30 Days With Mr. Vague

30 Days With Mr. Vague

elhrln

5.0
Komentar
105
Penayangan
10
Bab

Rose tidak menyangka jika seseorang yang telah menculiknya adalah Louton Vague, seorang ahli waris dari salah satu Holding Company terbaik di USA. Padahal selama ini Rose selalu melihat Louton sebagai sosok pria muda tampan yang sopan dan berwibawa. Namun, setelah tahu bagaimana perlakuan Louton padanya, kini Rose tahu bahwa ternyata Louton adalah pria misterius dan menakutkan yang berhati dingin, kejam, bahkan tak segan menyerang fisik perempuan. Meski begitu, menghabiskan waktu berhari-hari bersama Louton, paling tidak membuat Rose tahu jika ada yang salah dengan diri pria itu. Kesalahan yang mungkin saja bisa Rose perbaiki, karena Rose merasa bahwa ada sisi baik yang tersembunyi di dalam diri Louton dan entah kenapa ... itu justru membuat Rose luluh. Rose tahu apa yang dirasakannya pada Louton adalah salah. Tidak sepantasnya ia justru menaruh rasa simpati pada seseorang yang telah menculiknya. Lantas, Rose harus bagaimana? Apa setelah dirinya terbebas dari Louton, ia harus melaporkan tindakan Louton? Apa setelah dirinya terbebas dari Louton, ia bisa bertemu dengan Louton lagi agar dapat terus mengubahnya menjadi seseorang yang jauh lebih baik?

30 Days With Mr. Vague Bab 1 1. Why Did You Do This To Me

Aku diculik.

Setidaknya itu yang aku tahu ketika terbangun sudah berada di sebuah ruangan berukuran kurang lebih dua belas meter persegi. Memang tidak jauh berbeda dengan ukuran ruang kamarku, tapi meminum dua teguk sampanye untungnya tidak terlalu membuatku mabuk hingga lupa bagaimana rupa dari kamar yang telah aku tempati selama hampir dua puluh tahun. Terlebih tidak ada apa-apa di dalam ruangan ini selain tempat tidur, meja, juga shower box.

"Halo?" panggilku pada siapa pun yang mungkin saja mendengar. Sayangnya, tidak ada jawaban.

Sial. Aku tidak bisa bersikap biasa saja seperti ini. Aku sedang diculik. Aku tidak tahu apa yang akan penculik itu lakukan padaku jika aku hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun. Aku harus melakukan sesuatu untuk bisa membebaskan diri.

Belum juga kakiku mencapai pintu, pintu yang dimaksud tiba-tiba mengeluarkan bunyi desis. Bersamaan dengan itu pula pintu bergeser ke samping seperti halnya sebuah pintu lift ketika terbuka.

Dari balik pintu yang telah terbuka tersebut, seorang pria muda berwajah tampan, berpostur tinggi, tegap, proporsional, model rambut buzz cut, muncul dan berdiri di ambang pintu. Tangan kanannya menjinjing sebuah paper bag, sementara tangan kirinya disembunyikan dalam saku jaket bomber berwarna hijau army yang ia pakai.

Aku mematung di tempat. Menatap seseorang yang aku sendiri tidak menyangka bahwa ialah orang yang telah menculikku.

"Mr. Vague?" tanyaku bernada tak percaya. "I-ini benar kau?"

Mata Mr. Vague memicing sedetik setelah aku menyebut namanya.

"Rupanya kau mengenalku," ujarnya datar dan terkesan tidak terlalu senang.

"Ya-eh, tidak," ralatku segera. "Maksudku, tidak terlalu kenal, tapi aku tahu kau tentu saja."

"Rasa-rasanya aku tidak berencana untuk mengekspos diriku sendiri agar diketahui orang banyak."

Mr. Vague melangkah lebih ke dalam ruangan. Tadinya aku pikir ia akan membiarkan pintu tetap terbuka, tapi tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang ada pada salah satu sisi tembok dan pintu kembali tertutup. Mungkin ada semacam pemindai telapak tangan di sana. Dan, itu tampak tidak bagus untukku.

"Kau ... mungkin begitu, tapi tidak dengan orang lain. Mereka dengan senang hati membuatmu terekspos," jawabku tanpa sadar bergerak mundur secara perlahan saat Mr. Vague mendekat.

"Jadi apa yang kau tahu dariku?" tanya Mr. Vague sudah berdiri tepat di depanku.

"Kau?"

"Siapa lagi?"

Meskipun masih berjarak satu langkah, aku sudah bisa melihat mata birunya yang jernih. Belum pernah aku melihatnya dalam jarak sedekat ini dan kuakui bahwa matanya begitu memukau.

Aku menelan ludah. Bagaimana caranya menatap membuatku terintimidasi.

"Oh, kau ...," jujur saja aku canggung ditatap dengan seorang pria sepertinya, "yang aku tahu kau menjadi ahli waris Vague Holding Group."

"Hanya itu?"

Aku berpikir. "Memang hanya itu informasi yang paling melekat di dirimu," jawabku. Selama sesaat yang tidak terlalu menyenangkan, kupikir ia akan merespons jawabanku, tapi ternyata ia hanya diam seolah menunggu kalimatku yang selanjutnya. "Tapi aku rasa kau tidak terlalu senang dengan posisi itu."

Mata biru Mr. Vague menyala.

"Kau berpikir begitu?"

"Maaf," kataku kemudian. "Itu hanya menurutku. Tolong jangan cabut beasiswaku hanya karena aku berkata kurang sopan."

"Rupanya kau berkuliah di UC Berkeley." Mr. Vague memberi tanggapan.

"Kau menebaknya."

"Karena program beasiswa Vague Holding Group memang hanya ada di sana," jelas Mr. Vague seraya menyodorkan tangannya yang sedari tadi memegang paper bag. "Makananmu seharian ini. Pastikan cukup sampai makan malam."

Aku memandang paper bag yang masih menggantung di tangannya. Menerima dengan ragu sambil mengecek apa isi di dalam paper bag tersebut.

"Sandwich dan air mineral?"

"Seperti yang kau lihat."

"Dan kau bilang hanya ini makananku untuk seharian ini? Apa kau serius?"

"Aku tidak pernah tidak serius dan jangan buatku harus menjelaskan dua kali."

"Mr. Vague, tapi ini ... jujur aku bisa menghabiskan semua ini sekarang juga. Bahkan aku bisa menghabiskan dua sandwich sewaktu sarapan," ungkapku dan ia hanya bergeming mendengar pengakuanku yang mungkin sedikit memalukan. Terlihat sekali jika aku sangat lapar juga banyak makan.

"Silakan saja jika ingin langsung kau habiskan, tapi kutegaskan bahwa aku hanya akan memberikan makanan untukmu satu kali di pagi hari setiap harinya dan untuk hari ini hanya itu yang aku berikan," jelasnya berbalik pergi di saat aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.

"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyaku pada akhirnya. Kemunculan Mr. Vague beberapa menit lalu nyaris membuatku lupa bahwa aku sedang diculik olehnya.

Langkah kaki Mr. Vague terhenti, lalu ia kembali berbalik menghadapku.

"Apa yang aku perbuat sampai kau berbuat seperti ini? Bahkan aku sama sekali tidak mengenalmu. Jika ada suatu kesalahan yang pernah aku lakukan, tolong katakan, tapi jangan seperti ini."

"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, Rose."

Aku tertegun. "Kau tahu namaku."

"Hampir semua informasi tentangmu ada di dalam dompet dan ponsel."

"Oh." Kepalaku berkeliling. Baru sadar jika tas, dompet, juga ponselku tidak ada di mana pun. "Lalu apa? Jika aku tidak melakukan kesalahan apa pun padamu, kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa kau menculikku?" tanyaku menekan dan matanya kembali menyala.

Mr. Vague sekali lagi mendekat. Tidak terlalu tampak, tapi aku merasa ada perbedaan dari sorot mata juga ekspresi wajahnya. Rahangnya mengatup kuat, kulit di area wajah dan lehernya tertarik, bibir tipisnya mengerut seakan tengah menahan sesuatu yang muncul dari dalam dirinya. Apa aku membuatnya marah? Tapi seharusnya akulah yang marah!

"Kau tidak perlu tahu alasannya," jelasnya dengan suara pelan, dalam, dan mengintimidasi.

Aku takut, tapi aku tetap berusaha terlihat berani.

"Aku perlu tahu," tegasku.

"Tidak untuk sekarang."

"Apa bedanya sekarang atau nanti?" balasku berkeras tanpa memedulikan reaksinya. "Intinya aku perlu tahu alasan kenapa aku ada di sini. Kau tidak bisa seenaknya melakukan ini pada-AH!" jeritku ketika Mr. Vague tiba-tiba menjambak rambutku begitu kuat hingga kepalaku ikut tertarik ke bawah dengan kasar. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh tarikan yang terjadi di antara rambut dan kulit kepala benar-benar terasa menyakitkan.

Dalam posisi itu, Mr. Vague semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku. Ekspresi yang tadinya terlihat datar, seketika berubah menjadi bengis.

"Kau ikuti saja apa yang aku perintahkan," katanya berbisik dan menekan, dimana bibirnya nyaris mengenai daun telingaku. Menghadirkan rasa merinding yang luar biasa. Mataku terpejam dan hanya bisa merintih.

"Cukup ... tolong ... ini sakit," rintihku saat ia makin menjambak rambutku.

"Kukatakan sekali lagi. Itu adalah makanan dan minumanmu selama seharian ini dan kau tidak perlu bertanya kenapa kau bisa ada di sini. Mengerti, Proserpina Johnson?"

Mendengar Mr. Vague menyebut nama lengkapku, hanya makin membuat tubuhku seperti terserang oleh sengatan listrik ratusan volt. Terkesan berlebihan, tapi memang itu yang kurasakan. Suaranya benar-benar mampu menghadirkan sensasi itu.

"Jawab aku jika kau mengerti."

Kepalaku mengangguk pelan.

"Aku butuh suaramu, Rose."

Sebisa mungkin aku berusaha mengeluarkan suaraku di tengah kesakitan yang kuterima.

"A-aku mengerti."

"Gadis baik."

Setelahnya, Mr. Vague melepas tangannya dengan lebih dulu menarik rambut, kepala, beserta tubuhku hingga jatuh ke lantai. Kemudian ia langsung pergi tanpa mengatakan apa pun. Betul-betul pergi menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat. Meninggalkanku seorang diri dengan kondisi masih dihinggapi rasa tidak percaya, bingung, dan takut atas perlakuan seorang Louton Vague.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak

Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak

Tricia Truss

Hanya butuh satu detik bagi dunia seseorang untuk runtuh. Inilah yang terjadi dalam kasus Hannah. Selama empat tahun, dia memberikan segalanya pada suaminya, tetapi suatu hari, pria itu berkata tanpa emosi ,"Ayo kita bercerai." Hannah menyadari bahwa semua usahanya di tahun-tahun sebelumnya sia-sia. Suaminya tidak pernah benar-benar peduli padanya. Saat dia masih memproses kata-kata mengejutkan itu, suara pria yang acuh tak acuh itu datang. "Berhentilah bersikap terkejut. Aku tidak pernah bilang aku mencintaimu. Hatiku selalu menjadi milik Eliana. Aku hanya menikahimu untuk menyingkirkan orang tuaku. Bodoh bagimu untuk berpikir sebaliknya." Hati Hannah hancur berkeping-keping saat dia menandatangani surat cerai, menandai berakhirnya masanya sebagai istri yang setia. Wanita kuat dalam dirinya segera muncul keluar. Pada saat itu, dia bersumpah untuk tidak pernah bergantung pada belas kasihan seorang pria. Auranya luar biasa saat dia memulai perjalanan untuk menemukan dirinya sendiri dan mengatur takdirnya sendiri. Pada saat dia kembali, dia telah mengalami begitu banyak pertumbuhan dan sekarang benar-benar berbeda dari istri penurut yang pernah dikenal semua orang. "Apa yang kamu lakukan di sini, Hannah? Apakah ini trik terbarumu untuk menarik perhatianku?" Suami Hannah yang selalu sombong bertanya. Sebelum dia bisa membalas, seorang CEO yang mendominasi muncul entah dari mana dan menariknya ke pelukannya. Dia tersenyum padanya dan berkata dengan berani pada mantan suaminya, "Hanya sedikit perhatian, Tuan. Ini istriku tercinta. Menjauhlah!" Mantan suami Hannah tidak bisa memercayai telinganya. Dia pikir tidak ada pria yang akan menikahi mantan istrinya, tetapi wanita itu membuktikan bahwa dia salah. Dia kira wanita itu sama sekali tidak berarti. Sedikit yang dia tahu bahwa wanita itu meremehkan dirinya sendiri dan masih banyak lagi yang akan datang ....

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
30 Days With Mr. Vague 30 Days With Mr. Vague elhrln Romantis
“Rose tidak menyangka jika seseorang yang telah menculiknya adalah Louton Vague, seorang ahli waris dari salah satu Holding Company terbaik di USA. Padahal selama ini Rose selalu melihat Louton sebagai sosok pria muda tampan yang sopan dan berwibawa. Namun, setelah tahu bagaimana perlakuan Louton padanya, kini Rose tahu bahwa ternyata Louton adalah pria misterius dan menakutkan yang berhati dingin, kejam, bahkan tak segan menyerang fisik perempuan. Meski begitu, menghabiskan waktu berhari-hari bersama Louton, paling tidak membuat Rose tahu jika ada yang salah dengan diri pria itu. Kesalahan yang mungkin saja bisa Rose perbaiki, karena Rose merasa bahwa ada sisi baik yang tersembunyi di dalam diri Louton dan entah kenapa ... itu justru membuat Rose luluh. Rose tahu apa yang dirasakannya pada Louton adalah salah. Tidak sepantasnya ia justru menaruh rasa simpati pada seseorang yang telah menculiknya. Lantas, Rose harus bagaimana? Apa setelah dirinya terbebas dari Louton, ia harus melaporkan tindakan Louton? Apa setelah dirinya terbebas dari Louton, ia bisa bertemu dengan Louton lagi agar dapat terus mengubahnya menjadi seseorang yang jauh lebih baik?”
1

Bab 1 1. Why Did You Do This To Me

22/12/2021

2

Bab 2 2. Driving Me Crazy

22/12/2021

3

Bab 3 3. You Are So Mean

22/12/2021

4

Bab 4 4. Escape Plan

22/12/2021

5

Bab 5 5. There's Something Wrong With You

22/12/2021

6

Bab 6 6. You Confuse Me

22/12/2021

7

Bab 7 7. I Can Understand

22/12/2021

8

Bab 8 8. Are You Spying On Me

22/12/2021

9

Bab 9 9. More Than That

22/12/2021

10

Bab 10 Two Sides

22/12/2021