihat tak berselera mengunyah makanan, tapi tetap menghabiskan y

ngar keramaian putri-putriku, tapi otak terba

sikap humble dan ramah modal utamanya, sampai aku yang pendiam ikut terbawa gemar berteman hingga sekarang. Lalu aku si pengatu

iaya kesehatan dan pendidikan anak-ana

. aku ma

lai bicara serius saat ana

ang aku menahan diri unt

.." Ia menggantung kali

ng lama

u pabrik bata d

p

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Titik Noda
Titik Noda
“"Aku khilaf, Dik ...." "Khilaf, tapi sampai sejauh itu, Mas ...?" "Maaf ...." Hanya itu yang terus suamiku ucap. Maaf, maaf, dan khilaf, seolah tak ada kata lain yang sanggup keluar dari mulutnya. Ia tertunduk, pun matanya basah. Lelakiku terisak. Aku tak bisa memahami apa yang ia rasakan sebenarnya. Mas, sadarkah kau sudah torehkan luka teramat dalam, yang sekarang menganga di hati ini. Lupakah saat kau pada anak kampung itu kita jemput, dengan janji akan menyekolahkannya? Menolong mengangkat derajat keluarganya? Apa yang sampai membawamu terjerumus begitu dalam seperti ini? Dosa apa yang kami buat sampai menanggung ujian ini, ya Rabb ...! * Kisah ini diangkat dari kejadian nyata yang sudah dicampur fiksi. Sarat akan hikmah, juga mengingatkan akan hukum tabur tuai dari perbuatan kita. Apa yang ditabur pasti akan dituai hasilnya cepat atau lambat. Selamat membaca.”
1 Bab 1 Pengakuan 2 Bab 2 Permintaannya Poligami 3 Bab 3 Rencanaku4 Bab 4 Menikahkan Suamiku 5 Bab 5 Sudah Berbeda 6 Bab 6 Mulai Lelah7 Bab 7 Permintaan 8 Bab 8 Perempuan Tanpa Muka9 Bab 9 Denok dan Keputusanku 10 Bab 10 Aku Perempuan Istimewa 11 Bab 11 Istriku12 Bab 12 Luka Masih Melekat13 Bab 13 Sebuah Kesalahan 14 Bab 14 Ancaman Kekanakan15 Bab 15 Sendiri16 Bab 16 Darah Ma Pril!17 Bab 17 Berusahalah Sendiri Biayai Pengobatan Istrimu18 Bab 18 Sebuah Tanggungjawab19 Bab 19 April !20 Bab 20 Mendadak Dilamar21 Bab 21 Deritaku Sekarang22 Bab 22 Noda Dari Tanganku23 Bab 23 Dunia yang Kejam24 Bab 24 Di Tempat Baru25 Bab 25 Kesempatan Kedua26 Bab 26 Dihantui Kesalahan Lalu27 Bab 27 Hidup Dalam Ketakutan28 Bab 28 Ayah29 Bab 29 Salah Paham30 Bab 30 Denokku31 Bab 31 Tentang Kami32 Bab 32 Ditawan33 Bab 33 Melarikan Diri34 Bab 34 Ditolong Keluarga Baik35 Bab 35 Aku dan Mereka36 Bab 36 Pulang37 Bab 37 Minta Mati38 Bab 38 Calon Orang Tua39 Bab 39 Mama40 Bab 40 Aneka Rasa Kehidupan41 Bab 41 Gelisah42 Bab 42 Nayaku43 Bab 43 Kesalahanku 44 Bab 44 Gelisahku45 Bab 45 Hantu Masalalu46 Bab 46 Mengemis Maaf Sebelum Ajal47 Bab 47 Oh, Soraya48 Bab 48 Rahasia Soraya49 Bab 49 Mama Sakit50 Bab 50 Beliau Mama Istimewa51 Bab 51 Anugerah Dari-Nya (Tamat)