back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
PEMBALASAN RITA

PEMBALASAN RITA

Azeela Danastri

4.9
Ulasan
53.8K
Penayangan
72
Bab

Pernikahan yang telah dibangun selama 10 tahun kandas dan kepergiannya untuk membalas sakit hati, membuka semua tabir rahasia kelam yang tertutup rapat.

Bab 1
PEMBALASAN RITA
Desas Desus

Enjoy reading ...

Rita tertegun melihat kesibukan pagi ini di rumah. Sang mertua sedang sibuk di dapur memerintah beberapa pembantu untuk memasak besar hari ini. Sementara setahu dirinya tidak ada acara apapun hari ini.

"Jangan lupa buah-buahan itu dicuci dulu baru masukkan kulkas. Ingat makanan sehat harus selalu ada mulai hari ini," perintah Rakmi.

"Ada acara apa, Bu?" tanya Rita. Ia merasa tidak enak hati karena hari ini bos besar dari kantor pusat akan datang dan ia tidak bisa membantu karena hari cuti sudah hampir habis untuk tahun ini.

"Tidak ada apa-apa. Kejutan untukmu, ibu yakin kamu akan senang nantinya."

Melihat Rita yang tertegun di tempatnya berdiri, Rakmi kembali menambahkan. "Sungguh. Ya, sudah sana siap-siap sarapan terus berangkatlah kerja."

"Maaf ya Bu, Rita tidak bisa membantu."

"Sudahlah, tidak apa-apa. Kamu sudah cukup menemani Ibu saat di Rumah Sakit. Itu saja sudah membuktikan kalau kamu berguna."

Rita tersenyum menanggapi, tidak seperti adat biasa ibu mertua beramah tamah seperti itu dengannya. Namun demi menghormati sang mertua ia menuruti permintaan dengan berbalik badan dan segera menuju ruang makan. Hari ini ia juga sarapan sendirian karena sang suami belum kembali dari luar kota. Ia sudah dua hari tak bisa menghubungi sang suami dan hanya mendapatkan pesan tadi pagi untuk tidak mengkhawatirkan keadaannya.

Rita mendongak saat melihat Yuda datang menemuinya di ruang makan.

"Mobilnya sudah saya siapkan Bu. Pak Anton bilang pimpinan baru akan datang," kata Yuda, "Ibu yakin tidak mau saya antar saja?"

"Iya saya sudah tahu. Tapi tidak perlu saya bisa pergi sendiri untuk hari ini. Besok lusa saya baru kembali. Terima kasih ya." Rita lantas berdiri dan menyambar tas dinasnya.

Ponselnya berdering dan panggilan dari mamanya menyapa pagi ini. Setidaknya hatinya yang merasa kesepian selama dua bulan terakhir ini sering ditinggal pergi sang suami.

"Hai Nak, gimana kabarmu hari ini?"

"Baik Ma. Hari ini Rita harus ke kota sampai lusa baru kembali. Ada pimpinan baru yang akan ditempatkan di cabang."

"Mama sudah bilang bukan. Lebih baik kamu pindah dari desa itu. Tidak ada gunanya kamu berlama-lama di sana. Suamimu juga sudah jarang di rumah."

Rita tertegun mendengarkan perkataan sang mama. Ia tidak pernah menceritakan perihal sang suami yang sangat sibuk beberapa tahun terakhir ini kepada keluarganya.

"Kenapa diam? Benarkan apa yang Mama bilang. Kamu juga lebih mudah untuk bekerja lebih hemat waktu perjalanan."

"Mas Apri tidak mau pindah, Ma. Kasihan ibu. Ibu nggak mau pindah dari desa ini."

"Dan menyusahkan anak dan menantunya. Seharusnya ibu mertuamu itu sadar memiliki anak yang memiliki pekerjaan mapan di kota dan juga menantu yang menjadi wanita karir, bukannya memaksakan kehendak untuk tetap tinggal di desa. Contoh seperti Mama ini, tau dirilah Abangmu pindah ke kota dan meminta Mama sama papa ikut. Ya, kami ikut bukan? Kami juga tidak ingin merepotkan kamu juga. Kewajibanmu sudah berubah untuk mengurus mertua dan suami."

"Rita rasa bukan begitu Ma. Rita yakin maksud ibu itu baik untuk tidak meninggalkan peninggalan bapak."

"Sudahlah berhenti membela mertuamu itu. Mama sudah tahu bagaimana perlakuan beliau terhadap kamu. Coba kamu keluar dari rumah itu. Toh, ada menantunya yang lain di sana. Andai kamu mau menuruti Mama. Saat ini kamu pasti sudah hamil, lagi."

"Ma .... Tolong jangan ungkit itu lagi," ujar Rita lirih. Hatinya sedih mengingat janin yang sudah gugur dua kali.

"Mertuamu itu terlalu keras terhadapmu. Pembantunya saja sudah banyak tapi masih juga memaksa kamu untuk mengurus rumahnya yang besar. Mama tahu, mertuamu itu keras sama kamu dan membedakan perlakuannya terhadap menantunya yang lain."

"Mereka punya anak yang harus di urus, Ma. Sementara Rita hanya mengurus diri sendiri dan Mas Apri." Dengan sabar, Rita menanggapi ucapan Daya yang memang benar adanya. Namun ia tahu, tak patut jika orang tuanya memiliki pikiran negatif terhadap besan.

"Mama tetap yakin, jika kamu keluar dari rumah itu. Pasti kamu akan cepat memiliki anak kembali dan kali ini pasti cucu Mama akan berhasil lahir dengan sehat. Terlalu banyak tekanan kamu terima di sana Nak. Tidak semua menantu bisa cocok tinggal dengan mertua apalagi dengan mertua yang pilih kasih. Percaya deh sama Mama. Ya sudah kalau begitu, tolong pikirkan kembali permintaan Mama ya?"

"Baik Ma," jawab Rita yang ini pembicaraan ini cepat berakhir. Perasaannya tidak menentu juga terus diungkit tentang hal itu. Memang benar mertuanya selalu pilih kasih antara dirinya dan menantu yang lain. Namun hal itu tidak ingin terlalu ia pikirkan. Ia cukup percaya dengan sang suami, Apriyanto yang akan selalu setia terhadapnya.

"Aku nggak mungkin salah lihat Ya. Itu tadi beneran suami mbak Rita," kata Mia sekali lagi mencoba meyakinkan Evi.

"Pak Apri itu sedang keluar kota, Mbak," kata Evi.

"Itu buktinya. Nggak cuma aku, suamiku juga lihat kok. Kamu nggak lupa 'kan, kalau suamiku salah satu mandornya Pak Apri?"

"Ada apa ini?" tanya Rita begitu tiba di bilik kerjanya.

"Eh, Mbak Rita. Ini mbak Mia katanya kemarin lihat suami Mbak di restoran," ujar Evi dengan meringis tidak enak kepada Rita.

"Benar begitu Mbak?" tanya Rita pada rekan kerjanya itu.

"Benar Rit. Aku sendiri juga kaget dan tak mungkin salah lihat. Aku nggak tega sebetulnya mau ngomong ini tapi mungkin sudah saatnya kamu menuruti permintaan suami untuk tinggal di rumah. Supaya suami betah dan mungkin saja tidak main serong di luar. Maaf loh, Rit. Kadang kala pria memang suka begitu. Tapi kalau suamiku sih setia," ujar Mia.

"Wah, kalau aku jadi Mbak Rita tentu nggak akan berhenti bekerja. Apalagi punya suami tukang selingkuh nggak banget deh. Mending cerai deh aku," ujar Evi sebelum meneguk teh hangat dari cangkir dalam genggamannya.

"Mbak, aku nggak bisa berhenti bekerja. Tahu sendirikan mertuaku seperti apa. Tambah nggak ada artinya aku kalau nganggur di rumah. Aku juga yakin kalau Mas Apri setia. Mungkin dia sedang bertemu dengan kliennya."

"Aku tahu itu. Kamu cobalah program kandungan."

Rita menghela napas panjang. "Mas Apri dah nggak mau lagi setelah aku keguguran yang kedua kalinya. Dia nggak mau bikin aku sakit lagi."

"Lalu sampai kapan kamu akan menerima cibiran dari keluarga besar suamimu?"

"Aku akan terus bertahan, selama Mas Apri masih bisa setia, Mbak. Bukankah anak itu rejeki dari Tuhan. Kita hanya bisa berdoa dan berikhtiar saja. Selebihnya keputusan hakiki dari Yang Maha Esa."

"Iya, Mbak paham itu. Semoga saja, desas-desus jika ibu mertuamu akan menyuruh suamimu untuk menikah lagi. Cuma hanya isapan jempol saja ya? Terutama apa yang aku lihat dan suamimu lihat juga bukan apa-apa. Kamu juga sudah punya suami kaya masih juga kerja."

"Iya Mbak. Aku juga sempat mendengar hal itu. Tapi ya, kamu tahu sendiri sekarang ibu mertuaku seperti menjaga jarak denganku. Mungkin beliau masih kecewa saat aku keguguran."

"Bu Rahmi nggak seharusnya melakukan hal seperti itu. Yang berhak sangat kecewa di sini itu kamu."

Buku serupa
Unduh Buku