icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Langit Jam 4 Sore

Bab 8 Teman Arman

Jumlah Kata:1394    |    Dirilis Pada: 23/06/2023

manis di teras menunggu Arman datang menjemput. Dibalut kaos oblong longgar berwarna pink dan celana blue jeans, Divi

?", Gema menghampiri Divi

r tanpa menoleh kepada Gema, pandangann

sama Arman. Be

isana ada temen

ggil dari dalam. Sontak Gema langsung bangkit

Bu. K

kuan Mba Rum. Ibu mau cek bah

u ngecek pe

. Kamu ngga lagi

geleng Gema denga

rman sebetulnya.", batin Gem

ngatakan padanya hampir tiba sedikit lagi. Dan tak berapa lama Divia berdiri di depan pagar, kendar

Div

an maju tiga langkah ke depan, mem

Siap menghabiskan waktu libur mereka di keda

mu jadi i

. Dia tuh sohib

itu..

, jawabn

k dan hanya me

Oh

sudn

ya Oh? Kan aku b

kan cowo bera

man menggeleng

? Siapa sih teman kamu? Pa

ku bercanda. Tem

gitu saja dari tadi susa

aku cewe? Kamu jealous ya?

le lo.. Pe

, pingin lihat muka kamu berubah ng

tak menyangka Arman akan sejujur itu mengatakan ingin melihat perubahan mimik wajahnya

man kamu itu ud

um nikah, tapi calon

a, aku kepo saja sih. Hah

tu kampus dulu. Tapi,

kalau kamu? Hahaha.. Kamu kan

gambaran tuh.", jawab

e..", timpal Divia s

ya balik Arman dilanjutkan dengan gelak tawa

n sendiri kali ya.. Nanti kalau ada

a kamu pasti b

hu ah.

ri area lantai dua bangunan kedai kopi itu kini telah selesai direnovasi. Tentu keduanya berencana akan ngopi di lantai dua saja, karena suasananya pasti lebih asyik dan mereka harus buru-buru naik sebelum tidak kebagian temp

kosong kan?", Divia mengawa

tersenyum ramah. "P

e satu, kamu apa

te.. Sama crois

keju satu Mba",

tampak memproses nota

selesai disiapkan. Tapi tak perlu menunggu lama, semua pesanan mereka telah siap di depan mata. Masing-masing

au dima

kahnya dan Arman ke kursi tujuannya. Kebetulan meja ya

duduk berhadapan. Po

as nih

aik.", Arman mengakhiri

ru sampe

angguk setelah menyedot i

gannya kepada lelaki berkaus biru yang berdi

.", pinta Arman pada Haris

ramah sembari mengangguk menatap Divia. Dan

Haris.. Ris, ini y

is menyodorkan tan

tak kalah ramah.

h pake abang. Gue ngg

awa mereka ko

, ucap Divia meniru kalimat Arman sebelummya. Wajahnya menyelidik kepada Arman.

eh kok. Cuma bilang kalau dia

, jawab Divia tak santai sembari

o kerja daera

Divia balik dan lalu

katanya.", tukas Har

jawab Arman yang sedang

, Matraman

Kenapa eman

ahu saja. Tak tahu maka t

o garing!",

inuman dan makanan ringannya masing-masing. Dan tentunya

ri kesini? Pacar

punya

ong banget. Kata Arm

lo bilang-bilang

Divia ngga dika

nginep di rumah sepupunya.", uc

Gitu

yang satu ini?", tembak Haris to the poin se

an lo itu! Ngga jelas."

atuh cinta saat pandangan perta

ini Man, halu tin

a.. Saking tampannya waktu ke

-malasan Divia menim

v.. Arman ngga

as lo ngga jelas

Maghrib-maghrib Arman pern

a melongo tak sabar menden

fakta, Haris tidak bicara sembarangan kali ini. Dia hanya heran, ternyata Hari

yariin aku, padahal aku di pojokan taman depan teras. Pada ngga lihat aku,

u denger aku, ce

imana Man waktu itu? Lu

gue udah masuk ke ruang tengah. Gue bilang dari tadi gue di

khluk tak kasat mata saja naksir parah sama

h. Tapi sayang, gue b

ang bilang kamu kolong

g yang hadir memenuhi kursi-kursi yang kosong di lantai dua kedai kopi Ber

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Langit Jam 4 Sore
Langit Jam 4 Sore
“Ada seorang gadis yang begitu menyukai teduhnya langit jam empat sore. Dirinya selalu berkhayal kelak jalan hidupnya akan seindah langit sore itu. Divia Putri Gayatri, justru menemukan cintanya di saat dirinya tak pernah mencari cinta. Pertemuannya dengan Arman yang terjadi seperti di film-film drama, akhirnya menjadi kenangan yang tak terlupakan seumur hidupnya. Namun di saat cerita masa lalu mengusik kebahagiaan mereka, masih mungkinkah mereka bersatu di kemudian hari? Mungkinkah takdir indah berpihak kepada mereka?”
1 Bab 1 Kali Pertama2 Bab 2 Perhatian Kakak3 Bab 3 Kambuh4 Bab 4 Cinta Lama Ibu 5 Bab 5 Bersama Jung Min6 Bab 6 La Sita Cake7 Bab 7 Minggu Pagi8 Bab 8 Teman Arman9 Bab 9 Teddy Bear 10 Bab 10 Kekecewaan11 Bab 11 Gema dan Arman12 Bab 12 Live Music13 Bab 13 Peluk Cium 14 Bab 14 Senin Tiba Lagi15 Bab 15 Taman Menteng16 Bab 16 Menemani Gema17 Bab 17 Bu Guru Viola 18 Bab 18 Jatuh Sakit19 Bab 19 Permohonan Maaf20 Bab 20 Rumah Viola21 Bab 21 Kambuh Lagi 22 Bab 22 Pernikahan Gema23 Bab 23 Masa Lalu Mereka24 Bab 24 Maya25 Bab 25 Mengantar Gema dan Bimo 26 Bab 26 Haris dan Viola 27 Bab 27 Gejala Depresi 28 Bab 28 Tempat Terbaik 29 Bab 29 Ulang Tahun Radit30 Bab 30 Kehilangan 31 Bab 31 Hati yang Hampa32 Bab 32 Cerita Mas Angga 33 Bab 33 Cinta Sampai Mati34 Bab 34 Kecelakaan 35 Bab 35 Tak Mungkin Menghindar 36 Bab 36 Janji Haris 37 Bab 37 Pertemuan Kembali 38 Bab 38 Luapan Rindu39 Bab 39 Tidak Sehat40 Bab 40 Pamit41 Bab 41 Gema dan Chintia42 Bab 42 Pindah43 Bab 43 Jalan-jalan 44 Bab 44 Donor Mata45 Bab 45 Papa Arman46 Bab 46 Memohon Restu 47 Bab 47 Peninggalan Terbaik