icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Titik Noda

Bab 8 Perempuan Tanpa Muka

Jumlah Kata:1749    |    Dirilis Pada: 24/04/2022

or

gan pintu tidak dikunci!"

kaget lihat pemandangan ba

ghadap tembok berbalik. "Bagaimana

enutupi celana bagian depan. April yang memakai terusan di atas lutut

. Aku kebetula

l menahan badan yang gemetar. Lelaki ini benar

ram ini memuncak, ingin kujambak rambut pirangya. Wajah itu sekarang memang makin cant

at nongkrong b

kakakmu. Panggil

, tanpa melihat Mas Danang. Meminta

k ada batas laki-perempuan? Buat kamu itu biasa kan?!" kutekan setiap kata biar Mas Danang mendengar jel

Mereka masih muda,

imana dulu? Silakan orang ini mau jungkir

p-usap rambutnya dengan jari. Andai jadi penj

k ini. Oh, orang sepertimu pasti tak akan paham apa i

di sisa yang sudah kamu bayar itu akan nutupi pembayaran bulan

. "Tapi ini suda

ereka berdua menatapku den

gai ibunya aku berhak mengatur aset anakku.

ukan dengan seorang pemuda berwajah mirip aktor Korea

gkah melihat ap

ngnya, Beb. Ak

ng tadi terbungkam. Merah padam mukanya

hah?! Apa-a

ojok ruang. Wajah

il. Muka pemuda itu terlihat dalam pengaruh

at April terpekik. Ah, urus tuh urusan kalian.

iga orang itu. Aku hanya menatap pajangan pakaian yang t

ongan mereka. Dua orang itu nyicil avanza dan sedan pada teman Cece secara pribadi, tapi sering nunggak dan sulit ditagih. Sisa sewa yang masih 4 b

menghindar kontak mata kalau kami bicara, itu pun kupaksa,

ar." Aku mengikutinya ke kamar, ia urung mau menutup pintu dan

. Ia berbaring memiringk

tuk.

punggung t

ah. Tapi mama belum tahu salahnya di man

ni tersayat saat buah hati memil

dah siap bicara mama akan sediakan waktu special,

r kamarnya dengan bola mata terasa perih. Mungkin aku perl

ngajak Denok ke mana ia mau, makan apa, atau main ke tempat saudara pun

on dari guru Denok,

sedang lihat pembuatan bata ekspos produk baru kami, bata hias yang b

g menyampaikan permasa

respon, kami minta Ibu ataukah Bapak bisa hadir ke sekolah untuk membicarakan in

at itu dikasih k

hari

am mengin

n, padahal kami sudah beri sangs

n gerbang? Meskipun ia bisa naik motor aku belum izinkan berangkat sendiri, lalu jam

Denok pernah sakit

ab. "Seingat saya tidak pernah sa

, nilai semua pelajarannya terus merosot di bawah

kupijat kening yang berdenyut. Aku menoleh pada karyawan di sa

ia nginap di rumah April saat aku dan Mas Danang men

ma kami sebagai orang tua memerhatikan l

ran buruk hadi

mat tepat menanyakan pada anak itu. Denok tadi malam nginap di rumah ayahnya. Hari Sabt

di ma

agi di ru

O

apa,

nok di

Jalan katanya. Kenapa? Hubun

udah,

an degup jantungku tak beraturan. April sudah kutegur tidak boleh baw

kota. Menelepon Denok dua kali

ang? Temanin mama

, menunggu. Kulirik lagi layar. Dibaca. Lalu t

it menari pada layar hape, a

r menunggu

bikin masak sama Kak Ap

nak, refleks

pur. Merasa tak beres aku teruskan melaju. Jantung ini sudah tak karuan, putriku t

lihat ada dua lelaki tinggi besar

ar dari mulutnya melawan. Seper

an. Beberapa orang memang tengah keluar dari rum

apa,

aksa, sekarang apakah lagi yang d

bertampang sangar itu balik memar

Mereka makin kesulitan keuangan, beberapa kali teman dekat katakan Mas Danang mencoba cari pinjaman la

Mas Danang makin ekstra keras gali lubang tutup lubang. Padahal aku menanti

ir mereka?! Tujuanku

sangar mendorong April, membuat perempuan itu tersun

Dasar ...!" Mulutnya terus mengumpat, m

lop gegas pergi. Tampak sebagian ua

aku beralih padanya, ia tengah

darahnya sendiri. Perempuan bercelana jeans pen

Kucengkeram l

Sak

perti gunung berapi siap meletus. Muka masam t

carnya mungkin!" Ia mengi

n kuat. "Pacarnya

, Denok itu buk

ng sabar tak bisa berniat membunuh? Oh jangan salah, itu bisa saja muncul d

kan siapa pacar Denok, di mana?! Ini past

biarkan aliran darah dari pelip

hat sama ibunya yang cuma mikir duit. Bisa saja sekarang

r, tiba-tiba meras

erah kampus Unpar, pacarnya kuliah jurus

"Makanya jaga suami, jaga anak, jangan bisanya kuasai hart

k rumah dan melukai orang ada pasalnya sudah

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Titik Noda
Titik Noda
“"Aku khilaf, Dik ...." "Khilaf, tapi sampai sejauh itu, Mas ...?" "Maaf ...." Hanya itu yang terus suamiku ucap. Maaf, maaf, dan khilaf, seolah tak ada kata lain yang sanggup keluar dari mulutnya. Ia tertunduk, pun matanya basah. Lelakiku terisak. Aku tak bisa memahami apa yang ia rasakan sebenarnya. Mas, sadarkah kau sudah torehkan luka teramat dalam, yang sekarang menganga di hati ini. Lupakah saat kau pada anak kampung itu kita jemput, dengan janji akan menyekolahkannya? Menolong mengangkat derajat keluarganya? Apa yang sampai membawamu terjerumus begitu dalam seperti ini? Dosa apa yang kami buat sampai menanggung ujian ini, ya Rabb ...! * Kisah ini diangkat dari kejadian nyata yang sudah dicampur fiksi. Sarat akan hikmah, juga mengingatkan akan hukum tabur tuai dari perbuatan kita. Apa yang ditabur pasti akan dituai hasilnya cepat atau lambat. Selamat membaca.”
1 Bab 1 Pengakuan 2 Bab 2 Permintaannya Poligami 3 Bab 3 Rencanaku4 Bab 4 Menikahkan Suamiku 5 Bab 5 Sudah Berbeda 6 Bab 6 Mulai Lelah7 Bab 7 Permintaan 8 Bab 8 Perempuan Tanpa Muka9 Bab 9 Denok dan Keputusanku 10 Bab 10 Aku Perempuan Istimewa 11 Bab 11 Istriku12 Bab 12 Luka Masih Melekat13 Bab 13 Sebuah Kesalahan 14 Bab 14 Ancaman Kekanakan15 Bab 15 Sendiri16 Bab 16 Darah Ma Pril!17 Bab 17 Berusahalah Sendiri Biayai Pengobatan Istrimu18 Bab 18 Sebuah Tanggungjawab19 Bab 19 April !20 Bab 20 Mendadak Dilamar21 Bab 21 Deritaku Sekarang22 Bab 22 Noda Dari Tanganku23 Bab 23 Dunia yang Kejam24 Bab 24 Di Tempat Baru25 Bab 25 Kesempatan Kedua26 Bab 26 Dihantui Kesalahan Lalu27 Bab 27 Hidup Dalam Ketakutan28 Bab 28 Ayah29 Bab 29 Salah Paham30 Bab 30 Denokku31 Bab 31 Tentang Kami32 Bab 32 Ditawan33 Bab 33 Melarikan Diri34 Bab 34 Ditolong Keluarga Baik35 Bab 35 Aku dan Mereka36 Bab 36 Pulang37 Bab 37 Minta Mati38 Bab 38 Calon Orang Tua39 Bab 39 Mama40 Bab 40 Aneka Rasa Kehidupan41 Bab 41 Gelisah42 Bab 42 Nayaku43 Bab 43 Kesalahanku 44 Bab 44 Gelisahku45 Bab 45 Hantu Masalalu46 Bab 46 Mengemis Maaf Sebelum Ajal47 Bab 47 Oh, Soraya48 Bab 48 Rahasia Soraya49 Bab 49 Mama Sakit50 Bab 50 Beliau Mama Istimewa51 Bab 51 Anugerah Dari-Nya (Tamat)