Obsession of teacher

Obsession of teacher

Megacecung

5.0
Komentar
586
Penayangan
10
Bab

Seorang mahasiswi tingkat akhir di salah satu universitas ternama di Newyork mengalami hal buruk dari salah satu dosen di universitasnya, kejadian demi kejadian mengakibatkan dirinya trauma berat, depresi dan hampir saja dia mengakhiri hidupnya sendiri. Karena sang dosen memperkosanya secara brutal.

Bab 1 Devil

Columbia univesity, New York

Terdengar suara jeritan dan rintihan dari seorang gadis menggema di sebuah ruangan kosong yang sudah tak terpakai di salah satu area kampus tempat gadis itu menempuh pendidikannya.

"Arggghhhh ...

Srettttt...

Krettttt...

Brakkk...

Plakk

Beragam Pukulan, tamparan, gadis itu dapatkan hingga berulang kali tanpa tahu letak kesalahannya.

Bau anyir yang menyengat menyeruak tajam ke dalam rongga hidung akibat tamparan keras menggores sudut bibirnya.

Tidak hanya goresan di sudut bibir mungilnya, luka lebam gadis itu juga dia didapatkan, hingga wajah cantiknya hampir tak terlihat, penuh dengan luka lebam dan darah yang mengalir deras.

"Hiks ... Hikss ... Hiksss ....

"Kenapa kau selalu menyiksaku, apa sebenarnya kesalahanku padamu, aku tidak pernah melakukan apapun, tapi kau selalu saja berbuat kejam dan menyakitiku,"ucap Quinza dengan isakan tangisnya.

"Sudah berapa kali aku memberitahumu, hah!!!"Axton mencengkram kedua pipi gadis itu, "aku tidak suka kau berbaur dengan pria lain ataupun berdekatan dengan pria lain, kau telah mengabaikan ucapanku, sugar. Jadi terimalah akibatnya sekarang, hukuman ini pantas untuk gadis pembangkang seperti dirimu.

Krett...

Srettt...

Axton membuka paksa pakaian yang dikenakan Quinza dan merobeknya dengan sekali hentakan kuat. Quinza hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan. Kini tubuhnya sudah sangat lemah tidak berdaya di bawah kungkungan Axton. Pria yang tengah menatapnya tajam sambil mengucapkan, sebuah kata yang sangat mengerikan untuknya.

"This is your punishment, a punishment that you will remember all your life, jika kau melakukan kesalahan satu kali lagi, i will kill All your family ingat itu baik-baik Quinza Zalene!"Peringatan Axton menekankan setiap kata yang Axton ucapkan tanpa melepaskan tatapan mata tajamnya

"Don t be playing game with me."

Setelah Axton mengucapkan kalimat sakral, Axton memulai aksinya, mencium bibir mungil Quinza yang robek atas tindakan brutalnya, menjelajahi seluruh rongga mulut Quinza, merapat dirinya ke Quinza bahkan tangannya pun ikut menyentuh bagian tubuh sensitif Quinza dengan cara yang kasar tanpa adanya kelembutan, ciuman itu berpindah ke arah leher jenjang milik Quinza, menghisap dan memberikan kissmarknya di leher jenjang Quinza, tangannya yang tadi menyentuh bagian tubuh sensitif Quinza berpindah ke arah dua buah dada Quinza, memegang meremas dan memainkan nipple pink milik Quinza. Hingga bibirnya ikut bermain di dada Quinza

Gairah Axton pun sudah semakin menjadi, Axton sudah tidak bisa menahan lagi hasrat yang timbul dalam dirinya, dengan sekali hentakkan miliknya, Axton merobek pusat kewanitaan milik Quinza, hingga berkali-kali Axton melakukannya.

Quinza hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suaranya, Quinza merasa jijik dengan dirinya sendiri, disiksa bahkan diperkosa oleh dosennya sendiri yang terobsesi pada dirinya.

Setelah Axton mendapatkan semuanya, Axton pergi meninggalkan Quinza yang sudah tidak berdaya.

Tak ada rasa bersalah dalam diri Axton, bagi Axton itu adalah hukuman yang pantas untuk Quinza, agar Quinza tidak bermain-main dengan dirinya.

***

Columbia university, New york

Desas-desus terdengar kabar di seluruh kalangan mahasiswa tentang dosen baru yang akan mengajar di universitas ini, banyak dari mereka berantusias ingin melihat langsung ketampanan sang dosen, terutama para mahasiswi.

Tapi tidak dengan salah satu mahasiswi cantik yang bernama Quinza Zalene Aleandra Martinez, anak ke tiga dari pasangan Matteon martinez dan Veronica Martines, Quinza sama sekali tidak tertarik ataupun berantusias seperti mahasiswi lainnya, bagi dirinya semua dosen itu sama, sama-sama mengajar dan membagi ilmu mereka untuk para siswa dan siswi di universitas ini.

"Ku dengar dosen baru kita sudah berada di sini, apa kau tahu fakultas mana dosen itu mengajar.

"Aku melihat dosen baru itu, sial, dosen baru itu sangatlah tampan, aku siap untuk menghangat kan ranjangnya setiap hari.

"Dosen itu, uhhh!! sangatlah sexy! apalagi dengan bentuk tubuh atletisnya dan dada bidang yang membuat wanita berfantasi liar.

"Aku melihat cara dia berjalan, menatap, bahkan tatapan dinginnya membuatku terpesona.

"Bukan hanya tampan, dosen itu benar-benar sexy.

Itulah yang selalu di dengar Quinza, Setiap kali Quinza berjalan, melewati para mahasiswi itu, mereka selalu saja membicarakan dosen baru yang sekarang menjadi salah satu idola mereka saat ini.

"Apa mereka tidak ada kegiatan lain, selain membicarakan dosen baru itu, ya Tuhan lama-lama kupingku panas mendengar pembicaraan mereka,"ucap Quinza dalam hati, merasa jengah mendengar mereka tentang dosen baru itu.

Di saat itu pula Quinza mendengar teriakan sahabatnya, memanggil Quinza dengan suara lantangnya.

"Quinza ... Quinza ... Wait, kenapa kau jalan cepat sekali, huh!!"ucap Felicia sahabatku,"Apa kau tidak mendengar, aku meneriakimu dari tadi hah! Teriak Felicia kesal.

Mendengar Felicia berteriak membuat kuping Quinza semakin panas, kupingnya pengang. Apa sahabatnya itu sekali saja tidak berteriak memanggil namanya. Sungguh Quinza sangat malu jika sahabatnya itu memanggilnya dengan cara berteriak. Kesal Quinza, merutuki sahabatnya yang selalu saja berteriak jika quinza tidak menyahuti panggilannya

Tepat di saat Quinza akan berbalik badan menoleh ke arah Felica, Quinza menabrak dada bidang seorang pria.

Brukkk...

Quinza terjatuh tepat di depan pria itu, dengan kesal Quinza memaki pria yang menabraknya. "Apa kau tidak punya mata, sampai kau menabrakku hingga aku terjatuh dan kau tidak ada niatan untuk membantuku berdiri, brengsek!!

"Kau menuduhku seolah-olah aku tidak mempunyai mata, justru yang harus disalahkan adalah kau, di mana letak matamu sampai kau berbalik badan tidak melihat aku yang sudah berada di depanmu,"jawab pria itu santai, tanpa mau membantu Quinza berdiri, dan mensejajarkan dirinya di depan Quinza begitu dekat, hingga pria itu membisikan sesuatu pada Quinza

"Jangan pernah mengeluarkan kata kasar dari mulut cantikmu jika kau tidak tahu seberapa brengseknya aku, dan ingat satu hal kau tidak akan pernah lepas dariku, sugar?"Pria itu pergi meninggalkan Quinza yang mematung di tempatnya.

Quinza mematung mendengarkan ucapan terakhir dari pria itu, tanpa sadar, Quinza sudah menjadi pusat objek para mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang di area kampusnya.

Bisik-bisik terdengar jelas dari indra pendengaran Quinza membangunkan Quinza dari lamunannya tentang kejadian itu, banyak di antara mereka yang kasihan pada Quinza, ada pula sebagian dari mereka mencemooh Quinza atas kecerobohan dan makian Quinza. Pada dosen barunya.

"Ya Tuhan. Quinza apa yang kau lakukan hah, apa kau tidak tahu siapa pria yang kau tabrak tadi, apa kau mau menjadi pusat perhatian para mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini, cepat bangun!"ucap Felicia, mengulurkan tangannya untuk membantu Quinza berdiri.

"Kau membuat gempar seluruh kampus ini dengan makianmu Quinza, apa yang ada di otak cantikmu sehingga kau memaki dosen baru itu, Quinza,"tanya Felicia tidak habis pikir dengan sahabatnya ini, memaki dosen barunya yang menjadi idola para mahasiswi di kampus ini.

Quinza tercengang mendengar penuturan sahabatnya, hingga Quinza terdiam mematung di tempat yang sama, tanpa disadari Quinza, seorang pria melihat Quinza dari kejauhan dengan senyum yang sulit diartikan, "Menarik.

Felicia mengguncangkan bahu Quinza agar sahabatnya tersadar dari lamunannya "Heii ... Are you okay, kenapa kau diam, apa ada sesuatu yang mengusik pikiranmu, hah!!"tanya Felicia curiga, melihat Quinza terdiam seperti ini.

"I m okay, jadi pria itu, dosen baru di kampus ini?

"Hmm, pria yang kau tabrak dan kau maki itu adalah dosen baru kita, sekaligus dosen pembimbing kita, ku dengar dari beberapa senior kita, dosen baru itu sangatlah killer dia tidak segan-segan menghukum para muridnya jika tidak mengikuti peraturan yang dibuat,"jelas Felicia

"Sudahlah lebih baik kita masuk kelas sekarang, waktu kita tinggal 5 menit lagi, aku tidak mau kena hukuman di hari pertama dosen itu masuk ke kelas kita,"Felica lekas menarik tangan Quinza meninggalkan tempat itu.

Mata pelajaran pertama pun dimulai, para mahasiswi yang berada di kelas itu merapikan tatanan make-up dan penampilannya untuk sang dosen baru, ada juga yang sengaja membuka kancing bajunya untuk memperlihatkan buah dada mereka.

Hingga pintu kelas pun terbuka menampilkan sang dosen yang sedang berjalan di kelas mereka dan berhenti tepat di depan para mahasiswa dan mahasiswinya, tanpa berbasa-basi dosen itu memperkenalkan dirinya dan memberikan peraturan dalam kelasnya.

"Saya Axton Alarich Jacob, kalian bisa memanggil saya Mr.Axton, di kelas ini saya adalah dosen pembimbing kalian yang baru menggantikan Miss Renata, dan saya sudah membuat peraturan untuk kelas saya ini, pertama saya tidak suka dengan mahasiswa atau mahasiswi yang telat di kelas saya, kedua saya tidak suka dengan mahasiswa atau mahasiswi yang lalai dalam memberikan tugas yang saya pinta, ketiga saya tidak suka jika saya sedang mengajar di antara kalian tidak mendengarkan penjelasan saya jika ada mahasiswi atau mahasiswa yang tidak mau mengikuti peraturan saya, kalian bisa angkat kaki dari kelas ini atau nilai akhir dari semester ini tidak akan saya berikan dan kalian akan mengulanginya tahun depan?"ucap Axton dengan tegas.

Setelah Axton memberikan peraturan untuk mahasiswa dan mahasiswinya, kelas yang Axton bimbing pun dimulai, Axton memberikan penjelasan tentang pembelajaran yang Axton berikan pada mereka, tidak ada satupun dari mereka yang berani ribut di kelas Axton, mereka tidak berani membantah peraturan Axton, mereka tahu konsekuensi apa yang mereka dapat jika melanggar peraturan yang Axton buat.

Kelas Axton pun berakhir, para mahasiswa dan mahasiswi pun berbondong-bondong keluar dari kelas mereka, adapun dari mereka secara terang-terangan menggoda sang dosen untuk menghangatkan rahimnya.

Tak lama mereka pun keluar dari kelas, meninggalkan Quinza dan Axton disana, suasana di kelas itu terasa canggung, hingga Quinza melihat tatapan Quinza yang sulit diartikan, dengan cepat Quinza membereskan buku-buku pelajarannya, tanpa mau melihat tatapan Axton yang sangat mengerikan untuk Quinza.

"Aku bersyukur kau salah satu mahasiswiku, jadi aku bisa mengawasimu setiap hari, dan ingat perkataanku tadi, aku tidak akan pernah melepaskanmu dari pandanganku, Quinza,"ucap Axton, sembari melangkah menghampiri Quinza yang enggan menatapnya.

Tap

Tap

Tap

Axton menghampiri Quinza, yang masih terdiam di mejanya, Axton membalikkan tubuh Quinza, dengan tangannya, sampai tatapan mereka bertemu tanpa melepaskan cengkraman tangannya di pundak Quinza.

Axton memperhatikan setiap inci wajah cantik Quinza tanpa melepaskan tatapannya di bibir mungil Quinza.

"Apa yang akan Anda lakukan, lepaskan cengkraman Anda.

"Menurutmu sugar, apa yang bisa aku lakukan padamu, kita bisa bersenang-senang di sini, bukan kah itu hal yang sangat bagus?

"Brengsek, apa maksud dari perkataan anda tuan Axton, kau dosen pembimbingku, seharusnya kau memberikan contoh yang baik untuk mahasiswimu?"ucap Quinza geram, mendengar ucapan Axton yang membuatnya berang. Marah. Kesal

"Kau bilang aku brengsek, aku akan memperlihatkan seberapa brengseknya diriku."

Di detik itu juga Axton mencium Quinza dengan kasar, dominan, Quinza tidak bisa melawan Axton karena dirinya dikukung oleh kedua tangan Axton dan posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi Quinza berada di sudut meja belakang kelasnya.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Megacecung

Selebihnya

Buku serupa

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku