icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Mencintai Gadis Amnesia

Bab 6 Jatuh Sakit

Jumlah Kata:1104    |    Dirilis Pada: 14/04/2022

tidak tega melihat tubuh perempuan tersebut terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan berbagai alat medis yang melekat di tubuhnya. Wajahnya yang pucat pasi ikut

untuk sembuh oleh Allah, Nak," sahut Aisyah pel

mpingnya. "Mama habis ini pulang?" Wanita menjawab iya, k

m cukup manis, melihat putranya begitu perhatian kepadanya. Wani

n untuk segera mengantar Aisyah. Sebelumnya, dia meminta nomor perawat yang bertugas jag

*

Adib agak keras seraya memanggil-manggil siapa pun yang berada di sekitar lorong di depan ruang rawat perempuan itu, untuk meminta bantuan. Beruntungnya ada seorang perawat yang langsung datang ketika mendengar teriakan Aisyah. Perawat itu memangg

uang rawatnya. Berulang kali dia mondar-mandir di depan ruangan itu, menunggu Dokter Andi

Dia satu-satunya harta berharga

r pergi tanpa memberikan tanda-tanda sebelumnya. Sehari sebelum insiden nahas itu terjadi, Akbar masih baik-baik saja. Dia masih m

sembuh, apa saat ini Engkau akan memberiku luka lagi? A

ngan itu. Wanita itu rapuh semenjak ditinggal pergi suaminya. Oleh karena itu, dia selalu menuntut Adib agar segera menikah, salah satunya agar dia tida

suara Dokter Andika. Dengan cepat dia menyeka air matanya lembu

pingsan begitu? Tidak ada gejala penyakit yang serius,

a terkejut dia makin down," jelas Dokter Andika. Aisyah menundukkan kepala mendengar penjelasan itu. Putranya stres, dan Aisyah mulai berpikir, apa tuntutannya selama ini yan

p, dan jangan memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya, insyaallah dia akan segera

elumnya memberi izin kepada Aisyah untuk menjenguk Adib, wanita itu

ranya yang terbaring lemah di atas brankar. Aisyah mende

yang tidak mau mengerti keadaan kamu. Kamu pasti tertekan, 'kan, sama tuntutan Mama?" Aisyah makin menangis

memegang sebelah tangannya. Aisyah kemudian mengangkat wajah mendengar panggilan putranya. Dia melantunkan kalimat syukur berkal

mbap Aisyah. "Maaf, aku bikin Mama kh

adar. Mama sangat senang. Lagi pula Mama yang harusnya minta maaf karena te

rkannya itu lekat-lekat. "Mama tidak salah. Sama sekali tidak. Aku saja yang terlalu keras kepala. Jadi, Mama tidak usah minta maaf. Lagi pula, perlahan

k akan maksa-maksa kamu lagi. Mama akan sabar sampai k

ng membuatnya tidak berdaya selama ini. Ya, bohong jika dia tidak bahagia mendengar kata mamanya barusan. Namun, alih-alih menunjukkan kesenangan itu secara kentara, Adib hanya menyunggingkan seny

a.Dengan sigap dia bangkit dari tempat duduknya, merapikan selimut dan membenarkan posisi tidur sang anak agar bisa beristirahat dengan nyaman. Se

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Mencintai Gadis Amnesia
Mencintai Gadis Amnesia
“Lama tidaknya saling mengenal tidak menjamin adanya cinta. Buktinya, selama lebih lima belas tahun bersama dengan Amelia, Adib sama sekali tidak tertarik kepadanya. Justru, dia malah jatuh cinta kepada Adiba-seorang gadis amnesia korban tabrak lari yang dia tolong ketika pulang dari kampus-yang dia kenal selama enam bulan. Sebab itu, Adib ingin menikahi Adiba, tetapi terhalang restu orang tuanya dan tekanan dari keluarga Amelia yang salah paham dengan kedekatan antara Adib dengan anaknya. Namun, Adib bersikukuh,sehingga Aisyah-mamanya-memberi izin asal bisa menemukan keluarga asli Adiba dan mendapat restu dari mereka. Dan yang paling penting, siap menanggung apa pun konsekuensi dari pilihannya tersebut. Bagaimana usaha Adib untuk memperjuangkan Adiba? Bisakah dia mewujudkan inginnya untuk membina rumah tangga bahagia dengan gadis amnesia itu? Dan bisakah dia bertahan jika sewaktu-waktu ada badai besar menghantam hidupnya?”
1 Bab 1 Desakan untuk Menikah2 Bab 2 Perdebatan yang Tak Kunjung Usai3 Bab 3 Perdebatan yang Tak Kunjung Usai4 Bab 4 Kekhawatiran Aisyah5 Bab 5 Gadis Amnesia6 Bab 6 Jatuh Sakit7 Bab 7 Kedatangan Amelia8 Bab 8 Mengajaknya Bicara 9 Bab 9 Kabar dari Bu Anisa10 Bab 10 Sadar