icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Titik Noda

Bab 6 Mulai Lelah

Jumlah Kata:1647    |    Dirilis Pada: 24/04/2022

or

p

an begini akhirnya, melihat bagaimana borosnya mereka meng

menunggu ia s

dan tambang lagi ngadat."

k sampai terpikir

bank hampir milyaran, Dik ... belum lagi

. "Ya Allah sejak dulu aku menentang k

disita. Sebagian isinya diambil Ju

os sekali. Belum setahun sudah mandi

n. Lunasi semua, biarkan barang habis asal lepas dari pinjaman, apalagi yang berbunga

h itu juga suratnya di bank, paling-paling disit

anak tertua yang meminta jajan padaku. Kamu memang lemah atur keuangan, Mas. Ta

a menyusut, banyak yang berhenti cari kerja lain. Suratnya pun aku pakai buat nyari dana kemarin pas lagi sulit-sulitnya, jadi kurasa tida

ada orang mau membeli bangunan yang sedang berm

ngkat wa

u ki

nya untuk ngebulkan dapur, biaya anak sek

sa mulai usah

emerutuk gigi menahan geram, darah

a apa-apanya. Ayo kita mulai lagi. Aku sedan

memohon ke sini, tapi saat senang kau hamburkan dengan hujan

u meninggi. "Ini sudah tidak ada hubungan denganku. Obrolkan baik-baik dengan April, mulailah

ntar lalu memanda

? Tabungan asuransi masa tua

ertawa tanpa suara. Silakan Mas Danang buat keputusan sendiri, yang pasti aku gak sanggup berpikir ya

a. Doakan saja itu lancar. Mas harus bangga pada mereka. Kita akan punya dua calon dokter, keturunan Danang Wiratama,

unganku empat, Mas. Jadi tolong jangan tambah lagi. April kan belum punya anak, yang ia pikirkan cu

ya. Ah ternyata ia cepat menua saat jauh dariku.

tan RW sudah terlepas, apalagi kegiatan bersama karibnya berkurang, acara penting pun mulai tak diundang. Kura

rumah Danang disita? Ada tul

sung menanyai itu

rita," dustaku segera mengalihkan

sebagai pemasok bahan. Kita sama-sama perempuan yang aktif bisni

Apa beneran gak mau tahu? Aku juga pe

mending pikirin nyari

ereka ingin kulepas. Biarkan a

a je

pamit pada kawan ini m

puan berjalan kaki di trotoar sebera

ambat la

u ia segera naik ke boncengan, memeluk tubuh lelaki be

juga aku harus mengurusi? Kembali kulajuka

dibayar sama? Kasihan

teman, sebab ia tak cerita apa pun saat kami bertemu. Hanya wajah kusut yang makin kurus itu memberitakan secara tak

nyusul sang kakak masuk perguruan tinggi negeri juga di ibukota. Keinginan mereka sekolah jauh, dan aku han

ng empat kota. Mas Danang juga baru buka toko ponsel di pasar

pentingkan hutang tidak ada," ucapku saat ia ad

. Ia masih manja pada bapaknya. Sambil kami ngobrol Denok sesekali menyahut sam

terbuka kapan ia mau bicara dan datang ke rumah,

ah ikut?" Denok bertanya.

oleh aya

hlah, ya

gguk, tak

nda Apri

yuruh anak-anak memanggil istrinya Bunda. Aku pun geli kalau sampai putri-putriku memanggil April begi

mana kalau Ka

l Almira, kalau mau liburan sendiri silakan s

kan dibedakan begini. Urusan ekonomi aja kalian sudah

naik ke ubun-ubun. Sepertinya

a." Kupandangi tenang bungsuku itu. Meski mereka sudah besar

jadi sensitif, ia

sudah terl

an macam apa ini, Mas?

h lama kubiarkan keuangan kamu kuasai, Soraya. Kamu pikir aku

dalam pekerjaanku. Ke sini ku kira baik-baik saj

"Kita bicara

kan paham, biar tahu i

irrull

mbali

brik yang sekarang makin laku? Mana bagianku? Selama ini aku diam tanpa mau tanya, berharap kamu sadar ada hakku di sana.

i, semua isi hatinya seperti

ng apa? Bagus dong kalian bisa merintis usaha yang hebat. Masih bisa naik

gianku dari har

segera terdiam. Aku tertawa

upanya." Lagi tawa berusaha kutahan. "Itu milik anak-anak, Mas, bukan milik kita. Semua s

dam, tampak raha

nak putus sekolah gara-gara sikapmu. Menyes

eluarga yang haru

emariku m

a, Mas, yang harusnya jadi tanggung jawabmu. Harus Mas tau kami tidak kekurangan, aku ga

ncang. Lalu tanpa salam ke luar pintu. Aku terhenyak di tempat

asih naik avanza, Mas. A

perasaanku

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Titik Noda
Titik Noda
“"Aku khilaf, Dik ...." "Khilaf, tapi sampai sejauh itu, Mas ...?" "Maaf ...." Hanya itu yang terus suamiku ucap. Maaf, maaf, dan khilaf, seolah tak ada kata lain yang sanggup keluar dari mulutnya. Ia tertunduk, pun matanya basah. Lelakiku terisak. Aku tak bisa memahami apa yang ia rasakan sebenarnya. Mas, sadarkah kau sudah torehkan luka teramat dalam, yang sekarang menganga di hati ini. Lupakah saat kau pada anak kampung itu kita jemput, dengan janji akan menyekolahkannya? Menolong mengangkat derajat keluarganya? Apa yang sampai membawamu terjerumus begitu dalam seperti ini? Dosa apa yang kami buat sampai menanggung ujian ini, ya Rabb ...! * Kisah ini diangkat dari kejadian nyata yang sudah dicampur fiksi. Sarat akan hikmah, juga mengingatkan akan hukum tabur tuai dari perbuatan kita. Apa yang ditabur pasti akan dituai hasilnya cepat atau lambat. Selamat membaca.”
1 Bab 1 Pengakuan 2 Bab 2 Permintaannya Poligami 3 Bab 3 Rencanaku4 Bab 4 Menikahkan Suamiku 5 Bab 5 Sudah Berbeda 6 Bab 6 Mulai Lelah7 Bab 7 Permintaan 8 Bab 8 Perempuan Tanpa Muka9 Bab 9 Denok dan Keputusanku 10 Bab 10 Aku Perempuan Istimewa 11 Bab 11 Istriku12 Bab 12 Luka Masih Melekat13 Bab 13 Sebuah Kesalahan 14 Bab 14 Ancaman Kekanakan15 Bab 15 Sendiri16 Bab 16 Darah Ma Pril!17 Bab 17 Berusahalah Sendiri Biayai Pengobatan Istrimu18 Bab 18 Sebuah Tanggungjawab19 Bab 19 April !20 Bab 20 Mendadak Dilamar21 Bab 21 Deritaku Sekarang22 Bab 22 Noda Dari Tanganku23 Bab 23 Dunia yang Kejam24 Bab 24 Di Tempat Baru25 Bab 25 Kesempatan Kedua26 Bab 26 Dihantui Kesalahan Lalu27 Bab 27 Hidup Dalam Ketakutan28 Bab 28 Ayah29 Bab 29 Salah Paham30 Bab 30 Denokku31 Bab 31 Tentang Kami32 Bab 32 Ditawan33 Bab 33 Melarikan Diri34 Bab 34 Ditolong Keluarga Baik35 Bab 35 Aku dan Mereka36 Bab 36 Pulang37 Bab 37 Minta Mati38 Bab 38 Calon Orang Tua39 Bab 39 Mama40 Bab 40 Aneka Rasa Kehidupan41 Bab 41 Gelisah42 Bab 42 Nayaku43 Bab 43 Kesalahanku 44 Bab 44 Gelisahku45 Bab 45 Hantu Masalalu46 Bab 46 Mengemis Maaf Sebelum Ajal47 Bab 47 Oh, Soraya48 Bab 48 Rahasia Soraya49 Bab 49 Mama Sakit50 Bab 50 Beliau Mama Istimewa51 Bab 51 Anugerah Dari-Nya (Tamat)