icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Istriku Kuyang

Istriku Kuyang

icon

Bab 1 Gadis Kalimantan.

Jumlah Kata:1673    |    Dirilis Pada: 05/01/2022

mil

"Isteriku

pa

tna Dewi

i setiap jalan di Kota yang baru saja ku datangi. Ya, kota

al banyak cerita misteri di baliknya. Menurutku Kota ini tak seseram yang banyak orang

cantik dan mempesona, memanjakan mata para pria d

dengan tersenyum manis ke setiap wanita yang berpapasan denganku. Ah, mereka rata-rata

*

ng terbilang elit dan bergaji lumayan besar. Dalam jangka waktu beberapa bulan saja, mobil sudah terp

baru saja magang di Kantorku. Wajahnya bukan hanya cantik, putih, bersih dan bersinar, tapi ketika berpapasan den

ngan tubuh yang lumayan tinggi itu pun selalu membalas tatapa

. Walaupun antara aku dan Arini belum ada ikatan apapun, dan akupun belu

menyambut kedatanganku. Begitupun kedua orang tuanya yang begitu ramah kepadaku. Yang aku heran, wajah Ibu Arini

ia sepuluh tahun. Bocah laki-laki itu p

esan asri dengan pepohonan rindang di sisi kanan dan kiri membuatku

mati suasana sore di sekitar tempat tinggalnya. Di pinggie sawah, ketika matahari mulai terbenam

tangan yang sedikit gemetar ketika kusentuh. Aku tak mampu menyembunyikan rasa bahagiaku. Dan dengan se

engan syarat ia ingin tetap tinggal dengan kedua orang tuanya. Ia ingin berbakti dan merawat kedua or

*

cantik menggunakan pakaian adat kebanggaannya. Keluargaku pun terpe

tamu pulang, keluargaku pun ikut

ah Arini. Aku heran ketika keluarga masih berkumpul dan mengobrol dengan

sambil memukul kentongan. Mereka berteriak menyebut kata kuy

Bu

rini seperti tidak mendengar apa yang barusan ku dengar. Aku berusaha ban

ang! biasa itu di daer

heran. Ya, aku memang tidak tau apa

suka mencari buah, kalau di daerah A

r ...," jawabku deng

dah sepi ni," ujar Arini

g Arini menuju kamar pengantin. Melewati kamar Ibu Arini yang terbu

kapan Ibu berada

u segera hilang berganti dengan kebahagiaan bisa

hitam panjang terurai , kusibak rambut nya dan kukecup mesra lehernya. Mataku terpe

tanyaku hati-hati takut m

ng?" Arini me

enunjuk bekas luka di lehernya.

il, Bang, cukup berbekas karena lumayan dalam lukanya. Ber

yang tertunda!" ajakku dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya yang bersemu me

*

tu sigap menyiapkan keperluanku dan dirinya. Deng

Kata- kata yang sempat kudengar dari mulut Arini ketika tak sengaja

ka sangat ceria dan kegirangan. Seperti melihat makanan enak. Hatiku jadi deg-deg ser

erlalu begitu saja. Arini sempat menutup mulut

ngan senyuman lebar di wajahnya. Ia membuka pintu mobil dan wajah cantikny

anget, Dek," uc

gia nikah sama Abang," ucapnya manja

u semakin merasa bersalah berpikir yan

lan. Desa tempat Arini tinggal memang masih sangat sayup dan rumah masih sangat jarang. Tiba-tiba timbul perasaan takut. Sebelum pergi keluargaku sempat berpamitan un

*

ah sangat lelah. Ku lihat istriku sudah tertidur di sam

yengat tulang. Tidak ada lampu penerangan. Cahaya hanya dari lampu mobi

emakin lama semakin nampak jelas sekumpulan orang dari jalan setapak tak jauh dari mobil. Orang-orang itu membawa obor dan m

uyang. Sebenarny

h satu dari mereka mendekat dan mengetuk kaca mobilku, memb

Tok! T

mobilku . Pria paruh baya itu

ia mengucapkan itu, ia pun berpamitan dan berlalu bersama rombongannya

menatapku sayu. Kasihan ia,

?" Ia nampak sangat heran melihat mo

ya perjalanan kita, kasihan kamu pasti sangat l

upun mobil kupacu cepat, tapi entah mengapa rasa

ampu mobil menerpa bayangan hitam yang melesat cepat. Nampak seperti kepala dengan rambut terurai panjang di la

Cki

tanpa sadar. Tanganku mengelu

, Bang?" ia me

perjalanan yang sebentar lagi sampai. Lelah, letih dan takut menyergap diriku

cekam di malam hari. Kulihat ponsel, baru jam sembilan malam. Namun, siswa nya di desa ini sangat

ggandeng Arini. Tak nampak ibu dan ayah serta adik Arini. Mung

ju peraduan . Lelah dan letih yang menyerang sedari tadi memaksaku

*

ka mataku pelan, rasanya sangat mendesak dan tidak bisa ditahan lagi. Tanganku bergrilya me

harap Arini ada di kamarku . Namu

nuju toilet yang letaknya di luar rumah. Dingin menyergap ketika ku

ambu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka