icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Titik Noda

Bab 7 Permintaan

Jumlah Kata:1901    |    Dirilis Pada: 24/04/2022

or

janji tidak akan bicara atau bersikap kasar lagi. Ia katakan terbawa emosi akibat tertekan. Walau tak k

alah kami selalu bicara berbisik agar anak-anak tak mendengar. Kondisi selalu dibuat nyaman, meski terkadang membohon

pertinya sepemikiran. Ah, mungkin mereka kira kami pasangan sempurna, padahal hubungan ini telah amat hambar, pasca menikah lagi kami belu

, Denok pun izin sekolah. Kami tak lupa mengunjungi seaworld, lal

melebihi aku ini, begitu bersemanga

liburan," kata Naya mengingat terakhir

Mas Danang m

ng." Ia menenangkan istriny

-anak ngajak jalan-jalan dulu." Suaranya

h pasang status WA, foto berlatar aquarium raksasa di Seaworl

iajak Naya foto box di sebuah Mall. Kami berdua di tengah diapit anak-anak sambil dirangkul erat, membuat pipiku dan Mas Dana

Mas Danang itu topeng, ataukah dari lubuk hatinya

..." Seorang istri temanku juga teman Mas Danang, ter

ri? Katakan aja aku

ut kami, karena ini orang tua teman Syifa saat sekolah SD dulu.

anjian nambah persennya tiap bulan, ini sudah enam

i orang kedua yang data

tidak bilang apa-apa dan aku sama sekali gak tahu urus

ril itu juga bilang gak tanggun

Coba deh langsung ke orangn

, belum masuk persenan. Itu dulu

si tokonya si April

ara super sopan. Ternyata hutang Mas Danang makin menjamur. Mungkin aku perlu pikirkan lagi mengenai langk

minta Denok n

bilang saat sudah mau berangkat begin

ilang iya?" Kupegang lengannya yang tengah mem

tapanku. Klakson bu

Aku sudah

lalu setengah berlari ke lu

a, tapi kenapa per

g, urung bertepatan Naya

gsung terlihat ada Syifa

m aku keburu kaget lih

enapa, K

Al masih piket di rumah sakit,

melihat Syifa lemah, ia meneleng ke laya

... apa ka

saan. Tensinya rendah

ata Syifa sayu menatapku, seakan

a pulang j

di rumah sakit yang letaknya cukup jauh dari rumah.

ama akan cari tiket

iket langganan. Alhamdulillah dapat seat penerbangan

g letaknya masih dalam kota. Mengarahkan mereka akan apa yang belum dan akan dilaku

mani Denok. Hanya kami bertiga saudara yang tinggal sekota. Dua saudaraku lain di luar ko

u beberapa kali ke sana hanya sebatas melepas kangen dan ngobrol ringan. Ibu

u tahu karena ia tadi les, dan

Nok. Gak apa kan sama tant

um bunga itu, mengecup pucuknya sebelum berangkat.

ak, Ma?" Pertanyaannya menahan langk

mau ke sini? Mau apa,

gal di sini juga. Kasihan, Ma ru

pal batu. Sudah kepala kalu

n AC, kipas angin aja dulu dia muntah-munta

ri telunjuk dan jar

lanya. Tak apa, ini akan sebentar saja, setelah Denok l

ya sempat drop, sampai butuh transfusi sekantung darah. Awalnya aku mau memberi darah ini, tapi kondis

sementara tidak ada yang serius, walaupun masih butuh pemeriksaan lanjut. Keadaannya mulai membaik.

ak tega melihat keadaan Syifa s

ewat munajat pada-Nya. Tuhanku ... satu-satunya tempat berharap saat aku takut kehilangan Syifa. Saat ko

at Syifa terisak memeluk bapaknya. Ana

mencari kekuatan d

eh pulang," ujarku mengusap kepalanya. Mas

dari kita ...." Air mata ini seketika menga

lu memeluk dadaku, hingga aku dan suami saling pa

ang. Tak bisa menahan isak yang kemudian menyesak ke luar. Kami bertiga pun berp

mau kita pi

Lihat kan mama sama ayahmu di sini." Aku terus men

asa bersalah. Terpikir ingin menyerah memang terbersit di benak, saat Mas Danang menuntut hartanya. Ra

sakannya sampa

an yang terbaik s

lepon April hampir tiap jam, maklum ia pergi sampai lima hari. Kecurigaan di sana kalau k

pakai curiga gitu? Sayang, tau k

amu itu gak

nang padanya

pat kulepas. Rasa padanya hanya tertinggal sayang, kasihan ia yang dimabuk oleh syahwat sampai sulit melihat kekurangan

yukur hasilnya semua baik-baik saja. Entah karena begitu terteka

ing buatku!" Bagai terpukul palu besi

di tempat April dan ada tetangga yang li

ita itu! Belum juga ganti pakaian sejak dari penerbangan tadi, mobil langsung kulajukan

a orang yang akan me

iran kosong dan pavingnya berlumut juga beru

, pengganti mobil mewahnya dulu, bersebelahan dengan mobil Mas Danang. Berarti lelaki itu ada di sini. Bagus biar tahu kel

an ruko Galaksi. Lanj

mu? Bagusla

ap. Xie

-sama

il setelah simpan

hitam, bertanya pada penjaga pakaian

belaka

intu kaca riben, semacam ruang kantor. Aku mendorong tanpa mengetuk. Tak disangka

Bagai disengat, permukaan k

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Titik Noda
Titik Noda
“"Aku khilaf, Dik ...." "Khilaf, tapi sampai sejauh itu, Mas ...?" "Maaf ...." Hanya itu yang terus suamiku ucap. Maaf, maaf, dan khilaf, seolah tak ada kata lain yang sanggup keluar dari mulutnya. Ia tertunduk, pun matanya basah. Lelakiku terisak. Aku tak bisa memahami apa yang ia rasakan sebenarnya. Mas, sadarkah kau sudah torehkan luka teramat dalam, yang sekarang menganga di hati ini. Lupakah saat kau pada anak kampung itu kita jemput, dengan janji akan menyekolahkannya? Menolong mengangkat derajat keluarganya? Apa yang sampai membawamu terjerumus begitu dalam seperti ini? Dosa apa yang kami buat sampai menanggung ujian ini, ya Rabb ...! * Kisah ini diangkat dari kejadian nyata yang sudah dicampur fiksi. Sarat akan hikmah, juga mengingatkan akan hukum tabur tuai dari perbuatan kita. Apa yang ditabur pasti akan dituai hasilnya cepat atau lambat. Selamat membaca.”
1 Bab 1 Pengakuan 2 Bab 2 Permintaannya Poligami 3 Bab 3 Rencanaku4 Bab 4 Menikahkan Suamiku 5 Bab 5 Sudah Berbeda 6 Bab 6 Mulai Lelah7 Bab 7 Permintaan 8 Bab 8 Perempuan Tanpa Muka9 Bab 9 Denok dan Keputusanku 10 Bab 10 Aku Perempuan Istimewa 11 Bab 11 Istriku12 Bab 12 Luka Masih Melekat13 Bab 13 Sebuah Kesalahan 14 Bab 14 Ancaman Kekanakan15 Bab 15 Sendiri16 Bab 16 Darah Ma Pril!17 Bab 17 Berusahalah Sendiri Biayai Pengobatan Istrimu18 Bab 18 Sebuah Tanggungjawab19 Bab 19 April !20 Bab 20 Mendadak Dilamar21 Bab 21 Deritaku Sekarang22 Bab 22 Noda Dari Tanganku23 Bab 23 Dunia yang Kejam24 Bab 24 Di Tempat Baru25 Bab 25 Kesempatan Kedua26 Bab 26 Dihantui Kesalahan Lalu27 Bab 27 Hidup Dalam Ketakutan28 Bab 28 Ayah29 Bab 29 Salah Paham30 Bab 30 Denokku31 Bab 31 Tentang Kami32 Bab 32 Ditawan33 Bab 33 Melarikan Diri34 Bab 34 Ditolong Keluarga Baik35 Bab 35 Aku dan Mereka36 Bab 36 Pulang37 Bab 37 Minta Mati38 Bab 38 Calon Orang Tua39 Bab 39 Mama40 Bab 40 Aneka Rasa Kehidupan41 Bab 41 Gelisah42 Bab 42 Nayaku43 Bab 43 Kesalahanku 44 Bab 44 Gelisahku45 Bab 45 Hantu Masalalu46 Bab 46 Mengemis Maaf Sebelum Ajal47 Bab 47 Oh, Soraya48 Bab 48 Rahasia Soraya49 Bab 49 Mama Sakit50 Bab 50 Beliau Mama Istimewa51 Bab 51 Anugerah Dari-Nya (Tamat)