5.0
Komentar
41.7K
Penayangan
125
Bab

Sebuah perjodohan paksa demi ambisi orang tua, akhirnya tidak bertahan lama. Gadis bernama Vanya harus rela menikah dengan Purnomo yang perbedaan usianya 25 tahun. Untungnya ada lelaki bernama Anthony yang sudah jatuh cinta kepada Vanya, besar cintanya membuat dia gigih merebut Vanya.

Merebut Jodoh Bab 1 Nyaris Mati

Anthony Baragav adalah seorang lelaki yang sudah cukup matang untuk usia menikah, tahun ini dia berumur 30 tahun. Bulan ini adalah bulan paling berat baginya, awal bulan keluarganya tidak bisa membayar hutang yang membengkak sehingga semua aset yang mereka punya hanya untuk membayar hutang. Tidak ada sisa sepeserpun, untung cukup saja mereka sudah bersyukur.

Yang kedua, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan tepat di pertengahan bulan. Disaat mereka mencoba merintis usaha baru untuk menyambung hidup itu hanya menjadi petaka keduanya. Luka Anthony yang belum sembuh harus dipukul kenyataan yang sangat menyakitkan.

Kini hanya dia sendiri hidup tanpa arah, tanpa rumah dan tujuan. Dia mempunyai teman baik bernama Sean, orang tuanya sangat kasihan melihat keadaan Anthony. Selama Anthony dalam masa pemulihan dia ditampung di rumah Sean.

"Anthony mana, Sean?" tanya mamanya.

"Dia dikamar Ma. Anthony masih sama tidak mau bicara maupun makan," ucap Sean, walau dia juga sedih melihat keadaan temannya itu tidak mengurangi nafsu makannya.

"Malang sekali nasib anak itu, sejak datang 3 hari yang lalu sampai detik ini dia masih saja mengurung diri," keluh mama.

"Sean!!! Awasi dia baik-baik!! Jangan sampai dia melakukan perbuatan yang terlalu ekstrem!" pinta papanya.

"Baik, Pa," sahut Sean cepat.

Sarapan pagi itu selesai, keluarga Sean sudah sangat mengenal Anthony. Dia sudah menganggap sebagai anaknya sendiri. Papa Sean adalah seorang guru yang masih belum diangkat menjadi PNS. Sedangkan mamanya adalah ibu rumah tangga yang berbisnis menjual barang secara online.

Kehidupan sederhana sekali, keluarga mereka sudah bersyukur bisa hidup tanpa utang. Yah!! Walau kalau punya keinginan harus bersabar dan menahan dulu, agar uang mereka cukup sampai akhir bulan.

Sean pria berumur 25 tahun, dia bekerja sebagai penjaga toko. Separo uang gaji dia kumpulkan untuk biaya menikah, sisanya dia pakai untuk akomodasi dan sebagian kecil dia berikan kepada mamanya.

Sean masuk ke kamar untuk mengambil tas rangsel, dia hari ini bekerja shift pagi. Sean prihatin ketika melihat temannya yang meringkuk di pojok kasur itu.

"Ton!!! Aku berangkat kerja dulu, ini sarapannya jangan lupa di makan," ucap Sean.

Anthony hanya diam dengan tatapan kosong, Sean menepuk pundak temanya dan mengulangi perkataan yang baru dia ucapkan. Namun, Anthony tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia hanya mengangguk pelan.

Setelah Sean keluar kamar dan semua penghuni keluar rumah. Anthony mulai menangis, dia berteriak sekencang dia bisa.

"Arghhhhhhh!!!"

"Ambillah juga diriku Tuhan!!! Aku sudah nggak sanggup lagi!!!" teriaknya pilu.

Dia terus berteriak sampai suaranya tidak bisa keluar, dia memukul dadanya berharap rasa perih hatinya mereda. Jika bisa hancur, dia ingin menghancurkannya sekalian.

Tubuhnya yang sempurna menyusut, muka berseri bak artis ibu kota itu kini kusut bermata hitam bagai tengkorak tak bernyawa. Dia sudah tidak ada hasrat untuk hidup, tangisannya yang pilu itu membuatnya tak sadarkan diri dalam kepedihan.

Di tempat kerja Sean, dia sedang merapikan rak makanan ringan. Dia selalu menghela napas, karena kawan baiknya tak kunjung membaik. Sean selalu berpikir keras, bagaimana cara untuk menghiburnya. Mulai dari membawakan makanan kesukaannya, komentari foto cewek cantik atau melihat film yang baru tayang perdana dan masih banyak lagi. Namun, semua itu tidak membuahkan hasil.

"Sean, aku ke gudang dulu. Counter kasir kosong, kesana dulu ya!!" pinta rekan kerjanya.

"Oke," jawab cepat Sean.

Sean pun menuju counter kasir, beberapa pengunjung masuk ke dalam minimarket itu. Salam sapa dari Sean menjadi hal wajib untuk diucapkan untuk seluruh karyawan.

"Selamat datang dan selamat berbelanja di Betamart!!" ucap Sean.

Pengunjung yang datang sudah biasa mendengarkan salam, mereka tidak memedulikannya dan berlalu begitu saja, karena suaranya tidak terlalu jelas seperti orang berkumur saking cepat perkataannya.

Matahari sudah meninggi, waktu berputar tanpa lelah meninggalkan orang yang kalah. Memberi kesempatan yang menggunakannya, mengobati luka yang semakin lama semakin terbiasa.

Sean sudah selesai bekerja, hari ini dia akan mencoba membelikan ramen instan pedas kesukaan Anthony, siapa tahu kali ini bisa membuatnya selera makan.

Dia pulang menggunakan bus angkutan kota yang bisa ditempuh selama 30 menit. Tiba juga dia di lingkungan rumahnya, mamanya terlihat menyapu bekas daun kering pohon trembesi. Sedangkan papanya juga sudah dalam perjalanan pulangnya.

"Assalamu'alaikum Ma, aku pulang," sapa Sean.

"Walaikumsalam," jawab mama Sean dengan tersenyum.

"Apa itu Sean?" Mama bertanya menunjuk plastik bag yang dipegang anaknya.

Sean mengangkat plastik bag itu dan menjawab, "Oh ini Ma, ramen instan kesukaan Tony."

"Ohh!! Iya, semoga dia mau makan ya. Mama jadi khawatir dengannya," ungkap mama Sean.

"Yaudah sana!!!" imbuh mamanya.

Sean berlari menuju kamar, dia sudah tidak sabar untuk melihat sahabatnya makan. Dia membuka pintu kamarnya mendapati Anthony berbaring miring di kasur.

"Apa dia sedang tidur? Aku mandi dulu sajalah, habis itu buat ramen," gumam Sean.

Ramen sudah siap, bau semerbak dari rempah bumbu ramen itu menguar. Sean meletakkan 2 ramen diatas nampan, kemudian dia membawanya ke kamar. Sayangnya, Anthony masih terlelap dari tidurnya.

"Hemmm!!! Enak sekali ramen ini.. hu ha.. ha!!" Akting Sean sedang makan untuk menarik perhatian Anthony.

Sean melirik temannya, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Sean merasa aneh, karena Anthony tidak berubah dari tidurnya. Dia mendekati dan mengamatinya, lalu dia membangunkan Anthony dengan cara mengguncang pundaknya.

Namun, Anthony tidak bergeming. Sean memegang muka untuk diperiksanya, dia kaget sekali melihat wajah Anthony yang pucat.

"Ton!!! Tony!!! Sadar, Ton!!" teriak Sean.

Mama dan papa Sean yang lagi bersantai di ruang tamu itu mendengar teriakan Sean, seketika itu mereka berlari menuju kamar Sean.

"Kenapa Sean?" tanya mama panik.

"Tony Ma!!! Tony tidak sadarkan diri," ucap Sean setengah berteriak.

Papa Sean mencari denyut nadi Anthony, papa terlihat mengerutkan dahi karena lemah sekali denyut nadinya.

"Ayo bawa dia ke rumah sakit," usul papa Sean.

Mama segera turun mencari taksi, setelah mendapatkannya mama kembali ke kamar. Papa dan Sean mengangkat Anthony ke dalam Taksi. Mereka semua pergi ke rumah sakit, dengan perasan takut bercampur panik.

Akhirnya sudah saja mereka tiba di rumah sakit, taksi itu turun tepat di depan ruang IGD.

"Tolong Dok!! Cepat disini butuh bantuan!!!" seru mama.

Segera beberapa perawat keluar membawa ranjang pasien di dorong mendekati taksi. Anthony dengan cepat di pindah ke ranjang tersebut lalu kembali di dorong ke dalam ruangan untuk mendapatkan perawatan.

"Maaf Pak!! Sebelum pasien mendapatkan perawatan, tolong ke ruang administrasi dulu," perintah seorang perawat itu.

Papa Mama saling menatap bergantian, mereka bingung karena tidak ada uang untuk mengurus biaya administrasi. Sean yang menangkap situasi disana, segera lari ke ruang administrasi.

"Sean!!!" panggil papanya.

Sean yang sudah jauh itu, langsung diikuti kedua orangtuanya.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Merebut Jodoh Merebut Jodoh Vellyna Yari Romantis
“Sebuah perjodohan paksa demi ambisi orang tua, akhirnya tidak bertahan lama. Gadis bernama Vanya harus rela menikah dengan Purnomo yang perbedaan usianya 25 tahun. Untungnya ada lelaki bernama Anthony yang sudah jatuh cinta kepada Vanya, besar cintanya membuat dia gigih merebut Vanya.”
1

Bab 1 Nyaris Mati

07/04/2022

2

Bab 2 Berkedok Makan Malam

07/04/2022

3

Bab 3 Kesalahan Sebuah Takdir

07/04/2022

4

Bab 4 Impian Vanya

07/04/2022

5

Bab 5 Bukan Sembarang Anak

07/04/2022

6

Bab 6 Langkah Awal

07/04/2022

7

Bab 7 Rayuan Manis

07/04/2022

8

Bab 8 Wine

07/04/2022

9

Bab 9 Dua Istri

07/04/2022

10

Bab 10 Pertemuan Kedua

07/04/2022

11

Bab 11 Mata Hijau Zamrud

08/04/2022

12

Bab 12 Pagi yang Bermasalah

08/04/2022

13

Bab 13 Bermalam di Restoran

08/04/2022

14

Bab 14 Curahan Hati

09/04/2022

15

Bab 15 Hilangnya Manis Tiramisu

09/04/2022

16

Bab 16 Hotel Mewah

09/04/2022

17

Bab 17 Anthony Di Bully

10/04/2022

18

Bab 18 Gudang Rusak

10/04/2022

19

Bab 19 Nyonya Muda

10/04/2022

20

Bab 20 Jeritan Pilu

10/04/2022

21

Bab 21 Pertentangan Dimulai

11/04/2022

22

Bab 22 Baju Sobek

11/04/2022

23

Bab 23 Sepatu Berlumpur

11/04/2022

24

Bab 24 Restoran Hotel

12/04/2022

25

Bab 25 Pengunjung Komplain

12/04/2022

26

Bab 26 Alasan Narwan

13/04/2022

27

Bab 27 Berdebar

13/04/2022

28

Bab 28 Garang Asem

14/04/2022

29

Bab 29 Seleksi Karyawan

14/04/2022

30

Bab 30 Lancang Katanya!

15/04/2022

31

Bab 31 Resiko

15/04/2022

32

Bab 32 CCTV Hidup

16/04/2022

33

Bab 33 Amarah Jarot

16/04/2022

34

Bab 34 Ide Narwan

17/04/2022

35

Bab 35 Asam Lambung

17/04/2022

36

Bab 36 Tujuan Junet

17/04/2022

37

Bab 37 Mawar

19/04/2022

38

Bab 38 Yasmini Meninggal

19/04/2022

39

Bab 39 Istri 3

19/04/2022

40

Bab 40 Anita Curiga

20/04/2022