Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Istriku Kuyang

Istriku Kuyang

R.D.Lestari.

5.0
Komentar
4.3K
Penayangan
20
Bab

Bercerita tentang kisah perjalanan cinta Yusuf, pemuda perantauan dari Jawa yang jatuh hati pada gadis Kalimantan. Awalnya indah sebelum akhirnya Ia mengetahui bahwa wanita yang ia cintai ternyata seorang kuyang, makhluk siluman berupa kepala terbang dan jeroan yang menjuntai. Apa yabg terjadi pada Yusuf selanjutnya?

Bab 1 Gadis Kalimantan.

Bismillah

"Isteriku Kuyang "

# part_1

# by: Ratna Dewi Lestari.

Angin semilir membelai rambutku yang lebat, ku telusuri setiap jalan di Kota yang baru saja ku datangi. Ya, kota dengan hutan yang lebat dan masih sangat asri. Kalimantan.

Bersama dengan sahabatku semasa kuliah dulu, aku mengadu nasib di Kota yang terkenal banyak cerita misteri di baliknya. Menurutku Kota ini tak seseram yang banyak orang ceritakan. Mungkin karena aku tinggal di daerah perkotaannya yang jauh dari hal mistis.

Yang kutahu Kota ini menyimpan banyak wanita cantik dan mempesona, memanjakan mata para pria dengan kulit wajah dan tubuhnya yang putih berseri.

Sambil menikmati keindahan Kota menggunakan vespa milik teman, ku tebarkan pesona dengan tersenyum manis ke setiap wanita yang berpapasan denganku. Ah, mereka rata-rata berwajah putih dan glowing. Membuat aku semakin betah di Kota ini. Surga wanita cantik.

***

Tak terasa sudah setahun berada di Kota nan asri ini. Akupun sudah bekerja di sebuah perusahaan yang terbilang elit dan bergaji lumayan besar. Dalam jangka waktu beberapa bulan saja, mobil sudah terparkir di kontrakanku. Sengaja tak membeli rumah karena aku tak bermaksud menetap selamanya di Kota ini.

Namun semua pikiranku seketika berubah di saat pertama melihat Arini, wanita cantik asli tanah Kalimantan yang baru saja magang di Kantorku. Wajahnya bukan hanya cantik, putih, bersih dan bersinar, tapi ketika berpapasan dengannya ada sesuatu yang membuatku ingin selalu menatapnya dan tak bisa berpaling dari paras cantiknya yang menawan.

Ia benar-benar membuatku tergila-gila. Wanita berjilbab dengan tubuh yang lumayan tinggi itu pun selalu membalas tatapan dan tersenyum melihat tingkahku yang selalu memperhatikannya.

Sebulan berkenalan dengannya, kuberanikan diri menemui orang tuanya. Walaupun antara aku dan Arini belum ada ikatan apapun, dan akupun belum menyatakan perasaanku. Nyatanya Arini tak keberatan dengan keinginanku.

Dengan rasa percaya diri aku datang bertandang kerumah Arini di hari minggu. Wanita itu tampak sangat cantik menyambut kedatanganku. Begitupun kedua orang tuanya yang begitu ramah kepadaku. Yang aku heran, wajah Ibu Arini terlihat sama cantik seperti Arini, sangat awet muda untuk ukuran seorang Ibu yang punya anak gadis seperti Arini.

Arini punya seorang adik yang berusia sepuluh tahun. Bocah laki-laki itu pun ramah dan senang berbincang denganku.

Keluarga Arini sangatlah baik. Rumah Arini yang eksotik dan terkesan asri dengan pepohonan rindang di sisi kanan dan kiri membuatku semakin betah dan ingin segera memantapkan hati untuk meminang Arini.

Kesempatan itu tak kusia-siakan, saat Arini mengajakku berkeliling dengan berjalan kaki menikmati suasana sore di sekitar tempat tinggalnya. Di pinggie sawah, ketika matahari mulai terbenam dengan langit yang berwarna jingga, kuungkapkan semua rasa, rasa cinta dan sayang kepada dirinya.

Gayung bersambut. Dengan tersipu malu Arini menerima cintaku. Wanita cantik itu mengangguk dengan tangan yang sedikit gemetar ketika kusentuh. Aku tak mampu menyembunyikan rasa bahagiaku. Dan dengan sebuah janji, aku tak ingin berpacaran lagi. Aku ingin segera melamarnya dan menjadikannya seorang istri.

Awalnya Arini sempat terkejut dengan ucapanku. Namun , setelah semua kuungkapkan ia pun setuju dengan syarat ia ingin tetap tinggal dengan kedua orang tuanya. Ia ingin berbakti dan merawat kedua orang tuanya. Bagiku tak masalah, aku malah bangga dengan sikap Arini yang begitu mencintai orang tuanya.

***

Pernikahan kami berlangsung secara meriah. Arini tampak sangat cantik menggunakan pakaian adat kebanggaannya. Keluargaku pun terpesona dengan kecantikan dan tak henti-henti memuji wanita pilihanku.

Setelah acara usai dan semua tamu pulang, keluargaku pun ikut menginap bersamaku di rumah Arini.

Semua tampak biasa, tapi ketika tengah malam timbul keanehan di rumah Arini. Aku heran ketika keluarga masih berkumpul dan mengobrol dengan seru, tak nampak sosok Ibu Arini di antara kami. Kamar pun terbuka lebar.

Hingga ku dengar sayup-sayup sekumpulan orang berteriak sambil memukul kentongan. Mereka berteriak menyebut kata kuyang berkali-kali. Mereka berlari mendekat ke arah rumah Arini.

Bukkk!

Kudengar suara benda jatuh di atap rumah Arini. Aku menatap Arini, Arini seperti tidak mendengar apa yang barusan ku dengar. Aku berusaha bangkit namun ditahan tangan Arini. Ia menggelengkan kepalanya seraya berucap.

"Biarkan saja, Bang! biasa itu di daerah sini! jangan heran,"

"Kuyang itu apa, Dek?" tanyaku heran. Ya, aku memang tidak tau apa yang mereka sebut dengan kuyang itu.

"Kuyang itu binatang malam yang suka mencari buah, kalau di daerah Abang namanya kelelawar," jelas Arini.

"Ooo , kelelawar ...," jawabku dengan mengangguk cepat.

"Bang, masuk yuk! dah sepi ni," ujar Arini centil mengedipkan mata.

Naluri kelelakianku tiba-tiba muncul. Dengan tergesa ku gandeng Arini menuju kamar pengantin. Melewati kamar Ibu Arini yang terbuka, kulihat Ibu sedang duduk menjahit baju. Ia tersenyum melihatku.

"Aneh, sejak kapan Ibu berada di situ?" pikirku.

Arini menarik tanganku kencang, pikiran itu segera hilang berganti dengan kebahagiaan bisa berdua saja dengan istri yang selama ini kunanti.

Di kamar, Arini membuka jilbabnya , ia tampak semakin cantik dengan rambut hitam panjang terurai , kusibak rambut nya dan kukecup mesra lehernya. Mataku terperangah melihat bekas sesetan benda yang melingkar nyaris melingkar penuh di lehernya.

"Dek ... ini kenapa?" tanyaku hati-hati takut menyinggung perasaan istriku.

"Apa, Bang?" Arini menatapku heran.

"Ini, Dek," ucapku seraya menunjuk bekas luka di lehernya. Ia pun mengernyitkan dahinya.

"Oh, ini, ini bekas luka kena tali layangan sewaktu kecil, Bang, cukup berbekas karena lumayan dalam lukanya. Beruntung aku selamat," jawab Arini lirih meraba bekas lukanya.

"Ooo, ya la, Dek, biarin la bekas luka itu. Sekarang kita lanjutkan urusan yang tertunda!" ajakku dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya yang bersemu merah. Malam pertama harus berjalan lancar. Aku tak mau kehilangan momen berharga.

***

Pagi ini Arini nampak semakin cantik. Ia begitu sigap menyiapkan keperluanku dan dirinya. Dengan hati bahagia kami berangkat ke kantor bersama.

Sebelum berangkat sempat ku dengar Arini berbisik kepada ibunya. Kata- kata yang sempat kudengar dari mulut Arini ketika tak sengaja diriku melintas," Bu, di desa sebelah ada ibu hamil, anak pak kades,"

Entah apa maksud Arini berkata seperti itu. Bisik-bisik lagi. Kulihat wajah mereka sangat ceria dan kegirangan. Seperti melihat makanan enak. Hatiku jadi deg-deg ser. Apa sih menariknya ibu hamil sampai mereka bisa kegirangan seperti itu? Ah, entahlah.

Aku berpura-pura tidak mendengarnya dan berlalu begitu saja. Arini sempat menutup mulutnya. Membuat tingkahnya semakin aneh terlihat.

Dengan sabar aku menunggu Arini di dalam mobil. Arini berlari kecil dengan senyuman lebar di wajahnya. Ia membuka pintu mobil dan wajah cantiknya menyembul. Ku perhatikan dengan seksama, Arini sepertinya sangat bahagia.

"Bahagia banget, Dek," ucapku keceplosan.

"He-he-he, iya, Bang, Adek bahagia nikah sama Abang," ucapnya manja. Membuatku serasa terbang melayang.

Kucubit pipinya yang mulus. Ah, aku semakin merasa bersalah berpikir yang tidak-tidak kepada istri tercantikku.

Dengan hati yang berdebar kupacu mobil secepat mungkin menuju ke kantor. Mobil berderu di sepanjang jalan melewati rindangnya pepohonan di sisi kanan dan kiri jalan. Desa tempat Arini tinggal memang masih sangat sayup dan rumah masih sangat jarang. Tiba-tiba timbul perasaan takut. Sebelum pergi keluargaku sempat berpamitan untuk kembali pulang ke kampung halaman. Aku tak bisa mengantar karena dari kantor tidak mengizinkan. Dengan terpaksa aku merelakan keluargaku pulang tanpa kehadiranku.

***

Pulang kerja langit sudah gelap. Aku dan Arini sudah sangat lelah. Ku lihat istriku sudah tertidur di sampingku. Ku belai kepalanya yang tertutup jilbab merah.

Memasuki jalan desa hatiku mulai tak karuan. Udara terasa dingin menyengat tulang. Tidak ada lampu penerangan. Cahaya hanya dari lampu mobil dan rumah warga yang berjarak antara satu rumah dan rumah berikutnya.

Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sekumpulan sinar dari jauh. Ku tajamkan mata dan mobil ku hentikan di pinggir jalan. Semakin lama semakin nampak jelas sekumpulan orang dari jalan setapak tak jauh dari mobil. Orang-orang itu membawa obor dan membawa peralatan dapur juga bambu hijau yang sudah di runcingkan . Mereka berjalan beriringan seraya menyebut nama "kuyang".

Lagi-lagi kuyang. Sebenarnya kuyang itu apa?

Gerombolan orang itu melintas di depan mobilku . Salah satu dari mereka mendekat dan mengetuk kaca mobilku, membuat copot jantungku. Aku takut mereka mempunyai niat jahat.

Tok! Tok! Tok!

Perlahan kubuka jendela mobilku . Pria paruh baya itu tersenyum penuh arti kepadaku.

"Jaga dirimu, kau orang baru di sini! berhati-hatilah ," setelah ia mengucapkan itu, ia pun berpamitan dan berlalu bersama rombongannya. Aku hanya terhenyak dan berusaha mencerna setiap kata-kata si bapak.

Arini menggeliat dan menatapku sayu. Kasihan ia, nampaknya sangat kelelahan.

"Kenapa berhenti di sini, Bang?" Ia nampak sangat heran melihat mobil terparkir di pinggir jalan sepi.

"Ah, ga apa-apa, Dek, ini Abang lanjuti ya perjalanan kita, kasihan kamu pasti sangat lelah," tuturku lembut seraya mencium keningnya.

Ia mengangguk dan mobil segera kupacu. Walaupun mobil kupacu cepat, tapi entah mengapa rasanya lambat. Untuk tiba di rumah terasa amat lama.

Memasuki gapura desa tanpa sengaja mataku menatap bayangan aneh berkelebat melintas tak jauh dari mobil. Lampu mobil menerpa bayangan hitam yang melesat cepat. Nampak seperti kepala dengan rambut terurai panjang di langit malam. Aku terkesiap. Jantungku berdetak cepat. Tanpa sengaja ku sebut nama Allah dan mobil ku rem mendadak.

Ckitttttt!

"Astagfirullah," ucapku tanpa sadar. Tanganku mengelus dadaku yang berdetak kencang.

"Kenapa, Bang?" ia menatapku heran.

"Ah, tak apa, Dek," jawabku sekenanya. Aku memilih diam dan melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi sampai. Lelah, letih dan takut menyergap diriku. Ingin segera sampai rumah dan melupakan semua kejadian buruk dengan tertidur.

Mobil berhenti di halaman rumah Arini. Suasana nan asri jika siang hari terasa sangat mencekam di malam hari. Kulihat ponsel, baru jam sembilan malam. Namun, siswa nya di desa ini sangatlah sepi. Tak nampak orang berlalu lalang. Rumah yang berjarak membuat suasana tampak bak kuburan.

Aku pun segera melangkah masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Arini. Tak nampak ibu dan ayah serta adik Arini. Mungkin semua sudah tertidur lelap. Aku pun tak mau ambil pusing.

Selesai makan dan bersih-bersih, aku dan Arini segera menuju peraduan . Lelah dan letih yang menyerang sedari tadi memaksaku untuk segera berbaring. Tertidur sambil memeluk Arini yang cantik.

***

"Ah, bisa-bisanya tengah malam begini aku mau pipis!" sungutku . Dengan terpaksa kubuka mataku pelan, rasanya sangat mendesak dan tidak bisa ditahan lagi. Tanganku bergrilya mencari keberadaan Arini. Kosong. Kupicingkan mataku, ya, Arini sudah tak tampak di sampingku .

Ku edarkan pandanganku berharap Arini ada di kamarku . Namun, nihil. Arini tak jua terlihat.

Dengan langkah malas aku beranjak dari peraduan . Berjalan menuju toilet yang letaknya di luar rumah. Dingin menyergap ketika ku buka pintu belakang rumah. Bulu kudukku seketika berdiri , kutatap...

Bersambung....

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh R.D.Lestari.

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku