icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Titik Noda

Bab 3 Rencanaku

Jumlah Kata:1368    |    Dirilis Pada: 23/04/2022

or

tukku memutuskan, tapi mungkin akan menjadi waktu terlama untuk mereka yang tak sabar akan

tak akan mempan. Terlihat Mas Danang mulai sering men

ril pindah sering dikunju

ri malah, ngantar sesuatu gitu. Hati-hati loh zaman se

nya April sama Mas Danang, kok lain gitu ya tatapan matanya, be

bih Mas Danang absen datang, tak seperti biasa. Bahasan mereka mulai dari kenapa April pindah, juga Mas Danang sering tercuri men

ng terbaik." Satu-satu

i, nggak cukup doa aja sebaiknya sebelum

Pak Dul yang sampe kelahi di jalan itu ya gara-

terjadi, mau d

anya lain. Ah, lihat ini, Mas. Aku sudah berusaha me

tuk tidak menangis saat waktu itu tiba. Luka hati sudah tak berbe

enyelamatkan hak anak-anak. Sebab selentingan kabar April tengah belajar nyetir, d

kartu kredit dan ATM bersama yang dipinjam waktu itu dariku, isinya tak seberapa. Entah darimana uang untuk bayar rumah Pak Idri

anang yang sudah berumur. Terpaksa, bagaimanapun mereka pasti juga akan tahu. Ibu

emak, jangan sampai anak-anakmu benci Danang. Bagaimana pun bapaknya akan menja

berdarah jangan anak-anak, walaupun tak terhinda

umpal telinga mereka untuk tak mendengar isu di luar. Apalagi M

lama via video call. Lalu pada tiga putriku di rumah, kumulai perlahan dengan lebih mengakrabkan diri pada mereka. Nonton d

enyeimbangkan obrolan dengan keseruan topik asing di telinga. Yah,

mereka nginap di hotel Aqua, sebuah hotel bintang empat di kota ini. Dalam kondis

yah akan nikah d

angsung menangis memelukku. Dalam isak kami kuyakinkan kalau semua akan ba

April Mama juga?" Si bungsu

ya penuh rasa. "Tidak harus, ka

yeka air mata, tapi meme

eran gak

bahagia dengan menambah keluarga baru

ya dan syifa menatapku penuh tanya. Entah

tepat. Tidak harus menunggu seb

dan sudah kuurus balik nama atas Almira. Kebetulan surat lengkapn

lebih saat tahu pemasukan usaha k

?!" desisnya geram, tentu ta

lmira. Kebetulan dulu pernah janji belikan rumah untuknya. Bukanny

dari nol. Ingat kita dulu gimana merint

, kita belum

punya apa-apa. Rela berbagi mie instan sebungkus untuk be

iar ia mulai se

tah di luar rumah. Sudah pasti ia ke sini

nya malu. Akulah yang merasa malu atas kel

lihat satu set sofa baru dengan meja kaca bulat dialasi

n. Lelaki yang mulai tumbuh satu dua helai uban di kepalanya itu habis cuci

ang pilih ma

.. ada

nya? Aku ham

empuan yang mengenakan celana kain di atas lutut cuek m

dah berani berduaan begini? Apa Mas gak pikirk

g nikahi April ini. Aku tetap bertahan, dan dia

a April memasang muka masam, sudah

am ini juga." Kutatap April yang t

buah pesta kecil-kecilan. Semua warga harus tahu kan kalau kamu akan jadi madu

ah siri di kampung Apri

nyengat. Rupanya benar tidak sabar

maduku, Mas. Bukankah kamu memang mau diakui kan A

am muka M

. Biarkan kalian nikah dua kali atau tiga kali, itu tak masalah. Aku mau anak-anakku menyaksikan kalau pernikahan itu ada, buk

ini perih dan memanas. Berusaha kulawan nyeri, sayang kalau harus menangis lag

u sebelum masuk mobil. Biarlah mereka menduga-duga. Aku sudah tak sabar melihat dekor rum

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Titik Noda
Titik Noda
“"Aku khilaf, Dik ...." "Khilaf, tapi sampai sejauh itu, Mas ...?" "Maaf ...." Hanya itu yang terus suamiku ucap. Maaf, maaf, dan khilaf, seolah tak ada kata lain yang sanggup keluar dari mulutnya. Ia tertunduk, pun matanya basah. Lelakiku terisak. Aku tak bisa memahami apa yang ia rasakan sebenarnya. Mas, sadarkah kau sudah torehkan luka teramat dalam, yang sekarang menganga di hati ini. Lupakah saat kau pada anak kampung itu kita jemput, dengan janji akan menyekolahkannya? Menolong mengangkat derajat keluarganya? Apa yang sampai membawamu terjerumus begitu dalam seperti ini? Dosa apa yang kami buat sampai menanggung ujian ini, ya Rabb ...! * Kisah ini diangkat dari kejadian nyata yang sudah dicampur fiksi. Sarat akan hikmah, juga mengingatkan akan hukum tabur tuai dari perbuatan kita. Apa yang ditabur pasti akan dituai hasilnya cepat atau lambat. Selamat membaca.”
1 Bab 1 Pengakuan 2 Bab 2 Permintaannya Poligami 3 Bab 3 Rencanaku4 Bab 4 Menikahkan Suamiku 5 Bab 5 Sudah Berbeda 6 Bab 6 Mulai Lelah7 Bab 7 Permintaan 8 Bab 8 Perempuan Tanpa Muka9 Bab 9 Denok dan Keputusanku 10 Bab 10 Aku Perempuan Istimewa 11 Bab 11 Istriku12 Bab 12 Luka Masih Melekat13 Bab 13 Sebuah Kesalahan 14 Bab 14 Ancaman Kekanakan15 Bab 15 Sendiri16 Bab 16 Darah Ma Pril!17 Bab 17 Berusahalah Sendiri Biayai Pengobatan Istrimu18 Bab 18 Sebuah Tanggungjawab19 Bab 19 April !20 Bab 20 Mendadak Dilamar21 Bab 21 Deritaku Sekarang22 Bab 22 Noda Dari Tanganku23 Bab 23 Dunia yang Kejam24 Bab 24 Di Tempat Baru25 Bab 25 Kesempatan Kedua26 Bab 26 Dihantui Kesalahan Lalu27 Bab 27 Hidup Dalam Ketakutan28 Bab 28 Ayah29 Bab 29 Salah Paham30 Bab 30 Denokku31 Bab 31 Tentang Kami32 Bab 32 Ditawan33 Bab 33 Melarikan Diri34 Bab 34 Ditolong Keluarga Baik35 Bab 35 Aku dan Mereka36 Bab 36 Pulang37 Bab 37 Minta Mati38 Bab 38 Calon Orang Tua39 Bab 39 Mama40 Bab 40 Aneka Rasa Kehidupan41 Bab 41 Gelisah42 Bab 42 Nayaku43 Bab 43 Kesalahanku 44 Bab 44 Gelisahku45 Bab 45 Hantu Masalalu46 Bab 46 Mengemis Maaf Sebelum Ajal47 Bab 47 Oh, Soraya48 Bab 48 Rahasia Soraya49 Bab 49 Mama Sakit50 Bab 50 Beliau Mama Istimewa51 Bab 51 Anugerah Dari-Nya (Tamat)