/0/20688/coverorgin.jpg?v=7ab1bc746db15828dc9756d307f56ba1&imageMogr2/format/webp)
Aku mengorbankan karier arsitekku demi keluarga suamiku, Tristan.
Namun, sahabatku, Dara, yang menjebakku atas penggelapan dana sepuluh tahun lalu, justru dipuji sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.
Selama sepuluh tahun, aku hidup dalam tuduhan. Suamiku membentakku, dan putraku sendiri, Rehan, berteriak, "Semua ini salah Mama!"
Bahkan orang tuaku lebih memihak Dara. Mereka semua merasa berutang budi padanya, sementara aku menjadi kambing hitam atas kesalahan yang tidak pernah kulakukan.
Aku tidak pernah mengerti, pengorbanan dan kesabaranku selama ini seolah tak ada artinya. Aku dijebak, dikhianati, dan ditinggalkan oleh semua orang yang kucintai.
Setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku, aku akhirnya sadar. Di pesta perayaan perusahaan, aku membawa sebuah "hadiah" untuk Dara, berisi semua bukti kejahatannya. Kali ini, aku akan menghancurkan mereka semua.
Bab 1
Alissa POV:
"Tanpanya, keluarga kami tidak akan ada hari ini," tulis Tristan Idris di akun media sosialnya.
Sebuah foto yang diunggahnya menampilkan dia dan Dara Umar, sahabatku, berdiri berdampingan.
Senyum Dara begitu cerah, sementara Tristan menatapnya dengan tatapan penuh penghargaan.
Foto itu diunggah di perayaan sepuluh tahun pulihnya perusahaan keluarga Idris.
Tristan memberanikan diri memberiku penghargaan "Penyelamat Perusahaan" tapi bukan kepadaku, melainkan kepada sahabatku, Dara.
Aku, Alissa Rafli, yang mengorbankan karier arsitekturku demi keluarga ini, hanya bisa menulis komentar.
"Pahlawan yang hebat," tulisku.
Tidak lama kemudian, postingan itu dihapus.
Malam harinya, Tristan pulang.
Pintu dibanting keras.
Aku tahu, badai akan datang.
"Aku sudah susah payah membuat kondisi perusahaan stabil, kenapa kamu malah menyindir Dara?" bentaknya, suaranya memenuhi ruang tamu.
Aku berdiri di depannya, menatapnya tanpa ekspresi.
Rehan, putra kami, baru saja turun dari kamarnya.
Dia mendengar teriakan ayahnya.
"Semua ini salah Mama!" teriak Rehan padaku.
Pipiku terasa panas, tapi aku tidak bereaksi.
"Kalau bukan karena kesalahan Mama dulu, Tante Dara tidak akan menderita!" lanjutnya, menunjukku dengan jarinya.
Aku terdiam, hatiku mencelos.
Putraku sendiri menuduhku.
Aku mengeluarkan sebuah amplop dari saku gaunku.
Isinya adalah perjanjian perceraian yang sudah kusiapkan semalam.
Kuserahkan kepada Tristan.
"Ya, ini salahku!" kataku, suaraku bergetar, tapi mataku menatap tajam ke arahnya.
"Jadi biarkan aku pergi."
Aku menatap Tristan, lalu ke Rehan.
"Semoga kalian bertiga menjadi keluarga pebisnis yang sukses!"
Kalimat itu, penuh ironi, keluar dari mulutku dengan getir.
Perjanjian perceraian itu baru kucetak tadi pagi.
Aku tidak tidur semalaman.
Pikiranku berputar-putar, hatiku hancur berkeping-keping.
Semalam adalah ulang tahun Rehan.
Aku sudah menyiapkan pesta kecil di rumah.
Kue tart dengan lilin angka 10, hidangan kesukaan Rehan, semuanya sudah tertata rapi di meja makan.
Tapi mereka tidak pernah pulang.
Kue itu kini meleleh, krimnya meluber, bentuknya sudah tidak karuan.
Seperti hatiku.
Tristan merenggut amplop dari tanganku.
Matanya melotot saat melihat isi di dalamnya.
"Apa-apaan ini, Alissa?!" gertaknya.
Dia merobek kertas-kertas itu menjadi serpihan kecil.
"Kamu benar-benar gila!"
"Aku sudah berusaha keras menjelaskan ketidakhadiranku semalam!"
Aku mengingatnya.
Tristan memang mengirim pesan singkat, mengatakan ada rapat darurat.
Aku memilih untuk percaya.
Kini, melihat meja makan yang dingin dengan makanan yang tak tersentuh, setiap keraguan dalam diriku berubah menjadi kepastian.
Tristan melihat ke arah meja makan, ekspresi wajahnya berubah sedikit.
Sedikit rasa bersalah muncul di matanya.
"Sayang, aku tahu kamu kecewa," katanya, suaranya melunak.
Dia mencoba meraih tanganku.
"Tapi kamu tahu kan bagaimana perusahaan ini? Aku tidak punya pilihan."
Aku menarik tanganku.
"Aku bisa mengerti," kataku datar.
"Tapi apa yang kamu tawarkan padaku sebagai gantinya?"
"Kita bisa pergi liburan, ke mana pun kamu mau," katanya, mencoba membujukku.
"Kita bisa membeli vila baru di Bali, kamu selalu menginginkannya, kan?"
Aku menatapnya dengan mata kosong.
Ini adalah pola yang sama.
Setiap kali dia membuat kesalahan, dia akan mencoba menebusnya dengan materi.
Setiap kali aku merasa sakit, dia akan mencoba menutupinya dengan hadiah.
Aku sudah muak.
"Aku tidak menginginkan vila baru, Tristan."
"Aku menginginkan keadilan."
Aku mengeluarkan satu lagi lembar perjanjian perceraian dari saku gaunku yang lain.
"Ini ada salinannya."
Tristan terkejut.
Dia tidak menyangka aku punya cadangan.
Wajahnya memerah.
Dia meraih piring yang ada di meja makan, lalu membantingnya ke lantai.
Pecahan piring itu berserakan, seperti hatiku.
"Kamu benar-benar tidak tahu diri, Alissa!" teriaknya.
"Kamu cemburu karena Rehan lebih menyayangi Dara daripada kamu, ibunya sendiri?"
"Bukankah sudah sepatutnya kamu bersyukur atas semua pengorbanan Dara?"
"Kamu tahu kan, kita semua berutang budi padanya!"
/0/31008/coverorgin.jpg?v=9f9cbbd3ae83a4ddaa68ff168a393da3&imageMogr2/format/webp)
/0/23064/coverorgin.jpg?v=577f3c30b5c194d3127a7068a5bf8a09&imageMogr2/format/webp)
/0/23685/coverorgin.jpg?v=67f525831c2cc86f2a390a0c8e8938db&imageMogr2/format/webp)
/0/29156/coverorgin.jpg?v=caadae671f0955d2c3ba1844fa9d6881&imageMogr2/format/webp)
/0/10426/coverorgin.jpg?v=76818ceee2f802563efd68fcee7c15a5&imageMogr2/format/webp)
/0/28646/coverorgin.jpg?v=26cd7df2b7b3c2006171a25b098ba4c8&imageMogr2/format/webp)
/0/29110/coverorgin.jpg?v=cd79a0dd42b2f48de277057f4035c556&imageMogr2/format/webp)
/0/21794/coverorgin.jpg?v=fbb80088f96ddf52b12b2608ba1542b9&imageMogr2/format/webp)
/0/21274/coverorgin.jpg?v=b5a78bea3486434c9bfc6ada44e45cb7&imageMogr2/format/webp)
/0/10852/coverorgin.jpg?v=9e6ee1f26170e8b8a873ffd1db533e59&imageMogr2/format/webp)
/0/23122/coverorgin.jpg?v=e07f203525618a6f8d7e40b58e3f2b5b&imageMogr2/format/webp)
/0/21538/coverorgin.jpg?v=99986d535c531f7544eb427d9a9de245&imageMogr2/format/webp)
/0/9441/coverorgin.jpg?v=2f0b7fd5cbffd2d0f7bd2ee722cb2397&imageMogr2/format/webp)
/0/28641/coverorgin.jpg?v=95fe5d1cc89712661d1c270741aaff1f&imageMogr2/format/webp)
/0/30791/coverorgin.jpg?v=c8c35de225b6f456fa91f7ae5b7721a2&imageMogr2/format/webp)